
Satu purnama terlewatkan. Berangsur keadaan Lamiah pun pulih. Sudah tidak ada perawat yang datang kerja part time merawatnya datang ke rumah itu.
Untuk sementara keadaan rumah tangga itu tampak adem ayem. Entah apakah karena Lamiah memang jarang beraktifitas di luar karena masih menjaga kesehatannya, atau memang sengaja menghindar untuk tidak sering berkomunikasi dengan Lilis.
"Sayang... Lamiah sudah benar pulih dan bisa beraktivitas kembali. Mulai sekarang kita akan melakukan kegiatan yang bisa di lakukan bersama ya. Mulai dari sholat, berbelanja, jalan-jalan atau sesekali memasak dan liburan. Agar kalian tidak canggung. Mas masih merasa ada rasa persaingan yang kuat di antara kalian. Maaf jika mas salah mengartikan. Tapi, kali ini mas yang memohon untukmu bisa menerima dia sebagai madumu."
Lilis terdiam menyadari dialah sisanya yang belum menerima rumah tangga yang justru ia rusak sendiri di awal.
"Iya... maafkan aku." Hanya itu yang mampu Lilis ucapkan pada suaminya Yang tangannya sudah mulai menggerayanginya, tubuh Lilis dengan mesra. Perlahan hubungan dingin di antara mereka pun menghangat kembali.
Dua pekan berlalu, Lamiah benar sudah bisa beraktivitas normal. Mencoba ceria, melupakan hal janggal yang pernah terjadi. Sedikit berubah menjadi pribadi yang ramah, tidak sependiam biasa.
"Mba Lis... mau makan apa hari ini. Gimana kalau kita masaknya bareng?" ajak Lamiah yang kepalanya sudah nongol di pintu kamar Adilla.
"Oh.. iya boleh. Mas Irsam suka sup Iga. Kita masak itu saja untuknya pulang kerja nanti." Jawab Lilis cepat sedikit terkejut.
"Boleh Miah belanja sendiri mba? Sekalian keluar mau jenguk salon. Sudah lama ga di liat secara langsung." Ijin Lamiah pada Lilis.
"Iya, tapi jangan pakai motor Miah. Di antar supir saja." Saran Lilis melunak.
"Iya... Miah pergi dulu mba. Assalamualaikum." Pamitnya sopan sambil mencium pipi Adilla dengan gemash.
"Walaikumsallam. Hati-hati Miah." Jawab Lilis sungguh. Yang kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi Irsam.
"Assalamualaikum mas..."
"Walaikumsallam... ada apa sayang?"
"Mas repot?"
__ADS_1
"Belum mulai meetingnya. Ada apa?"
"Apa tidak sebaiknya mas belikan Miah mobil? Supaya dia mudah bolak balik ruko dan rumah. Sekarang dia sudah sehat, mungkin akan sering keluar rumah." Saran Lilis.
"Hmm.. nanti mas bicarakan dengannya. Tapi, sayangku kasih saran begini apa ikhlas?"
"Ikhlas lah. Kan abang harus adil. Masa cuma Lis yang di belikan mobil, tapi Miah tidak?"
"Tapi... Miah sudah mas belikan ruko tempat usahanya itu. Harganya malah lebih mahal dari mobil mu, ratuku."
"Waaah... kalau begitu mas juga harus belikan Lis lapak untuk Lis membuka usaha seperti Miah." Ucapnya manja.
"Nanti kita bicarakan bersama di rumah ya sayang. I Love you." Irsam mengakhiri obrolan mereka. Sebab, Nila sudah memberi kode, bahwa meeting akan segera di mulai dan di pimpinnya.
Awalnya Lilis ingin menebus kesalahannya dan sedikit merasa iba, melihat Lamiah yang hanya memiliki kendaraan roda dua, pun hasilnya membeli sendiri. Maka ia ingin mengingatkan suaminya agar berlaku adil pada madunya. Meminta suaminya membelikan mobil untuk Lamiah. Tapi, kejujuran Irsam tentang kepemilikan ruko itu, justru lagi mengusik hatinya.
Hati Lilis sungguh merasa terganggu dan tidak aman setelah tau, bahkan tanpa sepengetahuannya Irsam membelikan ruko itu untuk Lamiah.
"Miah... ruko tempatmu membuka salon itu benar di belikanas Irsam untukmu?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Sepertinya begitu."
"Kenapa sepertinya, seolah ada ragu?"
"Iya.... abang bilang begitu. Tapi Miaj sendiri tak melihat dokumen dan surat-surat akta jual belinya mbak Walaupun, sekarang bentuk ruko itu memang di buat sesuai kehendak bang Irsam."
"Awalnya tidak begitu?"
"Iya... uang tabunganku selama menjadi TKW hampir habis semua untuk modal aku membuka usaha salon & spa itu mba. Aku hanya mampu menyewa satu pintu 2 lantai saja. Sebab, peralatan salon kan sekarang serba mahal. Beruntung, aku dapat karyawan yang tidak banyak menuntut dalan hal memberi gaji mereka. Semua sesuai dengan pemasukan salon, setelah mencicil bayar kembalian modal itu mbak." Lamiah benar melumer, kembali menjadi Lamiah yang dulu sangat di sayangj dan di kagumi oleh Lilis saat pertama mereka bertemu dan jadi sahabat.
__ADS_1
"Oh... mbak kira salonmu semua di modali mas Irsam."
"Awalnya saja yang begitu. Setelah abang tau Miah di sana. Tanpa sepengerahuan Miah, abang beli dan isi peralatan lengkap di tempat yang baru itu mbak."
"Heemmm... pantas kelihatan elegan. Kamu enak ya Miah. Punya usaha sendiri, tidak sepertiku. Hanya jadi ibu rumah tangga tanpa penghasilan, selain dari suami."
"Mbak mestinya bersyukur saja. Lebih enak mengurus anak dan menyambut suami pulang bekerja kali mba, ketimbang kerja seperti Miah. Apalagi suami mbak kan selalu mencukupi semua kebutuhan lahir dan bathin untuk mbak nikmati."
"Tapi... aku menjadi tidak punya kesibukan Miah. Kerjaanku hanya curiga pada suami yang mungkin tidak adil padaku. Lalu cemburu saja, takut dia akan lebih perhatian padamu dari pada denganku." Jujur Lilis pada madunya.
"Apa mbak masih suka menggambar desain baju-baju seperti dulu mbak? Kenapa mbak tidak membuka butik saja. Untuk memyalurka hobby mbak itu."
"Asatagafirullahaladzim. Mbak sudah lama sekali tidak sibuk dengan kertas, pensil dan pewarna itu Miah. Iya... kamu benar. Lebih baik aku minta mas Irsam membelikan aku ruko juga untuk mba bisa membuka butiqe. Jaei, mas benar adil pada kita berdua." Lilis menemukan ide dari Lamiah.
"Hah... adil darimana? Jelas-jelas sejak awal kamu sudah punya segalanya dari aku mbak-mbak. Tapi, ah... siapalah aku. Hanya wanita kedua yang numpang hidup. Beralasan cinta memilih bertahan dalam rumah tangga segitiga ini." Batin Lamiah membingkai senyum sempurna di bibirnya.
Masakan mereka sudah selesai. Keduanya selanjutnya kembali ke kamar masing-masing. Lilis mengecek keadaan Adilla, dan Lamiah memilih mandi berendam di kamarnya. Membuang wangi bawang yang mumgkin menempel di tubuhnya. Inilah kelebihan istri muda yang belum di karuniai anak. Masih bisa menyambut suami pulang, dengam badan wangi dan wajah berseri.
Tok
Tok
"Bu... di pamggil nyah Lilis katanya tuan sudah pulang, dan ingin makan bersama." suara Onah agak keras dari balik pintu.
"Iya... saya segera turun Onah. Terima kasih." Jawab Lamiah dari dalam.
Dengan dres selutut, tanpa lengan. Wangi tubuh khas sehabis mandi, Lamiah membaur ke dapur untuk makan bersama.
Jangan tanya betapa terpesonanya Irsam melihat pemandangan yang di pamerkan istri mudanya. Yang bahkan ia mengabaikan Lilis yang saat itu juga hanya menggunakan tang top dengan hotpants levis untuk menyambut kedatangannya tadi.
__ADS_1
"De Miah ... kata Lilis, kamu perlu mobil?" tanya Irsam saat Lamiah baru saja mendudukan bo kongnya di kursi makan itu.
Bersambung...