
Lilis meremas ujung bajunya saat melihat Onah sedang mengambil beberapa pakaian Irsam dan keperluan lainnya dari kamarnya untuk di pindahkan ke ruang kerja atas perintah Irsam.
Sepulang kantor, Irsam beristirahat di ruang kerjanya. Hatinya masih berang. Untuk itu ia merasa perlu menenangkan diri. Irsam ingin di hargai sebagai suami. Irsam pun mengaku salah, bagaimanapun menerima permintaan Lilis untuk menikahi Lamiah adalah awal dari semua kesalahan ini. Baginya kini yang paling tepat ialah menjalankannya dengan adil. Tanpa bermain sembunyian lagi seperti yang ia lakukan kemarin-kemarin.
Satu pekan berlalu, ketiganya tampak menegang. Rumah tampak tak berpenghuni, sebab memilih mendekam, menunggu sinyal akan kemana arah biduk itu menuju.
"Ke ruang kerjaku sekarang." isi perintah Irsam ke ponsel kedua istrinya.
Lilis Lamiah terperanjat, mengira pesan itu hanya untuk salah satu dari mereka yang menerimanya.
Tetapi netra itu beradu, saat sama-sama berada di depan pintu. Lilis melempar senyuman di balas anggukan hormat dari Lamiah.
"Duduklah aku ingin bicara pada kalian berdua." tegas Irsam saat kedua istrinya telah masuk ke ruang kerjanya.
Mata Lamiah tertuju pada sofa yang pernah ia gunakan untuk melayani suaminya. Entah, apa perbuatan itu salah. Sesaat pikirannya melayang, tidakkah sesungguhnya ia hanya menjadi budak naf su Irsam belaka. Astaga... hanya tubuh Irsamkah yang menjadi obsesinya selama dua bulan menjadi istri kedua.
"Lilis... maafkan mas. Yang kasar terhadapmu minggu lalu. Mas sesungguhnya tidak memihak Lamiah, juga bukan berarti tidak lagi mencintaimu. Tetapi kini, kita benar tidak sedang berada dalam lingkaran yang tak bertepian. Namun dalam sebuah segitiga yang memiliki sudutnya masing-masing. Dan semuanya sudah terjadi, mundur tentu tidak mungkin, maju pun harus dengan strategi. Mari kita simpulkan bahwa rumah tangga yang kita jalani ini hanya ingin mendapatkan keberkahan. Yang awalnya Lilis ingin membahagiakan sahabatnya, sampai sanggup berbagi suami." ujar Irsam menghela nafasnya kasar.
"Mari kita mulai rumah tangga dalam bentuk cinta segitiga ini. Mari saling jujur dan mengingatkan satu sama lain bahwa yang kita utamakan adalah keadilan." lanjut Irsam.
"Pembagian waktu adalah satu minggu bukan per tiga hari. Silahkan minggu ini di mulai dari siapa?"
"Lamiah." Jawab Lilis
"Mbak Lilis saja, bagaimanapun dia yang pertama."
"Tidak... tidak. Selama ini pembagiannya terlalu jomplang. Ke Miah saja Mas. Permisi." Jawab Lilis kemudian keluar tanpa di minta.
Kini tersisa Irsam dan Lamiah. Masih terlihat diam tak bersuara.
"Sepekan ini kamu milikku." Ujar Irsam datar.
__ADS_1
"Maaf bang. De Miah goyah. Tolong beri waktu untuk dede sendiri. Sebab setelah dede melihat sofa ini, dede baru tersadar, de Miah hanya istri pemuas naf su. Tidak ada cinta di antara kita. De Miah akui, abang suami yang luar biasa, sebab dede tak pernah punya perbandingan untuk hal itu. Tapi, dengan mengingat semua yang kita lakukan, sejak pacaran jarak jauh dan tinggal serumah. Fix, de Miah merasa seolah de Miah tak ubahnya wanita ja lang. De Miah benar hanya perusak rumah tangga kalian. Talak de Miah sekarang bang." Ucap Lamiah tegar.
"De Miah bukan ja lang, de Miah istri sah abang. Dede berhak mendapatkan perlakuan layaknya seorang istri. Dan sampai kapanpun, abang tidak akan mengucapkan lima hurup, kata terkutuk itu. Tidak akan pernah."
"Baiklah... tapi de Miah mohon. Untuk minggu ini mulailah dari mbak Lilis. De Miah perlu waktu untuk menata hati."
"Baiklah dan berjanjilah untuk tidak meminta abang menceraikanmu lagi. Dan jika itu kau minta, kalian berdua yang akan ku lepas." Irsam memeluk tubuh Lamiah erat.
Sendirinya sesungguhnya goyah, tak mengerti dengan apa yang ada dalam pikirannya. Benarkan Lamiah hanya obsesi pemuas naf sunya, atau benar ia telah jatuh cinta pada sahabat istrinya tersebut.
Lilis menatap takut pada suaminya, yang kini tiba-tiba masuk ke kamarnya. Membersihkan diri ke dalam kamar mandi. Lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang sama dengan Lilis.
"Mas... kenapa di sini?"
"Lamiah ingin semuanya di mulai dari sini." ucapnya pelan dan memberikan punggungnya pada Lilis.
Lilis memiringkan tubuhnya memeluk suaminya dari belakang.
Irsam berbalik memeluk dan mengecup kening Lilis lama.
"Sudah, tidurlah. Mas lelah otot dan otak." Jawabnya datar masih memeluk tubuh istri pertamanya dengan dingin.
Hingga pagi datang, tanpa cumbuan sepanjang malam.
Dan hari-harinpun berjalan. Tidak tampak lagi Lamiah yang bertindak bak pembantu rumah tangga. Ia memilih berada di kamarnya, jika Irsam masih di rumah. Dan akan keluar saat Irsam sudah berada di luar.
Tidak ada lagi chat genit, video call getol yang Irsam lakukan pada Lamiah seperti saat lalu. Sepertinya mereka benar sedang saling berintrospeksi diri atas hubungan tak sehat mereka.
Lambat laun, suasana kamar Lilis dan Irsam kembali hangat. Tidak ada lagi aksi Irsam yang memunggungi Lilis. Sebab ia lelaki normal, yang bahkan sanggup di layani oleh dua istri dalam sehari.
"Mas... ingat. Besok bukan jatahku. Boleh aku berlibur?"
__ADS_1
"Kemana? Banten lagi? Tidak boleh...!!!" Jawabnya bengis.
"Singapura."
"Oke... silahkan." Jawab Irsam mencium ringan bibir Lilis.
Bukan perihal besar bagi Irsam mengijinkan istrinya pergi berlibur, toh ia masih memiliki satu istri yang bisa melayani lahir dan bathinnya. Dan jangan tanya soal uang, Lilis sudah memegang kartu dengan nominal yang fantastik. Teman sosialitanya bahkan sudah di tingkat manca negara. Bahkan liburan kali ini sudah mereka jadwalkan untuk mengadakan arisan.
Rumah tangga Lamiah pun bermulai. Saat di rumah itu hanya dia yang berstatus sebagai istri Irsam. Saat Lilis memilih pergi berlibur.
Hanya sehari suasana canggung melanda Irsam dan Lamiah. Selanjutnya mereka adalah pasangan suami istri yang benar-benar mesra, panas menggelora.
Lamiah totalitas melayani Irsam, urusan pakaian, makanan, ranjang jangan di tanya. Lamiah pun akhirnya mendapat pembagian peran mengantar suami berangkat ke kantor secara langsung, tidak lagi hanya memandang dari balkon kamarnya.
Onah memandang haru, ia tau majikan barunya itupun telah lama menginginkan memainkan peran tersebut. Namun, tuan majikannya terlalu lemah dengan istri tua. Saat si muda berpura-pura mengalah, ia justru di injak. Wajar saja jika mereka mencuri-curi untuk bercinta.
"Abang sangat ingin dalam rahimmu segera berbuah. Agar de Miah tak meragu, bahwa abang sungguh telah mencintaimu, bukan karena fisik semata."
"Amin. Semoga Allah mendengar doa kita dan memberkahi segala usaha kita bang." jawab Lamiah.
"Hariku bersamamu telah habis, silahkan jika dede mau liburan seperti dia. Abang tidak mau di cap sebagai suami yang tak adil."
"Hahaaa... sudahlah. De Miah ingin segera punya anak. Berharap seminggu bersama abang akan membuahkan hasil. Dede ga mau cape sayang."
"Baiklah...terima kasih untuk semua waktu dan pelayananmu sepekan ini sayang, love you." ciumnya pada bibir itu dengan tangan yang berada di gundukan favoritnya.
Saat pintu kamar masih terbuka, dan Lilis sempat melihat adegan mesra itu. Membuat jantungnya bergemuruh.
Ciih, apakah Lilis cemburu?
Bersambung....
__ADS_1