LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA

LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA
BAB 64 : LELAKI SEMPURNA


__ADS_3

“Lilis, kamu bicara apa sama Miah. Dengan kita lama di sini justru kita yang tidak adil padanya.” Terdengar suara Irsam gusar dan kasar pada Lilis.


Sementara Lamiah hanya terduduk dengan masih mengenggam ponsel itu, mengarahkan kamera gawainya menghadap udara, tanpa suara.


“Oh… memang itulah yang terjadi mas. Sejak dia ada dalam rumah tangga kita. Bahkan ini adalah hardikan mas yang kesekian kali padaku mas. Mana kelembutanmu yang dulu? Mana raja yang selalu menyanjungku dan selalu memanjaku mas… mana??? Mas berubah!!!”


Lamiah tidak mengerti mengapa obrolan suami istri itu sangat terdengar jelas. Apakah keduanya ingin pamer pertemgkaran, atau memang mengira sambungan telepon itu sudah terputus.


Yang pasti Lamiah hanya mengelus perutnya yang sudah tidak rata itu, dan mulai menitikkan air mata. Ia bahkan tidak punya daya untuk menelan tombol apapun untuk merijek sambungan itu. Memilih tertunduk menangisi nasibya menjadi wanita kedua.


“Kamu yang membuat mas berubah, Lilis.” Berang Irsam tak mau kalah.


“Mas… lebih cinta dia kan?? Lepas saja aku mas. Ragamu bersamaku, tapi tidak dengan jiwamu.” Erangan tangis Lilis terdengar nyata di seberang sana.


“Sudah mas katakan di antara kalian tidak akan ada yang mas lepas. Mas mencintai kalian berdua Lis.”


“Bohong… mas lebih mencintainya. Dia sudah mengalihkan dunia mu mas. Dis suah buat mas benci aku mas.” Lolongnya bagai anjing lapar, tak jelas dan tak sadar bahwa ialah sesungguhnya oknum kejahatan sesungguhnya.


“Kamu Lis… Kamu yang membuat semuanya teralih dengan sendirinya.”


“Salah mas… salahkan saja terus aku. Bela saja terus wanita keduamu itu.” Tangis Lilis tak mau reda. Hingga telunjuk Mattew yang memberanikan diri untuk merijek panngilan tersebut.


Samar namun belum pasti, Mattew sudah mulai memahami bagaimana posisi Lamiah yang baru kemarin ia kenal. Ia memilih duduk dekat dengan Lamiah, menyodorkan saputangan yang ada dalam saku celananya. Meminta Lamiah menghapus airmata yang mestinya tak perlu jatuh tersebut.


“Matahari sudah hilang, dan bulan yang akan menggantikan posisinya. Apakah kamu tidak ingin kita pulang ke resort?” Tanya Mattew lembut.

__ADS_1


“Jika mau pulang… pulang saja sendiri. Aku masih ingin di sini."


“Dan membiarkan bayi itu kelaparan untuk menemanimu menangisi ayahnya yang juga suami orang itu?” tekan Mattew.


“Apa urusanmu?”


“Urusanku bukan dengan hubungan rumah tangga kalian. Tapi, kepada ingin memberi hak untuk bayi itu tetap hidup sampai masa ia hadir di dunia.” Tegas Mattew yang sejak awal hanya memang sangat tertarik dengan kehamilan Lamiah.


Lamiah hanya terdiam, menyadari ada seutas nyawa yang juga harus ia pertahankan untuk tetap menjalani hidup yang sudah tidak adil untuknya.


Mattew sudah memaksanya untuk berdiri untuk kembali ke resort, menyusul karyawannya yang sudah mengakhiri permaianan mereka di pantai tadi.


“Mau di gendong atau jalan sendiri?” Bisik Mattew di telinga Lamiah.


“Jalan saja. Tidak usah repot-repot.”Jawab Lamiah yang sudah berusaha untuk tenang.


Tangan keduanya memang tidak saling bertautan, tapi kelihatan keduanya bagai sepasang sejoli yang saling melengkapi. Mattew tampan, wajahnya tidak sepenuhnya berasal dari daerah Timur namun ke Baratan juga. Indo Blasteran mungkin, rambut bervolume, mata tidak hitam, agak coklat. Otot tubuhnya sesungguhnya risih dengan balutan kemeja yang membalut tubuhnya dengan ketat itu.


“Bu… kami sudah siapkan air mandi untuk ibu berendam. Ibu pasti capek seharian ini, kasihan dedek bayi. Paling tidak rendam kaki dululah bu.” Perintah Vinsa yang sangat memperhatikan Lamiah, terutama saat Lamiah hamil. Ia adalah saksi bagaimana sakitnya Lamiah terhentak dan gagal memilki anak keduanya beberapa bulan lalu.


“Terima kasih Vinsa.” Singkatnya yang langsung masuk tanpa memperdulikan Mattew yang juga masih ingin berlama-lama di sana.


“Maaf bapak siapa?”


“Saya Mattew, teman Mia dan suaminya. Dia menitip tolong untuk saya jaga istrinya selama dia tidak ada, sebab Mia sedang hamil.” Bohong Mattew tentunya.

__ADS_1


“Oh… begitu. Kebetulan, kami semua cewek-cewek. Agak takut juga bermalam di sini tanpa ada lelaki. Apakah kamu akan ikut bermalam di sini?” Tanya Wati menyerobot obrolan Vinsa.


“Apa masih ada kamar kosong?”


“Ada… resort ini malah punya 6 kamar.Dan kami hanya memakai 3 kamar saja.” Lagi-lagi wati centil memyadari bahwa Mattew adalah pria yang terlalu sayang untuk di lewatkan.


“Siapa tau dia masih jomblo. Kekasuh gelap ibu jelas tidak mungkin, toh lelaki ini adalah teman pak Irsam.” Batin Wati melanglang buana.


Karyawan Lamiah benar-benar telah siap dengan liburan yang bahkan bersifat dadakan ini. Diantara mereka bahkan sudah ada membawa bekal untuk mereka ngegrill dan BBQ. Dari bahan hingga alat pun sudah mereka siapkan. Sehingga dapat di pastikan jika malam ini mereka akan habiskan malam dengan suguhan aneka panggang tersebut.


Lamiah memghabiskan waktu hampir 1 jam untuk membersihkan diri sekaligus merelaksasikan dirinya di dalam bath up yng sudah terisi air hangat dan wewangian yang menyegarkan.


Wati dan lainnya pun tidak menaruh curiga apa-apa dengan Mattew. Menganggap bahwa Mattew adalah lelaki yang Irsam utus untuk mejaga Lamiah juga menemani mereka. Maka, tak ada hambat bagi Mattew untuk berada di resort yang sama, walau tadi sempat ijin keljuar sebentar untuk pergi mencari pakaian ganti darurat, sebab ia memang tidak ada persiapan untuk menginap di pantai ini.


Namun, Mattew aslinya adalah seorang pengusaha sukses yang hanya sedang patah hjati di tinggal istri dan calon anaknya. Sehingga mudah baginhya meminta anak buahnya untuk mengantarkan pakaian ganti untuknya, yang kini sudah dalam perjalanan menuju Pantai Pulau Bidadari.


Mattew sudah bergabung dengan akrabnya bersama Wati dan lainnya, berbicara akrab tanpa sungkan di sana. Sebab, Mattew adalah sosok pria yang ramag, lagi cerdas dalam hal di ajak berbicara dengan berbagai topic pembicaraan.


“Mattew… mengapa kamu masih di sini?” Tanya Lamiah keheranan melihat lelaki itu sudah tampak sibuk membolak balik daging panggang di depannya.


“Waaaw… seger dan cantik sekali ibu hamil malam ini. Sini… aku sudah panggangkan untukmu hingga benar-benar kering dan matang. Sebab daging setengah matang tak baik untuk ibu hamil.” Mattew sudah menepuk kursi kosong di sebelahnya,


Mendapatkan perhatian begitu, bukan hanya Lamiah yang terkesima.


Tapi ke empat karyawan Lamiah justru lebih meleleh mendapati betapa pria ini sungguh memperlakukan Lamiah dengan baik. Maka mereka menyimpulkan, bahwa Irsam adalah lelaki sempurna dalam hal menyayangi Lamah. Bahkan di saat ia tak adapun, ia kirimkan lelaki bik ini untuk tetap memberikan perhatiannya pada istrinya yang sedang mengandung.

__ADS_1


Bersambung….


__ADS_2