
Entah apa yang ada di dalam pikiran Lamiah sesungguhnya. Kini ia memang berstatus istri sah dari Irsam. Tentu memiliki hak yang sama dengan Lilis.
Wajar jika ia menginginkan waktu bercengkrama dengan Irsam suaminya. Tetapi tidak dengan Lamiah. Ia memilih memandang punggung suaminya saat berangkat bekerja hanya dari balkon kamarnya, memilih menghindar untuk bertemu dengan pasanga suami istri terdahulu.
Setiap pagi bangun dengan cepat untuk membuat sarapan juga mencuci pakaian mereka bertiga. Posisi Lamiah persis seperti ART di rumah itu. Terkadang Onah merasa tak nyaman, akan perlakuan nyonya barunya tersebut. Namun itulah yang terjadi, banyak pekerjaan Onah yang di ambil alih oleh Lamiah.
Irsam hampir tiap malam mengetuk pintu kamarnya untuk meminta haknya. Berbagi bantal sesuai kesepakatan yang di buat Lilis sebelumnya. Namum, hanya beberapa malam yang ia lalui bersama. Bahkan dapat di hitung dengan jari, mereka habiskan malam bersama di kamar itu. Hingga usia pernikahan itu berlangsung dalam 30 hari.
"De Miah kenapa? Sepertinya sangat menghindar untuk turun ke bawah saat ada kami." Ujar Irsam melalui sambungan VC seperti yang selalu ia lakukan setelah sampai di kantor.
"Emang enak liat suami sendiri mesra-mesraan sama istrinya. Lebih baik de Miah menghindar dari pada gelap mata sayang." Ujarnya sambil tertawa manis.
"Dede cemburu?"
"Tentu sayang... Tentu saja. Tapi aku bisa apa?"
"Jangan buat abang merasa bersalah begitu. Bahkan sekarang, abang harus membayangkan wajahmu setiap kali akan bercinta denganya, agar dia tak curiga, bahwa abang sudah tak berhasrat padanya."
"No... No. Big No!!! Abang tidak boleh begitu. Jangan pernah bandingankan kami, bagaimanapun dia istri abang. Jangan aampai abang menghinakan orang lain demi mendapatkan simpati dari yang lain pula."
"Huum... Kebaikan hatimu yang selalu bijaksana inilah yang membuat abang semakin cinta sama de Miah."
"Biasa saja dong sayang. Sudah seharusnya seorang istri mengingatkan suaminya."
"Sayang... Malam ini abang tidur dengan dede ya. Abang benar-benar kangen kamu sayang. Coba sekarang turunin dikit kancingnya sayang." Pinta Irsam genit pada Lamiah yang sudah 2 minggu tidak di sambanginya.
Lamiah menurut saja, bukan hanya menurunkan kancing kemejanya, tapi meloloskan kemeja itu menyisakan kain gendongan gundukan putih padat di dada nya. Irsam mengeram, merasa di tantang oleh Lamiah.
Tetapi tontonan itu tak berlangsung lama, sebab ponsel Irsam yang satunya berbunyi. Tertera 'Ratuku' tertulis meronta di sana.
"Iya ratuku ada apa sayang?" Irsam segera bermanis-manis pada istri pertamanya.
"Mas... Aku ingin pergi arisan."
"Kenapa uangmu habis?"
__ADS_1
"Hahaa... Mana mungkin uangku habis mas."
"Lalu?"
"Aku hanya meminta ijin pada suamiku. Dan tadinya aku ingin mengajak Miah, agar dia tidak selalu di rumah bisa stres dia kurang sosialita."
"Ya sudah... Berangkatlah kalian."
"Tapi dia tidak mau mas."
"Kenapa?"
"Katanya tidak enak badan."
"Oh ya...?" Irsam pura-pura terkejut.
"Pulanglah sebentar perhatikan dia mas. Dia juga istrimu, mungkin dia lelah. Aku baru tau ternyata selama ini dia tidak hanya memasak untuk kita. Tapi mencuci pakaian kita pun dia mas. Ah... Aku sungguh merasa tak enak dengannya. Mana setiap malam mas memilih bersamaku lagi. Tolonglah mas, adil lah padanya, dia sahabatku. Bukan pembantu kita."
"Hmm..."
"Mas jawab... Pulang ya"
"Pukul berapa? Jangan malam."
"Mas usahakan sayang."
"Kami arisan di luar kota. Sekalian acara amal. Mungkin pulang malam. Berjanjilah menemaninya mas. Dan tegur dia, agar jangan melakukan pekerjaan pembantu lagi. Aku tidak enak menegurnya mas.
"Hah. Bahkan sahabatmu sendiri pun tak berani kau tegur sayang."
"Ya... Mungkin ia akan lebih nurut dengan teguran suaminya sayang."
"Heeeem."
"Ya sudah. Aku sudah on the way sayang. Titip Miah ya. By." Pamit Lilis.
__ADS_1
Irsam segera memeriksa keberadaan istrinya dengan GPS yang ada di ponselnya. Tentu saja hal itu membuatnya tersenyum smrik.
Mengangkat gagang telepon dan menghubungi Nila sekretaris kepercayaan Irsam.
"Nila... Batalkan semua janji rapat dan janji temu hari ini. Saya ada urusan lebih penting." Ucap Irsam tanpa menunggu jawaban Nila dan segera bergegas pulang menuju rumah.
Tentu saja ia segera pulang, bahkan di sambungan VC tadi saja ia hampir on. Sehingga setelah mendapat kesempatan tentulah ia segera menemui istri yang sangat ia rindukan.
"De Miah..." Panggil Irsam di balik pintu. Lamiah terperanjat mengira indera pendengarannya salah menangkap suara. Sehingga setengah berlari membuka pintu kamarnya
"Ab...." Tidak sempat kata itu selesai terucap Irsam sudah menyambar rakus bibir merah delima yang sangat ia rindukan. Dengan tidak melepas pertautan bibir itu, Irsam dengan lihainya menutup bahkan mengunci pintu kamar mereka. Kemudian meraup tubuh itu, menghempasnya di atas pembaringan dengan tangan yang tak behenti berkerja melepas kancing kemeja Lamiah lagi-lagi hanya menyisakan kain gemdongan gundukan padat di dada putih mulus itu.
"Abaaang de Miah kangen." Desah Lamiah yang akhirnya berhasil lepas dari adu lidah tadi. Sebab Irsam sudah berhasil pindah ******* mata bisul merah kecoklatan di atas gundukan padat tadi.
"De Miah kira, abang tidak rindu? Berhenti menghukum abang. Beneran, abang sungguh tersiksa merindukan mu. Membayangkanmu saja, naga ini sudah terbangun. Masak ia selalu memasuki sarang yang tidak ia inginkan?"
Lamiah mendorong tubuh Irsam, dan sebelumnya ia sudah melepas sendiri pertahanan akhirnya. Lamiah bagai duduk di atas punggung kuda yang tengah berlari kencang, telah memastikan jika naga itu telah tertelan sempurna dalam sarangnya.
Irsam menarik tubuh itu geram, lagi bagai bagi haus akan minum. Ia mengisap, dan memainkan lidahnya lincah di mata bisul tadi.
"Aaccchh... Bang. Kenapa ini niknat sekali."
Keduanya telah menyelesaikan penyatuan untuk menuntaskan rindu yang sama-sama mereka miliki. Terlalu mubazir bagi seorang Irsam saat ia tau Lilis tak ada, hanya membiarkan Lamiahnya menyendiri di rumah.
Dan seharian itu mereka gunakan untuk berduaan saja. Hingga malam tiba saat Lilis kembali pulang, Irsam pun telah menyambutnya dengan suasana hati bahagia.
"Onah... Panggilan Miah. Katakan ada yang ingin aku bicarakan dengannya." Perintah Lilis saat ia dan Irsam telah berada di meja makan.
Kali ini Lamiah tak memiliki alasan untuk menghindar, dia pun segera turun dan mereka makan malam bersama.
"Mas Irsam, Miah. Pernikahan kalian sudah memasuki usia satu bulan. Tetapi aku belum melihat tanda-tanda kenyamanan kalian menjalaninya. Bahkan mas Irsam tidak mematuhi peraturan pembagian yang telah ku buat. Tolong jangan buat akubdalam posisi, seolah aku mendominasi pernikahan kita."
Lamiah dan Irsam hanya diam,. Tak berminat menjawab atau sekedar mengeluarkan pendapat mereka.
"Ini tiket bulan madu untuk kalian berdua. Pliiis, berbahagialah. Kalian suami istri. Bahkan pemgantin baru, semoga dengan kebersamaan kalian dalam waktu lama berdua-duaan bisa menumbuhkan rasa cinta antara kalian ." Lilis menyerahkan pada Irsam tiket dan paketan bulan madu ke Labuan Bajo.
__ADS_1
"Lusa kalian berangkat. Tidak ada penolakan." Ujar Lilis kemudian beranjak meninggalkan dua orang pasangan halal tersebut.
Bersambung...