
Rumah tangga segitiga antar Irsam, Lilis dan Lamiah pun mulai berjalan stabil. Di mana Lilis memang berangsur melunak pada madunya tersebut. Padahal sejak awal Lamiah memang bukanlah madu yang harus di takutkan, hanya cara Lilis menyampaikan cerita pada teman sosialitanya nyang membuatnya buta akan ketulusan hati seorang Lamiah.
Pun Lamiah pada masa itu tidak bisa di benarkan, sebab ia seperti baru menemukan tempatnya berlabuh. Merasa bahwa ia lebih cantik, lebih menarik dan lebih di cintai oleh suami sahabatnya. Serhingga perselisihan dan kesalahpahaman antara mereka tak terelakan.
Ditambah lagi Irsam yang memang terbuai, terjatuh dan terpental dalam gumpalan cinta wanita kedua yang tentu saja di masa awal selalu tampak idah dan manis. Bagaimanapun sempurnanya istri pertama akan selalu terlihat cacat saat pria sudah menduakan cinta tersebut.
Namun, sekuat apa cinta wanita kedua untuk ingin menjadi yang pertama itu bullshit, kecuali istri pertama itu benar ia binasakan. Namun, sejak awal Lamiah hanya ingin di beri sedikit cinta oleh suami sahabatnya tersebut. Hanya mereka berdua seakan kebablasan, sebab mereka sudah di penuhi oleh naf su setan.
Lilis tak menyangka Irsam masih suami yang manis dan patuh pada semua perkataan dan permintaannya. Sebab baru 2 bulan berlalu Irsam benar telah menyewa sebuah outlet di sebuah mall terbesar di Bogor sebagai sarana untuk Lilis membuka usaha jual beli perhiasan berlian, mutiara, emas putih dan jenis perhiasan lainnya.
Hal itu tidak sesuai dengan ekspektasi Lamiah, yang jelas-jelas menyarankan agar Lilis membuak butiqe saja. Sebab Lamiah tau, bakat mendesain Lilis sangat bisa di acungi jempol.
“Mas… kenapa mas hanya menyewakan sebuah outlet. Miah mas belikan ruko, beli dengan sewa itu beda mas. Mas ga adil…?” Berang Lilis di dalam kamar mereka saat Irsam menyampaikan bahwa ia sudah siapkan tempat untuk istrinya memulai usaha itu.
“Ratuku… kamu sadar ga sih? Outlet itu bahkan berada di sebuah mall besar. Sewanya setahun itu hampir sebanding dengan harga sebuah ruko yang mas belikan untuk Miah.” Irsam membela dirinya.
“Ya kenapa mas tidak belikan ruko juga untuk Lilis?”
“Sayang… awalnya Miah juga sewa ruko sayang. Tapi kamu liat dulu animo pembelinya. Jangan sampai mas sudah beli tapi pembeli atau pengunjungnhya tidak ada, kan akan rugi banyak.” Jelas Irsam.
“Jangan bilang ini atas hasutan Miah ya mas…?”
“Ini tidak ada hubungnnya dengan Miah, sayang. Apa perlu ruko itu mas jual saja, agar kalian berdua sama-sama berusaha di mall itu, mas akan sewa satu outlet lagi untuk Miah?” Irsam sungguh tidak ingin mengecewakan Lilis istri yangmemang masih sangat ia cintai itu.
“Iiih… jangan. Cukup di rumah aku melihatnya. Masa di tempat kerja aku harus melihatnya lagi?”
“Kenapa sayangku seperti benci padanya, jangan lupa asal muasalnya.” Irsam sekedar mengingatkan. Walaupun sebenarnya itu sangat terpaksa ia sampaikan. Tapi, dengan begitu cukup membuat Lilis diam dan tidak lagi membanding-bandingkan pemberiannya pada Lamiah.
“Malam ini mas di sebelah ya..?” Tanya Irsam.
“Hm…”
__ADS_1
“Kok hmm…”
“Iya mas.” Jawab Lilis agak masih kesal.
“Kita sholat dulu sayang.” Ajak Irsam lembut, paham jika sekarang Lilis sedang dalam keadan kesal.
Ketiganya sudah menyelesaikan sholat berjamaahnya. Keduanya bergantian menyalimi suami mereka dengan takzim. Kemudian mereka beranjak duduk bersantai bersama di taman belakang.
“Mbak Lis… kapan opening tempat jualan yang barunya? Apa barangnya sudah terisi semua? Mbak ingat ga dengan Keke yang dulu juga TKW bersama kita, sekarang dia juga membuka usaha jual beli perhiasan. Miah masih punya kontaknya, mungkin mbak mau kerja sama dengannya. Ya sekdar lihat koleksinya juga mungkin bisa jadi bahan pertimbangan mbak.” Saran Lamiah yang sungguh mendukung usaha baru Lilis.
“Oh ya… boleh-boleh nanti kirim saja ke kontak mbak. Tapi, kalau stok barang sih mbak sudah punya suplayer yang barangnya bagus dan limitied edition. Dia bekerjasama langsung dengan pengrajinnya, jadi nanti aku akan jadi tangan kedua. Tentu saja barang jualanku tidak akan banyak sama dengan jualan orang lain, lebih murah tentunya.” Jelas Lilis bersemangat.
“Wah… semangat. Mantap kalau begitu ya mbak. Miah yakin usaha mbak akan cepat berkembangnya, mana lokasinya strategis lagi, pasti outlet mbvak nanti akan di buru oleh ibu-ibu perlente.”
“Tentu saja, tak susah untuk promosi. Cukup mengundang teman-teman arisan mbak selama ini saja sudah penuh outlet mba.” Lilis dengan jumawah membayangkan betapa ramai orang-orang mengunjungi dan membeli barang jualanya.
Tiga purnama berlalu, benar saja. Jualan Lilis laku keras, ia mendapat untung banyak. Hal tersebut membuatnya makin sibuk, juga semakin jarang di rumah akibat janji temu dengan calon pembelinya. Hingga Lilis agak terlena dengan usaha barunya tersebut, bahkan sering tak memperhatikan Adilla. Lamiah yang lebih sering membawa Adilla ke salonnya, sebab di sana lebih nyaman suasananya. Karena di sebelah ruko adalah rumah. Adilla sudah berusia hampir tujuh bulan, sudah pintar mengoceh, tiap ocehanya lebih sering memanggil umi daripada mama. Karena memang Lamiah yang lebih sering bersamanya.
“Kemana Lilis, kenapa Adilla bersamamu lagi?”
“Mbak Lilis mendadak ada menghadiri pameran di Lombok 3 hari bang.”
“Kenapa dia tidak pamit padaku?”
“Periksa dulu ponsel abang, mungkin abang yang tidak memperhatikan ponsel. Mbak Lis tidak mungkin pergi tanpa pamit ke abang.” Lamiah menyabari suaminya.
Irsam segera merogoh sakunya dan melihat, ada 10 panggilan tak terjawab dari istri pertamanya. Lalu ada chatt yang memang belum sempat Irsam baca.
“Mas… dimana?”
“Sedang rapat?”
__ADS_1
“Lilis ijin ke Lombok ya, ada pameran perhiasan skala internasional di sana. Adilla ku titip sama Miah, pengasuhnya lagi cuti, orang tuanya sakit. Maaf ijinnya lewat ini saja ya mas. I Love You.” Isi pesan chat dari Lilis. Irsam hanya menarik nafas dalam.
“Gimana bang?” Tanya Lamiah memastikan.
“Iya… dia ada ijin waktu abang meeting tadi.” Jawabnya agak lesu.
“Jadi bagaimana, kita pulang?” Tanya Lamiah yang memilih selalu patuh pada suami sahabatnya ini.
“Kita tinggal di sini saja sampai Lilis pulang, di sini cukup nyaman untuk kita bertiga.” Jawab Irsam melepas jasnya.
“Bisa tolong liat Adilla sebenatar bang..?” Tanya Lamiah sopan.
“Kenapa?”
“Miah mau buatkan jus tomat buat abang.” Jawab Miah lagi.
“Alpukad saja, jika ada yank…?” pinta Irsam yang sudah menggendong Adilla sambil tersenyum.
“Ada… sebentar ya bang.” Pamit Lamiah lalu kedapur untuk melayani suaminya.
“Mama… sedang apa?” ucap Irsam di depan gawainya melakukan panggilan video call dengan Lilis yang di lihatnya sedang aktif.
“Haii Adillaa… muaaach. Sedang di mana mas?” Tanya Lilis melihat latar yang berbeda dari dinding rumah mereka.
“Kami tidur di ruko ya ma, sampai mama datang.” Info Irsam sambil memita ijin npada istri pertamanya.
“Oke deh.” Jawab Lilis ceria.
“Adilla pinter-pinter sama umi ya sayang.” Cerocos Lilis kemudian.
“Mama… mama…” celoteh Adilla melihat wanita di seberang gawai itu.
__ADS_1
Bersambung….