
irsam sudah kembali ke kantor setelah mengantar Lilis daru rumah sakit lalu pulang ke rumah. Dan pamit akan pulang ke tempat Lamiah untuk beberapa hari. Dan sepertinya Lilis benar tampak sungguh-sungguh melepas suaminya pulang ke istri mudanya.
Sementara di salon Lamiah kini sudah tidak seperti saat sebelumnya. Wati dan Vinsa tidak hanya berdua lagi sebagai pekerja di sana. Melainkan sudah ada 3 orang tambahan karyawan. Sebab tempat itu memang makin besar, fasilitas semakin lengkap juga penhunjung bertambah ramai.
Wati yang memang agak pecicilan, awalnya takjub dan berdecak kagum. Tak meyangka salon & spa tempatnya bekerja bagai di sulap dalam waktu sekejab oleh suami sang majikan.
"Abang malam ini menginap di ruko." Isi chat Irsam pada Lamiah.
"Iya bang. Hati-hati di jalan." Balas Lamiah.
"Kita tutup agak cepat hari ini ya. Dan untuk 2 hari kedepan kita tutup saja. Ada sedikit yang akan di renov. Sehingga mungkin akan mengganggu aktivitas kerja kita. Silahkan rekapan dan bagi jatah ya, Wati.." Pinta Lamiah yang langsung membalik plang di depan menjadi bertulis tutup jika di baca dari arah luar.
Lamiah yakin, jika suaminya berani datang lagi ke rukonya bahkan akan menginap. Tentu ia telah benar berbaikan pada Lilis.
Penujuk waktu masih pada angka pukul 5 sore. Tapi mobil Irsam sudah tampak terparkir di depan ruko tersebut.
"Assalamualaikum." sapa Irsam pada Lamiah yang memang telah menunggunya.
"Walaikumsallam." Sahut lamiah kemudian menyambut tas tangan milik suaminya lalu memyalami tangan Irsam penuh hormat.
"Kok sepi sayang...?"
"Sejak abang bilang akan pulang, de Miah sengaja meminta mereka untuk pulang dan cepat tutup saja. Sebab, jika tidak begitu. Mungkin mas tidak enak harus lewat mereka walau hanya sekedar lewat menuju ke atas."
"Hm... sepertinya satu pintu ruko ini harus kita benahi lagi. 2 pintu saja yang de Miah gunakan untuk melakukan aktifitas. Satu pintu dari lantai 1 dan 2 khusus untuk tempat tinggal kita saja, bagaimana?"
"Apa kita benar akan bisa tinggal bersama di sini bang?"
"Apa dr Miah mau abang belikan rumah untuk tempat tinggal kita berdua, agar benar tidak akan ada yang mengganggu kita?" Irsam sudah memeluk tubuh wanita kedua yang telah di cintainya tersebut.
"Tidak... tidak... tidak. De Miah tidak mau abang banyak keluar uang untuk Miah."
"Oke... tapi untuk menutup satu akses pintu ruko ini untuk kita jadikan tempat tinggal kita de Miah setujukan?"
__ADS_1
"Hm... baiklah."
"Oke besok orang-orang abang akan mulai bekerja." Irsam melepas pelukannya.
"Abang gerah dan cape mau mandi, boleh abang ke atas?"
"Sebentar... abang belum ceritakan apakah hubungan abang dengan mba Lis sudah baik-baik saja?"
"Sayang... abang ini lelaki yang tidak mungkin ingkar janji. Abang tidak akan berani berdiri di sini jika permintaanmu belum dapat abang penuhi." Tegas Irsam.
"Apa Miah bisa percaya begitu saja?"
"Ini ponsel abang, de Miah buka saja galeri fotonya. Dan de Miah akan tau sendiri apa yang terjadi 10 hari yang lalu setelah abang pulang dari sinim" ucap Irsam menyerahkan ponselnya dan beranjak naik menuju kamar Miah.
Lamiah mengikuti Irsam dengan maksud akan menyiapkan air mandi suaminya. Tapi keduanya belum benar sampai atas, Irsam sudah berbalik ke arah Lamiah.
"Abang tidak jadi mandi di sini. De Miah saja yang siapkan pakaian. Kita tidur di hotel saja." Irsam tau bagaimana kondisi kamar mandi ruko itu. Tentu tidak sesuai standart yang menurutnya baik. Itulah sebabnya Irsam tampak berpikir untuk akan benar tinggal di sana.
Lamiah tidak langsung menjawab, sebab tanganya sudah menggulir foto-foto pada galeri di ponsel mikik suaminya.
"Iya... dia melahirkan bayi prematur."
"Itu gara-gara aku bang."
"Tidak sayang, itu karena dia sendiri. Dia tidak makan berhari-hari lalu memgalami dehidrasi lalu komplikasi sehingga berimbas pada kehamilannya dan harus segera di lahirkan."
"Abang... maaf. Sebenarnya aku harus ada untuk mu saat abang dalam kesusahan." Lamiah memeluk Irsam dengan posisi mereka yang masih di tangga.
"Sudah lah... sekarang abang minta de Miah menuruti permintaan abang. Kemasi pakaianmu, abang tunggu di mobil." Perintah Irsam.
"Tidak bisa. Ini sudah magrib, kita sholat magrib dulu. Aku rindu mendengar suara abang bermurottal." pinta Lamiah.
Kali ini Irsam yang terkejut, menyadari begitu lama ia tidak melaksanakan kewajiban itu. Pantas saja hidupnya begitu pahit dan sesat.
__ADS_1
"Astagafirullahalazim. Baiklah, kita sholat dulu sayang." Irsam beristigfar.
Keduanga cukup lama melakukan kewajiban tersebut berjamaah, karena memang saling terpisah jarak raga juga jiwa mereka. Ada sengatan syahdu dan begitu khusuk saat keduanya melaksanakan ibadah tersebut berdua.
Ada titik air mata yang jatuh dari sudut mata Lamiah saat sholat itu benar telah berakhir. Sungguh tak banyak yang ia inginkan dari rumah tangganya. Dapat selalu melaksanakan ibadah ini bersama suaminya adalah bentuk rumah tangga yang ia impikan selama ini.
"Terima kasih sudah mengingatkan abang."
"Itulah gunanya memiliki istri sebagai belahan jiwa juga mengingatkan saat suami berada di jalan yang mulai berada di luar jalur bang."
"Masyaallah. Jangan salahkan abang semakin mencintai hatimu de Miah." Irsam memeluk dan mencium kening Lamiah agak lama.
"Kita berbulan madu tipis-tipis ya sayang. Abang terlalu lama berpuasa." Irsam sengaja menekankan kalimat berpuasa pada Lamiah. Membuat wajah istri keduanya itu sedikit memerah, karena tersipu malu.
Lamiah cinta pada Irsam, tentu saja hanya dengan kata-kata begitu saja membuatnya meremang, pikirannya berkecambuk, berkelana kemana saja,. membayangkan akan bagaimana nanti suaminya memperlakukannya.
Irsam mengangkat dagu Lamiah lalu berkata.
"Masih ingin menjadi istri yang patuh pada suami kan sayang?" tanyanya semakin mendekatkan hidung mereka.
Lamiah mengangguk pelan, lalu berpindah tempat untuk menyiapkan beberapa potong pakaiannya untuk di bawa pergi bersama Irsam suaminya.
Untuk kedua kalinya, Lamiah dan Irsam sudah kembali berada di hotel n resto yang sama seperti sebelumnya, namun kalk ini mereka tak lama berbicara di meja bundar pada restoran itu.
Mereka tampak sebentar saja menikmati semua sajian makan malam tersebut. Sebab Irsam sudah benar sangat terlihat gerah dengan masih menggunakan pakaian kerjanya tadi.
"Mandikan abang." Pintanya manja saat mereka sudah masuk dalam kamar hotel yang cukup besar dengan interior khas orang sedang berbulan madu.
"Mandi sendiri saja." Tolak Lamiah.
"De Miah istri abang bukan? Harus patuh dengan permintaan suami, sayang." Irsam selalu menggunakan kaliamat andalannya itu.
Satu-satu kancing pakaian Irsam, Lamiah lepaskan untuk mempercepat proses Irsam yang akan mandi tersebut.
__ADS_1
Irsam tidak peduli Lamiah masih dengan pakaian lengkap. Irsam sudah meraup tubuh itu, bersama masuk kedalam bath up yang airnya belum penuh itu.
Bersambung...