
Irsam sudah masuk ke kamarnya dan Lilis. Hanya menggunakan pakaian mandi tanpa busana apapun di dalamnya.
Menerkam dengan rakus leher jenjang istri pertama, seolah haus penuh ga irah. Mencetak garis merah keunguan melososkan desa han pasrah dari bibir Lilis yang makin percaya bahwa cinta Irsam masih membara untuknya.
"Aaahh... mas. Berapa hari sih ga makan. Lapar sekali tampaknya??"
"Rindu kamu ratuku."
"Aah... haha.... ha... warung sebelah ga jual yang panas-panas gini ya sayang?" pancing Lilis sambil memegang kepala Irsam untuk menuntunnya ke bagian-bagian tubuhnya yang membutuhkan sentuhan lidah suaminya.
"Jangan bahas dia selagi mas bersamamu sayangku, pliiiis. Kamu milikku malam ini ratuku." racau Irsam merayu.
Dan pergulatan dahsyat terjadi. Bagaimana Lilis meragu, bahkan sedikutpun permainan itu tak ubahnya seperti malam-malamnya selama menjadi satu-satunya istri Irsam.
"Ratuku... sampai kapan bunda di sini?"
"Entahlah mas. Semoga kehadirannya tidak mengganggu rumah tangga kita dan Miah."
"Tadi bunda meminta mas menceraikannya." Ucap Irsam datar.
"Lalu mas menyetujuinya?"
"Mas siap. Asal dia pun setuju. Sebab sesungguhnya, mas lelah hidup seperti ini sayang."
"Tidak... kalian tidak boleh bercerai mas. Kalian bahkan hanya sebulan menikah di atas kertas, sedangkan di atas kasur, hanya beberapa hari."
"Ratuku maha pengatur segala. Kau yang datangkan dia, maka kau berhak lenyapkan dia. Sebab aku bersuarapun tak pernah menarik perhatianmu." Jawab Irsam kemudian memunggungi Lilis.
"Mas... berjanjilah mas tidak akan menceraikan Lamiah mas."
"Terserah padamu Lis. Semakin ke sini mas semakin tak mengenalmu. Yang semakin ingin menang sendiri, mempertahankan dia daripada rumah tangga kita." Ucap Irsam seolah ia yang tersakiti.
Pagi-pagi benar Lamiah telah beraksi di dapur, mulai mencuci perabotan, memasak juga membersihkan rumah. Benar ia kerjakan sendiri semuanya. Dan itu tak luput dari pantauan bunda Lilis.
__ADS_1
Bahkan dengan matanya sendiri bunda melihat, Lamiah hanya menundukan kepala dan seolah tak berani mendongakkan kepalanya, saat Irsam dan Lilis turun dari kamar mereka.
Mempercepat langkahnya untuk meninggalkan ruang makan tersebut. Lalu naik ke kamarnya untuk mandi lalu, berdiri di balkon kamar memandang kepergian suaminya dari kejauhan.
Bunda melihat semua itu dengan hati teriris. Sesunguhnya ia marah dengan Lamiah. Tapi ia tak menemukan cela salah Lamiah di mana. Kehadirannya tak ubah seperti seorang pembantu, yang sungguh tak pernah menunjukkan diri sebagai istri.
Bahkan tiga pekan berlalu bunda belum menemukan tanda-tanda permainan serong pasangan halal, madu anaknya itu. Tapi bunda terus saja waspada, di bantu Onah yang selalu siap menjadi mata-mata, di mana kemungkinan mereka akan berjumpa atau bercinta.
Bunda terus saja mencekoki otak Lilis, agar bertingkah lebih kejam dan tegas pada Lamiah. Tidak lagi sungkan untuk di layani oleh Lamiah, bahkan sampai kamar tidur mereka pun Lamiah yang membereskannya.
Saat keadaan kamar itu masih porak poranda setelah mereka bercinta tentunya, wajah Lamiah terlihat sungguh-sungguh melakukan semua itu. Tak ada kemarahan di sudut wajah bagian mananya pun, sungguh tampak tulus.
"Abang... mainnya dahsyat benget ya semalam. Bekas selimut sampai tak berupa seperti itu." chat Lamiah yang baru saja masuk ke ruang cuci pakaian. Saat ia tau Irsam belum berangkat ke kantor.
"Masuk ke kamar kerja abang sekarang." Perintah Irsam membalas chat itu.
"Mas... belum berangkat?" tanya Lilis tiba-tiba masuk kamar mereka.
"Ratumu cium di sini saja ya, aku dan bunda mau ke luar sebentar." Pamit Lilis pada Irsam.
"Kemana? Sebelum mas pulang kerja, sudah di rumah ya sayang. I miss you ratuku."
"Siap baginda raja." Jawab Lilis genit selalu menggoda.
Irsam segera melepas pakaian kerja, setelah memastikan mobil Lilis sudah pergi meninggalkan rumah mereka. Kemudian menggantinya dengan pakaian casual, lalu setengah berlari menuju ruang kerja, mendapati Lamiah di sana menunggunya. Mengunci pintu, mematikan alur CCTV. Jadilah pertemuan rindu mengebu, bertalu-talu terjadi di sofa ruang kerjanya.
Ruangan itu tidak luas, hanya berukuran 4 x 6, layaknya ukuran kamar hotel. Di dalamnya ada kamar mandi kecil, set meja kerja. Juga sofa yang multifungsi dapat menjadi kasur tidur.
Sehingga penyatuan rindu itu dapat lebih nyaman di lakukan, daripada di ruang cuci, seperti yang beberapa kali mereka lakukan, hanya sambil berdiri dan tergesa.
Lamiah memungut kembali pakaiannya yang tercecer. Memasangnya dengan cepat, kemudian keluar tanpa permisi juga salam manis seperti biasa.
Ia berlari, menuju ruang cuci, berdiri menatap mesin yang berputar dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
Irsam tak mengerti akan tingkah wanita kedua. Kembali kekamarnya. mengenakan pakaian tadi, akan bersiap berangkat. Namun sebelumnya menuju ruang cuci untuk pamit pada Lamiah.
"De Miah menangis, kenapa?" tanya Irsam memeluk tubuh Lamiah dari belakang.
"Tidak ada apa-apa bang?" Ucapnya setengah terisak.
"Abang akan berangkat kerja, tidak kah de Miah ingin memberi satu kecupan sebagai tanda bahwa de Miah merestui kepergian abang mencari nafkah?" lembut Irsam yang sudah menempelkan bibirnya di kening Lamiah.
Plokh...plokh... plokh
Suara tepuk tangan bunda Lilis menyeruak mendengar dialog menantu dan istri kedua itu.
"Oh.... begitu ya kalo lagi berduaan? Di depan berlagak cuek, di belakang panggil de, abang. Ciiih, munafik kalian. Lilis liat... dan kamu mendengar sendiri bukan, mereka itu mesra di belakangmu to lol." Berang bunda pada Lilis yang entah sejak kapan ada di area ruang cuci itu.
"Buka matamu lebar-lebar... mereka itu main kucing-kucingan di belakangmu." Hardik bunda pada Lilis.
"Bunda... wajar saja. Mereka suami istri bun. Mas Irsam hanya meminta Miah memberikan ciuman untuknya berpamitan ke kantor. Sah-sah saja, itu bahkan tiap hari aku lakukan. Lamiah juga istri mas Irsam bu." Bela Lilis pada Lamiah.
"Maaf bunda, jika meminta ciuman pada istri sebelum berangkat kerja pun saya salah di mata bunda. Tolong katakan, apa yang harus saya lakukan. Agar benar di mata bunda." Ujar Irsam jengkel.
"Ceraikan dia. Ibu tidak sudi anak ibu di madu." Tegas sekali kalimat itu bunda ucalkan. Bagai suara tabuhan genderang yang siap berperang.
"Talak aku bang Irsam." Tantang Lamiah maju mendekati posisi tiga orang yang berseteru itu dengan airmata yang sudah berderai-derai.
"Tidak... tidak boleh." Lilis melompat dan menutup mulut Irsam.
"Sudahlah mbak Lilis. Sudah ku katakan, aku hanya benalu di sini. Selelah apapun aku melakukan apa saja pekerjaan rumah di ini. Tetap tidak sebanding dengan dengan niat baik mbak yang ingin berbagi suami denganku. Terima kasih sudah memgubah status di Kartu Tanda Pendudukku mbak. Terima kasih, atas semua kebaikan yang mbak pernah berikan untukku. Bang Irsam, terima kasih pernah menjadikanku istri walau hanya beberapa hari. Bunda... terima kasih masih menganggapku anak. Aku pergi. Tempatku tidak di sini." Ucap Lamiah panjang kemudian berlalu meninggalkan ketiganya.
"Selangkah lagi kamu berjalan. Lilis yang akan ku ceraikan...!!!" ancam Irsam membuat Lamiah menghentikan langkahnya, pun Lilis dan Bunda melotot ke arah Irsam penuh tanya.
Bersambung...
__ADS_1