
Sepekan berlalu, seolah Irsam melakukan pembalasan pada Lilis. Jika waktu mereka berbulan madu, ia tidak menghubungi Lamiah. Dan kini benar, iapun tak berusaha menghubungi Lilis.
Hanya beberapa kali menelpon sang mama, untuknya berbicara dengan Faizal juga sempat sekali mengajaknya jalan-jalan bersama Lamiah.
Flashback On
"Papa kita kemana?"
"Kita mau jalan-jalan. Tapi jemput umi dulu ya." Pamit Irsam lada Faizal.
"Umi siapa?" tanya Faizal menunjuk Lamiah saat mereka berhenti di ruko untuk menjemput Lamiah.
"Itu umi Lamiah. Istri papa."
"Istri papa itu mama."
"Haha... iya. Tapi papa punya dua."
"Boleh dua?"
"Boleh, asal mama juga bolehkan."
"Mama bolehkan papa?"
"Boleh." Faizal tertegun saja memgartikan penjelasan papanya yang sesungguhnya tidak ia mengerti. Tetapi, tidak begitu mempermasalahkan hal tersebut, sebab baginya, papanya tetap mengajaknya bermain, berjalan-jalan di mana kedua tangan kiri dan kanannya dipegangi oleh dua orang dewasa yang satu di panggilnya papa, dan satu lagi harus ia panggil umi.
Flashback off.
Hari itu Lamiah memiliki banyak pekerjaan, mengecek bahan isian salonnya. Memastikan peralatan yang di gunakan anak buahnya yang harus selalu rapi untuk menjaga imej salonnya. Juga memeriksa laporan keuangan yang di buat Wati dengan tertib setiap hari.
Usahanya semakin maju pesat. Pengunjung semakin berdatangan, senang dengan pelayanan juga harga yang mereka tawarkan. Lebih hemat di banding tempat lain, juga terkadang pelanggan tetap akan mendapat cashback juga give away yang di berikan dengan cara yang unik. Marupakan strategi promosi yang di cetus Lamiah.
Minggu itu bukan waktunya bersama Irsam. Maka, sesuai janjinya. Ia tidak akan menyiapkan apa-apa dirumah. Bahkan ia akan memilih minta anak buahnya saja nanti yang akan membeli makanan via online. Agar bisa mereka nikmati bersama-sama di saat makan siang nanti.
Namun saat penunjuk waktu merujuk pukul 10 pagi. Dimana para pegawainya sudah memulai aksi untuk melayani beberapa pelanggan. Lamiah di kejutkan oleh kedatangan Lilis yang sempat di kira Vinsa sebagai calon custamer salon Lamiah.
"Mari silahkan masuk bu, ada yang bisa kami bantu? Ini daftar treatment yang kami layani." Sodor Vinsa pada buku menunya.
__ADS_1
"Saya ingin bertemu nyonya kalian." ucap Lilis dingin.
"Iya... sebentar. Ibu sedang di atas." Jawab Vinsa agak bingung melihat calon costumer yang auranya tidak bersahabat itu.
Belum di panggil Lamiah sudah turun membawa catatan alat dan bahan yang harus segera di order karena kehabisan.
"Mbak Lilis...? Sudah lama mba?" sapa dengan ceria dan antusias Lamiah menuruni tangga. Kemudian terpeleset dan jatuh terguling-guling ke lantai tepat di hadapan Lilis.
Lilis kaget bukan main, reflek membantu Lamiah agar segera bangun.
Kepalanya tidak terbentur sebab bahunya menahan. Tetapi darah justru keluar dari sela paha mengalir dari sumber pangkalnya. Ada apa dengan Lamiah?
"Kamu tidak apa-apa Miah?"
Lamiah tidak dapat menjawab, bibirnya memucat dan kesadarannya hilang. Lamiah pingsan dan sudah tak tau apa-apa lagi yang terjadi.
Lilis di bantu para karyawan Lamiah menggotongnya ke mobil. Dengan kecepatan penuh ia membawa Lamiah ke rumah sakit terdekat. Lilis panik. Tak henti-hentinya memohon pada Tuhan agar Lamiah tidak apa-apa. Juga menghubunngi Irsam suami mereka.
Sesampai di UGD, Lamiah segera mendapatkan penanganan. Lilis mengisi form identitas Lamiah, saat madunya itu sedang di observasi oleh tim medis.
Irsam tampak tergopoh-gopoh mendatangi Lilis. Setelah mendapat kabar dari Lilis sendiri. Tentu dengan perasaan cemas yang begitu mendebarkan jantungnya.
"Dia terpeleset saat menuruni tangga di salonnya mas." Jawab Lilia menahan isaknya
"Kamu menemuinya di salon?" tebak Irsam.
"Iya."
"Apa yang kalian bicarakan?" curiga Irsam, Lilis menyakiti istri mudanya.
"Tidak ada. Aku baru datang, saat dia ada di lantai atas. Kemudian melihatku, lalu bergegas untuk turun dan terjadilah insiden itu." papar Lilis takut setengah mati pada suaminya.
"Semoga dia baik-baik saja." Peluk Irsam pada Lilis. Sebab ia tau istrinya merasa bersalah atas kejadian tersebut.
"Keluarga pasien Lamiah..." Panggil perawat yang baru saja keluar dari ruang observasi tersebut.
"Iya kami suster." Jawab Irsam yang masih meletakkan tangannya di pinggang Lilis.
__ADS_1
"Dokter ingin bicara." Jawab perawat sambil menyilahkan mereka masuk.
"Permisi." Sapa Irsam pada dokter itu.
"Silahkan duduk." Perintah dokter lada mereka.
"Iya terima kasih."
"Bapak suaminya?"
"Iya dokter."
"Istri anda mengalami keguguran. Memang usia kandungannya masih sangat muda, baru 6 minggu. Tapi tetap harus di currete untuk memastikan rahimnya benar bersih. Juga ada faktur di bahunya. Yang juga harus segera di operasi." Terang dokter pada Irsam dan Lilis.
Irsam dan Lilis saling bertukar pandang. Lagi-lagi tak mengerti dengan jalan hidup Lamiah yang selalu dalam derita. Itukah karma dari seorang waniya yang telah memgambil suami sahabatnya sendiri?
"Ya... lakukan saja yang terbaik untuk istri saya dokter." Jawab Irsam pelan.
"Baiklah... kami siapkan form yang harus bapak setujui. Silahkan jika ingin menemui istri bapak, dia sudah siuman." Tukas dokter menyilahkan.
Irsam masih memegang tangan Lilis untuk menemui Lamiah di atas ranjang pesakitan.
Irsam mencium kening Lamiah sebentar, membuat Lilis buang muka. Ada yang teriris perih di sudut hatinya, menyadari bahkan suaminya memeperlakukan madunya dengan sangat lembut juga penuh kecemasan.
"De Miah, kita kehilangan buah hati lagi. Bahumu juga patah, kamu harus segera di operasi. Yang kuat ya." Irsam menyampaikan hal yang di katakan dokter tadi.
Lamiah diam saja, hanya airmata yang mengalir dari sudut matanya mewakili perasaan hancurnya.
"Miah... maafkan aku. Seandainya aku tidak menemuimu tadi, pasti kamu tidak akan terjatuh." Lirih Lilis sedih.
"Tidak mbak.... memang aku yang tidak hati-hati. Jangan menyalahkan diri mbak." ucap Lamiah getir.
"Tapi itu membuat kalian kehilangan bayi kembali." tukas Lilis yang tidak peduli mereka sedang berada di tempat umum.
"Semua ini kehendak Allah. Aku dan bang Irsam sudah bersepakat memohon petunjuk, kemana arah perjalanan rumah tangga kami. Dengan di gugurkannya janin ini, mungkin Allah pun tak menghendaki kami terikat dalam bentuk apapun. Dalam pernikahan, juga pertalian darah melalui anak. Ini kesempatan mu, bang Irsam. Talak aku sekarang. Bukankan itu pula tujuan mbak tadi datang ke salon?" tanya Lamiah ke arah Lilis.
Bagai petir menyambar di siang haru. Lilis mendadak malu, jika maksud kedatangannya sudah terendus. Ia memang akan meminta Lamiah mengakhiri rumah tangga bersama suaminya. Tapi melihat kasih sayang Irsam pada Lamiah, dan melihat penderitaan Lamiah yang berkali-kali menderita, Lilis tak mampu meminta suaminya menceraikan madunya itu.
__ADS_1
Bersambung...