
Lilis manusia biasa bukan titisan dewa juga bukanlah istri nabi. Awalnya ia mengira berbagi suami itu semudah membagi nasi di dalam piring makan, lalu dapat di nikmati bersama-sama dengan lawan yang akhirnya bisa makan bersamanya.
Heeii... yang Lilis bagi adalah suaminya. Makhluk hidup yang memiliki hati, pikiran dan perasaan. Hati suami mana yang rak goyah saat daun muda nan segar yang di tawarkan sang istri. Lalu apakah sulit bagi Lamiah jatuh cinta pada pria yang nyaris sempurna di ijinkan untuk mencintainya, walau itu suami sahabatnya.
Cinta mana bisa di atur untuk tumbuh pada sisi mana, saat benih itu sengaja di semai lalu di tabur di atas lahan subur. Cinta tak sebercanda itu, saat ada yang ingin berbagi dengan hal itu.
Lilis kembali mendapatkan jatah bersama suaminya. Dan Irsam pelan-pelan dapat kembali mengontrol rasanya, meyakinkan dirinya agar dapat benar adil pada kedua istrinya.
"Ratuku... apakah tidak ada pikiranmu untuk mengajak Miah jalan-jalan seperti yang pernah kalian lakukan. Bukankah kalian bukan rival?" tanya Irsam saat mereka selesai bercinta penuh gelora membara seperti biasa.
"Huum... baiklah rajaku. Besok-besok kami akan mulai berakivitas di luar bersama." Jawab Lilis memeluk suaminya.
"Terima kasih ya sayang. Dan sesungguhnya mas tidak pernah ingin menghardikmu waktu itu. Tapi, mas tidak punya alasan lain. Hanya mas merasa tidak berguna menjadi kepala keluarga."
"Sudahlah... memang aku yang salah. Maafkan aku mas dan kita tak perlu membahas hal itu lagi."
"Baiklah... love you my wife." Irsam tak ingin memperpaniang obrolan tentang hal itu bersama Lilis.
"Love you too my hubby. Oh iya... mas. Saat di Banten, aku sempat melepas IUDku. Faizal sudah 5 tahun, ku rasa rahimku sudah siap di buahi kembali. Selain Faizal sudah waktunya mempunyai adik, ku rasa rumah ini pun harus segera di isi dengan tamgis bayi."
"Alhamdulilah. Akhirnya ratuku menyetujui permintaan yang hampir 3 tahun ku pinta. Terima kasih ya sayang. Semoga adik Faizal segera hadir di sini." Elus Irsam penuh sayang pada perut istrinya, dan membenamkan kepala Lilis di dadanya.
Hari berlalu maju, tak terlihat lagi pemandangan kucing-kucingan Lamiah dan Irsam seperti biasanya. Lamiah tampak tegar melihat kemesraan Lilis dan Irsam, saat jatah itu memamg menjadi bagian Lilis. Agak berbeda dengan Lilis, sebab kadang ia lebih memilih untuk joging dalam waktu agak lama, sekira Irsam sudah berangkat bekerja. Barulah Lilis masuk rumah.
"Miah... bagaimana kalau hari ini kita jalan-jalan ke mall. Rasanya sudah lama sekali kita tidak hang out bersama." Ajak Lilis pada Lamiah.
"Oh... iya baiklah mbak." Jawab Lamiah berusaha santai dan seolah hubungan mereka tetap baik seperti sedia kala. Sembari mengirimkan chat pada suaminya.
"Bang, mbak Lilis mengajakku ke mall hari ini. Apakah de Miah boleh pergi?"
"Boleh sayang, pergilah. Maaf tidak bisa menemanimu."
"Tidak apa. Terima kasih abang." Chatting berakhir, Lamiah pun mendapatlan ijin dari sang suami.
Lamiah benar-benar meletakkan Irsam sebagai suami sesuai kaidahnya, juga Lamiah benar ingin memainkan perannya sebagai istri sholehah pada umumnya. Di mana seorang wanita yang bersuami, memang harus meminta ijin dari sang suami.
Lilis dan Lamiah awalnya adalah sahabat, tentu tidak sulit bagi mereka terlihat akrab dan dekat kembali. Bersama melupakan pertikaian kecil yang terjadi, belajar saling menerima kenyataan bahwa kini mereka telah menjadi istri dari pria yang sama. Maka tentu manis di pandang mata jika melihat mereka akur dan dapat tertawa bersama.
Mengapa tidak dari awal saja mereka menciptakan hubungan seperti ini, menjalani hidup sesuai konsep berbagi pada umumnya. Dapat di pastikan, rasa tak nyaman dalam rumah tangga mereka tentu tidak akan muncul kepermukaan.
Lilis dan Lamiah kini telah berada di sebuah mall besar di kota Bogor. Saling bertukar pendapat untuk memilih apa saja yang akan mereka beli untuk di bawa pulang.
__ADS_1
Lilis terlihat memegang kemudian melepas kembali beberapa tas di etalase itu, sepertinya ia menginginkannya.
"Hemm... Miah. Ambil saja tas itu, kamu tau, di arisan mbak yang bisa bawa tas itu cuma sekelas ibu-ibu anggota dewan lho Miah."
"Ah... mereka wajar memakainya. Kalau Miah... untuk kemana?" ujarnya meletakkan kembali tas itu dan kembali ke tempat semula.
"Nanti kamu mbak ajak juga deh Miah, ke acara arisan seperti mbak, di situ kita akan bergaul dengan ibu-ibu berkelas tinggi. Buruan... ini limitied edition loo. Ga bakalan nyesel. Ini tuh Ori lho." Jejal Lilis seolah memaksa Lamiah mengambilnya.
"Tapi ini mahal mbak..."
"Issh... duit suami kita banyak Miah. Kita punya anak 12 hingga 7 turunannya pun mas Irsam ga bakalan miskin. Hanya karena kamu membeli tas itu." Lilis terus meracuni pikiran Lamiah.
"Miah tanya bang Irsam dulu ya mbak." Pamit Lamiah mengeluarkan ponselnya. Kemudian menelpon Irsam.
"Assalamualaikum bang..."
"Iya de Miah, ada apa sayang?"
"De Miah lagi sudah berada di mall dengan mbak Lis."
"Hm... lalu."
"Dede mau...?"
"Mau tapi mahal bang." tukasnya manja
"Beli saja, kalau dede suka."
"Mahal sekali bang."
"Ambil saja."
"Boleh?"
"Iya..."
"Ga papa?"
"Iya..."
"Abang ikhlas membelikannya untuk de Miah?" tanyanya memastikan.
__ADS_1
"Ikhlas lah, pakai kartu yang abang kasih ya de."
"Iya... terima kasih bang."
"Sama-sama sayang. Belanjaan Lilis bayarkan sekalian de."
"Baiklah. Assalamualaikum bang."
"Walaikumsallam de Miah."
Lamiah menutup sambungan telepon dengan suaminya dengan wajah berseri-seri. Kemudian melangkah berjalan mendekati Lilis yang masih terlihat memperhatikan modelbtas lainnya.
"Gimana? Bolehkan?" tanya Lilis yang sudah tau tabiat suaminya yang pasti selalu membolehkan istri untuk membeli apa saja, tanpa memikirkan berapapun harga benda yang akan di belikan. Asalkan istrinya senang.
Lamiah mengangguk.
"Mbak.. mau beli juga?"
"Hahaa... mbak ga suka model itu." Jawab Lilis mengernyitkan alisnya.
"Kata bang Irsam, Miah boleh beli tas itu. Terus bayarkan juga belanjaan mbak Lilis."
"Oh yaa... baiklah kalau begitu. Siap kita bobol uang mas Irsam hari ini Miah." Ujar Lilis riang.
Kini keduanya sudah mendapatkan apa saja yang mereka sukai, dan tibalah keduanya di depan kasir. Setelah agak lama mengantri, Lamiah pun sampai pada gilirannya untuk membayar dengan kartu yang di serahkan Irsam padanya saat mereka berbulan madu.
Lilis melotot ke arah kartu yang Lamiah sodorkan untuk membayarkan semua belanjaan mereka. " Hah... kapan mas Irsam menyerahkan kartu yang isinya paling banyak itu? Kenapa harus kartu yang itu, jangankan untuk menngunakannya belanja, bahkan menyentuhnya pun harus dalam pantauan matanya. Lalu dari sekian banyak kartunya, mengapa harus itu? Ini tidak bisa di biarkan." Batin Lilis dalam hati tiba-tiba kesal melihat kartu sakti itu di tangan Lamiah.
"Miah... kapan mas Irsam memberikan kartu itu padamu?"
"Oh... bulan lalu mbak. Saat kami di Labuan Bajo." Jawaban itu seolah kode bagi Lilis jika pelayanan Lamiah memang sangat prima, sehingga ia di serahkan kartu tersebut.
"Miah... boleh kah kita bertukar kartu? Maaf, itu isinya lebih banyak dari yang ku pegang. Tidak bermaksud apa-apa. Hanya bukankah di sini aku adalah istri pertama, yang tugasnya memegang dan mengatur keuangan rumah tangga kita. Sehingga tentu aku lebih membutukan kartu itu." Pinta Lilis pada Lamiah
Lamiah berpikir sejenak, merasa tak berhak memutuskan sendiri akan permintaan Lilis itu. Namun, sementara Lamiah berpikir, Lilis sudah mengambil kartu yang ada padanya. Kemudian menukarkannya dengan milik Lamiah.
"Sudahlah jangan bengong. Dan kamu tak perlu meminta ijin pada mas Irsam. Nanti mbak yang akan mengatakannya pada mas Irsam."
Lamiah merasa lega dan memilih percaya saja dengan Lilis.
Bersambung...
__ADS_1