
Lamiah dan Irsam tertunduk. Membenarkan yang papanya sampaikan. Bagaimanapum salahnya Lilis membuka jalan, tetap salah mereka yang mau berjalan di arah jalan itu.
"Ya sudah. Jika kalian masih menghargai papa sebagai ayah dan mertuamu. Jalani pernikahan ini dengan sebaik-baiknya. Jangan menyerah terlebih dahulu. Kalahkan ego dalam hati kalian, kejar surga itu dengan keyakinan. Terutama Lamiah, pahalamu besar jika mampu melewati ini semua dengan tabah. Ada doa terbaik dari papa untuk rumah tanggamu Irsam." Tepuk Abizart pada pundak Irsam. Kemudian berlalu.
"Makan sayang?" Tawar Irsam pada Lamiah.
"Tidak bisa makan di sini. Miah pulang saja bang." Jawab Lamiah yang hatinya mendadak sendu.
"Siapa yang membuat moodmu jelek?"
"Tidak ada."
"Temani abang makan dulu."
"Sama mbak Lis saja.". Tolaknya.
"Yakin tidak mau melayani suami?"
"Di ruko saja. Miah pulang dengan taxi online saja bang. Assalamualaikum." Pamit Lamiah tergesa.
Irsam tidan sempat menahannya. Dan dengan mata nyalang memandang punggung wanita kedua itu berlalu di depannya.
"Mas... belum sempat makan. Aku temani, Adilla sudah tidur juga. Miah mana?"
"Dia sudah kembali ke rukonya." Jawab Irsam memeluk Lilis dan siap di layani oleh Lilis untuk makan bersama.
Pemandangan itu sangat di sukai oleh bunda Lilis dan mama Irsam. Sekilas mereka lupa jika rumah tangga anak dan menantu mereka itu sudah memiliki madu.
Kemesraan Irsam dan Lilis tak bercacat, masih terlihat sama seperti sebelumnya.
"Mbak Yu... apa mbak tau Irsam telah menikah lagj?" tanya mama Irsam pada besannya bunda Lilis.
"Saya baru tau ketika pernikahan iti sudah terjadi. Saat Irsam dan Miah pergj berbulan madu. Dan Lilis merasa kesepian di rumah."
"Berbulan madu? Bahkan hubungan mereka seperti pasangan suami istri pada umumnya mbak?"
"Hmm... ya begitulah."
"Apa benar mereka menikah atas ikin Lilis mbak?"
__ADS_1
"Ah... sebenarnya saya sudah tidak ingin membahas ini. Entah, apa yang ada di dalam otak putri saya jeng. Pokoknya ... yang salah adalah Lilis. Irsam dan Lamiah hanya korbannya. Tapi, korban yang aktif."
"Gimana maksudnya... saya kok ga paham."
"Lamiah itu sahabat Lilis. Mungkin masuk dalam kategori perawan tua yang ga bisa cari suami sendiri, jadi saat di sodori suami temen sendiri ya mau juga. Keseeel saya jeng."
"Apa tujuannya?"
"Tidak paham jeng. Mumet saya mikirnya."
"Bagaimana keseharian rumah tangga mereka?"
"Saya sempat lama memantau hubungan rumah tangga ini. Dan akhirnya saya yang malu. Anak saya masih terlalu mendominasi Irsam. Dia mengajak Lamiah jadi madunya, tapi dia sendiri yang tidak ikhlas berbagi. Irsam dan Lamiah tak pernah menunjukkan kemesraan mereka untuk menjaga hati Lilis, akhirnya mereka melakukannya diam-diam bagai pencuri. Hal itu tidak salah, wajar saja. Sebab Lilis yang tidak sesuai dengan komitmen mereka di awal." Bunda Lilis seolah membela Lamiah.
"Tadi... saya mendapati Lamiah itu menangis melihat Adilla. Katanya jika tidak keguguran dia pun mungkin akan memiliki bayi seperti Lilis."
"Hah... saya tidak tau akan hal itu jeng." bunda Lilis terperanjat. Seban dia memang tidak lagi ingin banyak tau tentang rumah tangga gendheng anaknya itu. Kabar hamil pun hanya sepintas lalu ia ketahui, tiba-tiba dapat kabar aqiqahan saja.
"Onah..., kita bisa tanya pada Onah .Dia pasti tau apa yang terjadi." Bunda Lilis mendadak ingin tau kisah rumah tangga anaknya.
Tak memerlukan waktu lama, Onah menceritakan hal yang ia ketahui. Yang sebisa matanya memandang. Dan yang bisa ia artikan. Mulai dari pengorbanan Lamiah yang wara wiri naik motor untuk mencari makanan yang Lilis inginkan, sampai akhirnya ia yang memgalami keguguran. Sampai akhirnya memilih pergi tanpa pamit pada Irsam dan Lilis.
Kedua wanita paruh baya itu, bingung sendiri akan hal yang di sampaikan Onah. Tak mengira sekeras itu goncangam badai rumah tangga yang telah menimpa anak mereka.
"Bagaimana menurutmu jeng...? Ala sebaiknya mereka kita anjurkan bercerai saja? Sebab sepertinya mereka mesra dan masih saling cinta tanpa ada ai wanita kedua itu.*
"Ya... nanti saya bicara pada Irsam." Jawab mama Irsam.
Mama Irsam sesungguhnya tidak paham harus memihak siapa, setelah mendengar cerita dari Onah. Tapi walau bagaimanapum beristri dua itu menyakitkan.
"Mama... kenapa bari masuk kamar. Dari mana saja?" papa Irsam menyapa istrinya yang baru tiba di kamar mereka.
"Mama sedang menggali informasi saja. Tentang istri kedua anak kita. Sunggiuh, mama malu pada besan kita pah."
"Sudah menjadi takdir mereka demikian."
"Mama akan minta Irsam menceraikan Lamiah saja pah."
"Jangankan mama. Lamiah pun telah nyata ingin mumdur dan memgakhiri rumah tangga mereka tersebut. Tapi Irsam justru akan menceraikan kedua-duanya jika Lamiah minta di ceraikan."
__ADS_1
"Apa...? Irsam sudah di guna-guna oleh istri keduanya itu pasti ya pa?"
"Mama lupa atau tidak tau? Usia pernikahan mereka belum setahun, belum pernah turun mesin jadi semua masih baru. Menurut mama, apa alasan Irsam melepasnya?"
Mama Irsam melemgos kesal.
"Sudahlah... jangan menganjurkan apa-apa pada mereka. Jika tak sanggup melihatnya. Kita pulang saja." saran papa Irsam.
Mama Irsam tidak berhenti di situ saja. Setelah seminggu berada di rumah Irsam. Dengan mrmguntit Irsam, akhirnya mama Irsam tau di mana alamat tempat tinggal menantu keduanya itu.
Di salon, Lamiah tak lagi sebagai pekerja. Ia telah menjadi owner yang seungguhnya. Hanya mengelola keuangan dan memastikan bahan juga peralatan salonnya tetap ada, bersih dan tertata rapi. Lamiah juga sangat menjaga hubungan baiknya dengan custemernya. Agar bisa berkunjung kembali juga dapat mengajak pelanggan lebih banyak lagi.
"Apa salah satu dark kalian adalah pemilik salon ini?" tanya mama Irsam pada pekerja di salon Lamiah. Ia datang seolah pelanggan. Demi mendapatkan info tentang status penikahan anak dan menantunya.
"Bukan bu. Owner kami sudah jarang melayani klien secara langsung. Setelah salon ini besar dan lebih berkembang."
"Oh ya... artinya ini sudah semakin maju ya." Pancing mama Irsam.
"Alhamdulilah begitu." Jawab Wati.
"Jika tidak melayani di sini, ownernya ke mana?"
"Ibu ada di sebelah. Beliau tinggal di ruko sebelah bersama suaminya."
"Oh... sudah punya anak?"
"Belum bu, masih pengantin baru kata ibu."
"Oh... masih muda berarti ya?"
"Tidak juga, hanya sepertinya jodohnya baru ketemu. Tapi tidak sia-sia juga. Walau jodohnya datang agak terlambat, tapi sekali punya suami, sultan. Dua bulan lalu ibu hanya menyewa 1 pintu 2 lantai di ruko ini. Tapi setelah suaminya datang. Ruko ini justru sudah di beli bahkan di rombak dan di isi oleh suaminya bu Lamiah. Benar-benar suami idaman."
"Waah... kaya berarti suaminya ya. Kalian pernah bertemu?"
"Kadang-kadang saja berpapasan. Kdang bapak pulang untuk makan siang. Lalu datang di sore hari saat kami pulang. Dan saat besokya kami datang, beliau sudah berangkat ke kantor." Jelas Wati dengan riang.
"Sepertinya para pegawai salon ini tidak tau, jika bos mereka ini hanya istri kedua." Batin Mama Irsan.
Bersambung...
__ADS_1