
Lilis terperanjat kaget setengaah mati. Mendengaar hardikan suaminya juga mendapat lemparan sebuah amplop coklat dari Irsam
^^^"Saat Mbak Lis membaca surat ini^^^
^^^aku sudah pergi.^^^
^^^Maaf ,^^^
^^^aku tak berani pamit langsung padamu.^^^
^^^Bagaimanapun mbak adalah orang terbaik yang pernah ku kenal.^^^
^^^Namun sayang, kebaikan mbak sudah tak bisa hatiku terima.^^^
^^^Terima kasih pernah menganggapku sahabat yang kini harus kita tela'ah kembali, apa rasa itu benar masih ada.^^^
^^^Terima kasih pernah mengijinkan aku memiliki suami yang benar,^^^
^^^sangat luar biasa.^^^
^^^Dan telah membuat aku^^^
^^^jatuh cinta padanya.^^^
^^^Jangan cari aku,^^^
^^^sebab jika mbak temukan aku.^^^
^^^Mbak akan kehilangan suami yang masih sangat mbak cintai dan tak pernah ikhlas mbak bagi.^^^
^^^Dari madu yang pernah kau pilih.^^^
^^^'Lamiah Pradipta'^^^
Lilis merangkak di baawah kaki suaminya. Menangis meraung-raung.
"Mas maafkan aku mas... sungguh aku tak tau ia sesakit ini. Aku mengiraa ia sadar akan posisinya sebagai yang kedua, salahkah aku memperlakukannya demikian. Aku yang memintanya di sini, sebagai yang kedua. Tapi aku juga tak ingin dia yang berkuasa. Untuk itu, ia harus hidup di bawah kuasaku, mas. Aku istrimu yang sesungguhnya."
"Lalu apa dia bukan istriku juga?"
"Mas... tujuanku menihahkan kalian agar kalian tidak berzina."
__ADS_1
"Aku bahkan tidak pernah tertarik untuk berzinah dengnnya atau wanita manapun. Kamu isrti yang sempurna Lilis."
"Jika aku sempurna, mengapa mas menikahinya?"
"Pertanyaan apa laagi ini? Oh iya... aku telah menikahi wanita gi la...!!!"
"Mas... kamu sudah di guna-guna oleh Lamiah mas. Sadarlah. Sebelum kita menikah bahkan kamu tak pernah sekasar ini paadaku. Tapi lihatlah? bahkan usia pernikahan mu baru 5 bulan sudah berkali-kali kau membentakku. Kamu berubah mas, kau tidak mencintaai aku lagi. Kamu gi la mas." Lilis sudah berdiri berkacak pinggang di hadapan suaminya, tak lagi berakting seolah meminta maaf seperti tadi.
"Astaafirullahallazim Lilis!!!. Bahkan sampai detik ini aku tak tau apa alasan utamamu memintaku menikah lagi, gi la!!!" Irsam benar benar tak punya alasan memanggil istrinya dengan kata-kata mesra seperti biasanya.
"Aku hanya minta kamu menikahinya, tapi tidak mencintainya!!" teriak Lilis tatrum.
"Kamu gi la..!!!" Bentak Irsam kejam.
"Ku hanya mau kamu menjadi suamiya agar ia memiliki tamengnya, agar tidak selamaya menjadi perawaan tua." Sarkas Lilis menggebu.
"Kamu gi la" Bentak Irsam tak punya modal lain berkata-kata.
"Kamu yang gi la mas... kalian yang sudah menkhianatiku. Kalian bermain di belakaangku mas." Teriak Lilis terduduk di tepi ranjangnya.
"Terseraah apaun pendapatmu. Kamu gi la." Irsam mengeluarkan koper dan mengambil pakaiannya dari walk in closet di kamar itu.
"Mas... coba berada di posisiku. Bagaimana hatiku tidak pilu, setelah menyadari bahwa sumiku mencintai orang lain dan telah menikah lagi."
"Mengapa kamu mencintainya bahkan melebihi cintamu padaku. Untuk apa kau berikaan di kartu yang isinya bahkan lebih banyak dari yang di berikan padaku?" tanya Lilis mulai pelan.
"Heiii... kamu bisa bilang dengan baik-baik jika itu hanya masalah nafkah lahir." Ucap Irsam tercengang.
"Tapi... kenapa kalian bahkan sering main di ruang cuci saat ada bunda. Bukankah kaliaan pasangan halal, mengapa harus mencuri?"
"Apa kamu yakin akan btetap waras saat melihat kami bercinta?"
"Apaun yang di lakukan di belakang tentu kan lebih dahsyat dari pada di tempat terang mas. Kalian pasti lebih luar biasa bermain. Dari pada denganku."
"Heeii culas!!! itu bahkan wajar kami lakukan. Toh kami halal. Atas ijinmu. Jika kami mencuri-curi melakukannyaa hanya dengan alasan tak ingin membuatmu sakit hati."
"Tapi dengan kalian mencuri seperti itu bahkan membuat aku semakin sakit hati mas."
"Gali saja kuburmu sendiri, aku semakin tak mengenalmu. Maaf. Sampai Lamiah tidak ku temukan. Kamu pun bukan isrtiku." Irsam membanting pintu kamar dan memilih pergi dari rumah nya sendiri.
Menenangkan diri di kantor, yang dalam ruang kerjanya ada sebuah kamar tidur.
__ADS_1
Irsam tak pernah habis pikir akan sikap Lilis. Ia yang memintaa untuk di madu, tapi saat madunya datang. bahkan belum sempat di hisap kumbang, ia sendiri yang mencurigainya dengan begitu kejam.
Memang Lilis tidak sepenuhnya salah, niat awalnya benar. Tapi saat menjalankannya nol besar. Ia tak siap dalam pernikahan poligami ini. Lebih salah lagi Irsampun tidak bijaksana menjalakan perannya sebagai suami.
Sehingga Lamiah hadir bukan sebagai madu namun hanya sebagai korban. Bukan sahabat seperti yang di gaungkan di awal.
Tapi setidaknya Lilis dan Irsam masih bisa bersyukur, sebab Lamiah memilih untuk pergi walau tanpa paamit. Setidaknya merekaa sudah dapat keluar dari cinta segitiga. Di bandingkan ia tetap bertahan dengan sejuta luka yang tentu akan melahirkan dendam.
Pada Suratnya untuk Irsam jelas ia berkata : 'jangan mencarinya, jika ada kesempatan kita bertemu, aku tidak akan pernah mau berbagi dalam hal mencintaimu.' Maka jelas itu adalah sebuah peringatan bahwa ia sendiri pun tak bisa menjaga hatinya untuk selalu mengalah.
Pada Lilis pun ia sudah berkata : 'Jangan cari aku,
sebab jika mbak temukan aku.
Mbak akan kehilangan suami yang masih sangat mbak cintai ' ini jelas berbau ancaman.
Sebenarnya Lilis dan Irsam, tau langkah selanjutnya yang harus mereka lakukan. Yaitu membiarkan saja Lamiah pergi. Toh ia yang pergi, bahkan setelah berapa bulan ia tak menerima nafkah lahir bathin pun akan di artikaan cerai menurut ajaran agama yang mereka anut.
Tapi... bagaiamana jika kamu menjadi Irsam. Yang sangat merasa menjadi orang yang banyak menancapkan luka dalam hati seorang Lamiah walaupun hanya sebagai istri kedua yang sempat terpaksa ia terima itu. Banyak permintaan maaf dan ampun yang belum ia sampaikan pada Lamiah.
Lalu bagaimana hancurnya perasaan Lilis yang seolah baru mengkilas balik kebo dohaannya, mulai dari menawarkan suaminya pada sahabatnya, hinggaa begitu antusias menikahkan mereka, memberikan mereka kesempataan memadu cinta, lalu menyesal sendiri akan kenyataan jika madunya bahkan lebih di cintai oleh suaminya.
Neraka itu benar telah ia ciptakan di atas surga yang nyataa. Banyak permohonan ampun yang ingin ia haturkan pada Lamiah, bahkan iapun mengakui jika benar telah membuat Lamiah lelah sampai mengalami keguguran.
Lilis sadar ia yang egois, Ia yang membuat semuanya porak poranda. Jangankan ridho Allah... ampunan dari suaminya pun tidak akan ia dapatkan dengan mudah.
Secintaa apa perasaan Irsam padanyaa juga akan selalu berburuk sangka padanya sampai kapanpun.
Lilis sukses menggungkung bahkan memasung dirinya sendiri dalam lingkaran dosa yang dibbuatnya sendiri, yang ia tak ia pikirkan dengan panjang semua kebaikan dan keburukaannya.
Waktu terus bergerak maju... bahkan dua purnama telah lewat. Saat usia kandunganya memasuki usia 7 bulan. Irsam pulang tapi tidak untuknya, hanya sekedar sesekali tidur di kamar Lamiah. Seolah ingin melepas rindunya pada istri keduaanya.
Bahkan perut Lilis yang semakin buncit pun hanya ia pandangi dari jauh saja. Tak tega sejujrnya, tapi hukuman pada istri yang gi la seperti Lilis sepertinya tak bisa kendor. Bisa saja nanti ia akan mengulangi perbuatannya, jika saja Lamiah aa
kan kembali ke rumah itu kembali.
Irsam orang mampu. Bukan hal besar baginya untuk membayar detektif untuk mencari keberadaan Lamiah.
Irsam mengamati foto yang di serahkan detektif padanya, segudang rindu telah membuncah dalam dadanya, Sungguh ingin dalam hitungan detik ingin segera merengkuh tubuh putih, mungil dan mulus itu.
"Apaapun akan ku lakukan dan ku berikan asalkan kau mau kembali padaku De Miah" Bisiknyaa saat akan melaju kelokasi persembungtiaan Lamiah.
__ADS_1
Bersambung...