LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA

LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA
BAB 34 : JANGAN PAKSA AKU


__ADS_3

Mobil yang di lajukan Irsam sudah terparkir di sebuah hotel dan resto berbintang.


Lamiah tidak menolak. Memilih diam saja mengikuti ajakan suaminya. Ya, Irsam masih suami sahnya, sehingga wajar saja ia masih terlihat patuh pada Irsam.


"De Miah... kita pulang ya." Ajak Irsam lagi setelah makan malam itu berlangsung tegang.


"Mbak Lilis apa kabarnya?"


"Abang juga tidak tau."


"Kenapa?"


"Sejak kamu pergi, abang juga pergi. Abang tidur di kantor dan hanya mencarimu."


"Kenapa abang jahat pada mbak Lilis?"


"Dia yang sudah jahat padamu, pada anak kita juga." Jawab Irsam datar.


"Abang bicara apa?"


"Abang sudah tau semuanya... kamu banyak berkorban demi dia, sampai kamu kehilangan bayi kita."


"Tidak bang. Itu kehendak Allah. Itu hasil perbuatan kita walau dalam ikatan sah, namun tidak berkah. Kita hanya di kuasai naf su terkutuk saat melakukannya. Tak ubahnya bagai binatang yang tak berakal tanpa doa. Alhamdulilah Tuhan ambil dia sebelum menjadi manusia yang entah bagaimana besok ahlaknya." Mata Lamiah berkaca-kaca.


"Apa kamu menyesal melakukan itu dengan abang...?"


"Bukan begitu. Hanya setelah kembali hidup sendiri tanpa abang dan mbak Lis. Miah sadar. Sampai kapanpun yang kedua tetaplah tak berhak sama dengan yang pertama."


"Aku akan minta Lilis memohon maaf padamu, asal kamu pulang de Miah."


"Abang yang harus pulang. Mbak Lis perlu kasih sayang abang. Sudah ku katakan cukup aku yang kehilangan calon buah hati, jangan sampai kalian kehilangan sepertiku." Tulus Lamiah mengalah membela Lilis.


"Aku memilih kamu. Aku mencintaimu dari pada dia."


"Hah. Jangan semudah itu mengubar kata cinta, abang pun pasti pernah berkata demikian pada mbak Lis. Tapi apa? abang tetap berkhianat."


'Aku tidak berkhianat...!!"


"Abang bilang cinta padaku. Lalu bagaimana perasaanmu padanya?"


"Ini yang dia inginkan, dia yang ingin kita bersatu. Pliis pulanglah. Kita bicarakan baik-baik kembali."


"Sudah ku katakan, jangan cari aku. Sebab jika itu terjadi, aku tidak ingin berbagi dengannya dalam hal mendapatkan cintamu bang."


"De Miaah... mengalahlah. Abang janji akan adil mencintai kalian. Apapun akan abang lakukan asal kamu pulang."

__ADS_1


"Hah... jangan paksa aku tuk kembali ke neraka itu bang. Aku takut, tak kuat menjadi malaikat di sana. Mungkin aku akan serupa iblis berupa manusia jika selalu berada di sana. Tempatku bukan di sana."


"Pliiis... katakan apa yang harus abang lakukan agar kamu mau kembali."


"Sudahlah... abang tidak akan pernah bisa melakukan yang aku minta."


"Katakan sayang... katakan saja. Akan abang usahakan memenuhinya." Rengek Irsam terus meyakinkan.


"Ceraikan dia. Aku tidak mau berbagi." Jedeeeer bagai petir menyambar di siang hari. Irsam tak menyangka istri keduanya justru lebih egois ingin memilikinya seorang.


"Mana mungkin itu abang lakukan Miah. Dia sedang hamil."


"Benarkan...? Abang tidak akan pernah bisa melakukan apa yang aku minta."


"Minta yang lain saja, asal jangan minta aku melepaskan kalian."


"Abang yang egois."


"Bantu abang agar terhindar dari api neraka karena tak bisa adil pada kalian."


"Jangan paksa aku pulang. Dan kembalilah merawat istri dan calon buah hati kalian."


"Tapi aku mencintaimu dan tak ingin kehilanganmu juga Miah."


"Kalau abang pulang ke Lilis, apa de Miah masih menerima cinta abang?"


Lamiah diam, membuang muka. Menatap jauh keluar jendela, memandang kerlap kerlip lampu jalan di suasana malam di kota hujan itu.


"Abang bersedia pulang kerumah, asal de Miah juga mengijinkan abang tetap menjalankan hak dan kewajiban abang sebagai suami pada de Miah."


"Aku tidak mau kembali."


"Silahkan de Miah mau tinggal di mana, asal tetap akui abang sebagai suami. Ijinkan abang bertanggung jawab sebagai suami de Miah."


"Janji abang pulang, rawat dan sayangi mbak Lis...?"


"Abang janji akan adil dengan kalian berdua."


"Baiklah."


"De Miah mau tetap tinggal di ruko itu?" tanya Irsam meremas jari jemari tangan Lamiah dengan bergetar.


"Iya... aku nyaman di sana." Jawab Lamiah tegas.


"Apakah itu de Miah sewa?" Lamiah mengangguk cepat.

__ADS_1


"Abang lihat di situ kecil. Apa de Miah tidak ingin mencari tempat yang lebih besar?"


"Tidak... lokasi itu cukup ramai. Juga dekat dengan keramaian. Mudah mendapatkan makanan juga dekat pasar."


"De Miah senang dengan pekerjaan itu?"


"Sangat senang." Jawab Lamiah mantap.


"Mau abang tambahkan satu pintu lagi agar tempat usaha itu semakin besar?"


"Tidak perlu... jika itu makin besar, kami akan kurang tenaga."


"De Miah bisa membuka lowongan untuk mendapat pekerja lagi. Latih mereka agar de Miah tidak sendiri melayani klien."


"Nanti saja de Miah pikirkan. Memiliki pekerjaan membuatku bagai berada di dunia yang baru. Mampu melupakan sedihku juga dapat benar hidup mandiri." Lirih Lamiah memandang serius wajah tampan suaminya.


"Maaf tak pernah membuatmu bahagia sayangku. Selama pernikahan kita, hanya luka yang selalu abang torehkan di hatimu."


"Mungkin sudah takdirku demikian bang. Aku bahkan berani mengambil keputusan untuk jadi istri kedua. Aku yang mudah terpengaruh dengan rayuan bang. Aku yang salah. Maka aku harus terima, dan menciptakan bahagiaku sendiri."


"Jangan bicara begitu seolah abang tidak pernah mau membahagiakanmu. Katakan pada abang bagaimana cara abang membantu de Miah agar bisa bahagia."


"De Miah akan bahagia jika abang kembali cintai mbak Lilis. Aku tau dia terpukul di sana. Ia sudah benar sadar akan kesalahannya memintaku menjadi madunya."


"Demi cintaku padamu, abang siap kembali kerumah untuk lagi membangun cinta dengannya. Tapi tolong... tetap jaga hatimu untukku."


"Insyaallah. Antar de Miah pulang bang." Pinta Lamiah lembut.


"Harus pulang? Abang sudah memesan satu kamar hotel untuk kita malam ini. Kita perlu mengulang masa bulan madu kita sayang. Bagaimanapun kita masih suami istri yang sah di mata hukum dan agama."


"Tidak ada bulan madu bersamaku. Jika abang belum sungguh kembali dengan mbak Lis." Tegas Lamiah.


"Hah ... ?? permintaan yang aneh. Tapi... baiklah. Mari abang antar pulang." Irsam tak berhasil membujuk Lamiah pulang, juga tak bisa mengajaknya tidur bersama di kamar hotel yamg sudah dibookingnya.


"Sabar... setidaknya dia tidak meminta ceraipun bagiku dia masih sangat mengharapkanku, tetap menjadi suaminya." Batin Irsam yang terpaksa mengikuti kemauan istri keduanya itu.


"Terima kasih sudah mengantar de Miah pulang. Sampai di sini saja. De Miah bisa ke dalam sendiri." Ucap Lamiah saat mobil itu berhenti di depan ruko.


Irsam tidak peduli, ia tetap turun dan memastikan Lamiah sudah berada di depan ruko dan membuka kuncinya.


Lamiah sudah di dalam, berbalik akan menutup pintu.


Tapi kaki bersepatu itu sengaja masuk satu. Membuat Lamiah tak bisa menutup rapat pintu rukonya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2