LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA

LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA
BAB 76 : PURA PURA LUPA


__ADS_3

Dua purnama terlewatkam dengan suram. Bercahaya namum tetap tak dapat menerangi malam Irsam dan Lamiah.


Sejak pertemuannya Irsam dengan Mattew hari itu, ia sendiri dapat menyimpulkan jika lelaki itu sungguh mencintai istrinya bahkan lebih dari dia.


Demikian juga dengan Lamiah, walau Irsam belum menangkap sinyal cinta yang kuat dari Lamiah untuk Mattew. Tetapi Irsam ingin menjadi lelaki sejati untuk Lamiah. Lelaki yang dengan kuat mencinta namun tak menuntut bersama.


Mungkin beberapa lalu ia pernah oleng, kadang ingin tetap mengikat, kadang juga ingin melepas. Sempat keukeh ingin menceraikan Lamiah, namun juga iba atas kehamilan istrinya tersebut, sehingga ingin tetap menjaga dan merawat bersama janin itu bersama, tetapi sikon tak memungkinkan.


Di sisi lain Irsam paham dengan hawa yang Lamiah tiupkan saat terakhir mereka bertemu. Bahwa ia ingin segera terbebas dari ikatan tali perkawianan mereka. Jika Irsam pun akan meminta anak itu untuk ia rawat nanti, dan memberi gelar janda pada Lamiah, tentu saja itu sangat menambah deretan derita bagi istri keduanya. Irsam tak mau selamanya menjadi iblis.


Sementar itu, Lilis tampak telah semakin pandai memenuhi kebuhannya baik lahir juga batinnya. Toko perhiasannya maju juga berkembang pesat, tanpa ia menomorduakan keluarga. Irsam tetap di layani bak seorang raja kembali, dan Adilla tetap ia perhatikan layaknya seorang putri.


Sesungguhnya rumah tangga mereka memang stabil begini sejak awal. Sebelum ada Lamiah. Tapi, semua sudah Lilis dan Irsam bicarakan juga sepakati. Mereka menyimpukan. bahwa Lamiah hanya bagian dari gelombang, riak kecil yang sempat ingin memporakporandakan biduk bahtera rumah tangga mereka.


Sehingga mereka memberikan waktu seluas mungkin untuk Lamiah sendiri, nafkah lahir selalu Irsam berikan sesuai dan sama seperti yang ia berikan untuk Lilis. Sedangkan nafkah batin tentu tidak bisa ia berikan secara fisik, sebab Lamiah pasti menolak. Namun, kecukupan batin tentu tidak hanya seeks bukan. Irsam hanya kembali berhubungan seperti mereka pacaran jarak jauh dulu. yaitu hanya saling berkirim kabar via telepon juga chat pendek.


"De Miah... usia kandunganmu sudah berapa bulan sayang?" chat Irsam saat masih di ruang kantornya. Ia akan bersedia jika Lamiah mengajaknya untuk memeriksa keadaan bayi mereka tersebut le dokter kandungan.


"Hampir 7 bulan bang."

__ADS_1


"Mau abang temani periksa ke dokter sayang?" tanyanya kembali.


"Malu bang." jawab Lamiah dengan cepat.


"Kenapa?"


"Sejak Miah hamil 4 bulan, selalu Mattew yang mengantar Miah periksa. Jika nanti abang yang antar, mungkin saja dokternya bingung. Dan Miah terlalu malas untuk menjelaskan hal yang tak penting untuk di jelaskan pada orang orang yang tak perlu tau akan ke rumitan ini." paparnya.


"Baiklah. Maafkan abang melewatkan momen indah bersama calon buah hati kita." balas Irsam.


"Mungkin dengan tak punya kenangan sejak di dalam perut akan lebih baik, hingga nanti utun sudah di dunia bang." balas Lamiah yang sangat jelas sudah sangat membenci Irsam.


"Ya... semoga begitu. Salam buat Mattew ya. Semoga dia berjodoh denganmu. Dan benar menjadikanmu ratu bukan madu, seperti kami memperlakukanmu."


"Sabarlah, setelah masa nifasmu selasai. Abang pastikan kamu mendapatkannya. Hanya satu pintaku. Jika nanti kita tidak lagi suami istri, setidaknya kita jangan menjadi musuh. Bagaimanapun juga, kita pernah melewati indahnya surga dunia, menembus nirwana fana, menggenggam dunia, dan bergelayut di atas pelangi, hanya kita berdua." Tiba-tiba Irsam ingat manisnya masa indah kegilaan mereka berdua, dulu.


"Terima kasih pernah menjadi orang yang sangat luar biasa membawaku lupa daratan. Untuk sementara abang yang terbaik. Dan jika abang ingin tetap jadi yang paling baik bagi Miah. Maka tolong bahagiakan sahabatku seperti dahulu. Di mana ia sangat memuja suaminya yang tanpa cacat cela." sindir Lamiah yang tak pernah pudar dalam hal mengingatkan bahwa Lilis wajib untuk di puja.


Setali tiga uang, manisnya hububgan via udara antara Lamiah dan Irsam. Lilis pun masih sering terlihat menjenguk Lamiah ke rukonya. Kadang membawa Adilla, kadang juga sendiri. Dengan alasan menjadi pelanggan tetap di salon milik Lamiah.

__ADS_1


Pegawai Lamiah percaya saja, saat Lamiah dan Lilis mengaku jika mereka bersepupu. Sehingga wajar hubungan mereka terlihat akrab, walau berbeda warna kulit. Tak ada terbersit kecurigaan mereka jika dua hubungan dua wanita itu adalah hubungan antara ratu dan selir. Hah... pintar sekali mereka bermain peran.


"Miah... jika ada kata yang lebih baik dari kata maaf. Mungkin itu lah yag ingin mbak haturkan padamu. Sungguh, mbak menyesal berbuat semua ini padamu." obrol Lilis saat mengupaskan buah apel untuknya dan Lamiah.


"Sudah lah mbak. Aku takut hipertemsi jika mengingat hal itu. Dan dokter kandunganku sangat menganjurkan agar aku bisa mengelola stresku. Aku berbakat mengalami pre-eklamsi mbak. Jadi harus ekstra hati-hati dalam hal menjaga pola makan, pola tidur bahkan pola pikir. Jadi, tolong tak usah membahas hal yang tak penting secara berulang. Aku hanya ingin melewati dua bulan kedepan dengan suasana tenang, hingga tiba masa aku melahirkan sekaligus menyandang status jandaku." jawabnya lirih.


"Kamu masih sangat mencintai mas Irsam?" pertanyaan konyol macam apa yang Lilis tanyakan pada madunya itu.


"Ku bilang cinta juga percuma, toh tekadku sudah bulat untuk lepas dari jerat cinta gila ini. Mungkin mencintai tak harus memiliki adalah kata yang paling tepat untuk kami." Jawab Lamiah tegar.


"Lalu apa sesunggunya aku sedang berbahagia di atas penderitaan mu?" Lagi Lilis bertanya dengan bo dohnya.


"Tentu tidak lah. Bukankah mbak telah lebih dahulu berbahagia jauh sebelum aku datang? Jadi tidak ada bahagia itu di atas penderitaanku. Penderitaanku pun sudah terjadi sejak lahir mungkin. Sejak menjadi sebatang kara tanpa ayah dan bunda." Jawab Lamiah yang sangat menohok hati Lilis, ia tau perjalanan sedih sahabatnya sejak lama. Alih alih mengurangi derita sahabatnya, ia justru menambah panjang kesengsaraan hidup wanita yang katanya ia sayangi lebih dari dirinya sendiri itu. Menitik air mata Lilis untuk Lamiah.


"Mbaaak... ku bilang kita tidak boleh bahas itu lagi. Anggap saja yang kemarin tak pernah terjadi. Aku akan pura pura lupa saja, walau utun adalah buktinya." usap Lamiah pada perut buncitnya.


"Maaf... maafkan mbak ya sayang. Oh iya... usia kandunganmu 7 bulankan. Pulanglah ke rumah, setidaknya kita lakukan pengajian untuk acara tujuh bulanannya. Jangan di tolak, ia adalah anak mas Irsam. Nanti mba yang siapkan semuanya. Dan memberi kabar untuk mama dan papa di Turkie. Mungkin mereka akan datang menghadirinya."


"Tidak usah repot repot mbak. Tidak perlu."

__ADS_1


"Pliss Miah, setidaknya walau di penghujung kebersamaan kalian, ciptakanlah momen seindah mungkin." Pinta Lilis mengiba pada Lamiah.


Bersambung...


__ADS_2