LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA

LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA
BAB 30 : TEKAD BULAT LAMIAH


__ADS_3

Lilis benar-benar pintar memanfaatkan kondisi kehamilannya. Sehingga walau Lamiah dalam kondisi belum pulih, ia tetap bisa membuat Lamiah mengalah padanya.


Awalnya hanya di minta tidur bersamanya, namun semakin malam. Lilis memintanya untuk mengusap lotion pada di punggungnya. Bukan karena lelah, hanya agar Lamiah melihat bercak jejak cinta yang tadi pagi sempat Irsam buat sebelum pergi.


"Terserah padamu mbak Lis. Bahkan mungkin di sela mana saja di bagian tubuhmu sekalipun ku lihat jejak percintaan kalian. Hatiku telah ikhlas menerima posisiku sebagai wanita kedua. Lakukan lah apapun yang kau inginkan, asal kau bahagia." Monolog Lamiah dalam hati dan tabah mengurus istri pertama suaminya.


Dua pekan lamanya Irsam berada di Turkie. Dan selama itu pula Lamiah tidur dan tetap melayani Lilis dengan sepenuh hati di malam hari.


Sebab di siang hari Lilis jarang berada di rumah. Kemana lagi? tentu saja pergi bersama teman-teman sosialitanya.


Sedangkan Lamiah hanya keluar di sebatas rumah dan pekarangan saja untuk berolah raga agar tubuhnya segera pulih.


Irsam selalu memantau mereka melaui VC untuk memastikan keduanya berada di rumah dalam keadaan baik-baik saja.


"Ratuku... mengapa tidak menerima VC ku?" chat Irsam.


"Sayang, jorok... ratumu sedang bo ker." Bohong Lilis yang nyata-nyata sedang berada di mall. Menjajah kartu milik Lamiah.


Lalu mencoba menghubungi Lamiah yang sedang berjalan-jalan sekitar gardu depan rumah mereka. Irsam yakin, benar Lamiah yang baru saja membobol kartu belanja yang ada padanya.


Sehingga Irsam menyimpulkan. Satu-satunya alasan Lamiah tak ingin berpisah adalah uangnya.


Hah... ia bahkan hampir lupa jika saat mereka berhubungan jarak jauh dulu pun Lamiah memang sering melakukan segala cara untuk mendapatkan uangnya. Sehingga saat telah sah jadi istrinya, dia ajak bercinta di mana pun ia mau. Benar-benar ja lang berkedok istri.


"Apa yang aku lakukan? bahkan aku hampir menggeser istriku Lilis yang selama ini tulus mencintaiku. Aku tidak boleh menghapusnya dari hatiku. Bahkan Lamiah tak boleh bertahta dalam hatiku. Lamiah hanya mencintai uangku." Batin Irsam yang semakin geram melihat nominal belanjaan Lamiah yang semakin besar.


Maka saat pulang Irsam nampak dingin pada Lamiah. Tapi Lamiah pun telah berjanji menerima apapun yang menjadi ketetapan Tuhan padanya sebagai istri kedua. Ketidak adilan perlakuan Lilis dan Irsam, sedapat mungkin ia terima.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Irsam berbasa-basi saat mereka akan makan bersama.


"Sudah semakin sehat bang. Tetapi pesan dokter. Sebaiknya harus terus menjaga diri, hindari berhubungan intim, agar tak lekas hamil. Paling tidak sampai 2 bulan." Jujur Lamiah tanpa malu di depan Lilis dan suaminya.


"Oh... kalau begitu abang dengan Lilis saja selama itu. Apa kau keberatan?"

__ADS_1


"Tidak bang, silahkan saja." Jawab Lamiah dengan wajah penuh senyum tulus.


Jadilah, hari-hari itu bagai neraka bagi Lamiah dan surga bagi Lilis. Suaminya kembali hanya fokus bersamanya. Tanpa berbagi, walau kadang sesekali menjenguk Lamiah, tapi hanya sekedar saja. Tak ada kehangatan, seolah hanya formalitas ia memastikan keadaan Lamiah baik-baik saja.


Entah sebegitu cepatnya Irsam berubah. Seolah benci pada Lamiah yang di matanya sangat munafik.


Di depannya berkata mencintainya, dan akan melakukan apapun untuk Irsam. Bahkan sudah sungguh menerima menjadi istri kedua. Tapi, hah...!!! Bukankah uang Irsam bagai di isapnya bagai lintah.


Irsam terus memantau pengeluaran yang hampir mencapai ratusan juta. Bahkan di saat ia katakan sedang bedrest. Jangankan untuk jalan-jalan, bahkan melayani suamipun sangat ia hindari dengan alasan, ingin segera pulih agar segera dapat hamil kembali. Tapi... hanya berjarak dua hari sekali, ia tampak selalu beraktifktas berbelanja.


Lilis tidak lagi semanja biasanya. Saat Lamiah katakan ia tak bisa melayani kebutuhan batin suami mereka. Maka dengan perut yang mulai tak rata, Lilis kembali menjadi istri yang manis.


Tiap pagi menyiapkan sarapan bagi suaminya, pakaian dan air mandi suaminya semua ia lakukan. Persis seperti sebelum rumah tangga itu porak poranda.


Lamiah kembali menjadi orang asing. Seolah ia masih berada Hongkong. Lamiah bagai tak ada di rumah itu.


Lilis merajai rumah tangganya sendiri.


Beraktivitas seolah dia istri satu-satunya di rumah itu.


Jangan tanya betapa mesranya pasangan suami istri itu, yang bisa saja bercumbu bahkan di sofa tengah rumah, indah sekali tampaknya pemandangan itu.


Usia kehamilan Lilis sudah beranjak jalan memasuki usia 5 bulan. Irsam semakin sayang dan mesra pada Lilis yang terlihat makin seksi dengan perut yang makin buncit.


"Miah... segeralah kau hamil. Kamu liat mas Irsam akan semakin buas pada wanita hamil. Untunglah kehamilan ini telah melewati masa rawan. Sehingga aku hampir tak dapat menolak serangannya. Ah... seandainya kamu pun bisa melayaninya. Tentu aku tidak sekewalahan ini." kekeh Lilis bernada menyayangkan sekaligus membuat panas hati Lamiah.


"Haha... ha. Mbak bercanda menginginkan aku segera hamil. Bukankah aku masih berpuasa." Jawab Lamiah tegar.


"Sayang... ini bahkan sudah lewat dari waktu yang di tentukan dokter. Berilah haknya sebagai istri. Mas sungguh benar telah tak adil padanya." Perintah Lilis pada Irsam yang masih terlihat sibuk membuat jejak di leher Lilis.


"Yaaa... minggu depan saja kita mulai lagi pembagiannya." Jawabnya cuek, lalu meraup tubuh Lilis ke kamar tamu untuk melanjutkan kegiatan mereka lebih leluasa dan panas lagi.


Lamiah masuk ke kamarnya. Bercermin sendiri menghadap kaca yang tak pernah berbohong menunjukkan pantulan dirinya.

__ADS_1


"Aku salah, menerima tawaran menjadi yang kedua.


Aku salah, percaya begitu saja, bahwa di jamin akan bahagia walau sebagai madu.


Aku salah, telah menjatuhkan cinta pada suami orang.


Aku salah, memilih mengalah pada istri pertamanya.


Aku salah, ingin menjadi ibu dalam rumah tanggaku.


Aku salah, untuk tetap bertahan di rumah ini.


Aku yang membiarkan diriku menjadi tidak waras untuk tetap di sini.


Aku yang tidak tau diri dan aku harus pergi. Toh, Allah pun sudah mengambil anakku. Itu artinya aku harus sudahi semuanya. Dengan dan tanpa ijin mereka." Monolog Lamiah sendiri.


Maka malam itu akhirnya Lamiah sudah bertekad bulat untuk meninggalkan rumah tangga itu.


Dan keesokkan harinya Lamiah meminta ijin untuk pergi keluar dengan menggunakan motor Onah. Entah ia pergi kemana.


Dan sore harinya, ia telah tampak rapi dengan membawa sebuah tas berukuran sedang. Tanpa pamit pada Lilis apalagi Irsam.


Hanya menitip pesan pada Onah.


"Onah, saya pergi kerumah keuarga di Bandung. Jika bapak datang, katakan padanya ada surat untuknya di dalam lemari pakaian kami." Onah hanya menatap nanar punggung majikan yang hanya 5 bulan di kenalnya.


Sungguh Onah merasa benci saat melihat ijab kobul mereka di gelar di rumah itu. Dan akan siap pasang badan jika saja istri kedua itu akan mengusai suami majikannya.


Namun ia salah, kehadiran wanita kedua itu bahkan seperti korban persembahan yang begitu tulus hanya ingin beribadah dan mengemban amanah sabahatnya sendiri.


Namun hati mana yang kuat bertahan, saat orang yang mengundangnya pun seolah tak kenal padanya, apalagi menganggapnya rival sebelum pertandingan.


Bersambung...

__ADS_1



__ADS_2