
Irsam tidak punya nyali untuk bertanya apapun lagi. Memilih pulang dengan suasana hati yang hancur berkeping-keping. Hah ... bukan kah ia datang ingin menegaskan tentang perceraian, tapi kenapa justru air matanya yang berderai-derai saat tau istri keduanya telah menikah siri.
Lilis menyambutnya dengan sedikit bingung. Irsam tak banyak bicara, hanya menubruk tubuhnya dan menangis sesungukkan di ceruk leher istrinya.
Lilis memilih diam, menepuk pelan bahu suami yang masih sangat ia cintai itu. Hingga Irsam sendiri berhenti menumpahkan kekesalan hatinya.
"Mas kenapa?" tanya Lilis saat Irsam sudah tenang.
"Ternyata mas masih mencintai Miah... Lis." Jawabnya jujur pada istri pertamanya tanpa sadar itu tentu menyakiti hati Lilis.
"Mas tidak bilang saja, aku sudah tau. Mas tidak akan semudah itu bisa melupakan bahkan meninggalkannya." Lirih Lilis nelangsa.
"Maafkan mas sayang. Bantu mas melupakannya." pinta Irsam membuat dada Lilis serasa di remas-remas geregetan dengan apa yang suaminya ucapkan.
"Apa yang bisa Lilis buat untuk mas?"
tanyanya lagi walau geram. Namum tetap berusaha untuk melembutkan nada suaranya.
"Tetaplah tegar mencintai mas yang sudah mendua ini Lis. Tolong kembalikan cinta kita seperti mula-mula. Sebab hanya hatimu yang sungguh tulus mencintaiku. Tapi tidak dengan Miah." Jawabnya dengan suara parau, terdengar sangat putus asa.
"Maksud mas?" Lilis memastikan yang ia dengar.
"Miah sudah berkhianat. Dia telah mendua hati. Dia sudah mendapatkan pria lain, dan mereka telah menikah secara siri. Rumah tangga ini sudah bukan lagi tentang poligami tapi poliandri juga." Terang Irsam tegas, sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku tidak percaya mas. Aku tau Miah wanita yang setia dan baik. Karena itu dia ku pilih menjadi maduku." Lilis tak percaya dan tetap yakin itu kabar yang belum bisa di pastikan kebenarannya.
"Sudahlah... mas mohon. Apapun kesalahan mas padamu. Tolong kita tata kembali cinta yang pernah hancur di antara kita. Kita kumpulkan lagi puing-puing surga yang pernah luluh lantak di antara kita. Aku sungguh hanya ingin mengulang cinta bersamamu sayang. Aku pernah salah menduakanmu, tapi sumpah. Di khianati bahkan lebih pilu dari yang mas kira. Untuk itu maafkan aku sayangku. Maafkan aku ratuku." Irsam lalu bersujud di kedua kaki Lilis, sungguh baru menyadari kebodohannya selama ini.
Lilis menangis sejadi-jadinya, berusaha tunduk untuk meraih suaminya yang telah berlutut di hadapannya. Merangkum tubuh kekar itu kedalam pelukannya lagi.
"Bukan salahmu mas. Ini semua salahku. Jika aku tidak bermain api, rumah tangga kita tidak serunyam ini. Baiklah... kita akan tata dari awal lagi. Mas tenangkan diri saja terlebih dahu. Nanti Lilis yang bicara langsung dengan Miah. Bagaimana ku dulu aku memintanya menjadi maduku, demikianlah aku akan memintanya mengakhiri semua, agar kita tetap baik-baik saja." Tepuk Lilis pada bahu suaminya yang rapuh. Sangat rapuh dan ternyata sangat lemah ketika tau wanita yang ia percaya telah berpaling darinya.
POV LILIS
Aku tak tau harus senang atau sedih atas kejadian ini. Aku manusia biasa tentu sangat benci menyadari bahkan suamiku menangis di dalam pelukanku dan mengakui betapa ia mencintai wanita lain.
Wanita yang sungguh seharusnya tak perlu ada dan masuk dalam rumah tangga kami. Semua ini benar terjadi karena kebodohanku. Karena aku terlalu menyepelekan sebuah arti cinta. Bermain-main dengan kata yang berakibat buruk jika sudah menjadi satu kesatuan dengan hati yang melibatkan perasaan yang dalam. Menimbulkan luka yang tak berdarah namun perih, sangat fatal akibatnya, membuat hampir gila.
Aku cemburu melihat betapa hancur hati suamiku di khianati oleh istri keduanya. Oh Tuhan betapa besar cinta itu padanya. Dan ini adalah kesempatanku untuk kembali merebut hatinya, memiliki seluruh cintanya kembali. Semoga Miah telah benar mendapatkan lelaki yang sungguh mencintainya, seperti yang mas Irsam sampaikan. Ada doa tulusku untuk Miah mereguk kebahagiaannya, tapi tidak dengan suamiku lagi.
Sepekan berlalu, Irsam sudah kembali dalam keadaam baik-baik saja. Tidak lagi terlihat melamun dan termenung atas kejadian lalu. Namun, memang tidak bisa di ajak berbicara apapun tentang Miah. Ia tampak sensitif sekali, sepertinya benar sangat terluka.
Irsam akan mengalihkan pembicaraan atau memilih buang muka saja dan pergi meninggalkan tempat terakhir ia berdiri untuk menghindar.
Lilis satu-satunya oknum, bukan korban dalam rumah tangganya. Maka hari itu ia memutuskan untuk mendatangi rumah Lamiah untuk mengkonfirmasi sebuah kebenaran dan memastikan apakah semudah itu hatinya berpaling.
Lilis sudah berada di rumah Lamiah, tepat saat seorang pria tampan baru turun dari mobil dan memiliki tujuan yang sama dengannya. Tampaknya pria itu bukan orang sembarangan. Mobilnya mewah, pakaiannya pun berkelas, tak salah jika Lamiah mudah menjatuhkan hatinya dalam kurun waktu yang tidak lama, pada pria ini.
__ADS_1
Lelaki itu melempar senyum dan menganggukkan kepalanya dengan formal pada Lilis. Dan ia sempat terkesima atas tatapan mata elang itu, terpesona mungkin lebih tepatnya.
"Siang baby... sudah makan yang banyak?" ramah Mattew ketika masuk ke rumah Lamiah membawa seplastik buah-buahan segar.
"Mbak Lis?" Lamiah tidak menanggapi sapaan Mattew walau tangannya sudah mengusap perut buncit itu tanpa sungkan, bahkan tak perduli dengan tatapan mata Lilis yang pasti sudah menuntut sebuah kejelasan.
"Apa kabarmu Miah." Lilis menerobos kedekatan jarak Mattew dan Lamiah, segera memeluk dan mencium pipi kiri dan kanan Lamiah di depannya.
"Seperti yang mbak liat. Alhamdulilah aku baik-baik saja mbak." Jawab Lamiah yang tau, tatapan mata Lilis tak berhenti menatap Mattew dengan intens. Lamiah paham.
"Perkenalkan mbak ini Mattew temanku." Lamiah memberi kode pada Mattew agar berkenalan dengan Lilis.
"Lilis..." Ucap Lilis dengan senyum manisnya ke arah Mattew.
Jabat tangan itu lumayan lama di antara keduanya, sepertinya Mattew pun tak kalah terkesima dengan senyum yang terkembang di wajah Lilis.
"Eckheeem." Dehem Lamiah membuyarkan kekakuan antar Lilis dan Mattew.
"Oh... maaf." Sergah Lilis yang tersadar jika ia bagai terhipnotis dengan tatapan Mattew.
Mattew membuang muka, lalu beralih menatap Lamiah dengan penuh kelembutan.
"Jadi ini suami sirimu Miah?" tebak Lilis asal dengan suasana hati yang terpercik sedikit api tak suka, mengapa Lamiah beruntung bisa mendapat lelaki setampan dan mapan ini.
__ADS_1
Bersambung...