LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA

LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA
BAB 39 : DIA MASIH ISTRIMU


__ADS_3

Irsam mengusap tangan Lilis dengan lembut. Memberi penguatan pada istrinya tersebut. Irsam hanya ingin Lilis percaya bahwa ia adalah Irsam suaminya yang masih sangat mencintainya seperti dahulu.


Tiga hari kemudian Lilis sudah di ijinkan untuk pulang. Sedangkan Adilla masih harus berjuang untuk menambah berat badannya. ASI Lilis sudah di stok untuk Adilla. Ia juga sudah sempat menggendong dan berusaha menyusuinya. Tetapi karena Adilla memang sangat kecil sehingga kemampuannya untuk mengisap pu ting susu ibunya pun ia tak mampu. Menggunakan dot satu-satunya cara tercepat bagi perawat untuk memberikan asupanakan untuk bayi prematur itu.


Irsam tentu telah kembali sehat dan fit kembali. Walau ia tidak dapat menyelami isi hati istrinya, tapi setidaknya kini mereka berdua telah kembali kerumah. Bercengkrama kembali berdua, tanpa ada orang ke tiga.


"Abang apa kabar?" singkat sekali isi chat Lamiah ke ponsel Irsam.


Dan Irsam hanya berani menatap chat itu, tanpa ada niat untuk membalasnya.


"Kenapa bengong rajaku...?" tanya Lilis yang melihat Irsam mematung melihat ponselnya.


Irsam menyerahkan ponselnya lada Lilis. Ia sudah berjanji tak ingin melakukan apapun di belakang Lilis. Ia tak mau menyakiti hati wanitanya itu kembali.


"Di balas sayang." Lanjut Lilis.


"Mas jawab apa?" tanya Irsam.


"Balas saja sebagaimana perasaan mas." Lilis menyodorkan ponsel itu pada Irsam untuk di balas.


"Baik." Irsam mengirim balasan chat itu.


"Bagaimana kabar mbak Lilis. Apa dia baik-baik saja? Bagaimana kandungannya. Abang sudah menemaninya kedokter bukan?" Panjang isi chat dari Lamiah yang terdengar sangat mengkhawatirkan Lilis.


Irsam menyerahkan ponselnya lagi pada Lilis.


"Masyaallah... Miah benar-benar baik dan sangat mengkhawatirkanku. Sebaiknya mas temui dia."


"Aku tak bisa meninggalkanmu sayang."


"Mas... dia masih istrimu."


"Ya... tapi kamu lebih butuh mas dari pada dia."


"Mas... adil itu tidak tentang siapa yang lebih butuh. Tapi mas berada ditengah-tengah kami secara jujur, lurus serta tulus mas."


"Itulah yang belum bisa mas jalankan. Mas selalu cendrung pada salah satu dari kalian Lis."


"Aku malu mas. Saat tau mas pulang padaku atas permintaanya. Serasa ditampar wajahku. Aku yang awalnya menawarkan surga untuknya, tapi justru neraka yang ku berikan. Temui dia mas, sampaikan aku mohon maaf padanya."


"Bicaralah langsung padanya." Irsam memyerahkan ponselnya pada Lilis untuk menelpon Lamiah.

__ADS_1


"Tidak... aku belum siap bicara dengannya. Sambangi dia, tinggallah beberapa hari dengannya."


"Tapi kamu masih sakit sayang, mas tidak mungkin meninggalkanmu. Mas tidak mau kehilanganmu lagi."


"Itulah gunanya beristri dua, jika satu tak bisa melayani. Maka yang satunya wajib melayani suaminya. Itu namanya saling bahu membahu."


Irsam menatap tajam mata Lilis, menggali kejujuran di sana. Akankan kata itu telah sesuai dengan isi hatinya.


"Kapan terakhir mas bertemu Miah?" tanya Lilis mengorek informasi.


"Sejak kamu pingsan, mas tidak pernah bertemu dia."


"Itu artinya sudah 10 hari mas tidak menemui dan memberinya kabar. Tentu saja mengkhawatirkanmu mas. Kembalilah padanya, temui dia. Apakah kalian bertengkar karena aku?"


"Tidak."


"Apakah dia tidak mau pulang ke rumah ini mas?"


"Tidak. Dia meminta mas mengijinkannya menciptakan kebahagiaannya sendiri."


"Boleh Lilis tau... dimana dia berada?"


"Dia tinggal di sebuah ruko dan membuka salon sebagai mata pencahariannya sekaligus menjalankan hobby katanya." Jelas Irsam.


"Berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Kita tutup cerita pahit itu sayang. Kita mulai dari awal. Dan untuk sementara biar dia tinggal di ruko itu terlebih dahulu. Untuk menetralkan hati kita masing-masing."


"Baiklah... tapi berjanjilah untuk menemuinya. Dia istri sah mu mas. Kalian pantas membina rumah tangga dari awal dengan baik."


"Tidak usah meminta mas melakukan apapun lagi. Jika itu tidak berasal dari hatimu. Mas tidak ingin merusak semuanya kembali."


"Insyaallah. Lilis ikhlas mas. Datangi dia, ia berhak mendapatkan nafkah darimu."


"Sudahlah. Sekarang mas hanya ingin kamu lekas pulih dan Adilla bisa segera pulang ke rumah ini. Mas rindu ada tangjsan bayi di rumah kita."


"Aku akan segera pulih jika suasana hatiku bahagia mas. Itu obat termujarab bagiku sekarang."


"Dan mas ingin menjadi orang yang mewujudkan kebahagiaanmu itu."


"Itu mudah mas. Dengan mas kembali menemui Lamiah aku sangat bahagia."


Irsam memilih membalik tubuhnya, membelakangi Lilis yang terus saja merengek padanya untuk ia kembali pada Lamiah. Dan Irsam masih perlu waktu untuk berpikir. Sebab ia merasa terlalu di dikte oleh kedua istrinya.

__ADS_1


Irsam sudah kembali beraktivitas ke kantor, seperti biasa. Wajah dan penampilannya sudah terlihat baik tapi tidak dengan hatinya. Irsam masih bingung untuk menentukan pilihan apakah mengikuti saran Lilis untuk kembali menyambangi Lamiah, atau bertahan saja setia pada istri pertamanya itu.


"Dia istri sah mas. Kalian pantas membina rumah tangga dengan baik." Kata itu terus terngiang di kepala Irsam. Lalu memutuskan untuk pulang ke rumah untuk bertanya kembali pada Lilis.


"Sayang... benar kamu mengijinkan mas ke Lamiah?"


"Pliiis deh mas... jangan di ulang-ulang. Nanti aku berubah pikiran lho. Mumpung aku masih masa nifas ini, belum bisa di garap." Kekeh Lilis memberi kesan santai pada Irsam.


"Yakin kamu tidak cemburu?"


"Insyaallah."


"Kalau masnya lama gimana?"


"Nanti ratumu telpon, mengingatkan untuk pulang."


"Kalau teleponnya tidak mas ladeni?"


"Dosanya tanggung sendiri lho mas. kalau ga adil."


"Siap. Besok mas ke sana. Jangan rindu, apalagi cemburu."


"Lilis manusia mas, bukan malaikat. Cemburu pasti, jadi usahakan jangan yang aneh-aneh sama dia, di sini masih ada aku istrimu yang juga butuh belaian."


"Kamu tetap ratuku sayang."


"Dan dia selir. Mas tau perbedaan cara menyayangi antara ratu dan selir kan?"


"Ah... entahlah. Yang pasti malam ini mas ingin memelukmu sampai pagi." Irsam membemamkan ciumannya lama di kening Lilis.


Pagi datang, Irsam tak dapat menutupin wajah berserinya. Setelah memastikan Lilis tampak benar ikhlas memintanya menyambangi Lamiah. Namun, sepagi ini meraka sudah bersepakat untuk sama-sama ke rumah sakit. Adilla sudah 15 hari di rawat. Dan sepertinya sudah sangat menunjukkan perkembangan yang baik.


"Berat badannya sudah mencapai 2,5kg. Paru, jantung, alat pencernaan dan organ lainnya juga sudah menunjukkan sudah berfungsi dengan normal. Silahkan jika ingin merawatmya di rumah. Tapi kami sarankan, harus tetap menjaganya dengan intensif." Terang dokter pada Irsam dan Lilis.


"Gimana sayang...? Adilla kita bawa hari ini?" tanya Irsam pada Lilis.


"Kamar Dila belum selesai mas. Aku mau dia di bawah saja, supaya aku tidak cape turun naik tangga. Luka bekas operasiku, nanti lambat sembuh."


"Boleh 3 hari lagi baru kami jemlut dokter?" tanya Irsam pada dokter.


"Tidak masalah. Kami akan tetap melanjutkan perawatan yang sesuai dengan kebutuhannya. Tidak 5 hari? agar usianya genap 20 hari?"

__ADS_1


"Baiklah... kami akan kembali menjemputnya 5 hari lagi." Jawab Lilis dengan senyum ramah.


Bersambung...


__ADS_2