LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA

LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA
BAB 53 : AKU SUAMI KALIAN


__ADS_3

Irsam sebenarnya selalu memantau keadaan Lamiah, tetapi hanya lewat perawat. Dan segala biaya rumah sakit untuk pengobatan Lamiah tentu Irsam yang bertanggung jawab penuh membayarnya.


Di satu malam Irsan tampak duduk menyendiri di taman belakang rumahnya. Ingatannya kembali pada masa di mana akhirnya dia menerima tawaran Lilis untuk menikahi Lamiah.


Tempat itulah awal bencana dan petaka rumah tangganya. Yang memang benar salahnya. Apalah arti sebuah tawaran, toh yang mau menjalanilah yang memang salah.


Abizard dengan pelan melangkah mendekati Irsam yang sedang menyendiri.


"Ada hal apa yang membuatmu seperti berbeban berat Sam?" tanya papa Irsam.


"Heemmm... Irsam hanya sedang merasa berada di pingir jurang saja pa."


"Apakah kamu akan benar menceraikan Lamiah?"


"Berat pa. Cinta urusan kesekian. Lebih ke kasihan padanya. Bahkan ia telah 2 kali gagal memberikan keturunan untukku. Rahimnya rusak olahku, lebih-lebih hatinya. Apa aku masih bisa di sebut manusia. Jika setelah luka itu berkali-kali tertoreh, perceraipun harus ia terima? Bagaimana menurut papa?"


"Sebenarnya saran papa sudah tidak berguna jika baru kamu minta sekarang. Mestinya saat kamu memutuskan akan berpoligami dulu kamu konsultasikan, paling tidak memberi kabar atau bertukar pikiran lah. Sebab suami yang dibolehkan mengawini lebih dari satu orang istri adalah yang benar-benar yakin bahwa dirinya mampu bersikap adil, seadil-adilnya." Tukas Abizard pelan tanpa tekanan.


"Hm... Irsam salah pa." Lirih Irsam sangat menyadari kesalahannya.


"Salah satu aspek yang perlu digaris bawahi dari berpoligami adalah perihal keadilan pemberian tanggung jawab. Baik terhadap istri pertama, maupun istri selanjutnya, hingga anak-anaknya. Sekarang papa tanya sudah benarkah konsep adil yang sudah kamu terapkan pada mereka?" tanya papa Irsam lagi.


"Belum pa. Sama sekali tidak." Jujur Irsam mengakuinya.


"Papa tanya... kenapa kamu tidak mendampingi Lamiah saat sakit?"


"Karena minggu ini adalah jatahku bersama Lilis. Jadi, Lilis tidak mengijinkan Irsam ke sana." Jawab Irsam cepat.


"Artinya kamu lebih berat ke Lilis. Padahal keadilan itu, sifatnya harus fleksibel."


"Tapi jika Irsam bersama Miah, artinya Lilis yang Irsam ingkari? Pasti dia sangat keberatan dan Irsam di tuduh tidak lagi perhatian, tidak lagi cinta, tidak adil dan sebagainya." Irsam membela diri.


"Kesimpulan dibolehkannya laki-laki berpoligami merupakan hal yang dipersempit sebagai suatu perbuatan darurat yang tidak dibenarkan melakukannya kecuali orang yang sangat memerlukannya. Maka semuanya harus adil itu bukan berarti tepat sesuai perjanjian. Tapi sesuaikan kebutuhan. Saat Lilis melahirkan berapa lama kamu mendampinginya? apa itu tidak terbentur jadwalmu mestinya dengan Lamiah?" desak Abizard.

__ADS_1


Irsam tak bisa menjawab desakan sang papa. Sebab benar. Memutuskan menerima tawaran menikah tanpa berkonsultasi pada orang tuanya. Lalu tak pernah tegas dalam urusan membagi waktu itu jelas merupakan kesalahan Irsam yang berlanjut.


"Sam... yang sudah salah jangan di sesali. Yang terpenting keputusan akhir untuk di jalani kedepan jangan lagi salah langkah. Pikirkan lagi apakah Lamiah kamu ceraikan atau tidak. Bawa sholat Sam. Jalanmu semakin gelap, sudah tidak di jalan Allah." Papa Abizard selalu memberi arahan positif pada Irsam.


"Tujuan menikah adalah ibadah, berpoligami pun bertujuan agar lelaki tidak terjerumus ke dalam perbuatan menyimpang, seperti berzina dan juga cara untuk menjaga kehormatan perempuan dan lelaki."


"Dengan kamu menceraikan Lamiah menurut papa, hanya memperpanjang daftar wanita menjadi janda saja. Sedangkan pria bahkan boleh menikahi lebih dari satu bahkan empat wanita dalam waktu bersamaan dengan maksud ibadah dalam artian yaitu memulai menikah dengan niatan beribadah kepada Allah. Selain sebagai sarana ibadah, menikah dapat menaikkan kedudukan wanita serta mempermudah wanita untuk masuk surga." Papar Papa Irsam lebih menjurus pada syarat mutlak poligami.


"Sebagai suami kamu satu-satunya pemegang kendali. Sangat salah jika hanya karena takut salah paham dengan yang satu karena cendrung ke yang satunya lagi. Itu semua bisa di sesuaikan dan di sampaikan dengan baik-baik." Irsam mengangguk-angguk membenarkan semua yang papanya sampaikan.


"Saat kamu sudah memutuskan berpoligami. Papa harap selanjutnya adalah kamu bisa tegas dengan apapun yang akan menjadi keputusan rumah tangga kalian."


"Tolong pikirkan lagi. Keputusanmu bahkan mempengaruhi reputasi papa sebagai ayahmu. Jika rumah tanggamu gagal, papa justru lebih gagal dalam hal mendidikmu menjadi seorang lelaki, suami juga ayah dari anak-anakmu." Sekian kalimat terakhir yang papa Irsam sampaikan sebelum meninggalkan Irsam kembali ke dalam rumah, sebab udara malam sudah semakin dingin menusuk tulang.


Irsam menyesap batang tembakau berapi di bagian ujungnya. Lama Irsam tidak berteman dengan benda itu, sekedar untuk mengalihkan rasa galau, resah dan lelahnya akan kerumitan rumah tangganya.


Lamiah sudah melewati beberapa rangkaian pengobatan currete juga operasi. 5 hari berlalu sebagai masa pemulihannya di rumah sakit dan sesekali di temani karyawannya yang tentu sangat peduli dengannya. Tentu saja membuat hatinya semakin yakin Irsam akan segera menceraikannya.


Dan hingga di hari yang seharusnya ia pulang untuk di kemudian di rawat jalan. Ia pun menekan tombol di ponselnya, memesan taxi online saja untuk pulang ke ruko.


"Duduk saja. Nanti abang yang bereskan semuanya." Irsam sudah berada di ruang rawat Lamiah.


"Ah... kenapa abang datang?" kejut Lamiah melihat Irsam sudah berada di ruangannya.


"Maaf, abang baru datang." Ucapnya mengecup keninh Lamiah.


"Terima kasih sudah menjengukku." jawab Lamiah pelan.


"Abang tidak menjengukmu, tapi menjemputmu." Jawab Irsam datar.


"Miah sudah pesan taxi online bang."


"Batalkan."

__ADS_1


"Tapi sudah meluncur."


"Di bayarkan saja, de Miah tetap pulang sama abang." Suara itu tegas, jelas tidak bisa di bantah.


Irsam sudah menjinjing tas Lamiah dengan satu tangan, sebab tangan satunya melingkar di pinggang istri mudanya.


Lamiah tidak bisa menolak perlakukan suaminya. Bagaimanapun Irsam masih suami sahnya. Belum lagi faktur di bahunya sangat membuatnya kesulitan untuk beraktivitas sendiri. Memilih pasrah dan tidak membantah baginya saat itu adalah hal yang harus ia terima.


Irsam mengemudi mobilnya sendiri, tanpa supir. Kemudian melajukan kendaraan roda empat itu ke alamat bukan ruko. Melainkan rumah kediaman Irsam.


"Abang... kenapa Miah dia bawa kerumah abang?" tanya Lamiah pelan menoleh, menatap suaminya.


"Rumah abang rumahmu juga." Jawab Irsam datar.


"Iya... rumah mbak Lis juga." Runtuk Lamiah yang pasti takut di sakiti lagi di rumah itu.


"Kamu masih sakit, dan abang tidak bisa dengan intens memantau kesehatanmu jika tidak tinggal di rumah." Ujar Irsam yang kemudian sudah menghentikan mobil di garasu. Lalu memapah Lamiah untuk masuk ke dalam rumah itu.


"Abang... Miah kerumah saja." Pintanya yang sungguh ragu untuk masuk ke dalam rumah itu kembali.


Tapi Irsam tidak peduli, dengan tangan yang terus menggemgam Lamiah terus masuk ke ruangan rumah tersebut


"Asalamualaikum." Sapa Lamiah saat memasuki rumah tersebut.


"Walaikumsallam." Jawab Lilis menoleh ke arah suara.


"Mas... kenapa Miah mas bawa kerumah ini?"


"Dia masih harus di rawat jalan Lis." Jawab Irsam tanpa tekanan.


"Tapi bukankan sebaiknya dia di rukonya saja?"


"Aku suami kalian. Aku yang berhak menentukan apapun di rumah ini." Irsam meninggikan suaranya, tanpa memandang Lilis ataupun Lamiah.

__ADS_1


Bersambung...


 


__ADS_2