
Irsam mematung, mendadak tak bergairah saat Lamiah jelas menolaknya. Juga mengakui kini seolah mati rasa pada Lilis.
"Abang... mari kita perbaiki bersama pelan-pelan. Ingatlah masa-masa manis abang mencintainya. Masa, hilang terhapus meluap begitu saja, karena kesalahan kecilnya, pun tidak semua kesalahannya. Kita berdua juga salah, sangat jelas abang suami orang, kenapa juga de Miah terima jadi kekasih bahkan suami. Mana mungkin kita bahagia. Rasa kita salah bang."
"Oke... kita salah. Menerima tawarannya, tapi dia juga salah sudah jahat padamu."
"Abang. Kita juga salah, sahabat pernah bermain di belakang. Kita... aku sudah menikamnya."
"Itu salahmu. Kenapa terlahir cantik, penuh pesona dan menggairahkan."
"Aku tak pernah meminta di lahirkan begini abang. Kalau saja aku bisa memilih, tentu aku tak mau menjadi madu dan tak ingin di madu."
"Jujur abang sedang kehilangan feel dengannya."
"Itu hanya karena abang masih belum bosan pada de Miah saja. Bukankah hubungan kita masih baru. Perbanyak komunikasi lagi dengan mbak Lilis bang. Dia sedang butuh perhatian banyak darimu, itu akan mempengaruhi kehamilannya. Ayolah, tumbuhkan lagi cinta kalian."
"Demi kamu aku akan lakukan."
"Bukan demi aku tapi demi kita. Sini ponsel abang."
"Kenapa?"
"De Miah kasih nomorku yang baru. Abang harus bisa kasih bukti sudah benar menjadi suami yang baik untuknya."
"Itu akan menyakiti hatimu."
"Insyaallah ikhlas bang. Aku mencintaimu. Semakin abang ingin membuang perasaan abang padanya, sesungguhnya aku yang takut, suatu saat aku yang di posisi itu." Resah Lamiah.
"De Miah... benar halangan?" Lamiah malah menarik tangan Irsam menuju bagian intinya yang benar sedang di tambal.
"Mau...? Pulang sana." Usir Lamiah genit. Irsam menerkam bibir itu sesaat lalu melepasnya lagi.
"Jangan datang lagi, sebelum punya bukti sudah menjadi suami yang baik untuknya. Itu PR abang. Dan... sekali lagi, terima kasih rukonya. De Miah suka."
"Hmm... jangan lupa cari pegawai lebih banyak lagi. Pakai uang di sini, ini milikmu. Jangan di tukar lagi, isinya sudah sama dengan miliknya." Irsam sudah menyerahkan lagi kartu sakti untuk Lamiah.
"Terima kasih suamiku sayang. Jangan lupa kerjakan PRmu. Semakin cepat selesai, maka aku benar menjadi milikmu kembali seutuhnya." Ujar Lamiah. Di sambut pelukan oleh Irsam.
__ADS_1
"Jangan lama... de Miah juga kangen abang." Rayunya di telinga Irsam, membuat suaminya meremang. Membayangkan tubuh itu menari di atas tubuhnya lagi.
Irsam pulang, setelah benar telah menenangkan hatinya untuk akan menjadi suami yang seperti di inginkan Lamiah. Namun belum sempurna Irsam memarkirkan mobilnya, Onah sudah berlari mendekati mobil Irsam.
"Tuan... nyonya tuan... tolong nyonya tuan...!!!" teriak Onah agak panik.
"Ada apa dengan nyonyamu...?"
"Pingsan tuan..."
"Di mana dia?"
"Di kamarnya."
Irsam berlari dan segera menuju kamar mereka. Mendapati Lilis yang terkulai seperti orang tidur, tetapi tidak bisa di bangunkan.
"Sudah hubungi dokter biasa?" tanya Irsam pada Onah.
"Sudah, tapi sedang di luar kota." Jawab Onah.
"Onah, kamu ikut pegangkan nyonya." Perintah Irsam pada Onah, kemudian mobil Irsampun melaju dengan cepat menuju rumah rumah sakit terdekat.
Lilis sudah di periksa dan segera di tangani oleh dokter yang bertugas di UGD, masih harus berada di ruangan itu untuk di observasi.
Irsam menatap nanar tubuh Lilis yang bagian tangannya sudah tertancap jarum infus juga di pasang oksigen pada indera penciumannya untuk membantunya tetap bisa mendapatkan oksigen.
"Permisi... keluarga pasien ny. Lilis Listiana." tegur seorang perawat mendekati Irsam.
"Iya... saya suaminya."
"Dokter ingin menyampaikan hasil pemeriksaan sementara." Perawat itu sudah menunjukkan pria berjas putih itu tampak duduk di pojokan ruangan.
"Oh... iya baik." Irsam berjalan mendekati dokter itu.
"Silahkan duduk." Perintah dokter itu pada Irsam.
"Istri anda mengalami dehidrasi berat. Sepertinya pasien telah berhari-hari tidak makan dengan benar. Sehingga banyak mengalami kekurangan cairan. Kami masih menunggu dokter obgyn, untuk memeriksanya lebih lanjut. Juga memastikan keadaan bayi yang di dalam kandungan istri anda. Sebab keadaannya cukup berbahaya, kemungkinan terburuknya adalah ibu atau bayi mungkin tidak selamat." Terang dokter tersebut membuat Irsam hanya terdiam menyadari kesalahannya yang tidak perhatian pada Lilis selama ini.
__ADS_1
"Sementara pasien masih di rawat di ruang observasi ini ya pak. Sambil kami pantau keadaanya untuk di ambil tindakan selanjutnya."
"Boleh saya tetap menjaga di sampingnya dokter?" hanya itu kaliamat yang keluar dari bibir Irsam.
"Boleh pa silahkan." Jawab dokter itu ramah.
Irsam melangkah dan kemudian berdiri di samping Lilis. Merapikan anak rambut yang terberai tak beraturan di sana.
"Maafkan aku, sungguh aku yang telah menjadi gila, bukan kamu. Aku lelaki yang mengumbar cinta di sana sini. Tanpa tau arti kata cinta itu sendiri. Permintaanmu memang salah, namun aku yang lebih salah tak dapat menolak pintamu. Lebih salah lagi, aku jatuhkan cintaku padanya dan ku lupakan kamu pelan-pelan. Maafkan aku ratuku. Kau harusnya masih bertempat indah dan teratas dalam hatiku. Ya Allah... aku sudah sangat berdosa. Jika boleh aku meminta, beri aku kesempatan untuk mencintainya dan jangan kau ambil nyawa anakku." Derita, pinta dan janji Irsam dalam hati.
Tak lama, dokter obgyin datang. Lalu meminta Irsam keluar sebab ia akan melakukan pemeriksaan selanjutnya.
Cukup lama dokter itu melakukan pemeriksaan intensif pada Lilis. Hingga pada menit ke 30, Irsam di panggil kembali oleh dokter yang bersangkutan.
"Bapak... keadaan istri dan calon anak bapak. Sangat membahayakan, persediaan air ketuban juga telah berkurang banyak. Kami meminta persetujuan bapak, untuk di lakukan operasi cesar untuk menyelamatkan bayi juga istri bapak."
"Lakukan saja yang terbaik dokter asalkan anak dan istri saya tetap selamat."
"Kami tidak bisa memastikan keadaan bayi anda. Denyut jantungnya sangat lemah. Tetapi istri anda sudah mulai sadar. Silahkan menemuinya, dan kami akan segera menyiapkan untuk tindakan selanjutnya."
"Silahkan dokter... silahkan." Jantung Irsam berdetak tak karuan, setelah mendengar penjelasan dokter tentang anaknya. Lihatlah, apakah kini Irsam telah menyadari kesalahannya. Irsam menganggap remeh kondisi kehamilan Lilis, bahkan tega selama 2 bulan tak peduli dengan istri yang katanya sangat ia cintai di awal jumpa dan sebelum benar bertemu dengan istri keduanya.
"Ratuku... maafkan aku. Maaf." Desah Irsam saat kini telah berada di dekat Lilis.
"Aku yang salah mas. Maafkan aku."
"Mohon ... kuatlah demi aku. Mas tidak akan bisa memaafkan diri mas sendiri jika salah satu dari kalian tidak selamat. Mas sangat menginginkan anak ini, mas juga tidak ingin kehilanganmu. Mas masih sangat mencintaimu sayangku."
"Ini salahku mas, aku pantas menerima hukuman ini."
"Kita tidak sedang mencari siapa yang salah dan benar. Tapi, mari berdamai dan menghadapi semua yang sudah terjadi ini sayang."
"Mas... maafkan aku." Lirih Lilis dalam isak tangisnya.
"Mas yang harus mendapatkan maaf darimu. Setelah ini berjuanglah, anak kita akan segera kamu lahirkan. Kuatlah untuk kami." pinta Irsam sembari mencium kening Lilis penuh penyesalan.
Bersambung...
__ADS_1