
Entah bagaimana Mattew di mata mama Irsam, namun akhirnya ia dan Lamiah setuju saja dengan keinginan Mattew. Padahal jelas jelas itu suami bukan, pacar juga tidak. Setitik pun tidak ada darah dagingnya menetes mencampuri adonan janin itu. Hanya permintaan yang ia sampaikan terlihat tulus dan ikhlas saja, yang dapat mama Irsam rasakan.
Malam itu mama Irsam memilih tidak pulang ke rumah. Ia ingin tidur bersama menantu yang sesungguhnya juga ia rasakan kebaikannya. Baginya Lamiah hanya sial saja bertemu dengan anak dan menantunya Lilis itu.
"Usahakan setiap malam membalur minyak zaitun ini di permukaan kulit perutmu nak, untuk mengurangi gatal akibat kencang juga mengurangi stretc mark setelah lahiran nanti." Mama Irsam dengan lembut mengusap perut Lamiah dengan hati-hati namun merata. Tentu dengan segala untaian doa terbaiknya untuk calon cucu yang nanti juga menjadi penerus nama keluarga besar mereka.
"Iya... kadang sehabis mandi sore jika ingat Miah oles kok ma." Jawab Lamiah dengan senyum ke arah mama mertuanya.
"Maafkan anak mama ya Miah. Mestinya ia ada saat kamu hamil buah hati kalian ini. Bagaimana pun ini makhluk bernyawa, sudah punya telinga, juga perasaan. Sejak di dalam kandungan ia tau siapa yang dengan mulia, menunggunya dengan sepenuh hati." Ucap mama Irsam sambil mengoleskan minyak zaitun pada perut Lamiah, juga memijat kaki menantunya itu.
"Miah selalu menjaga komunikasi yang baik dengan utun ma. Kadang saat abang menelpon pun, Miah letakan di perut Miah. Agar kelak ia tetap hormat pada abinya. Walau kami tidak bersama lagi." Ucapnya lirih.
Mama Irsam tau, sesungguhnya menantunya ini rapuh, ia hanya berusaha tegar saja.
"Apa keputusan mu berpisah sudah bulat Miah?"
"Insyaallah ma." jawabnya sambil menyelipkan anak rambut yang jatuh berkejaran ingin menutup matanya.
__ADS_1
"Apakah tidak bisa di tawar kembali? Atau Mattew tadi memang telah mampu menggeser Irsam di hatimu?" Lamiah menggeleng, kemudian memilih jujur pada mama mertuanya.
"Mungkin Miah salah, telah memanfaatkan Mattew dalam rumah tangga kami. Dengan kehadirannya, hanya seolah menyamarkan masalah kami yang sesungguhnya. Ia seolah menjadi orang yang merusak tatanan cinta dalam hati Miah. Padahal salah besar, tak ada sedikitpun Mattew dalam hatiku. Tidak semudah itu bagi Miah untuk jatuh cinta, ma. Apalagi perjalanan cinta yang di sodorkan bagi Miah tidak biasa orang lain rasakan dan temui. Cinta ku unik, penuh polemik, meninggalkan trauma tersendiri untukku. Dan butuh waktu lama bagiku untuk sembuh, juga move on." Papar Lamiah panjang sambil menikmati sensasi pijatan sang mertua yang mungkin ia rasakan untuk yang pertama dan terakhir.
"Setelah bercerai nanti apa rencanamu? Apakah tetap akaan tinggal di kotaa ini atau pergi?" tanya mama Irsam mendetail.
"Sebaiknya memang tidak tinggal sekota lagi. Tapi, usahaku sudah baik disini. Jadi... entahlah ma." Jawabnyaa bingung sendiri.
"Setelah tidak lagi jadi istri Irsam, bagaimana kalau kamu menjadi anak angkat mama saja? Kita tinggal di Turkie, sambil menunggu jodohmu yang sebenarnya datang menghampirimu." Taawar mama Irsam yang sangat menyayangi Lamiah.
"Mama ini lucu, kalau demikian kami bukannya makin jauh ma, justru semakin dekat. Selama aku berwujud dan nyata. Miah yakin, semakin resah lah hati mbak Lis, mama. Demikian juga bang Irsam."
"Mamaa... mantan mana ada yang indah. Kalo indah itu tidak akan relaa untuk di jadikan mantan." Jawab Lamiah ikut tertawa ceria.
Keakraban hubungan Lamiah dan mama mertuanya sangat baik. Mungkin Lamiah memang rindu memiliki sosok orang tua yang benar bisa mengayominya. Mengira sahabatnya benar menawarkan kasih sayang yang tulus hingga rela berbagi cinta, ternyata hanya ilusi tak bertepi. Berharap Irsam dapat menunjukkan sedikit cinta murni untuknya ternyata hanya omong kosong. Lamiah terlalu mudah untuk terpedaya.
Kedepan ia hanya ingin melerai duka dengan caranya sendiri. Menerima karma telah sempat merusak rumah tangga sahabatnya sendiri. Memelihara dan menjaga buah cinta sebagai tanda ia pernah berumah tangga.
__ADS_1
Saat pintanya pada sang pencipta untuk mendapatkan cinta yang mulia, namun tak ia dapat. Maka, memiliki hati yang kuat menghadapi luka lah kini yang ia pohonkan pada Tuhannya.
Pelaksanaan ritual siraman tujuh bukan pun di gelar. Tidak tangung tanggung. Ruko Lamiah di sulap dengan begitu indah, megah dan elegaan oleh tim decorasi yang di bayar mahal oleh Mattew. Permintaaan Mattew cuma satu. Ijinkan dia berfoto dengan Lamiah dengan memegang perut buncit itu. Hanya itu, sepertinya tingkat kehaluan Mattew memang sudah akut. Sehingga demikian inginnya seolah menjadi seorang suami yang punya istri hamil besar.
Sejak awal Lamiah tidak ingin sedekat ini dengan Mattew. Tapi, saat mengantar Lamiah periksa kandungan. Mereka pernah berpapasan dengan seoraang dokter yang kenal dengan Mattew. Dan terlihat ingin berbicara secara serius dengan Mattew.
Lamiah paham dengan gerak gerik mereka, maka ia pun segera ijin ke toilet, untuk menghindar dan tak ingin banyak tau isi pembicaraan mereka.
Tetapi, karena lamanya obrolan itu, akhirnya Lamiah pun menjadi tau, bahwa penyakitnya bukanlah gangguan jiwa, melainkan kanker otak stadium lanjut. Yang usianya mungkin paling lama enam bulan lagi. Menurut prediksi dokter. Tapi, Lamiaah bertahan untuk memilih pura pura tidak tau saja. Namun, sedapaat mungkin Lamiah memperlakukannya senormal mungkin di hadapannya.
Mattew tak pernah curiga Lamiah tau, dan tampaknya juga tak pernah mau jujur membagi beban tentang penyakitnya dengan Lamiah. Sebab itu pula, Lamiah tak pernah komplain jika Mattew kada datang, kadang tidak untuk menemuinya.
Sama dengan keinginan Mattew untuk menyiapkan acara tujuh bulanannya ini. Sebenarnya, apa hubungannya hingga Mattew yang harus mengeluarkan banyak dana untuk acara tujuh bulan calon anak dan istri kedua Irsam. Tapi, ini sudah menjadi keputusan Lamiah juga yang di setujui oleh mama Irsam.
Ritual itu berjalan meriah, ramai juga lancar. Sebelum Irsam dan keluarganya datang. Mattew dan Lamiah sudah bagai pasangan suami istri melaksanakan foto maternity. Segala kostum dan spot mereka kuasai sesuai arahan dari pengarah gaya yang juga sudah di sewa oleh Mattew. Setelah selesai, baik Mattew juga crew foto itu pun pulang. Berganti dengan crew yang selanjutnya memandu sesi foto acara tujuh bulan Lamiah beserta keluarga Irsam.
Ada tatapan nyalang dari sorotata Irsam, yang sesungguhnya dalam dadanya berkecambuk segala rasa yang menderu deru. Tak semudah itu cintanya gugur, sebab memang pernah tumbuh bersemi di palung hati.
__ADS_1
Lamiah memang wanita kedua, Lamiah memang hanyalah madu. Mungkin tak lebih, hanya bagai selir hati. Tapi, Irsam akui, bahkan ratu pun pernah tergeser olehnya.
Bersambung...