
Perayaan ritual siraman tujuh bulanan itu terlaksana dengan lancar, di hadiri oleh beberapa tetangga sekitar ruko tempat Lamiah tinggal selama ini. Di lengkapi kehadiran empat pegawai yang bekerja di salonnya. Tak lupa beberapa pelanggan setia salon Lamiah pun berkenan datang dalam kesempatan tersebut.
Segala jenis makanan dari kudapan, minuman, dan makanan berat layaknya sajian di sebuah perhelatan pernikahan tampak tersaji lengkap dalam jumlah banyak.
Hidangan lengkap, enak dan semuanya lezat. Dekorasi tempat di adakannya acarapun berlebihan cendrung spektakuler. Sebab Mattew sudah merogoh baged yang tidak sedikit untuk perhelatan yang tidak wajib ini.
Sangat berbanding terbalik dengan tampilan wanita yang berbalut pakaian batik menutup hingga dada dan mengenakan rompi dari jalinan kuntum melati. Sangat cantik dan menambah pesona wanita hamil itu semakin naik level kecantikannya.
Tampilan busananya indah, juga senada dengan batik yang di kenakan Irsam, semua by Mattew. Tapi tidak dengan tatapan mata dari keduanya.
Ada senyum mereka pada setiap tamu yang datang untuk ikut mendoakan calon buah hati mereka. Tapi tidak dengan antara keduanya. Jika, wajah keduanya saling berhadapan, maka senyum mereka segera berhenti, kaku. Dan tak bersahabat di dalamnya.
Mereka bagai pasangan yang di nikahkan secara paksa tanpa cinta. Bahkan seperti dua orang yang tak saling kenal, bagai orang asing. Padahal itu adalah ritual tujuh bulanan buah hati, buah cinta hubungan mereka selama ini.
Tim crew foto pun lumayan sulit mengarahkan gaya dan berkali kali meminta senyum dari wajah kedua insan yang pernah saling gila dalam urusan saling mencinta.
Jangan tanya hebohnya Lilis yang bertindak aktif mengatur ini ini, dan itu itu saat mereka melakukan sesu foto. Seolah ia adalah ratu yang maha adil dan berhati selembut sutra yang sangat bahagia atas terselenggaranya acara itu.
Irsam tentu hanya akting, ia tak sebenci itu pada Lamiah. Justru ia sangat malu, saat ia datang dan duduk mendampingi istrinya hanya tau duduk. Tanpa tau sebegitu besar acara yang di gelar untuk istrinya. Persembahan Mattew yang notabene bukan siapa siapa istrinya, bukan pula ayah dari bayi yang dalam kandungan itu.
Lamiah lelah, bukan karena ritual yang panjang. Tetapi lebih pada merasa sakit sebab menahan perihnya hati sedari tadi. Bagaimanapun, cinta itu pernah berkobar hebat. Tak bisa serta merta semudah itu dia lupa pada Irsam. Toh, mereka pun masih berstatus suami istri.
Tamu sudah pulang, acara sudah selesai pada pukul 2 siang. Beberapa tim dekorasi sudah mulai berdatangan mengembalikan suasana seperti semula. Sebab, besok mereka sudah harus buka salon kembali.
Lamiah terduduk berselonjor, meluruskan kakinya saat sangat merasa pegal.
"Miah... sudah makan sayang?" tanya mama Irsam yang selalu perhatian pada menantu keduanya tersebut.
__ADS_1
"Belum sempat ma. Tidak selera." Jawab Lamiah sedikit pelan menahan lelahnya.
"Irsam, antar Miah ke kamar. Nanti mama bawakan makanan untuknya ke atas." Perintah mama Irsam pada anaknya. Ada kilatan tajam yang sempat Lilis hunuskan ke arah mama mertuanya tersebut. Tetapi hanya sekilas pandang. Kemudian memilih pulang duluan, sebab kepikiran pada Adilla yang ia tinggal.
"Miah... mbak ijin pulang duluan ya. Kasihan Adilla lama di tinggal." Pamit Lilis pada madunya yang masih tampak meringis kesakitan.
"Mas, pulang sama mama ya. Lis duluan, Assalamualaikum." Kecupnya pada bibir Isram sebagai tanda pamit.
"Walaikumsalam. Hati-hati di jalan." Sahut Irsam mengiringi istri pertamanya pergi dari ruko Lamiah. Lalu kembali mendekati wanita keduanya.
"Abang bantu ya." Ujar Irsam yang langsung memapah Miah menuju kamar mereka ke atas.
Lamiah tak punya pilihan, sebab sungguh merasa letih yang sangat menderanya. Sehingga pasrah saja, saat Irsam membopong tubuhnya menuju kamar.
Lamiah sudah di buat duduk bersandar di dasboard ranjang mereka.
"Boleh abang bantu mengganti pakaianmu, agar tidak kepanasan?" tanya Irsam sopan.
Dengan pelan juga tanpa hasrat Irsam sungguh hanya berniat membantu istrinya itu untuk menggalkan pakaian dan atribut lainnya yang membuat Lamiah semakin lelah saja menyandang semua itu.
"Terima kasih bang." Ucapnya pelan setelah kini ia sudah mengenakan pakaian rumahan.
"Permisi... mama masuk ya." suara mama Irsam dari luar dan langsung menerobos masuk tanpa menunggu jawaban dari mereka yang di dalam.
Wanita itu tersenyum saat melihat Lamiah yang sudah terlihatblebihbrilex dari tampilannya tadi.
"Kamu harus makan ya Miah. Mau di suap mama atau suami?" pertanyaan itu di lempar sembarangan oleh mama Irsam pada Lamiah yang tak suka dengan situasi ini.
__ADS_1
"Miah makan sendiri saja." Jawab Lamiah dengan pelan.
Mertuanya bukan mak comblang suka memaksa keadaan, maka ia menyerahkan sepiring nasi dan lauk tadi untuk Lamiah mulai menikmati makan siangnya yang terlambat.
"Maaf... boleh minta tolong." pinta Lamiah tak jelas pada siapa, sebab di dalam kamarnya suami dan mertuanya masih ada untuk memastikan ia menghabiskan makanannya.
"Apa yang bisa abang bantu?" tanggap Irsam cepat.
"Tolong ke ambilkan ponselku di dalam tas itu." tunjuknya pada tas kecil yang bergantung di dekat pakaiannya.
"Sebentar." Jawab Irsam sembari mendekati tempat yang Lamiah tunjuk tadi.
"Ini." Irsam menyodorkan ponsel itu pada Lamiah yang sudah menghabiskan makannya dengan cepat.
"Terima kasih." Ucap Lamiah, benar seolah mereka adalah orang asing yang tak saling kenal apalagi cinta.
Mama Irsam sungguh merasa tak nyaman sendiri melihat renggangnya hubungan anak dan menantu keduanya ini. Tiba tiba hatinya merasa sedikit menyesal, mengapa meminta Lilis berupaya melepas madunya ini.
Mungkin Lilis dan mama mertuanya ini satu frekuensi, terlebih dahulu marah, benci juga khawatir jika Lamiah adalah tipe wanita kedua pada umumnya. Yang ingin benar mendominasi cinta suaminya, yang ingin menendang istri pertama, yang ingin menguasai hartanya. Intinya, ingin menjadi yang nomor satu dalam hal perhatian, kasih sayang dan apapun dari suaminya.
Tetapi, mengapa setelah di jalani rasanya berbeda. Lamiah memang mencintai Irsam, namun tak berusaha mendominasi bahkan cendrung mengalah. Lamiah perlu harta, tapi ia memilih membuat pekerjaannya sendiri untuk mendapatkan uang.
Apa sungguh tujuan Lamiah sebenarnya hanya ingin secuil tempat di hati suaminya?
Apa salah Lamiah jika rasa cinta Irsamlah sesungguhnya yang lebih besar tanpa ia pinta.
Lalu, mengapa Lamiah yang harus menderita dan mundur?
__ADS_1
Tidakkah ada masa, dimana semuanya bisa di kaji ulang. Agar cerai bukanlah satu satunya jalan.
...Bersambung......