LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA

LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA
BAB 88 : IJINKAN AKU PERGI


__ADS_3

Lilis benar telah melakukan hijrah. Ia sungguh meninggalkan cara hidupnya yang lama. Tak ada lagi pakaian se ksinya, tak kenakan lagi perhiasan yang berlebihan. Koleksi tas dan sepatunya semua telah ia lelang dan hasil penjualannya ia sumbangkan pada panti panti asuhan dan panti jompo yang membutuhkan. Toko perhiasannya sudah tutup. Bersyukur waktu itu Irsam hanya menyewa tempat untuknya tidak membeli seperti yang pernah ia rengekkan.


Tampilan baru Lilis tak luput dari penampilan Lamiah, walau dengan wajah linglung dan bingung ia selalu memegang jilbab yang kini selalu setia menutup rambut Lilis, terutama jika Lilis baru datang dari luar rumah.


"Kenapa Miah?" tanya Lilis yang jilbabnya selalu di pegang oleh Lamiah.


"Ini di pasang..." ucapnya absurd.


"Oh... ini jilbab Miah. Ini pakaian yang seharusnya kita kenakan sejak dulu, sebagai wanita muslim, untuk menutupi seluruh badan kecuali tangan, kaki, dan wajah. Menggunakan pakaian ini terkait dengan tuntunan syariat Islam untuk menggunakan pakaian yang menutup aurat atau dikenal dengan istilah hijab." Jelas Lilis pada madunya yang terlihat polos itu.


Irsam dan Lilis sungguh mengajari Lamiah seperti sejak awal lagi. Terutama Irsam yang selalu mengajari Lamiah untuk sholat dan mengaji. Hingga kini Lamiah benar telah bisa melakukannya sendiri dengan lancar.


"Aku mau juga." Ucap Lamiah singkat.


"Apa...?" tanya Lilis lembut pada madunya.


"Ini...." Jawab Lamiah lagi memegang jilbab Lilis.


"Miah mau berhijab juga?" tanya nya kembali.


Lamiah mengangguk. Membenarkan hal yang ingin pula ia kenakan.


"Baiklah nanti kita akan belikan yang cocok untukmu. Dan nanti mbak sampaikan pada mas Irsam ya." Ujar Lilis sungguh penuh kesabaran, dan sangat terasa sangat menyayangi Lamiah.


Delapan bulan bukan waktu tidak yang sebentar, untuk sebuah kesembuhan dan pemulihan, tentu sangatlah panjang dan lama. Tapi Irsam dan Lilis sudah sangat menunjukkan perubahan sikap mereka pada Lamiah.


Salon Lamiah pun sesekali di jenguk oleh Lilis. Untuk di pastikan ketersediaan stok juga keuangannya. Agar segera di kirimkan ke rekening Lamiah. Lilis sungguh ingin kembali mereguk surga yang pernah ia miliki, walau ada madu di dalam rumahnya. Sedapat mungkin ia ingin berbuat sesuai dengan yang seharusnya ia perbuat. Ikhlas menerima madunya yang sudah cacat mental oleh karena ulahnya secara tidak langsung.

__ADS_1


Hikmah. Mungkin itulah yang bisa di sebut sebagai hikmah dari semua yang terjadi. Sebegitu gilanya rumah tangga ini, dari surga berubah menjadi neraka dan berangsur pulih menjadi surga walau madu bagaikan tumbal di dalamnya.


Lilis sudah menyampaikan keinginan Lamiah akan berhijab seperti dirinya pada Irsam. Dan tentu saja Irsam menyetujui akan maksud niat baik tersebut.


Maka pergilah Lilis dan Lamiah ke sebuah butik di mana Lilis memebeli pakaian dan perlengkapan untuknya berhijrah minggu lalu.


"Ini siapa? Cantik sekali." Tanya pemilik butik yang tentunya sangat mengenal Lilis.


"Istri kedua suamiku." Jawab Lilis lantang.


Jawaban Lilis tentu mampu membelalakan mata pemilik butik tersebut. Tak percaya semesra itu hubungan antara keduanya, bertukar pendapat untuk memilih pakaian yang akan di beli.


"Tidak usah kaget seperti itu say, mereka sekarang bahkan sudah punya bayi berusia 8 bulan. Dan pernikahan mereka juga suah hampir 2 tahun." jelas Lilis.


"Kamu di madu? Kalian polligami?" tayanya setengah berbisik.


Pemilik butik itu hanya mengangguk angguk salut pada bahasa tubuh dan mimik muka dari kedua wanita beda rupa namun satu suami itu.


"Sayang... gimana sudah selesai?" Tiba tiba Irsam sudah masuk ke dalam butik tersebut dan mendekati Lilis.


"Tuh liat Miah masih sibuk memilih jilbabnya. Mas bantu dia pilihkan, mungkin bingung dengan warna dan motifnya." Tunjuk Lilis pada Irsam ke arah Lamiah. Dan interaksi itu semua tak luput dari pandangan sang pemilik butik yang membuktikam sendiri betapa harmonis rumah tangga polligami tersebut.


"De Miah ... ada yang bisa abang bantu?" tanya Irsam lembut menjamah pundaknya.


Lalu mereka berdua pun tenggelam dengan sibuknya memilih apa saja yang di anggap perlu juga yang di sukai oleh Lamiah. Semakin membuat kagum pemilim butik tadi.


Satu purnama berlalu, Lilis dan Lamiah telah sungguh telah berhijrah. Mengenakan pakaian yang seharusnya di kenakan oleh wanita muslim. Namun yang lebih penting bukan menutup aurat yang menjadi tujuan, namun lebih kepada ingin memperbaiki diri. Ingin menahan segala hasrat yang berlebihan baik lahir maupun batin.

__ADS_1


Melihat pemandangan kedua istrinya menggunakan hijab tersebut mampu mengukir senyum bangga di wajah Irsam. Mengapa tak dari awal ia meminta keduanya melakukan itu. Mungkin rumah tangganya tak sempat terjadi huru hara.


Tapi bagi Irsam semua sudah menjadi bubur, sudah terlanjur. Tak elok menyesali hal yang telah terjadi, tak baik pula selalu mengenang masa yang telah berlalu. Baginya kini ialah lebih fokus pada kepulihan Lamiah yang sesungguhnya.


"De Miah... Usia Gary sekarang susah 9 bulan. Dan secara fisik dia sudah layak terbang. Jadi, abang berniat akan membawamu ke luar negeri untuk melanjutkan pengobatanmu. Bukan abang tidak percaya dengan metode pengobatan di sini. Tapi, abang merasa terbeban jika de Miah masih belum stabil secara mental." Ujar Irsam suatu hari minggu saat ia libur dari semua pekerjaannya.


Lamiah memandang Irsam dengan intens. Mencari wajah jujur suaminya. Ada kilatan lelah dan penuh harap tersampir di wajah pria yang begitu ia cintai itu. Lamiah tau, baik Irsam maupun Lilis telah benar menyadari kesilafan mereka berdua. Untuk itu ia memutuskan untuk membuka rahasia yang selama ini ia simpan.


Lamiah yang tidak pernah benar benar cacat mental dan fisik. Lamiah yang hanya pernah koma selama 3 hari saja. Lalu sepenuhnya tau akan dirinya. Lamiah yang bekerja sama dengan dokter selama ini untuk membantunya bersandiwara. Lamiah yang juga sudah kompak dengan baby sitter Gary menutupi keadaan normalnya saat mereka mengunci diri di dalam kamar. Lamiah yang selama ini sengaja melihat kesungguhan Irsam dan Lilis dalam hal mengurusinya. Bahkan melayaninya seperti bayi yang membersihkan dirinya pun tak bisa.


Lamiah jahat?


Tidak ia hanya ingin membalas sedikit rasa sakit hatinya pada pasangan yang pernah semena mena terhadapnya.


Waktu 9 bulan, cukup bagi Lamiah untuk membangun bisnis barunya di tempat lain. Vinsa adalah satu satunya karyawan yang ia percaya untuk membuka cabang salonnya. Dan kini sudah mulai ramai berkembang tak kalah dengan salon yang ia miliki di kota kembang ini.


Lamiah belum menjawab tawaran Irsam yang akan membawanya ke liar negeri untuk berobat. Sebab dari kejauhan ia melihat sosok Lilis yang sudah datang dengan sebuah baki. membawa 3 cangkir minuman dan sepiring cemilan untuk mereka bertiga.


Ada tampang tulus di wajah Lilis melayami suami sekaligus madunya itu.


Setelah Lilis sudah berada di dekat mereka.


Lamiah bergerak, menekuk tubuhnya bersujud di hadapan Lilis dan Irsam lalu berkata.


"Ijinkan aku pergi."


Bersambung...

__ADS_1



__ADS_2