
Lamiah akhirnya tak memiliki alasan untuk terus menghindari Mattew. Terlebih ke empat karyawannya tampak merasa biasa saja dengan kehadiran Mattew. Tidak merasa janggal, padahal mereka tau ia sudah bersuami. Tapi mereka justru terlihat senang. Bahkan saat Mattew sesekali menyuapi dia makanpun, mereka sangat bisa menerima perlakuan tersebut.
Hari berlalu dengan cepat saat di jalani dengan orang-orang yang tepat. Dapat membuang sedih nelangsa, melupakan segala masalah rumah tangga yang runyam.
Mattew pria gigih, akhirnya tanpa paksaan Lamiah pun menceritakan hal ikhwal dia menyamdang status wanita kedua untuk Irsam. Ia hanya memggeleng-geleng, mengumpat, marah, kesal setelah tau betapa berat beban hidup yang Lamiah jalani sesungguhnya.
"Jadi apakah kamu menyesal sudah menjadi istri kedua?"
"Awalnya aku tidak menyesal. Tapi dengan mendengar pertengkaran mereka kemarin justru menyadarkanku, aku sudah tidak di inginkan dalam rumah tangga mereka."
"Hah.... hanya kamu yamg bo doh Mia. Mana ada madu itu di inginkan?"
"Tapi itu yang mereka katakan di awal."
"Semua juga begitu di awal. Manis, indah dan apa saja. Tapi pliiis jangan buta."
"Aku mencintai bang Irsam."
"Apa alasanmu mencintainya?"
"Apa cinta harus mempunyai alasan?"
"Setidaknya kamu punya list apa saja kebaikan yang sudah ia beri untukmu?"
"Dia selalu membuat aku lupa sebagai yang kedua, cintanya terlampau besar untukku." Jawab Lamiah pelan.
"Hanya itu?"
"Dia lelaki yang selalu manis memperlakukanku."
"Itu hanya karena kamu belum bertemu dengan yang lebih baik saja darinya." Mattew selalu mematahkan ungkapan Lamiah.
"Dia juga lelaki perkasa dalam hal di tempat tidur." Kekeh Lamiah mengenang.
__ADS_1
"Hah...!!! Kalau cuma kekuatannya di ranjang, lelaki manapun pasti bisa memberikannya untukmu, bahkan lebih hanya kamu yang kurang jauh mainnya." Bantah Mattew lagi.
"Maaf Mattew, aku hanya bercanda." Lamiah sadar sudah sejujur itu pada lelaki baru tapi serasa teman lama baginya.
"Terserah padamu, mau bercanda atau serius. Aku hanya bilang. Kamu pantas bahagia. Sebentar...."
"Selama kamu menjadi istri kedua, apakah kamu benar telah di beri nafkah yang sama seperti istri pertamanya?"
"Maksudnya?"
"Uang misalnya."
"Oh... mbak Lis kan istri pertama. Jadi dia berhak mengelola keuangan rumah tangga lebih besar dariku. Sebab ia yang bertugas memastikan gaji ART juga ketersediaan bahan makanan di rumah kami."
"Lalu kamu mengelola uang apa?"
"Aku cukup mengelola keuangan salonku."
"Beda dong. Salonmu itu milik suami?"
"Artinya itu milikmu. Dan itu tidak ada hubungannya dengan soal keadilan memberi nafkah seperti hak istri pada umumnya."
"Tapi. abang memberikan aku kartu untuk belanja."
"Apakah selalu di isi tiap bulan dengan nilai yang sama dengan istri pertamanya?"
"Oh... itu aku tidak tau."
"Tidak bisa. Dalan hal menjalanlan poligami kalian bertiga harus terang benderang membahas soal itu."
"Aku tidak berani. Aku takut di kira mata duitan."
"Bukan masalah mata duitan. Tapi kesenjangan dalam rumah tangga kalian akan membuat kalian terperosok dalam lembah dosa. Poligami memamg di perbolehkan dalam ajaran agamamu, asalkan menjalankannya dengan adil. Tapi, sekarang kamu tidak perlu menjawab atau menguraikan satu per satu denganku. Cukup jujur pada hatimu. Adilkah mereka padamu? kemudian sampai kapan kamu bertahan numpang hidup dengan mereka? semiskin apa hidupmu hingga bagai tak bisa berdiri dengan kakimu sendiri tanpa mereka?" Semua ujaran Mattew bagai bola besi keras menumbuk kepala Lamiah.
__ADS_1
Apa yang ia jalani selama kurang lebih setahun belakang ini? Apa ia hanya terperangkap dalam bujuk rayu pasangan Irsam dan Lilis saja? menjanjikan surga namun neraka yang ia rasakan.
Bahkan Tuhan sudah mengambil 2 calon buah hatinya, agar ia punya kesempatan pergi dari ikatan cinta segitiga ini. Tapi, mengapa ia tak peka? memilih bertahan, berlindug rasa cinta yang belum tentu murni bahkan sisa belaka.
"Mattew... katakan padaku. Aku harus apa sekarang?" tiba-tiba Lamiah meminta pikiran pada pria asing itu.
"Seandainya kamu tidak hamil. Langkah pertama adalah bercerai. Tetapi kondisimu seperti sekarang tentu tidak mendukungmu menjadi janda. Maka bertahanlah hingga anak ini lahir. Kemudian berpisahlah. Aku siap menjadi ayah sambung anakmu nanti."
"Mattew... aku serius."
"Apa aku terlihat bercanda?"
"Ya... sejak awal kamu memang tidak bercanda. Dari sorot matamu aku tau kamu sangat ingin menertawakan kebodohanku. Apalagi saat kamu melihat kandunganku. Kamu semakin terlihat begitu kasihan denganku. Punya suami tapi rasa janda. Mau ngaku janda, tapi masih punya suami." kekeh Lamiah menertawakan diri sendiri.
"Terserah kamu anggap perasaanku ini apa. Sebab aku juga tidak tau rasa apa yang tengah menjalar dalam hatiku. Yang pasti. Aku ingin melindungimu. Itu saja. Aku bukan tipe pria yang suka mengumbar kata cinta. Aku bukan pria romantis yang akan membuai wanita dengan puisi. Aku hanya lelaki yang selalu ingin memperlakukan wanita dengan hormat dan mengutamakan rasa nyaman dalam dirinya saat bersamaku. Aku juga bukan tipe lelaki yang suka terikat dalan ikatan seperti pernikahan. Sebab sepertinya hanya menyusahkan. Menambah banyak silsilah saja."
"Apakah kamu sudah pernah menikah?"
"Aku duda Mia. Artinya aku sudah menikah. Tapi jodohku tidak panjang, maut sudah memisahkan kami. Ya sudahlah, setidaknya status di KTPku sudah menyatakan aku kawin. Dan iti bagiku sudah cukup."
"Jika hanya ingin mengubah status pada KTP. Untuk apa bersikeras ingin melindungi bayiku?"
"Itu beda sensasi Mia. Aku sudah pernah tau rasa menikah. Sudah pernah punya istri. Tapi tidak dengan panggilan ayah dan mengurus bayi. Dan aku ingin merasakan itu. Ijinkan aku menjadi ayah dari bayi ini. Percayalah suamimu tidak pernah tulus menganggap kehadiran kalian."
"Aku tidak tau bagaimana bisa hidup tanpa ayah bayiku ini Mattew."
"Hallow Mia. Kita bahkan sudah 3 hari bersama dan tanpanya. Aku bahkan menemukan kilaun berlian di sorot matamu akhir-akhir waktu ini karrna bahagia. Sungguh berbeda jauh dengan sororan bola mata wanita yang aku temuai di taman kota. Saat itu tatapanmu sendu, redup dan sangat berbeban berat." Lamiah mendongakkan wajahnya ke arah Mattew.
"Jangan terperanggah seolah tak tau. Rasakan dan nikmati saja kebersamaan kita. Cukup jujur dengan hatimu. Tidak perlu kamu jawab apapun padaku. Dan mulai sekarang aku akan menjadi bayanganmu." Manis sekali janji pria yang bahkan tidak mengaku cinta pada Lamiah ini.
Tapi mengapa ada yang berdesir di lubuk hati Lamiah saat menyelami bola mata pria tampan di hadapannya kini? Apa Mattew bisa menggeser Irsam di hati Lamiah? Semudah itu kah Lamiah berpaling?
Butuh waktu 3 tahun Lamiah memgenal Irsam, terlalu cepat Lamiah simpulkan perasaannya yang baru kenal 3 hari dengan Mattew
__ADS_1
Bersambung...