
Lamiah tidak bisa memaksa untuk terus berusaha menutup pintu. Sehingga, dengan mudah Irsam masuk dan langsung menyergapnya di balik pintu.
Irsam menyambar bibir merah delima yang sangat di rindukannya. Tangan kekarnya pun meremat lincah pada gundukan sin tal, kembar di depan tubuhnya.
Keduanya saling rapat tak berjarak seincipun. Tangan Irsam yang lain, sudah mengunci pintu ruko itu, lalu menuntun tubuh Lamiah berjalan mundur tanpa melepas tautan bibir mereka.
Tubuh Lamiah sudah tertindih di atas sofa, di bawah tubuh Irsam. Nafas Irsam menderu-deru tak beraturan, kancing kemeja Lamiah sudah lepas dua, di atas kain brokat bercup itu, Irsam telah berhasil membuat jejak cintanya beberapa.
Lamiah memegang kepala Irsam, lalu menjauhkan, mendorongnya kuat.
"Pulanglah... mbak Lilis lebih memerlukan abang. Sekarang."
"Tapi abang rindu kamu sayang."
"Ada anak yang harus kalian jaga di dalam rahim mbak Lis. Jaga hatinya, aku tidak mau menjadi pembunuh berdarah dingin."
"Abang hanya meminta hak sebagai suami."
"Lakukan saja pada istri pertamamu. De Miah sedang halangan." Bohong Lamiah. Agar Irsam tidak terus memaksa melayaninya sebagai suami istri.
"Berjanjilah kamu akan memberikan hakku setelah kamu bersih de Miah."
"Berjanjilah juga jika abang sudah melaksanakan kewajiban abang pada dia."
Lagi Irsam menerkam rakus bibir itu. Kemudian Lamiah melepasnya. Ia tak ingin larut dalam tautan yang sebenarnya juga sangat ia rindukan.
"Sudah cukup, pulanglah." Kecup Lamiah pada kedua pipi suaminya. Yang malam itu dengan berat hati meninggalkannya sendiri.
Lama Lamiah termenung memikirkan cara pikirnya sendiri. Sungguh, ia mencintai Irsam. Bohong saja sesungguhnya ia rela Irsam kembali pada Lilis. Tetapi, rasa hutang budinya masih tinggi. Ia tak mau seolah kacang lupa kulitnya.
Bagaimanapun ia bertemu Irsam karena Lilis. Walau ia sendiri tak menyangka jika kini Lilis bukan setulus saat seperti ia kenal 8 tahun lalu.
Jantung Lilis berlompatan kesana-kemari. Saat tau yang masuk kekamar adalah suaminya. Irsam langsung masuk kamar mandi, menguyur tubuhnya. Bagaimanapun ciuman panasnya tadi sangat memacu hasrat kelelakiannya.
Lilis bingung harus berkata apa. Memilih diam mungkin lebih baik sampai suaminya mendekat dan duduk di sisinya.
"Maafkan aku." ucap Irsam dingin. Lalu mengecup kening Lilis dan mengelus perut besar yang kini berusia 7 bulan bahkan lebih.
Irsam memilih merebahkan tubuhnya miring menghadap Lilis, kemudian memejamkan matanya untuk tidur.
Lilis hanya memandang nanar tubuh suaminya yang kini nyata kembali tidur di sisinya, seperti yang ia pintakan selama ini.
"Mengapa mas Irsam kembali? Apakah dia sudah menemukan Miah? Lalu jika benar telah menemukannya... mengapa dia memilih pulang padaku?" Monolog Lilis dalam hati.
__ADS_1
Lama Lilis memandang wajah suaminya, dan akhirnya pun ikut terlelap di samping Irsam dengan suasana hati penuh tanda tanya.
Hari berlalu, Irsam benar pergi dan pulang ke rumah. Keadaan rumah tangga mereka masih dingin. Raga Irsam pulang tapi tidak dengan jiwanya. Apakah Irsam masih terlalu berat dalam hal mencintai Lamiah? Sehingga kepulangannya bagai formalitas saja, untuk memenuhi janjinya pada Lamiah?
Tapi Lamiah pun tidak ia datangi kembali, sebab ia sendiri tau. Kewajibannya sebagai suami belum ia laksanakan pada Lilis. Maka ia belum berani mendatangi Lamiah.
Namun walau ia tidak ke ruko Lamiah, orang-orangnya sudah bekerja dengan baik. Irsam membeli ruko dua tingkat tiga pintu itu. Tanpa sepengetahuan Lamiah.
Irsam sudah menyulap tempat itu menjadi tempat usaha salon dan spa yang lebih besar dan lengkap lagi. Membuat Lamiah agak inscure, saat melihat properti yang di masukan ke 2 pintu di sampingnya. Ia tau perlengkapan itu adalah peralatan pendukung untuk membuka usaha yang sama seperti usaha yang di jalankannya sekarang.
Tentu saja Lamiah cemas, menyadari akan memiliki saingan di bidang usaha yang baru di rintisnya. Tetapi, Bismillah saja, Lamiah yakin rejeki semua Allah yang mengaturnya.
Ruko dua pintu di sebelah salon Lamiah sudah tampak rampung di isi dengan peralatan lengkal, terbaru dan canggih. Ornamen di dalamnya terlihat elegan, rapi juga adem.
Lamiah juga dapat mengintip furtinure yang akan di letakan di lantai atas, perlengkapan tidur lengkap. Sepertinya pemilik salon di sebelahnya akan tinggal dan menetap di sana. Sama seperti Lamiah juga.
Senja datang kembali di hari minggu, Salon Lamiah tentu terlihat sepi, karena itu hari mereka istirahat dari rutinitas di salon. Lamiah manfaatkan waktu itu untuk menata perabotan, tata letak peralatannya agar telihat lebih rapi lagi. Sungguh ia iri dengan salon baru yang akan menjadi saingannya yang ia sendiri tak tau kapan buka.
Mobil Irsam berhenti di depan ruko Lamiah. Ia tak dapat menghindar sebab ia sedang duduk sendiri di depan rukonya.
"Assalamualaikum de Miah." Irsam mengulurkan tangannya untuk di salami Lamiah.
"Walaikumsallam abang." Jawab Lamiah mencium punggung tangan suaminya.
"Apa itu?" tanya Lamiah
Irsam meraih tangan Lamiah, membuka telapaknya lalu memberikan sebuah kunci untuk istrinya.
"Ini milikmu."
"Kunci apa?"
"Sini..." Ajak Irsam mengandeng tangan Lamiah dan menuntunnya ke ruko sebelah.
"Buka..." Perintahnya.
"Pintu ini...?" tanya Lamiah tak mengerti.
"Iya... abang sudah beli semuanya. Ruko 3 pintu dan 2 lantai ini milikmu. Atas namamu. Abang ingin de Miah mendapatkan kebahagiaan di sini. Bantu abang menjadi suami yang adil. Yang tetap menafkahi mu juga Lilis."
Terang Irsam, mendadak membuat Lamiah terkejut. Tak mengira Irsam sebaik itu padanya.
"Ini berlebihan bang. De Miah tak layak menerimanya."
__ADS_1
"De Miah istriku. Kamu berhak mendapati ini semua. Abang menerima keputusan de Miah tidak pulang ke rumah. Untuk itu... kita akan hidup bersama di sini."
"Tidak boleh. Abang tidak boleh hidup bersama di sini."
"Kalau tidak boleh hidup bersama di sini, maka pulanglah."
Lamiah menarik nafas dalam.
"Baiklah... kita akan tinggal di sini bersama. Tapi... abang tetap harus pulang kerumah."
"Baiklah, siap sayangku." Jawab Irsam yang sudah menarik tangan Lamiah untuk masuk ke tempat baru baru yang sebelumnya sangat ia kagumi.
"Terima kasih abang."
"Heem.. terima kasih saja?"
"Terima kasih banyak."
"Hanya ucapan?" Jawab Irsam menunjuk pipinya.
Lamiah tersenyum dan mencium pipi kiri dan kanan suaminya.
"Abang mau di bibir "
"Jangan, nanti abang kebablasan."
"Kenapa...? sudah bersihkan."
"Yang kemarin bohongan, yang hari ini baru benar halangan." Kekeh Lamiah berhasil membohongi suaminya.
"Maafkan aku bang."
"Abang anggap ini hukuman saja." Jawab Irsam merangkum tubuh Lamiah ke atas pangkuannya.
"Bagaimana keadaan mbak Lilis? abang sudah mengantarnya ke dokter untuk memeriksa kandungannya? Abang sudah melaksanakan kewajiban abang sebagai suami kan padanya?" tanya Lamiah meminta kepastian jika Irsam benar telah kembali menyayangi Lilis.
"Maafkan aku. Abang belum bisa berdamai dengan hati abang sendiri. Abang masih sangat kecewa padanya."
"Selama abang tidak melaksanakan kewajiban di sana, maka akupun tidak akan melayani abang di sini. Bukankah kita akan memulai semuanya lagi dengan adil?"
Lamiah bukan malaikat, tapi juga bukan penjahat. Ia hanya ingin mengembalikan rasa di tempat yang seharusnya berada.
Bersambung...
__ADS_1