LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA

LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA
BAB 84 : SEPUCUK SURAT


__ADS_3

Entah apa Irsam termasuk umat pilihan Allah. Yang senantiasa memiliki kesempatan berkali kali dalam hal memohon pada Tuhannya.


Jika tahun lalu ia pernah dengan seluruh jiwa raganya meminta dengan tunduk sujud dan air mata meminta Tuhan menyelamatkan Lilis saat melahirkan Adilla. Namun lihatlah kini. Bahkan airmatanya jatuh kembali meminta Tuhan menyelamatkan Lamiah sang wanita keduanya.


Irsam serakah, munafik, ia juga egois, segala umpatan tidak terpuji layak melekat untuk disandangnya semua sebutan itu secara manusia. Namun, siapakah dia yang hanya seorang manusia sarang dari segala dosa.


Bagaimanapun ia akan melepaskan wanita kedua itu, tentu tetap doa terbaiklah yang ia pintakan pada wanita yang tak lama lagi akan menyandang status janda.


Tetapi ... bukankah ia baru saja menjadi seorang ibu. Sesalah apa sesungguhnya Lamiah hingga ia harus selalu mengalah?


Ada seseorang yang sempat Tuhan kirimkan untuk melindunginya, memghiburnya dan dapat ia andalkan seperti Mattew. Tapi kenapa orang sebaik Mattew harus di ambil sang empunya secepat itu.


Tidak bolehkah Lamiah bahagia, memiliki dan dimiliki oleh seseorang yang akan dengan sungguh memberikannnya kasih sayang yang sesungguhnya.


Irsam masih terpekur lemah di depan pintu, sementara lampu emergency masih menyala, pertanda pekerjaan di dalam belum selesai dengan tuntas.


Perjuangan Lamiah melawan maut belum selesai. Ia masih berpegang pada sehelai rambut saja. Jika Tuhan di pihaknya, mungkin ia masih di beri kesempatan merawat Gary layaknya seorang ibu. Tetapi, jika sang pencipta menentukan inilah waktunya pulang untuk menyususl Mattew, manusia bisa apa?


"Permisi pak. Operasi sudah selesai." Seorang tim medis membuka pintu ruang operasi dan menemukan Irsam yang bahkan tertidur bersandar di depan pintu, sebab saat itu memang masih dini hari.


"Oh... bagaimana keadaan istri saya dokter?" tanya Irsam antusias.


"Maaf pa. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun, pendarahan hebat tadi sangat berakibat buruk bagi kondisinya. Semoga ia dapat melewati masa kritisnya. Kehilangam banyak darah sangat memperburuk keadaannya, tekanan darah yang tinggi juga membuat kesadarannya menurun. Semoga tak bersifat permanen. Kami tetap akan melakukan yang terbaik semampu kami lakukan." Papar dokter.


"Bisa saya bertemu dia dokter?"

__ADS_1


"Untuk sementara belum ya pak. Masih di pantau intensif oleh tim kami." Ujar dokter kemudian.


Irsam terpaksa mengalah, mundur teratur memberi jalan untuk dokter yang akan lewat di depannya.


Tiba-tiba Irsam kembali pada tujuan awal mereka datang ke rumah sakit ini. Bukan kah semalam mereka hanya ingin menjemguk Mattew. Tapi, di mana dan bagaimana keadaan orang itu? Irsam bahkan berlalu mengejar blankar yang membawa Lamiah ke ruangan lain hingga terlena dengan keadaan yang membuatnya setegang ini.


"Eh... permisi suster. Pasien atas nama Mattew di ruangan mana?" tanya Irsam setelah berlari menuju receptionis.


"Mattew Andre Suseno? tanya perawat memastikan.


"I..iiya mungkin. Tadi malam masih di ICCU." Irsam sedikit tau setelah mengingat ingat.


"Oh... iya maaf pa. Pasien sudah di pindahkan ke ruang jenazah. Setelah siap, mungkin akan segera di bawa pihak keluarga."


"Hah...? Mattew meninggal? jangan bercanda suster.!!" Hardik Irsam kasar pada perawat di sana.


"Di mana ruang jenazah?" tanya Irsam kembali. Ia ingin membuktikan sendiri saja daripada menghabiskan waktu untuk marah marah dengan perawat disana.


Kemudian perawat pun menunjukan arah pada Irsam, dan melangkah sesuai arah yang di berikan padanya.


Irsam hampir tak percaya jika di sebuah ambang pintu bertulis Ruang Jenazah itu, tampak di penuhi beberapa orang dengan berbagai ekspresi. Mulai dari bersedih, hingga pura pura tegar.


Sayup suara tangis bercampur dengan alunan kidung pujian berlirik sedih, juga mengandung kekuatan serta penghiburan di sana. Pelan pelan Irsam menyusup dirinya untuk masuk agar dapat memastikan jika yang sedang di sembahyangi itu adalah jenazah Mattew yang ia kenal.


Ada seonggok raga terbujur kaku, dengan pakaian jas lengkap, kaki, lutut, ragang terikat di sana. Hidung yang tersumpal kapas putih juga terlihat begitu nyata.

__ADS_1


Ada seorang pria dengan jubah hitam berkolar putih memegang sebuah kitab, sebagai pemimpin ibadah tersebut. Taulah Irsam, bahwa selama ini benar saja jika Lamiah berkeras menyatakan tak harus melanjutkan hidupnya bersama Mattew.


Irsam hampir tak mengenali raga ringkih, kurus dan membiru itu. Sungguh sangat jauh berbeda dengan Mattew yang ia kenal dan ajak ngobrol beberapa bulan yang lalu.


Taulah Irsam, mengapa istrinya syok saat masuk ke ruang rawat Mattew semalam. Irsam paham betapa terpukul hati istrinya saat melihat penampakan jasad tubuh Mattew kini.


Irsam tetap bertahan di dalam, hingga alunan kalimat Amin, Amin, Amin di dalam ruangan itu di nyanyikan dengan serempak tanpa aba aba dari sang Pendeta.


Rupanya ibadah selesai. Dan keluarga di ijinkan untuk kembali memegang jasad tak bernyawa itu, lalu memasukkannya dalam peti jenazah yang telah siap di sebelah tubuh Mattew.


"Maaf... permisi boleh saya memberikan penghormatan terakhit pada Mattew?" Irsam meminta ijin pada beberapa orang yang ada di dekat jasad itu.


"Iya... silahkan." ijin wanita paruh baya yang sedari tadi tak berpindah dari sisi kepala Mattew.


"Maaf... baru menengokmu, bahkan di saat kamu tak dapat lagi memberikan saran untukku. Bahkan tak akan pernah ku dengar lagi kata kata yang pernah ingin menjadian Miah ratu dalam hidupmu. Terima kasih pernah menjadi bulan di saat malam malam kelamnya tanpa aku. Gary sudah lahir, aku akan merawatnya dengan tanganku sendiri, aku berjanji apapun yang terjadi mereka tak akan ku lepas. Jika kini kau telah dekat pada Tuhanmu, tolong biarkan aku membahagiakan Mia sekali lagi di dunia. Selamat jalan Mattew." Ucap Irsam tanpa malu jika yang ia ungkapkan tadi di dengar orang sekalipun. Lalu beringsut mundur, setelah membacakan doa sesuai ajaran agamanya sendiri.


"Sebentar. Apkau Irsam?" tanya seorang lelaki kurus tinggi rambut agak ikal dan berkacamata. Menghampiri Irsam yang sudah di ambang pintu keluar ruang jenazah itu.


"Iya... ada apa?" tanya Irsam mengingat ingat, jika lelaki ini yang semalam menjemput mereka dan menunjukkan ruang rawat Mattew semalam.


"Ini ada surat yang sudah Mattew siapkan sebelum koma. Di tujukan pada Irsam juga Mia." Ujar Ayub menyodorkan sebuah amplop bertulis nama Irsam.


"Hm... terima kasih." Irsam menyambut sepucuk surat itu. "Lalu yang untuk Miah?" tanya Irsam penasaran.


"Nanti akan saya serahkan langsung padanya. Oh iya, bagaimana keadaannya setelah pingsan semalam?" tanya Ayub pada Irsam yang kembali menyimpan gumpalan kaca yang akan retak pecah di sudut matanya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2