LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA

LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA
BAB 43 : PANDANGAN ABIZARD


__ADS_3

Acara aqiqah sudah berjalan dengan lancar. Lamiah sungguh tak nyaman justru oleh pandangan mertua dan bunda Lilis. Sungguh jika ia memiliki ilmu tinggi, ia hanya mau menghilang saja dari tatapan kebencian dari dua wanita pengagium Lilis tersebut.


Begitu acara makan di mulai, secepat mungkin Lamiah meminta ijin untuk pura-pura akan mencari makanan. Padahal ia hanya ingin melarikan diri, mencari tempat yang sepi, di mana tak ada mata yang menatapnya dengan marah.


Teras samping menghadap taman adalah tempat yang Lamiah pilih untuk menumpahkam airmatanya. Kemarin harinya sudah tenang saat menjalani hidup sendiri dengan rutinitasnya sebagai owner sebuah Salon dan Spa.


Merasa memiliki suami saat Irsam datang menyambanginya, lalu berstatus bujangam saat ia sendirian.


Saat ia kembali ke rumah walau hanya sebagai tamu, airmata itu menetes lagi. Saat sadar yang ia hadapi tidak hanya Lilis, tapi mertuanya juga.


"Mengapa memilih sendiri di sini?" tanya seorang lelaki yang berjalan pelan mendekati Lamiah.


"Oh... suasana di sini asri." Jawab Lamiah yang cukup mengira jika itu ayah Irsam suaminya.


"Saya Abizard, papa dari suamimu. Jadi kamu adalah menantuku juga." Abizard memperkenalkan dirinya pada Lamiah.


"Lamiah Pradipta." Lamiah menyalimi papa mertuanya dengan takzim.


"Maaf... saya telah merusak rumah tangga anak bapak." Lirih Lamiah.


"Irsam tidak menceritakan apa-apa pada saya. Tapi, saat saya lihat ada wanita lain yang berani duduk di sebelah anak saya selain istrinya, saya yakin kamu juga pasti istrinya."


"Iya pa... kami telah menikah kurang lebih 10 bulan. Rumah ini adalah saksinya, di mana qobul itu pernah bang Irsam ucapkan."


"Jika pernikahan kalian terjadi di rumah ini, artinya kalian mendapatkan persetujuan dari Lilis?" tanya Abizard penasaran.


"Kami di perkenalkan oleh mba Lis. Kami di anjurkan saling mengenal satu sama lain dalam jalinan berpacaran jarak jauh kurang lebih 1,5 tahun. Dan kami di minta segera melegalkan status kami. Saat kontrak kerjaku selesai di Hongkong." Ulas Lamiah.


"Jadi Lilis sendiri yang memintamu untuk menjadi madunya?"


"Ya... kurang lebihnya begitu."


"Artinya kamu bukan perusak rumah tangga, melainkan penghias rumah tangga. Bagaimana kehidupan rumah tangga kalian? Apakah semanis madu?"


Lamiah mengjela nafas. Kemudian membuang muka mengarah lada taman bunga yang indah sejauh matanya dapat memandang.


"Entahlah... mungkin manisan itu terlampau banyak, sehingga terlalu pekat. Menghilangkan rasa manis itu menjadi pahit."


"Kalian tinggal seatap?"


"Awalnya begitu. Tapi, setelah mba Lis hamil. Saya memutuskan untuk pergi saja. Dan berharap bang Irsam bisa benar-benar melepaskanku."


"Kamu mencintai anakku?"


"Ya, aku mencintainya."

__ADS_1


"Kalau cinta kenapa pergi?"


"Sebab jika ku pergi, mungkin abang bisa fokus pada keluarganya kembali."


"Bukankan kamu mencintainya?"


"Dan cinta tak selalu bertahan untuk bersama. Mungkin dengan tidak adanya aku, mereka akan bahagia."


"Apakah Irsam mengecewakanmu?"


"Sejauh ini, hanya kecukupan, kehangatan, perhatian dan kasih sayang yang bang Irsam berikan padaku. Sedikitpun tak pernah ia torehkan luka di hatiku."


"Jika yang dia berikan adalah sesuatu yang indah, mengapa tidak bertahan?"


"Karena jika aku bertahan, akan ada hati yang tak ikhlas berbagi."


"Lilis....? Apakah Lilis yang membuat kamu menangis dan tidak sanggup berada di rumah ini?"


"Tidak. Mba Lis baik, sangat baik. Hanya aku yang tidak tau diri jika selalu berada di rumah ini." Jawab Lamiah klasik.


"De Miah... abang cari dari tadi. Sudah makan?" tanya Irsam menerobos Lamiah tanpa melihat kehadiran papanya.


"Belum. Abang sudah makan?"


"Irsam."


"Papa..."


"Kenapa kamu tidak pernah cerita jika menantu papa sudah dua?"


"Maaf... papa memiliki riwayat sakit jantung. Irsam belum dapat waktu yang cocok untuk menyampaikan ini pada papa."


"Dan kamu kira dengan papa tau sendiri juga tidak membuat papa terkejut?"


"Maaf pa. Iya, ini Lamiah istri kedua Irsam."


"Kamu mencintainya?"


"Sangat pa."


"Dan Lilis?"


"Juga."


"Hah... dasar cucu kakek. Poligami itu hukumnya sunah. Menjaga kerukunan dan keharmonisan rumah tangga serta memuliakan istri itu wajib hukumnya. Apakah kamu sudah dapat melakukan itu pada dua istrimu? Jika belum, maka sesungguhnya kamu sendiri yang melempar mereka ke panasnya api neraka. Bukankah sebagai kepala keluarga atau suami tugasmu adalah menghindari mereka dari dosa?"

__ADS_1


"Irsam belum bisa melalukannya pa."


"Kalau belum bisa, mengapa berani mengambil keputusan? Menikah bukan hanya menyalurkan hasrat saja. Jika di ukur dari itu, berlusin wanita pun tak cukup. Memastikan hati mereka bahagia, itulah pahalanya."


"Yang sudah kita jalani ini salah bang. Jadi, ijinkan Miah mengalah. Selama Miah menjalani hidup sendiri, Miah merasa baik-baik saja."


"Sebentar Lamiah. Apakah selama menjalani pernikahan Irsam pernah kasar atau melakukan KDRT?" Korek Abizard.


"Tidak."


"Apakah kamu tidak di beri nafkah lahir dan batin?"


"Tidak."


"Apakah Irsam suami yang selalu ingkar?"


"Tidak."


'Apakah kamu telah memiliki pengganti Irsam. Semacam kekasih lain atau calon suami begitu?"


"Tidak."


"Maka pengadilan Agama manapun tidak ada yang bisa memberikan surat cerai untuk kalian. Tidak ada hal yang sifatnya prinsipil untuk mengakhiri rumah tangga kalian."


"Tapi... di awal saja mbak Lis ingin berbagi cinta dengan Miah. Tapi kesininya, ia tampak tak ikhlas menjalankannya."


"Bukan berarti kamu harus mundur. Itu artinya Irsam yang tidak dapat berlaku adil pada kalian."


"Irsam... apa kamu ingin Lamiah mundur?"


"Tidak. Jika Miah minta cerai. Maka Lilis pun aku cerai."


"Hah. Tentu saja kamu masih sangat sayang pada wanita keduamu yang belum setahun menunjukkan karakter aslinya. Sedangkan Lilis bahkan sudah memberimu anak dua." Dengus Abizard.


"Itulah sebabnya di antara bersaudara hanya papa yang beristri satu. Ribet urusannya Sam."


"Ya... ini terjadi juga bukan kehendak Irsam. Lilis sendiri yang menyodorkan sahabatnya untuk Irsam nikahi."


"No...!!! Kamu tidak boleh menyalahkan Lilis. Toh yang saling cinta itu kamu dan Lamiah, kenapa Lilis yang di salahkan. Bertanggung jawablah dengan jalan yang sudah kamu pilih. Tabah dan banyak belajar lagi agar kamu benar tidak berat sebelah pada salah satu dari istrimu."


"Ya... untuk itu. Sementara Irsam biarkan Miah tinggal di rukonya saja. Untuk menghindari kecemburuan antara keduanya pa. Lilis masih labil pasca melahirkan, mungkin akan terganggu pikirannya. Jika melihat kemesraanku dengan Miah. Dan Miah, aku yakin bohong saja tidak pilu saat aku memperhatikan Lilis. Jadi, mungkin dengan berpisah rumah akan bisa membuat kami saling instropeksi diri pa."


"Yang pasti bicarakan pada keduanya secara bersama. Jangan saling terpisah. Bagaimana manisnya kalian memutuskan untuk berumah tangga bersama berbagi cinta itu sendiri. Demikian juga baiknya komunikasi kalian di dalamnya. Papa bicara seperti ini bukan karena mendukung poligami dalam rumah tangga kalian. Hanya semua ini sudah terjadi dan berjalan. Dan bagaimanapun perceraian adalah hal yang di benci Allah."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2