
Lilis sudah menyampaikan ide acara tujuh bulan itu pada Irsam suaminya. Walau di tanggapi dingin oleh Irsam.
"Apa dia bersedia?" tanya Irsam saat Lilis menyampaikannya.
"Memang belum di jawab dengan pasti. Tapi coba mas lagi yang membujuknya, pasti akan berhasil." Oceh Lilis percaya diri.
"Sepertinya apapun kata yang keluar dari mulut mas, sudah tak ada yang ia percayai lagi Lis. Yang ia ingin dengar hanya kata talak dariku." Dengus Irsam menyunggar rambutnya.
"Paling tidak berusahalah terlebih dahulu. Memiliki foto pernah memperlalukan buah hati kalian, mungkin sangat berguna nanti. Agar anakmu percaya, bahwa ia pernah memiliki seorang ayah yang baik. Saat mas Irsam gagal menjadi suami ibunya, paling tidak mas pernah berusaha menjadi ayah yang sempurna baginya." Bujuk Lilis yang selalu mampu mempengaruhi otak suaminya dengan rayuan konyolnya.
Lamiah bahkan tak pernah sebegitu kuat menggoda suami sahabatnya itu, melainkan dorongan Lilis sendiri yang membuat Irsam dan Lamiah jatuh terjerembab pada pusaran cinta laucknad tak berujung indah itu.
Tanggal pelaksanaan belum di tentukan, persetujuan dari yang bersangkutan pun belum tentu di setujui, tapi lancangnya Lilis selalu terdepan. Bahkan lusa mertuanya siap datang untuk menghadiri acara tujuh bulan tersebut.
Saat Irsam menolak untuk membujuk Lamiah melaksanakan acara itu, Lilis dengan percaya dirinya masih ingin menantang badai rumah tangganya. Masih ingin menunjukkan bahwa ia adalah sosok istri pertama yang sangat perhatian dan sayang pada madunya. Ia selalu lupa, bahwa hati Lamiah itu sangat kecil, terbuat dari bahan lemah bagai dadih yang mudah pecah, walau hanya dengan seutas gores benda tajam. Apalagi di hantam berkali-kali dengan tingkahnya yang selalu kontroversial itu. Lilis... Lilis.
"Kapan acaranya di gelar?" tanya mama Irsam pada Lilis saat sudah berada di kediaman mereka.
"Belum di tentukan. Bahkan Miah belum menyetujuinya ma." jawab Lilis pelan.
"Hmm... bagaimana dengan hubungan kalian? apa baik-baik saja?" mama Irsam mencium sesuatu yang tidak beres pada rumah tangga itu.
"B.. baa baik. Kami baik baik saja. Hanya Miah tidak ingin tinggal di sini lagi. Ia lebih memilih tinggal di ruko." Gugu Lilis.
"Apa karena kehamilan Miah, kamu urungkan proyek untuk merebut kembali hati suamimu?" tanya mertuanya.
"Sudah mama. Mas Irsam sudah kembali kepelukanku seutuhnya."
__ADS_1
"Lalu mengapa kalian masih peduli dengan Miah?"
"Hanya ingin memberi kesan baik di penghujung jalianan mereka."
"Penghujung?"
"Ya... mereka akan bercerai setelah Miah melahirkan."
"Apa kamu yang meminta ini terjadi pada Irsam?" Lamiah menggeleng.
"Kamu memaksa Miah?" tebak mama Irsam lagi.
"Tidak mama. Mereka bersepakat dengan sendirinya. Miah yang berkeras minta di cerai. Dan mas Irsam sendiri yang meminta agar aku tetap di sisinya, mengembalikan rasa yang dulu pernah kami miliki." Mama Irsam membelai lembut rambut menantu pertamanya itu.
"Hidupmu terlalu beruntung memiliki suami yang sangat menyayangimu, bahkan memiliki madu yang sangat mengasihimu. Jaga yang telah kamu miliki, jangan lagi kehilangan kesempatan untuk orang orang yang tulus padamu." Pesan mama Irsam pada Lilis.
"Alhamdulilah, itu kabar baik bagi mama. Sebab ia wanita baik dan layak merasakan kebahagiaan tanpa berbagi seperti yang ia alami kini." Tukas mama Irsam membuat Lilis menggigit bibir bawahnya sendiri. Keki usahanya ingin menjelekkan Lamiah di hadapan mertuanya pudar sudah.
Di hari berikutnya, mama Irsam sudah di antar oleh supir menuju ruko Lamiah. Dengan membawa berbagai bingkisan untuk menantu keduanya tersebut.
Sorot mata penuh takjub terpancar dari para pegawai salon Lamiah, saat melihat wanita tua namun masih energik juga berpenampilan elegan itu datang ke salon untuk mencari Lamiah.
"Mama...." Dengan suara setengah berteriak Lamiah segera mempercepat langkahnya mendekat dan segera mencium punggung tangan mertuanya penuh hormat.
"Waah... calon cucu oma. Kalian sehat sayang?" usap mama Irsam padabperuy buncit Lamiah.
"Alhamdulilah sehat ma." Jawab Lamiah ceria. Lalu mengajak mertuanya ke rumah sebelah.
__ADS_1
"Kabarnya usia kandunganmu sudah tujuh bulan. Kita adakan pengajian ya sayang... agar bayimu semakin sehat, banyak yang ikut mendoakannya." pinta Mama Irsam tanpa basa basi.
"Apakah itu wajib ma?" tanya Lamiah.
"Bagi yang mampu dan mau tentulah wajib. Bagaimanapun dia adalah cucu oma, anak Irsam. Masa mama harus bedakan mereka, beda kasus dengan Adilla yang lahir prematur sayang." bujuk mama Irsam pada Lamiah.
"Apakah boleh hanya di laksanakan di sini? kita laksanakan sederhana saja. Yang penting terlaksana." Pinta Lamiah melunak pada mama mertua yang terlihat tulus menyayanginya.
"Tidak masalah sayang, yang penting niat kita sampai." Jawab mama Irsam yang sama sekali tak mau menyinggung tentang hubungan rumah tangga anak dan menantunya ini.
"Baby...." panggil suara khas baritton dari luar pintu yang langsung nyelonong tanpa permisi, siapa lagi kalau bukan Mattew. Ia bahkan sudah melesat mendekat dengan tubuh Lamiah tanpa peduli dengan wanita tua yang duduk bersama Lamiah.
"Mattew... perkenalkan ini mama mertuaku, ibunya bang Irsam." Ucap Lamiah sebelum tangan Mattew benar benar sampai menjangkau permukaan kulit perutnya.
"Oh... maaf bu. Perkenalkan saya Mattew teman Mia. Maaf, saya memanggilnya baby tadi. Itu panggilan sayangku, untuk bayi yang ada dalam kandungannya." Mattew so akrab pada mama Irsam.
"Huum tidak masalah, mama senang Miah punya teman yang baik dan perhatian padanya. Mattew... huum kami punya kebiasaan untuk melaksanakan ritual siraman dan pengajian pada usia kehamilan tujuh bulan. Untuk itu, kami datang jauh jauh dari Turkie, ingin melaksanakan acara tersebut. Dan Miah ingin melaksanakannya di sini." Mama Irsam tak kalah so' akran pada Mattew yang bahkan baru ia kenal. Dalam hatinya ia yakin, mungkin ini adalah pria yang Lilis maksudkan, bahwa Lamiah telah memiliki lelaki yang lebih perhatian pada Lamiah. Sungguh mama Irsam sangat bahagja melihat kesopanan pria tersebut.
"Waaw... Mia. Boleh aku saja yang menyiapkan semuanya?" pinta Mattew tanpa peduli dengan kehadiran ibu mertua Lamiah sekalipun.
"Mattew... aku punya suami. Jangan lupa itu." Hardik Lamiah agak keras.
"Pliiis. Anggap ini permintaan terakhirku. Setelah ini jika kamu minta aku hilang dari hidupmu seperti yang kamu minta selama ini pun aku rela. Tapi ijinkan aku menyiapkan semuanya... oke..." permintaan itu terdengar merengek dan penuh iba.
"Bu... ijinkan ya. Biar saya yang siapkan semua. Saya pernah punya istri, tapi kehamilannya tidak sampai seusia kehamilan Mia, mereka sudah di ambil Tuhan dariku. Jadi, tolong bu ijinkan aku yang menyiapkan semuanya untuk baby, yang aku dedikasikan pada anakku yang sudah tenang di surga." permintaan Mattew beralih pada mama Irsam.
Membuat Lamiah dan mama mertuanya itu hanya saling pandang, berganti tatap.
__ADS_1
Bersambung....