
Irsam sudah mendapat informasi tentang keberadaan Lamiah sekarang. Agak nelangsa hatinya melihat kini istri keduanya tinggal di sebuah ruko sederhana. Menjadi onwer sekaligus pelayan juga untuk usaha barunya.
Lamiah sangat berbakat dalam bidang salon dan spa. Saat di Hongkong selain menjadi pembantu ia juga sempat khursus salon dan pijat. Ia paham dengan titik-titik peredaran darah di sekujur tubuh, juga sangat handal dalam urusan memassage di bagian kepala atau biasa di sebut jasa creambath.
Dalam kurun waktu belum 2 bulan, Lamiah sudah mempunyai 2 karyawan. Satu orang spesialis memotong rambut, yang satu spesialis mencuci rambut dan menyiapkan peralatan yang akan dan setelah digunakan juga merangkap kasir dan receptionis juga. Sedangkan Lamiah khusus sebagai terapis massage, sesuai keahlian dan hobbynya.
'L Salon & Spa' (Khusus Wanita)
Begitu nama yang tertera di depan ruko yang lumayan ramai pengunjung di setiap harinya. Yang buka setiap hari kecuali minggu, pada pukul 9 pagi sampai pukul 6 sore di tutup. Dengan catatan tetap menerima pelanggan yang sudah terlanjur masuk sebelum tutup untuk di layani hingga tuntas
Pukul 6 sore Irsam sudah berada di depan ruko, tempat tunggu para penjemput langganan mereka. Merasa agak lama, Irsam pun mengetuk pintu.
"Maaf pak... silahkan tunggu di luar saja. Di sini khusus wanita." Ucap Wati sang penerima tamu.
"Saya ke sini menemui istri saya." Sahut Irsam.
"Tuh... anda lihat sendiri. Ada yang di dalam mobil, di atas motor, ada juga yang duduk manis di situ. Semua juga menunggui istrinya. Mohon bersabar. Siapa nama istri anda, biar saya cek berapa lama lagi baru selesai."
"Lamiah."
"Saya cek di buku daftar pelanggan dulu." Ucap Wati sambil berbalik ingin masuk ke dalam. Tapi hanya beberapa langkah lalu kembali ke depan kembali.
"Pak... kenapa namanya seperti nama ibu bos saya?"
"Menurut kamu?" tanya Irsam agak jengkel dengan pegawai di salon istrinya tersebut.
"Hah... maaf pa. Saya panggilkan ibu dulu." Pamit Wati kembali, lalu berjalan mendekati Vinsa yang baru selesai memotong rambut klien terakhirnya.
"Sa... Vinsa. Kamu kenal suami ibu?"
Vinsa menggeleng.
"Di depan ada yang mengaku kalau dia itu suami ibu. Aku tidak kenal, dan tidak berani juga menyuruhnya masuk." ujar Wati.
"Lalu sekarang dia di mana?"
"Masih di luar."
__ADS_1
"Tuh.. ada yang selesai, kamu layani dulu. Aku mau ngintip." Ujar Vinsa melangkah kedepan dan bersembunyi di balik kaca berusaha mengintip wajah orang yang menunggu di luar.
Vinsa pernah melihat foto Irsam, saat ia di suruh Lamiah mengambil sesuatu di kamarnya di atas. Ada foto pernikahan di sana, maka taulah Vinsa jika bosnya itu sudah menikah. Tetapi Lamiah tertutup, tidak pernah berbicara tentang keluarga apalagi suaminya. Ia hanya berbicara tentang kemajuan bisnis mereka saja.
Dua Klien sudah pulang, sisa satu yang masih di tanganni oleh Lamiah di ruangan khusus. Vinsa segera membantu Wati untuk cepat membersihkan tempat itu, agar mereka bisa lekas pulang.
"Vinsa... gimana?"
"Sepertinya sih iya. Tapi, biarkan saja dia di luar. Ibu tidak pernah memberi kita aba-aba dan ijin untuk memasukan pria ke ruangan ini."
"Iya.... Oke. Aku mencuci handuk dulu ya Vin." Pamit Wati ke belakang melewati kamar perawatan yang sedang di eksekusi Lamiah.
Darr
Darr
Darr
Pintu itu bukan di ketok Irsam lagi, tapi di gedornya, merasa semakin lama beradabdi luar.
"Ada apa ribut-ribut di luar Vinsa?" tanya Lamiah yang baru selesai melayani kliennya. Dan penasaran mendengar gedoran di depan.
"Itu bu... ada yang mengaku suami ibu. Meminta masuk, tapi kami tidak berani mengijinkannya. Ibu melarang keras pria masuk keruangan kita bukan?" jawab Vinsa pelan.
Lamiah penasaran, lalu mengintip di balik kaca seperti yang di lakukan Vinsa tadi.
Dada Lamiah seketika bergemuruh, mendadak bergetar melihat suami yang selama ini di rindukannya telah menemukan persembunyiannya.
"Mengapa kamu mencariku bang? Sudah ku katakan jangan cari aku?" monolog Lamiah dalam hati, membalik tubuhnya menyandarkan dirinya di balik pintu untuk mengatur resah yang tiba-tiba datang.
"Benar itu suami ibu?" Vinsa menyadarkan lamunan singkat Lamiah.
Lamiah mengangguk kecil. Lalu memilih naik ke kamarnya.
"Jangan pulang dulu, sebelum ibu selesai mandi. Dan dia, biarkan terus di luar." Perintah Lamiah pada Vinsa.
Lamiah segera mandi untuk membersihkan dirinya juga sedikit mendapat ketenangan. Ia sadar ia masih berstatus istri Irsam, tidak peduli yang kedua atau berapapun. Sebab talak memang belum pernah terucap dari Irsam. Lamiah yang memilih pergi.
__ADS_1
Wati dan Vinsa sudah duduk rapi. Catatan pemasukan hari ini juga sudah selesai di rekap. Perjanjian mereka terima gaji adalah tiap 2 minggu sekali, tergantung pendapatan di bagi 4. Untuk Lamiah, Wati, Vinsa dan pengembalian modal pembelian bahan dan alat.
Lamiah memberanikan diri membuka pintu, di ikuti Wati dan Vinsa yang juga akan pulang ke rumah mereka masing-masing.
"Assalamualiakum de Miah." Irsam tersentak dan reflek menyapa Lamiah, wanita yang hampir membuatnya gila kurang lebih 2 bulan ini.
"Walaikumsalam bang." Sahut Lamiah menerima uluran tangan Irsam, lalu menyalimnya dengan takzim.
"Ibu... kami permisi pulang dulu ya" Pamit Wati di angguki Vinsa menandakan hal yang sama.
"Iya... hati-hati." Jawab Lamiah memandang kedua pegawainya dengan intens.
"Boleh abang masuk?" tanya Irsam saat Wati dan Vinsa benar telah jauh dari mereka.
"Kita bicara di luar saja bang." Jawab Miah memilih duduk di kursi tunggu pada luar ruko itu.
"Tidak bisa... abang tidak nyaman berbicara di tempat begini." Jawab Irsam yang sesungguhnya sudah sangat ingin merengkuh tubuh Lamiah yang sangat amat di rindukannya itu.
"Abang mau bicara apa dan di mana?" tanya Lamiah datar.
"Kita makan di luar saja." Ujar Irsam menengadahkan satu telapak tangannya agar Lamiah menerima genggamannya.
Lamiah tidak menolak, iapun menangkupkan tangannya pada telapak tangan yang terbuka tadi. Kemudian mereka pun berjalan menuju mobil Irsam.
"Apakah mbak Lilis tau abang menemuiku?"
"Apa abang harus memberi laporan padanya?"
"Tentu saja. Jangan lupa, kita menikahpun atas perintahnya." Jawab Lamiah dingin.
"Itu dulu. Tapi sekarang di minta menceraikanmu pun itu tidak akan pernah aku lakukan sayangku." Jawab Irsam mengemudikan mobil dengan satu tangan. Sebab tangan satunya sudah ia gunakan untuk memegang tangan kanan Lamiah dengan posesif.
"Jangan pergi lagi, abang hampir gila mencarimu. Abang sangat kehilanganmu de Miah." Ucap Irsam sambil menciumi punggung tangan Lamiah hampir tak berjeda.
"De Miah... pulanglah. Kita perbaiki semuanya. Kita bicarakan hingga tuntas bersama Lilis." Pinta Irsam terdengar sendu.
Bersambung...
__ADS_1