LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA

LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA
BAB 48 : AKU TAK INGIN BERBAGI


__ADS_3

Irsam dan Lilis sudah berada di Wakatobi, sebuah tempat dengan keunikan dan keindahan alam yang menarik dilihat dari segala sisi. Dari atas kita akan disuguhi oleh indahnya pemandangan alam dan pesisir pantainya. Sedangkan di bawah lautnya, kita akan lebih terkesima lagi


dengan keragaman biota lautnya.


Entah Irsam serius atau tidak. Ingin memperbaiki rumah tangganya kali ini. Yang pasti, jangankan menghubungi Lamiah, ponselnya pun tidak ia bawa saat pergi berbulan madu dengan istri pertamannya.


Nila kadang menghubunginya menggunakan ponsel Lilis saja, jika ada urusam kantor yang bersifat urgent.


Hubungan suami istri antara mereka menjalar menghangat. Berangsur manis, seperti sebelum hadirnya wanita kedua.


"Mas... maafkan aku."


"Apa salahmu sayangku?" tanya Irsam yang tiduran berbantal di pangkuan Lilis yang hampir tak sempat berpakaian dengan benar oleh ulah Irsam yang selalu memggempurnya menggila.


"Salahku sudah membawa petaka di rumah tangga kita." Jawab Lilis pelan.


"Ratuku menyesal?" tanya Irsam.


"Sangat." Jawabnya.


"Ternyata benar cinta melingkar bulat tak bertepian itu memamg lebih indah daripada segitiga. Dan aku bahkan masih ingat betul betapa gilanya aku memintamu untuk menerimanya. Apakah aku sudah tak ada di dalam hatimu mas?" isak Lilis menahan gemuruh dadanya yang mulai gelisah.


"Kamu tetap memiliki tempat berharga dalam hati mas."


"Bagaimana dengan Lamiah?"


"Maaf, mas tidak boleh bohong. Iya pun memiliki tempat di hati mas. Hati mas susah berhasil kalian bagi."


"Bagaimana kalau aku tidak ingin berbagi lagi mas?" dengan gemetar Lilis mengajukan pintanya.


"Apa ini artinya, ratuku meminta mas bercerai dengan Lamiah?" tegas Irsam.


"Ya... aku ingin mas sudahi saja rumah tangga mas dengan dia. Kita mulai dari awal lagi hidup berumah tangga. Bahkan kalau perlu Faizal kita rawat sama-sama. Agar rumah tangga kita berjalan selayaknya rumah tangga pada umumnya."


"Mas cinta padamu. Saat kamu minta mas menikah lagi. Atas nama cinta mas lakukan untukmu. Dan sekarang saat kau minta mas menceraikannya, apa demi cintaku padamu juga mas akan lakukan?" tanya Irsam pada Lilis yang masih samar dengan jawaban ambigunya.

__ADS_1


"Aku tau... mas sudah lebih berat mencintainya daripada denganku. Bahkan kebersamaan kita yang hampir sewindu ini tekalahkan dengan kedekatan kalian yang masih dalam hitungan bulan. Aku mengerti... mas tidak akan pernah rela menceraikannya." ungkap Lilis menyimpulkan sendiri.


"Sebelum kamu meminta mas menikahinya, tentu kamu telah bicara dari hati ke hati dengannya. Untuk itu, bicaralah kalian satu sama lain, layaknya sahabat seperti sebelumnya. Jika, akhirnya kesepakatan kalian adalah mas menceraikannya. Mas, akan lakukam demi kamu, Faizal juga Adilla. Dan, kita pindah kota atau minta Lamiah pergi jauh agar mas tidak lagi melihat atau tau kabarnya."


"Mas sungguh bersedia menceraikannya tanpa menceraikanku?"


"Sejak awal hanya keinginanmu yang aku turuti. Sehingga sampai akhir pun akan mas usahakan tetap seperti Irsam yang begitu menggilaimu." Jawab Irsam yang sulit Lilis percaya.


"Mas yakin tidak menyesal jika nanti akan kehilangannya."


"Mas tidak suka mengandai-andai. Percuma saja memiliki mimpi, toh semua juga akan terjadi tidak sesuai dengan keinginanku."


"Bisakah mas jujur, apa sesungguhnya yang mas inginkan untuk rumah tangga kita kedepan?" tanya Lilis lagi dengan lembut.


"Berpoligami tidak pernah ada dalam khayalanku sekalipun. Tapi itulah yang telah terjadi dalam hidupku. Sebenarnya sederhana sekali, saat ini sudah di depan mata. Maka mas hanya ingin berperan sebagai suami yang adil saja untuk kalian berdua. Tidak ada prasangka dan saling curiga di antara kalian berdua. Yang selalu meminta keterangan antara kalian siapa yang lebih mas cinta."


"Sejak awal Lamiah tidak pernah mendomonasi mas, bahkan jika kamu ingat di malam pertama kami pun mas tetap pulang untuk memelukmu, untuk menjaga hati dan perasaanmu. Kamu yang berubah rasa padanya. Kamu sendiri yang mengantarkan mas untuk jatuh dalam cintanya. Kesabarannya menerima menjadi wanita kedua. Kamu yang terlalu takut mas berpalimg darimu. Padahal mas masih jalan di tempat, dalam hal mencintaimu. Tidak maju jalan untuk mencintainya."


"Maaf... hati mas segera goyah. Saat melihat ia benar tulus menunggu keadilan berpihak padanya, sampai akhirnya dia memilih keluar dan meangakhiri deritanya. Menurutmu, apakah kita harus benar memutuskannya? Benarkah surga yanh pernah kau tawarkan padanya dulu?" tanya jelas membela si istri muda.


"Bagaimana dengan perasaannya?"


"Tidak usah pikirkan perasaannya. Utamakan saja kebahagianmu. Semoga dengan status jandanya, dia bisa lebih hoki. Dan segera mendapat pemdamping hidup yang tidak terbagi dengan orang lain."


"Bagaimana jika dia tidak mau di cerai?"


"Asal kamu tau, saat ia keluar dari rumah pun dia telah menganggap dirinya seorang janda. Ia bahkan tidak menerima mas, jika tidak berbaikan padamu. Ia masih sangat menghormatimu, masih menganggapmu sebagai sahabat terbaiknya." Ujar Irsam memperbaiki posisi tidurnya. Lalu menarik Lilis masuk dalam pelukannya.


"Sekali lagi mas tegaskan. Mas siap bercerai jika kau yang memintanya. Dan tolong bicarakan baik-baik dengannya. Kembalikan hubungan persahabatan kalian. Berdamailah dengan hati kalian, masing-masing."


"Bagaimana jika aku saja yang minta cerai?" tiba-tiba ide konyol Lilis datang lagi.


"Beri mas racun saja. Dari pada kalian bingung mas harus ceraikan yang mana. Mungkin dengan kematian bisa membuat mas cepat dapat bertemu hari penghakiman untuk bertanggung jawab dengan segala dosa di dunia ini." Lantang Irsam yang justru memilih mati daripada cerai dengan Lilis.


"Mas..."

__ADS_1


"Heeemmm."


"Maafkan aku."


"Kamu tidak salah. Mas yang tidak tegas sebagai laki-laki."


"Benar mas bersedia menceraikannya?" tanya Lilis berulang-ulang.


"Di ruang mana mas ikrarkan kalimat Qobul untuk mensahkan dia jadi istri kedua mas? Di ruang itu pula mas akan mengucapkan kalimat talak padanya. Kamu siapkan saja segala sesuatunya. Otak mas sudah sangat lelah berpikir." Jawab Irsam meyakinkan.


"Mengapa mas mau menceraikannya?"


"Karena kamu yang minta."


"Mengapa aku mas menikahinya?"


"Karena kamu yang meminta."


"Mengapa mas selalu mendengarkanku?"


"Karena kau sangat aku cinta."


"Apa mas yakin bisa bahagia setelah bercerai dengannya?"


"Tak usah bicara bahagia. Membahagiakanmu lebih penting untuk merontokkan dosa-dosa mas di masa lalu terhadapmu." Ucap Irsam sambil menutup mata. Merasa jiwa dan raganya lelah menghadapi Likis yang terlihat galau sendiri dengan perasaannya.


Masih dalam pelukan suaminya, mata Lilis berimbah airmata. Tak mampu sendiri memikirkan perbuatannya. Merasa tak nyaman sendiri, ketika suaminya tak melakukan perlawanan saat ia minta untuk menceraikan madunya.


Apakah permintaannya kali ini salah lagi?


Apakah dengan memisahkan mereka rumah tangganya akan utuh kembali?


Apakah benar Lamiah yang merusak tatanan rumah tangganya atau dialah biang dari kehancuran rumah tangganya sendiri?"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2