
Lamiah seketika mengehentikan langkahnya. Tak berani mengayunkan kakinya, takut mendengar ancaman Irsam yang tak pernah ia kira akan keluar dari mulut suaminya, bahkan di depan istri pertama dan mertuanya.
"Lilis dan Lamiah sekarang adalah istriku. Terlepas bagaimana proses saya dapat menikahi Lamiah, itu bukan hal penting untuk di bahas. Sebab, ikrar itu tidak main-main. Selama ini saya hanya diam, menerima saja segala pengaturan dari Lilis. Bunda... di sini boleh sebagai saksi. Silahkan kalian jujur dalam memperhatikan rumah tangga ini. Apa menurut kalian sudah benar?" Irsam tampak gusar, benar-benar akhirnya mengeluarkan uneg-unegnya.
"Lilis... kau bilang Lamiah sahabatmu. Jujur pada hatimu, sudah tepatkah kamu perlakukan dia yang juga berstatus sebagai istriku. Bahkan kamu sendiri memohon padaku untuk menikahinya?"
"Lamiah... di mana letak salahmu, sehigga selalu mengalah saat yang kamu lakukan di rumah ini tak berbeda dari seorang pembantu?"
"Bunda... yang paling dituakan dan bijaksana di sini. Uraikan padaku, bagaimana definisi adil jika menjadi aku."
Ketiga wanita itu hanya tergugu, rungu mereka menangkap. Tapi bibir itu kelu, tak mampu menjawab.
"Bunda... katakan padaku apakah salah, seorang suami berpamitan pada istrinya sebelum berangkat bekerja?" bunda hanya diam mematung sepi, hanya irsam yang bertindak sebagai moderator di antara mereka.
"Apa ia tak memiliki hak sebab ia adalah istri kedua?"
"Lilis... jika akan bercerai... istri yang layak aku ceraikan adalah kamu. Tanya hatimu, benar adilkah kau padanya? Jawaaab...!!!" Bentak Irsam, yang sungguh tak pernah Lilis lihat sebelumnya.
"Terlalu banyak aku bersabar selama ini, mengikuti keinginan konyolmu ini. Bahkan aku kecewa dengan diriku sendiri mengapa membiarkan rumah tangga sehancur ini."
"Sedikitpun tak pernah terlintas di pikiranku memiliki istri lebih dari satu. Tapi, Lilis... apa yang kau lakukan? Dan bo dohnya aku selalu mau mengikuti keinginanmu. Tapi, hari ini mungkin adalah puncak kelelahanku. Bahwa bagiku kamu tidak adil pada Lamiah. Itukah yang kamu katakan belahan jiwamu?"
"Kamu tau Lilis, kamu yang menyeret ku semakin jatuh dalam dosa. Selama ini aku dan Lamiah hanya berpura-pura seolah tak saling kenal, membuat jarak, demi kamu. Demi menjaga perasaanmu, agar tidak luka karena perintahmu yang gila itu."
Lamiah terduduk, menangis tersedu-sedu.
"Cukup bang... jangan di lanjutkan. Aku yang memang harus pergi." Isak Lamiah.
__ADS_1
"Kamu tau Lilis... yang kamu tawarkan pada sahabatmu itu bukan surga, tetapi neraka. Di mana akal sehatmu, pernahkah kamu mengajaknya jalan-jalan? pernahkah lagi kalian bercengkrama bersama? Oh... ya, mandi bersama. Hanya untuk kamu memastikan, apakah di tubuhnya ada bekas isapanku atau tidak...!!! Lilis, kamu tidak pernah ikhlas menjalani ini. Kamu tau... kucing tidak akan pernah mencuri jika telah cukup makan oleh majikannya. Tapi apa yang kami lakukan, kami bahkan sering mencuri waktu untuk tetap dapat melakukan hubungan layaknya suami istri tanpa sepengetahuanmu. Kami menjadi breng sek karena ulahmu, Lilis." Irsam masih berkobar meluapkan kemarahannya.
"Sandirwara... ya kami bersandiwara di depanmu. Karena masih sangat menghormatimu, menghargaimu dan karena kami bo doh yang tak tau maksud dan tujuanmu. Bagai kerbau yang di cucuk hidung olehmu."
"Ampun mas... maaf. Aku yang salah. Aku yang membuatmu tidak adil pada Miah. Kita mulai dari awal mas. Lakukan pembagian itu secara adil untukku dan Miah.." Tangis Lilis pecah meraung-raung di bawah kaki Irsam.
"Lamiah ... mulai hari ini berhenti melakukan pekerjaan rumah layaknya pembantu. Kamu adalah istriku. Lakukan hak dan kewajibanmu, selayaknya." Perintah Irsam tak terbantahkan
"Mas mencintainya?" pertanyaan konyol Lilis pun keluar. Sebab nalarnya memindai betapa suaminya begitu menyalahkan dirinya.
"Ini bukan soal cinta. Ini tentang keadilan seorang suami beristri dua, seperti yang kamu idam-idamkan selama ini. Puas...??" Irsam berlalu meninggalkan mereka yang masih terperangkap dalam pikiran masing-masing.
"Mbaaak maaf. Maafkan aku mbak." Dengan merangkak Lamiah mendekati Lilis dan memegangi kakinya. Menangis tersedu-sedu tak sanggup lagi berkata-kata.
"Tidak Miah... kamu tidak salah. Aku, aku yang benar tidak adil denganmu. Aku yang seharusnya minta maaf padamu." ujar Lilis pada Lamiah.
"Iya bunda ada apa?" Keduanya sudah berada di dalam kamar Lilis yang tertutup.
"Bunda sudah bosan berada di sini. Bunda mau pulang saja. Bunda juga malu. Hanya di awal bunda bersemangat ingin memusuhi Lamiah. Tapi entahlah. Mungkin bunda yang salah. Bunda terlalu berprasangka buruk terhadap Lamiah. Semoga dia benar tulus ingin menjadi yang kedua, bukan hanya ingin menikammu daru belakang.
"Maksud bunda?"
"Tadinya bunda kira, kita akan memergoki mereka bercinta. Seperti yang di akui Irsam tadi dan ibu curigai selama ini. Tapi sepertinya ibu terlalu gegabah. Tidak benar memikirkan kapan waktu yang tepat memancing perbuatan mereka tersebut."
"Tapi bunda... mereka suami istri. Sah saja mereka bercinta, aku yang salah bu, aku terlalu mendominasi mas Irsam."
"Tidak anakku kamu tidak salah. Mendominasi suami adalah langkah agar tetap mempertahankan rumah tanggamu. Dan itu sangat tepat di lakukan sebelum sahabatmu itu datang. Bunda sudah tidak dapat berkata-kata lagi. Doa bunda selalu untukmu, binalah rumah tangga kalian, agar tak berubah menjadi rumah duka. Selamat menikmati neraka yang kamu ciptakan sendiri. Bunda pamit."
__ADS_1
Ujar Bunda yang segera beringsut meninggalkan anaknya yang lagi-lagi termangu.
"Bundaa..."
"Jaga diri baik-baik, semoga kamu mendapatkan kebahagiaan atas pilihan yang telah kamu tetapkan sendiri. Oh..iya satu lagi. Waspadalah, suamimu telah mencintai madumu. Kedepan rumah rumah tangga ini, semoga sesuai harapanmu." Tepuk bunda pada bahu anaknya.
Bunda segera masuk ke kamar Lamiah. Mendapati wanita itu sedang berkemas.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya bunda pada Lamiah
"Aku tak pantas di sini. Mestinya dari awal aku tak menyetujui ini. Maka aku harus pergi."
"Satu-satunya yang harus pergi adalah bunda. Lanjutkan saja cinta segitiga kalian. Bunda belum mengerti mengapa Lilis memintamu jadi madunya. Tapi, satu yang bunda tau, bahwa Irsam telah jatuh cinta padamu." ucap bunda tegar.
"Bundaaaa..."
"Jalani selama bisa di lewati, walau terjal. Bunda tak menyalahkanmu, bahkan selama ini benar. Kamulah yang tersiksa dan menderita. Lakukan tugasmu sebagai istri. Pertahankan rumah tangga kalian. Berbagilah seadil-adilnya. Doa bunda untuk kalian."
"Bundaa... maaf."
"Kamu tidak salah, mungkin bunda yang salah mendidik anak bunda sendiri. Tegaslah menjadi wanita, bela hakmu. Sebab, jika Lilis tak adil padamu. Neraka, benar menunggunya. Menjadi istri sholehah lah kalian berdua. Yang akur dan rukun. Bekerjasamalah, dalam urusan mengurus suami. Sebab jika kalian ikhlas menjalani ini. Kalianlah penghuni surga yang sesungguhnya." Peluk bunda pada tubuh Lamiah yang bergetar hebat. Ia hampir tak percaya, jika awalnya Lilis yang memaksanya menikah, kini justru mertua suaminya yang memintanya untuk tetap bertahan dan setia pada suami anaknya.
Netra Lilis dan Lamiah hanya mampu melihat bunda pulang dari kejauhan. Mereka sama-sama berdiri di balkon kamar. Menatap dengan mata sembab, mengumpulkan puing-puing kehancuran hati yang luka dengan versi derita masing-masing.
Bersambung...
__ADS_1