LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA

LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA
BAB 86 : MENEBUS DOSA


__ADS_3

Lamiah tampak sehat namun seperti orang linglung. Kakinya belum kuat untuk berjalan sendiri harus di topang.


Sepekan berlalu Lamiah masih di rawat di rumah sakit. Sistem sarafnya tak bisa mengendalikan diri sendiri, kapan akan BAK dan BAB. Sementara untuk melakukan hal itu dilakukan oleh perawat, jika Irsam tak ada. Sebab kadang tangan perawat di tepis olehnya, pertanda tak ingin di layani oleh perawat.


Lamiah tak kuat berjalan, sehingga ia hanya duduk di kursi roda, jika Irsam yang menggendongnya untuk duduk di sana.


Namun, anehnya ASInya tetap bisa mengalir. Sehingga hal ini cukup merepotkan perawat juga Irsam yang harus membantu menempelkan Gary pada tubuhnya untuk memghisap air susunya tersebut.


Secara medis Lamiah sudah di ijinkan pulang. Artinya boleh rawat jalan. Tentang penyakit dimensianya itu, ia hanya perlu terapi juga di perlakukan dengan baik oleh lingkungan tempat tinggalnya.


"Ibu Lamiah sepertinya mengalami goncangan yang terlampau berat untuk di sandangnya. Sehingga ia hanya perlu waktu dan lingkungan yang baik dalam hal memperlakukannya. Itu akan mempercepat kesembuhannya. Sebab sepertinya, penyakitnya tidak permanen. Ia masih mau menyusui bayinya, walau seperti tak kenal jika itu adalah bayinya, di sisi lain itu pertanda tidak semua memorinya hilang. Ia tetap memiliki nurani jika kini adalah seorang ibu. Hanya memang membutuhkan waktu untuk ia bisa berjalan normal, berbicara seperti biasa. Mohon kerja sama dan dukungan dari bapak, selaku suaminya untuk memgambil peran yang banyak pada kasus ini." Terang dokter yang telah mengijinkan Lamiah untuk pulang dari rumah sakit tersebut.


Lamiah tak pernah berbicara, ia hanya bisa menangis dan sedikit tersenyum itupun sangat jarang. Kini ia kembali ke rumah Irsam. Ke neraka dua cintanya dahulu.


Ada airmata yang jatuh tak tertahankan dari sudut matanya, saat kursi roda itu sudah di dorong Irsam menuju pintu. Seolah ia tau jika itu adalah neraka baginya, namun tak berdaya untuk menolak dari tempat itu.


Sebelum Lamiah pulang, Irsam sudah merenovasi rumah. Kamar Lamiah ia buat di lantai satu, sudah di lengkapi kamar mandi juga tempat makan. Di buat seindah mungkin untuk menyambut kedatangan istri kedua yang masih sangat di cintainya.

__ADS_1


Irsam juga sudah menyiapkan baby sitter sekaligus pengasuh untuk merawat Lamiah. Sebab ia masih menggunakan diaper untuk membantunya tetap bersih saat air seni dan kotoran lainnya keluar tanpa ia sadari.


Sepekan lagi berlalu, Lamiah tampak sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan. Namun, sepertinya ia tak pernah mau di rawat oleh pengasuhnya. Ia lebih baik menunggu Irsam untuk memandikan juga membersihkan tubuhnya hingga menyuapinya makan.


Lilis sendiri yang melihat betapa besar usaha pengasuh itu merayu Lamiah untuk di rawat olehnya. Tetapi selalu di tepisnya tangan yang akan mulai membantunya mengganti pakaiannya saja.


Giliran akan di beri makan, mulutnya selalu di kapitnya agar tidak memamah makanan yang akan di suap untuknya.


"Maaf bu, pa. Apakah boleh saya berhenti saja mengasuh nyonya Miah? saya merasa tidak berguna di sini. Hampir semua pekerjaan di lakukan oleh ibu dan bapak. Jadi untuk apa saya di gaji?" tanya perawat Lamiah merasa menyerah.


Lilis dan Irsam bertukar pandang. Benar saja, bahkan tidak hanya Irsam. Lilis juga sering di repotkan dalam hal memandikan Lamiah. Bahkan ia kini lebih repot dari mengusurs Adilla bayi mereka.


Untung saja Lamiah tampak bersahabat dengan baby sitter yang merawat Gary. Dan Lamiah pun tampak bisa menerima kehadiran bayi itu.


Walau terlihat seperti patung bernyawa, tak memberi respon banyak pada bayi yang menatapnya dengan sayu saat mulut kecil itu mengisap inti sumber kehidupannya.


Irsam selalu tampak penuh kesabaran merawat Lamiah. Kadang ia juga memilih tidur bersama Lamiah, jika di suatu malam ia terlihat gelisah dan sulit tidur.

__ADS_1


"Lilis... maaf. Mas ijin tidur di kamar Miah saja malam ini. Sejak sore tadi ia tampak tidak baik baik saja. Dari pada tengah malam kita di bangunkan baby sitter karena dia menangis, lebih baik mas yang menjaganya. bagaimana?" tanya Irsam pada Lilis yang kini jauh lebih mengalah dan perhatian juga menomor satukan Lamiah dalam rumah tangga mereka.


"Tidak perlu minta ijin mas. Ini tanggung jawab kita berdua. Apapun harus kita lakukan untuk kesembuhan Miah. Walaupun keadaannya seperti sekarang, setidaknya kita bersyukur ia masih hidup. Dan kita di beri kesempatan untuk menebus dosa padanya." Isak Lilis yang sangat menyesal melihat keadaan sahabatnya sekarang. Lamiah bagai boneka yang hanya bisa duduk dan berdiri, serta melakukan aktivitas atas bantuan orang lain.


Pada usia 3 minggu, Irsam dan Lilis bersepakat untuk melaksanakan acara Aqiqah untuk baby Gary. Walaupun sang ibu belum tau akan dirinya sendiri. Namun hal itu bisa di maklumi oleh pemuka agama dan tohoh masyarakat yang di undang mereka.


Lamiah bisa patuh dan menurut pada permintaan Irsam. Sehingga pada pelaksananaan acara tersebut, masih di atas kursi roda ia pun tampak senyum menggendong bayinya. Gary Haedar. Sesuai kesepakatan yang pernah mereka bicarakan di saat Lamiah masih mengandung tentunya.


Demikianlah selanjutnya hari demi hari berlalu, pengobatan Lamiah terus saja di lakukan. Irsam dan Lilis ingin membawa Lamiah berobat keluar negeri. Namun terkendala dengan baby Gary yang masih kuat ASI. Ingin membawa serta Gary, tetapi masih sangat kecil untuk di bawa terbang.


Juga, sepertinya Lamiah mulai memiliki ikatan batin pada bayi itu. Awalnya hanya seperti patung yang hanya bisa duduk memandang kosong. Tapi beriring dengan bergeraknya waktu dan kedakatannya dengan bayi itu di kamar. Sedikit demi sedikit Lamiah tampak mulai bisa merespon, dan memiliki beberapa kosakata untuk bercanda pada bayinya.


"Sayang... mas mau antar Miah terapi lagi okeh.. semoga hasilnya semakin ada kemajuan ya. Juga mas akan konsul dengan dokter, tentang kondisinya terkini." pamit Irsam pada istri pertamanya itu.


"Iya mas ku sayang. Lakukan yang terbaik untuk istrimu. Bagaimanapun juga kalian belum bercerai. Allah sedang mengulur waktu untuk kita berdua. Manfaatkan saja sebaik-baiknya." ijin Lilis dengan lembut pada suaminya tersebut.


Irsam dengan telaten menggendong Lamiah masuk mobil dan mengeluarkannya, juga mendudukkan istrinya kembali di kursi roda.

__ADS_1


Mereka tampak seperti pasangan normal lainnya yang mesra, di mana suami tengah berada dalam satu masa ujian berkepanjangan perihal kesetiaan. Yaitu dalam suatu ikatan pernikahan pernah terucap janji akan selalu ada dan setia dalam suka dan duka, dalam sehat pun saat sakit. Kini ikrar itu tak lagi bagai sebuah selogan, namun nyata. Itulah yang kini Irsam lakukan. Melakukan pembuktian cinta yang ia gadang gadangkan selama ini. Untuk menebus dosa juga mengingat pesan terakhir Mattew, bahwa Lamiah pantas bahagia.


Bersambung...


__ADS_2