
Hati orang tua mana tidak gusar, memiliki anak perempuan satu-satunya. Yang awalnya sudah sangat rela menjadi tulang punggung keluarga dengan berangkat mencari nafkah di negara tetangga.
Kemudian bertemu jodohnya, yang serta merta dapat mengubah taraf hidup keluarga mereka. Keluarga yang dulu hanya di pandang sebelah mata di desa tempat tinggal mereka. Namun kini memiliki kehidupan layak bahkan di atas rata-rata. Karena memiliki menantu kaya raya.
Tentu saja sedapat mungkin bunda Lilis akan berusaha sekuat tenaga ikut mempertahankan rumah tangga anaknya yang hampir kandas.
"Bunda... bunda yakin akan meninggalkan ayah hanya untuk melihat langsung rumah tanggaku yang sesungguhnya baik-baik saja."
"Baik-baik saja kepalamu...!!! Ga tau... bunda dulu ngidam apa, saat mengandung kamu. Otak kok yo lemoot banget. Miring...!!!" Geregetan bunda Lilis
Lilis dan bundanya sudah berada di Bogor. Dan pasutri baru belum tiba, namun sudah di perjalanan pulang.
Bunda Lilis tak berhenti menggeleng melihat tatanan rumah anaknya tersebut. "Edaaaan, apa dia kira rumah tangga ini rumah bordir? sampai- sampai kamar mereka pun berada di atas lantai yang sama. Aduuh gusti, ampuni salah dan dosaku, sehingga anakku segila ini berpikiran, huuft." Batin bunda Lilis bergejolak sendiri.
"Onah... sini." Panggilnya pada pembantu yang memang sudah sangat di kenalnya dengan baik.
"Iya nyonya...."
"Apa benar tuanmu itu menikah lagi?"
"Iya benar nyonya. Bahkan mereka menikah di rumah ini." Jawab Onah semangat, seolah baru menemukan teman untuk menghibah.
"Masa... ?"
"Iya... niih nyonya liat di hape Onah."
"Kenapa kamu simpan foto begini?"
"Sebenarnya sudah lama saya mau laporan pada nyonya. Sejak tuan Irsam suka sembunyi-sembunyi menelpon calon istri mudanya. Sejak itu Onah sudah curiga. Tapi ketika dia datang. Ternyata dia tidak seperti yang saya kira."
"Maksudmu?"
"Tadinya Onah akan pasang badan jika wanita kedua itu jahat pada nyah Lilis. Tapi, ternyata jangan kan berbuat jahat. Dekat dengan tuan pun tidak. Dia lebih banyak di dalam kamarnya setelah mengerjakan tugas rumah, seperti menyapu, mengepel, mencuci pakaian tuan dan nyah Lilis, juga memasak untuk sarapan mereka. Tapi, dia tidak pernah tampak makan bersama, kecuali di paksa untuk makan bersama." Urai Onah lengkap.
"Apa kamu yakin mereka tidak sedang berpura-pura. Maksud bunda, mungkin mereka ada melakukan pertemuan di luar?"
"Similikity itu hanya pernah 3 kali keluar rumah, pertama saat nyekar ke makam orang tuanya, pergi bersama tuan, terus sebelum menikah pergi bersama nyah Lilis ke emol, lalu kemarin katanya pergi bulan madu."
"Selebihnya?"
"Selebihnya ya... dia sama seperti Onah, hanya berkeliaran di rumah ini bebersih pekarangan."
__ADS_1
"Jadi menurutmu dengan begitu dia tidak jahat?"
"Tidak tau siih... atau belum saja nyonya?"
"Itulah yang bunda takutkan. Bunda tak habis pikir kenapa nyah Lilis mu itu kok nduableg banget. Punya suami satu, kok ya di bagi sama sahabatnya, stres bunda membayangkannya Nah...Onah." Desah bunda Lilis mengakhiri obrolannya pada Onah.
Menjelang malam, saat Lilis dan sang bunda sudah siap bersantap malam, Irsam dan Lamiah datang. Sehingga keduanya pun segera duduk bergabung di meja makan itu.
Sangat kentara suasana kaku di meja makan itu. Irsam kikuk, apalagi Lamiah, ia lebih banyak terlihat menunduk saja, untuk menghindar tatapan tajam mertua suaminya.
Irsam duduk di tengah, layaknya kepala keluarga. Mencoba untuk tegar, mengenalkan istri keduanya pada sang ibu mertua.
"Bunda... perkenalkan ini Lamiah. Istri keduaku." ucal Irsam tegas pada mertuanya.
"Bunda sudah kenal dia, jauh sebelum kamu kenal dengan Lilis. Bunda belum pikun, entah kalau dia. Mungkin sudah lupa ingatan, sehingga mau-maunya menjadi istri kedua sahabatnya sendiri." Terasa aura marah di kalimat itu.
"Bunda...!!!" Hardik Lilis pada bundanya.
"Apa? Bunda belum tuli, ga usah teriak-teriak begitu." Gusar bunda pada Lilis.
"Jika tak salah, tiga hari kedepan jadwalku bersama Miah. Jadi, aku akan tidur di kamarnya sampai tiga hari kedepan." Irsam berdiri tamoak tidak perduli dengan mertuanya.
"Ciih... biar bunda yang tiga hari kedepan tidur bersamamu." Simpul bunda tanpa menunggu respon mereka bertiga
Dan benar saja dengan cueknya bunda Lilis seolah tak mendapat kamar, dengan tanpa permisi ia segera masuk ke kamar Lamiah dan benar memilih untuk mendekati madu anaknya tersebut.
"De Miah di ruang cuci pakaian." isi chat Lamiah pada Irsam yang baru saja selesai mandi. Ia pun segera turun, dengan menoleh kiri dan kanan bagai maling di rumah sendiri. Irsam segera mempercepat langkahnya menuju ruang cuci.
Bagai orang tak pernah makan 10 hari, dengan rakusnya Irsam menangkup dagu Lamiah, menye sap bibir merah delima itu dalam posisi masih di balik pintu.
Tangan Irsam sudah nyasar ke mana-mana, di area gundukan bahkan meremas geram, di rawa-rawa. Menyusup telunjuknya di celah kain segitiga, cukup lama bermain di dalam seolah sedang mencari biji kacang yang terhimpit di sana.
"Aaacchhh abang... dede basah."
"Heemmm keluarkan saja."
"Abaaang gimana?"
"Tenang... nanti di atas ada tempat penyaluran." Bisiknya nakal.
"Udah ...? Atau mau dengan ini.?" tanya Irsam menjulurkan lidahnya.
__ADS_1
"Tidak perlu... ini sudah cukup sayangku." Jawabnya manja.
"Selama ada bunda, sepertinya kita tidak bisa leluasa. Tapi abang akan mulai mematuhi jadwal yang Lilis buat. Agar kita bisa selalu bercinta, sayang."
"Jangan sedrastis itu. Sabar, bertingkahlah sama seperti sebelum kita berbulan madu. Abang jangan cari dede di ruang makan. Dede tidak akan muncul. Di sini, de Miah akan menunggu abang di ruangan ini, selalu." Ujarnya memberi keterangan.
"Huum... gila. Abang bahkan seperti maling di rumah abang sendiri. Demi kamu sayang." Ujar Irsam menggosok Tengkuknya sendiri.
Lamiah sedikit berjinjit mendapati bibir suaminya.
"Heeiii... kondisikan tanganmu, sentuhanmu itu membangunkannya sayang." Kekeh Irsam yang membiarkan tangan Lamiah menyusup mengelus kepala naga yang tidur tadi.
"Buruan naik, dia sudah pasti sangat rindu tindihan mu, abang. Dede cuma bantu bangunkan, silahkan aksen di atas."
"Ga mau... cium dulu."
Cup
Irsam mendapat kecupan singkat di pipinya.
"Bukan di situ." ujar Irsam yang sudah memposisikan kepala Lamiah ke arah bawah perutnya, dan sudah menurunkan sedikit celana pendeknya. Sehingga ada yang nyembul di sana.
Cup.
Lamiah kembali memberi kecupan basah pada kepala tepian jamur itu sebentar.
"I seep."
"Huuum."
"Yang lama."
"Udaah cukup. Nanti dia muntah. Keluarkan yang benar saja di sana. Ingat, sayang harus adil."
"De Miah ga cemburu?"
"Harus di bahas sekarang? pulang kandang gih." Perintah Lamiah tegas.
Irsam hanya meremas gundukan di depannya sebentar lalu benar-benar pergi dari ruang cuci tersebut dengan keadaan mulai on.
Bersambung...
__ADS_1