LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA

LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA
BAB 42 : JEJAK KAKEK


__ADS_3

Kedatangan Faizal dan orang tua Irsam tentu menggangu frekuensi pertemuan Irsam dan Lamiah. Uang sebelumnya lumayan teratur 3 hari dalam seminggu.


Lamiah tidak keberatan akan ketidakseringan Irsam menyambanginya. Sebab komunikasi mereka via telepon terjalin dengan baik juga terupdate. Termasuk kabar kedatangan orang tua Irsam.


Faizal sama seperti kakek dan neneknya. Tidak tau jika kini Irsam beristri dua. Tapi tatanan kamar di lantai dua membuat mama Irsam agak bertanya mengapa sedit berubah, dan satu kamar itu terkunci.


"Ratuku sayang... bagaimana soal aqiqah Adilla. Apakah Lamiah juga di undang?" tanya Irsam pada Lilis meminta petunjuk.


"Sebaiknya di undang. Sini biar aku yang bicara." Jawab Lilis meminta ponsel Irsam.


"Assalamualaikum... Miah ini Lilis."


"Walaikumsallam mbak Lis. Bagaimana kabar mbak?"


"Kabarku akan lebih baik jika kamu datang ke rumah ini untuk ikut mendoakan Adilla. Juga di sini ada mertuamu. Kamu harus berkenalan dengan mereka. Kamu sudah tidak punya orang tua, merekalah sekarang orang tuamu. Jika masih marah pada mbak, setidaknya pulang dan datanglah untuk menemui mereka." Pinta Lilis pelan.


"Baiklah mbak... tolong minta bang Irsam jemput. Miah akan datang." Jawab Lamiah singkat.


"Jemput dia mas. Miah bersedia datang." Perintah Lilis pada suaminya.


Sebelum tokoh agama datang, Lamiah sudah tampak ada di rumah itu kembali. Rumah yang menjadi saksi ia berikrar sehidup semati dengan suaminya, rumah yang memberinya banyak cinta dan luka secara bersamaan. Sukakah atau dukakah lagi yang akan ia terima saat kembali memginjakkan kakinya di sana, walau hanya mungkin sebagai tamu saja.


Lamiah berada di kamar Adilla. Mengelus pipi merah bayi yang juga pernah ia jaga selagi dalam kandungan. Menetes air mata di pipinya, seketika sedihnya menyeruak tatkala ingat iapun hampir pernah memiliki buah hati.


"Mengapa terlihat sedih?" tanya seorang wanita tua mendekati box cucunya.


"Jika aku tidak keguguran, mungkin aku juga punya bayi seperti ini." Jawabnya tanpa melihat lawan bicaranya.


"Anak keberapa?"


"Pertama."

__ADS_1


"Sudah lama menikah?"


"Tidak, belum setahun. Kurang lebih seusia Adilla. Oh... hampir 10 bulan." Jawab Lamiah lagi.


"Ah... masih baru. Kamu dan suami tentu bisa memiliki anak kembali." Jawab mama Irsam yang tidak tau pada siapa dia sedang berbicara.


"De Miah... ternyata di sini. Abang kira kamu ke kamar." Ujar Irsam yang langsung menerobos masuk lalu mencium pipi kanan Lamiah, tanpa melihat kehadiran ibunya di sisibbersebrangan dengan box bayi itu.


"Irsam...!!!" Hardik suara dari belakang. Irsam menoleh dan melihat sudah ada mamanya berdiri dengan raut tak percaya atas manisnya perlakuan Irsam pada wanita yang terlihat bersedih tadi.


"Mama...." Kejut Irsam.


"Oh... ini ma parkenalkan Lamiah. Menantu mama yang kedua."


Mama Irsam kaget bukan kepalang. Tak percaya anaknya dengan santainya memperkenalkan wanita tadi sebagai istri keduanya.


"Apa-apaan kamu Irsam? Jelaskan pada mama apa yang terjadi atas rumah tanggamu?" bentaknya sengit.


"Apa salah Lilis sampai kamu tega menduakannya. Kamu juga... apa kamu tidak tau kalau Irsam sudah beristri. Kamu itu wanita... masa tidak punya hati, berani merusak rumah tangga orang lain, dasar wanita tidak tau malu. Irsam... ceraikan dia. Usir sekarang atau mama yang pulang!!" mama Irsam benar tak terima menantunya di madu.


"Mama... mama. Tenang dulu. Mas Irsam tidak salah, mereka menikah atas ijinku, dia sahabatku ma. Aku yang minta agar dia bersedia menikah dengan mas Irsam." Tiba-tiba Lilis datang dan sudah mendengar bentakan mama mertuanya.


"Sahabat macam apa yang tega merebut suami sahabatnya sendiri?" Ujar mama Irsam masih kesal dan memandang tajam ke arah Lamiah yang hanya bisa menangis tersedu-sedu.


"Dia tidak merebut mama. Aku yang ingin berbagi cinta mas Irsam dengannya."


"Hah... apa kurangnya kamu sebagai istri Irsam hah? Kamu tidak mandul, kamu tidak akan mati cepat karena penyakitkan Lis? Kamu juga istri yang sudah sangat sempurna mendampingi suami, apa alasanmu mengijinkan suamimu menikah lagi?" mama Irsam makin berang.


"Sudah lah ma. Ini sudah terjadi. Nanti lagi kita bahas ini. Irsam harap mama menerima Lamiah sebagai menantu mama sama seperti Lilis." Peluk Irsam pas Lilis saat ia mendekat pada posisinya dan Lamiah.


"Hah. Jangan mimpi...!!!" Ucapnya sambil berlalu meninggalkan Lilis, Lamiah, Irsam dan Adilla yang masih terlihat tidur nyenyak.

__ADS_1


"Maafkan mama ya Miah. Mungkin mereka perlu waktu untuk menerima keputusan kita bertiga." Ucap Lilis pelan.


Lamiah hanya diam, berusaha memghapus airmatanya sendiri.


"Ya... rumah tangga ini sudah berjalan. Walau belum baik. Tapi mulai sekarang mari kita hadapi bersama-sama. Dan kali ini saya minta. Antara kalian berdua tidak ada dendam dan kemarahan lagi. Mari kita sama-sama wujudkan keadilan di dalam rumah tangga kita." Ujar Irsam menjulurlan tangannya ke kiri dan kanan untuk memeluk kedua istrinya.


"Maaf tuan. Petugas acara sudah datang, acara akan segera di mulai." Onah muncul di ambang pintu saat Irsam baru selesai mengecup keninh kedua istrinya.


"Iya.. kami akan keluar." Jawab Irsam.


"Apapun yang terjadi nanti. Tetaplah duduk di sisi ku sama seperti Lilis. Tunjukkan pada semua. Bahwa rumah tangga ini benar rukun. Pernikahan keduaku memang pernikahan yang di ijinkan oleh istri pertamaku. Hanya kita bertiga yang bisa patahkan asumsi orang bahwa berbagi cinta itu mustahil." Tegas Irsam.


Lilis dan Lamiah hanya terdiam. Bagaimanapun rasa ingin di cintai Irsam dengan porsi lebih tentu ada dalam hati keduanya.


"Lilis... bertanggung jawablah dengan permintaanmu."


"Lamiah tunjukkan bahwa kamu menerima takdirmu menjadi yang kedua."


"Maka tugasku adalah menjaga marwah kedua istriku. Menutupi aib dalam keluarg kita." Lanjut Irsam kemudian. Tanpa di bantah atau pun di jawan oleh keduanya.


Lalu Irsam memggendong Adilla untuk di bawa ke ruangan tempat di adakan acara. Irsam bak seorang raja yang berjalan di apit dua dayang-dayangnya.


Bunda Lilis membuang muka melihat pandangan itu. Bertemu mata dengan dengan besannya, mama Irsam. Keduanya saling tatap, dengan sorot mata yang tak dapat di artikan. Ada tanya, ada marah, ada kesal juga ada tatapan tak percaya di antara keduanya.


Sementara Abizard Haedar memandang kagum mengartikan sendiri jika wanita yang duduk di sisi kiri anaknya itu adalah istri muda putranya tersebut.


Namun, ia tetap menunggu Irsam sendiri yang akan menyampaikan padanya. Beserta dengan alasan yang membuatnya menikah lagi. Sebab dari lima bersaudara laki-laki, hanya Abizard yang tidak berpoligami.


Kakek Irsam pun dulunya beristri 4, maka papa Irsam tidak heran jika anaknya pun memgikuti jejak kakek buyutnya .


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2