
Sebenarnya sejak kemarin Lamiah hanya menutup rasa tidak nyaman di tubuhnya. Karena hal itu pula ia meminta untuk tidak melayani suminya. Untung saja Irsam tidak memaksa untuk di layani. Dan Kedatangan Vinsa memang sengaja Lamiah minta, karena ia ingin segera memeriksakan dirinya ke rumah sakit.
Saat benar Irsam sudah berangkat ke kantor, ia pun menggunakan taksi onlain untuk pergi ke rumah sakit. Lamiah bukan tidak berpengalaman, ia tau perubahan tubuhnya juga haidnya yang sudah 2 bulan tak datang membuatnya curiga jika mungkin saja ia kini ia tengah berbadan dua. Tapi ia memilih diam saja, menikmatinya selama bisa ia nikmati dan pertahankan.
Lamiah sudah mengantri di depan poli kandungan. Memandang nanar beberapa wanita berperut besar di sisi kiri dan kananya yang rata-rata di temani oleh suaminya. Berbeda dengannya, yang justru memilih datang sendiri tanpa suami, bahkan meminta suaminya pergi menemui istri tuanya.
“Lamiah Pradipta…” Panggil Perawat yang bertugas memanggil nama pasien di depan pintu masuk ruangann dokter kandungan tersebut.
Lamiah segera di periksa, tekanan darah, berat badan juga di tanyakan perihal HPHTnya.
“Wah sudah dua bulan berarti ya bu? “ Tukas dokter sedikit kaget.
“Sudah pernah di cek dengan alat test biasa?” Lamiah menggeleng.
“Ada keluhan mual, muntah, pusingh?” Tanya dokter lagi.
“Tidak ada dokter, hanya ngantuk di pagi hari.” Dokter mengangguk.
“Kita USG ya bu, silahkan berbaring.” Perintah dokter itu ramah.
“Wah… janinnya sehat bunda. Tuh, besarnya seperti kacang tanah. Panjangnya 1,8 cm dan beratnya 1,1 ons. Usianya 10 minggu. Hampir 3 bulan ini. Kenapa baru di periksa? Baru menyadari perubahan? atau haidnya biasa tidak teratur? Anak pertama ya jadi belum pengalaman?”
Lamiah menggeleng.
“Ini kehamilan saya yang ke tiga dokter.”
“Waw….? Bisa kita runut untuk riwayat kehamilan ibu?’
“Kehamilan pertama tahun lalu berusia 9 minggu, tapi janin tidak berkembang, lalu saya di currtte. 3 bulan kemudian saya terpeleset di tangga, dan kembali mengalami keguguran waktu itu usia kehamilan saya baru 6 minggu kemudian Rahim saya di currete kembali, dok.”
__ADS_1
“Berapa jarak currete dengan kehamilan yang sekarang?”
“Kurang lebih 7 bulan dokter.” Jawab Lamiah pasti.
“Dengan riwayat keguguran berkali-kali, mestinya ibu harus program untuk hamil kembali. Juga, begitu tau telat harus segera memeriksakan diri. Agar ibu tidak gagal lagi.”
“Kali ini lumayan lama kekosongan itu, sehingga saya tidak berani berandai-andai untuk hamil kembali.”
“Kita yakini saja, janin ini kuat tidak seperti sebelumnya ya. Kalau dari hasil pemeriksaan sangat sehat. Karena tidak ada mual muntah, saya hanya berika vitamin saja untuk ibu ya. Selebihnya ibu atur pola makan saja, dan yang penting atur pola pikir jangan stress ya bu, jangan nlelah bekerja. Selamat menikmati kesuksesan kehamilan ketiga ini.” Ramah dokter penuh harap pasiennya selamt kali ini.
Lamiah hampir menangis memandangi foto hasil USG di tangannya saat sudha tiba di kamarnya.
“Sehat terus jagoan ummi di dalam sana, sampai masa kita bertemu. Setelah kamu lahir, kita akan hidup berdua saja, tanpa abimu. Umi sangat mencintai abimu, sehingga merasa tak rela berpisah jika tak memiliki bukti cinta antara abi dan umi. Dengan adanya kamu nanti, sebagai sejarah bahwa umi pernah menjadi istri abimu, pernah menjadi seorang wanita seutuhnya.” Lamiah mengelus perut ratanya penuh harap kali ini benar-benar bisa menjaga kehamilannya.
Udara dingin malam menyusup saat pintu ruko di lantai 2 di buka Lamiah sedikit, sengaja ia berdiri di ambang pintu itu, ingin memandang indahnya Bogor di waktu malam. Juga masih netranya masih bisa menjangkau bayi 7 bulan yang masih tidur bersamanya di atas tempat tidurnya.
“Assalamualaikum…bang.” Sapanya.
“Walaikumsallam de Miah.” Jawab Irsam.
“Adilla mana?” serobot Lilis yang terlihat bergelayut manja di punggung Irsam.
“Sudah tidur mba…” jawab Lamiah membalik kamera menghadap pada Adilla yang sudah tidur nyenyak.
“Waah… kamu sepertinya akan menjadi ibu yang baik jika nanti sudah punya anak Miah.”
“Amin… mba.” Jawab Lamiah.
“Hahhaa… Miah. Bagaimana jika waktu libur kami di sini kami tambah lagi? Apakah kamu keberatan?” Tanya Lilis dengan gamblangnya.
__ADS_1
“Silahkan mba… aku tak masalah.” Jawab Lamiah serius.
“Bukan Liburan de, tapi abang minggu depan ada dinas luar di Australia. Agak lama mungkin 2 minggu. Jadi mungkin abang langsung berangkat saja dari sini. Boleh?”
“Silahkan bang.”
“Tapi aku ikut Miah.” Lilis lagi-lagi menyerobot obrolan Irsam dan Lamiah.
“Alhamdulilah… Miah senang mendengarnya. Semoga pulangnya Adilla akan memiliki adik lagi.” Kekeh Lamiah menutupi perihnya hatinya. Tapi ia berusaha menutupi dan terlihat bahagia saja.
“Alhamdulilaah… kamu memang madu terbaik.” Ucap Lilis senang. Tak sadar justru ialah sebenarnya provokator hingga suaminya tidak adil memperlakukan Lamiah.
Sambungan video call pun berakhir. Sebab Lilis sudah tak memberi jeda mencium Irsam bertubi-tubi.
“Rajaku… sudah kukatakan padamu. Miah adakah madu yang baik. Pengalaman pada masa yang lewat sungguh membuatnya sadar bahwa ia hanya wanita kedua. Ia hanya sempat besar kepala, karena mas terlalu memanjakannya. Sehingga ia sempat lupa asalnya, ia tidak akan menikah jika bukan karena kebaikanku.” Papar Lilis menyombongkan diri.
“Sudahlah… tujuan mas datang ke sini tidak sedang ingin membahas dia. Tetapi ingin memngingatkanmu. Boleh bekerja tapi jangan sampai lalai menjadi ibu dari Adilla. Apa kamu tidak takut kalau Adilla nanti bahkan akan lebih lengket dengan Miah daripada denganmu?”
“Mas… Adilla masih bayi. Mana dia ingat di rawat siapa saat usia begitu. Bayi yang di rawat baby sister sekalipun akan tetap memanggil mama pada wanita yang telah melahirkanya. Lihat Faizal, walau kita tidak merawatnya, dia tetap tau bahwa kita lah orang tuanya.” Irsam sudah tak sempat menjawab. Sebab tubuh itu sudah polos oleh ulah Lilis yang sudah sangat mendambakan sentuhan dahsyat suaminya.
“De Miah sayang. Maaf, abang bukan tak adil. Setelah abang pulang dinas ke Australia. Kita ke Turki liburan ya. Sekalian kita ke rumah mama dan papa.” Irsam merasa tidak adil sebab lebih lama bersama Lilis bahkan pergi ke luar negri.
Bukankah Lamiah juga istrinya, tapi ia sendir merasa perhatian dan waktunya kembali jomplang. Lagi, lebih condong pada istri pertamanya. Tak sadar Irsam kembali di dominasi dengan alami oleh istri pertamanya.
“Abang… lilahi ta’ala, Miah ikhlas abang banyak waktu bersama mbak Lis. Miah bahagia jika abang senang bersamanya. Miah mencintai abang.” Balas Miah yang sepertinya memang menunggu chat dari suaminya.
Isi balasn itu sesuatu itu sesungguhnya berbahasa baik, tapi mengapa justru seolah menyayat hati Irsam hingga ke ulu hatinnya.
Bersambung…
__ADS_1