LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA

LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA
BAB 73 : AKU AYAHNYA


__ADS_3

Lilis melunak membenarkan semua yang di sampaikan Lamiah dari nada rendah mengiba, mengasihani dirinya. Hingga nada tinggi berapi-api karena tekan darah yang meluap-luap akibat emosi yang tertahan selama ini.


Bergeser pelan mendekati posisi Lamiah yang sudah duduk dengan bertumpu dengan satu kaki bersusun.


"Miaaaah... kita masih sahabatkan?" tanyanya pelan.


"Perlukah pertanyaan itu keluar? bahkan aku rela berbohong agar bang Irsam membenciku."


"Tapi kebohonganmu menoreh luka pada hatinya Miah." tandas Lilis tetap membela posisi mereka.


"Katakan padaku mbak... aku harus bagaimana? aku bersikap baik bang Irsam cinta. Aku bohong, bang Irsam luka. Kenapa aku harus perduli dengan hati kalian saja? Apa hanya perasaan kalian yang di utamakan, di jaga dan lindungi? Oh... iya. aku lupa, aku kan wanita kedua. Sehingga wajar hanya selalu di nomor duakan. Aku sudah tak bisa jadi sahabatmu mbak. Tapi bukan karena sikapku. Tapi tanya pada hati kalian." Lamiah kembali meluap, meletup letup menyesuaikan irama hati yang terpendam selama ini.


"Mbak sendiri sedang bingung sebaiknya rumah tangga kita bagaimana. Jujur Miah, setelah menjalani poligami ini. Aku semakin sadar. Berbagi itu tidak semudah yang mbak bayangkan. Mbak kira kamu adalah sahabat yang akan menjalankan porsimu seadanya, menjalani hidup sesuai porsi dalam jalurmu saja. Tapi ternyata... aku tidak bisa menakar perasaan kalian agar ini tidak semakin melaju dan saling terikat kuat satu sama lain."


"Sejak awal aku tidak pernah menginginkan dalam posisi ini. Menguasai abang pun tidak. Tapi... maaf mbak. Menurut ku, mbak lah yang berubah. Mbak yang tidak setulus dulu menjadi istri yang seharusnya. Percayalah mbak. Bang Irsam tak pernah benar pergi dari hati mbak. Bagaimanapun cinta abang masih sangat, teramat besar untuk mbak. Dia tak pernah selamanya pergi dari mbak, dia hanya main, selamatkan rumah tangga mbak. Aku siap mundur."


"Apa maksudmu Miah... apa karena Mattew?" Lilis masih saja membahas tentang pria tampan itu.


"Ada Mattew atau tidak, aku akan tetap minta ini di akhiri mbak. Aku sudah memutuskan akan membesarkan anak ini sendiri, tanpa abang."


"Kamu membenciku Miah?" perntanyaan konyol macam apa itu.

__ADS_1


"Apa aku mempunyai hak untuk membenci orang yang telah nyata memberikan jalan jodoh yang luar biasa untukku. Mbak Lis satu satunya orang yang begitu kotroversial dalam hal memberikan aku sebuah arti cinta." Lilis merasa wajahnya di lempari kotoram hewan. Merasa tertampar, sadar akan sindiran itu.


Jelas Lilis meruntuki kebodohannnya mulai dari idenya meminta suaminya menimahi Lamiah, hingga merasa tersainggi sendiri oleh madunya sampai tega berbuat curang.


"Sejak sekarang tolong sampaikan pada bang Irsam. Aku tidak lagi menganggapnya suami. Aku sangat menunggu kata talak dan cerainya apapun bentuknya aku terima. Dan tolong jangam katakan padanya soal nikah siri itu hanya bohong. Aku rela di benci abang atas tuduhan pengkhianatanku. Demi bersatunya kembali kalian dan keutuhan rumah tangga kalian. Katakan padanya, jangan lagi datang kesini, anggap saja aku tak pernah ada." Ucap Lamiah tak berkedip dan sangat dalam keafaan sadar menguraikan hal itu.


"Miaaah....." Tangis Lilis pecah, sesungukan sambil memeluk tubuh ibu hamil tersebut.


"Aku tak ingin di bayangi rasa bersalah sudah pernah mengganggu tatanan cinta di hati kalian. Terima kasih untuk kalian yang pernah memberi arti cinta yang sebenarnya. Cinta yang tidak menuntut balas, cinta yang selalu mengalah, cinta yang rela berkorban. Cinta yang ikhlas melepas pada orang yang tepat. Rangkul lagi cinta kalian mbak. Aku menyerah." Lamiah menepuk bahu Lilis yang menangis tak sanggup bersuara lagi.


Lilis sulit berkonsentrasi saat mengemudikan mobilnya untuk pulang ke rumah. Hatinya galau.


Mana selogannya dulu yang mengatakan bahwa Lamiah adalah soulmate nya? Aku lebih sakit saat Lamiah sakit. Aku lebih perih saat duka nestapa mengungkung hidup Lamiah, karena itu ia ingin menjadi pahlawan untuk Lamiah. Sekedar narasi tak berfungsi, Lilis hanya manusia biasa. Bukan malaikat apalagi Tuhan.


Waktu teruw berlalu, sedapat mungkin Lilis pelan-pelan sungguh menarik kembali perhatian suaminya. Benar saja dengan yang Lamiah katakan. Bahwa Irsam tak pernah pergi dari hatinya. Selama ini, hanya dia yang terbakar api cemburu tak beralasan.


Lilis sejak awal membuat pembagian waktu mereka, namun sendirinya yang membantah peraturan yang di buatnya karena takut suaminya akan terlena pada wanita kedua.


Lamiah sejak awal tak pernah ingin mendapatkan cinta dengan porsi lebih banyak dari Lilis. Namun justru sikap itu yang secara tidak sengaja membuat Irsam jatuh pada cintanya.


Walaupun Lamiah pernah salah, bagaimanapun ia pernah berusaha dalam hal menggoda suami sahabatnya tersebut.

__ADS_1


Kini Irsam benar bagaikan lupa memiliki dua istri. Ia benar hanya fokus pada Lilis dan Adilla. Rupanya Lilis benar menjalankan permintaan Lamiah, untuk tidak mengatakan yang sebenarnya.


Kali ini, Lilis tidak menjelekkan Lamiah. Hanya tidak lagi mengajak dan mendorong suaminya untuk berpikir ke arah Lamiah. Dengan berbagai cara ia mampu membuat Irsam terlena dengan keberamaan mereka. Juga kadang meminta Irsam menjaga Adilla.


Pov Irsam


Sejujurnya tiap kali Adilla dalam gendonganku, hatiku serasa teriris perih. Bagai dua sisi mata uang, sungguh ia dapat mengingatkanku akan proses kelahirannya.


Lilis wanita yang sangat ku cinta. Pernah hampir mati hanya demi melahirkan buah hati ini bagiku. Aku pernah berjanji tidak akan pernahenyia-nyiakan sisa hidupnya. Dan akan selalu membahagiakannya.


Aku yakin Lilis adalah cintaku, dan segalanya bagiku.


Namun, saat itu aku berikan anak ini ini Adilla. Tak mungkin aku lupa. Bahwa istriku dua. Nama ini sengaja ku semat agar aku selalu ingat, bahwa aku harus adil dengan kedua istriku. Lalu mengapa semudah itu aku ingin mengakhiri rumah tanggaku dengan Miah.


Bukankah ia adalah seorang wanita yatim piatu, yang hidupnya selalu dalam kekurangan kasih sayang. Yang kemudian menikah denganku, bahkan membawanya berada dalam ketidak adilan.


Sungguhkah Miah telah berpaling dariku? Semudah itukah dia berpaling? Sedangkan dulu membutuhkan waktu hampir 2 tahun bagi kami saling mengenal satu sama lain? Masa hanya saat 3 minggu ku tinggalkan, dia sudah menikah secara siri. Tapi... bukankah aku masih suaminya, aku masih sangat berhak menuntut pernikahan itu.


Aaaakh.... ada apa denganku. Di mana nuraniku, begitu tega membiarkan istri keduaku berjuang untuk menjaga dan melindungi kehamilan yang bahkan pernah sangat kami berdua harapkan.


Aku ba jing an, tapi tetap punya hati. Cukuplah aku yang breng sek terhadap wanita, tapi tidak dengan anak yang hadir tanpa dosa tersebut.

__ADS_1


Anak yang dalam kandungan Miah, harus tau. Aku adalah ayahnya.


Bersambung...


__ADS_2