LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA

LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA
BAB 54 : AKU MASIH SAHABATMU


__ADS_3

Lilis agak terperangah dengan hardikan Irsam. Baginya ini kesekian kalinya Irsam kasar padanya karena kehadiran Lamiah di rumah itu.


Lilis ingin balas menghadrik, tapi sadar di sana ada mertuanya. Ia tentu harus bisa menjaga emosinya. Sebab ia juga tau ini semua bermuara olehnya.


"Maaf mba Lis. Tadi Miah minta abang antarkan ke ruko. Tapi entahlah abang malah mengajak Miah ke sini." Jawab Lamiah dengan menundukkan kepalanya tak sanggup menatap Lilis yang nyata sangat bengis padanya.


Lamiah menatap Irsam, meminta kejelasan tentunya. Mengapa dia di ajak kembali ke neraka itu.


"De Miah... silahkan masuk ke kamarmu. Istirahatlah." Perintah Irsam.


"Tidak bang... Miah pulang ke ruko saja. Kehadiran Miah di sini jelas tidak di inginkan seperti dahulu lagi. Dan sesuai dengan yang pernah abang katakan. Di rumah ini ijab qobul di laksanakan, maka di sinilah Miah menunggu kata talak dari abang. Silahkan di ucapkan, Miah siap jadi janda abang." Tegas Lamiah yang tiba-tiba berani dengan lantang meminta di cerai.


"Oh sebentar ya.. mama, papa merapatlah. Walau beberapa bulan lalu kalian tidak menyaksikan pernikahan mereka, namun tidak ada salahnya jika kini mama, papa yang akan menyaksikan perceraian mereka." Ucap Lilis dingin.


"Terima kasih untuk semuanya mba. Sungguh aku bahkan tidak pernah ada di sini tanpa mbak Lis. Ijinkan aku memohon maaf jika ada tindak, tanduk, perbuatan dan tutur kataku yang salah. Selama kebersamaan kita menjalani rumah tangga ini. Bagaimanapun, aku masih sahabatmu." Ucap Lamiah yang masih berdiri tidak jauh dari ambang pintu rumah Irsam tersebut.


Mama dan papa Irsam memilih diam seribu bahasa. Tak tau harus berkata apa. Tidak ingin memihak menantu satu atau yang lain. Hanya merapal doa dalam hati. Agar anak mereka mampu mengatasi permasalahan rumah tangga mereka.


"Tolong, talak aku sekarang bang. Aku akan pulang sendiri. Tak perlu mengantarku. Setelah ini, aku bukan siapa-siapa abang lagi. Terima kasih untuk semua yang pernah kita lalui bersama. Dan maaf pernah merusak tatanan cinta kalian." Pinta Lamiah dengan tegas.


"Selama darahku masih mengalir, dan nyawa ini masih Allah pinjamkan untukku. Baik Lilis ataupun Lamiah, kalian tidak akan pernah aku ceraikan. Jangan pernah lagi aku dengar permintaan konyol antara kalian berdua untuk mengakhiri rumah tangga kita. Kita mulai dari awal, untuk menjalani ibadah ini, mencari ridho Allah SWT. Kita bersama menuju surga." Tegas Irsam.

__ADS_1


Lilis maupun Lamiah merujuk kearah pandangan yang sama.


Batapa kecewa hati Lilis, merasa pekan lalu saat Lamiah di rawat pun Irsam masih bersamanya. Besar harapannya jika suaminya benar memilihnya, dan akan membuang Lamiah. Tapi apa yang dia dengar, apa ia salah dengar? bahwa Irsam masih sangat ingin menjalani rumah tangga konyol ini. Apakah ia sanggup serumah kembali dengan madunya? Yang bahkan madu itu, dulu adalah pilihananya sendiri.


Pikiran Lamiah tak kalah kaget. Bukankah selama di rumah sakit Irsam sudah bagai bukan suaminya lagi? Ia telah sadar sepenuhnya. Ia salah. Ia yang mau saja jadi orang ketiga. Ia terlalu naif, memilih percaya bahwa ia sangat di inginkan. Dan sesungguhnya? Hati istri yang terbuat dari apa sih, ingin menyayangi madunya.


"Miah... masuk lah ke kamarmu istirahatlah. Nanti aku akan mencarikan perawat untukmu. Agar bisa membantumu beraktivitas sampai benar pulih. Untuk menghindar kecemburuan juga, jika mungkin Lilis akan berpikir nantinya. Aku yang lebih banyak mengurusimu." Tegas Irsam.


"Lilis... semoga kamu menerima keputusanku. Bahwa Lamiah akan tetap menjadi istriku dan tinggal di rumah ini kembali." Lanjutnya kembali.


Kemudian Irsam memilih masuk ke ruang kerjanya. Merebahkan tubuh lelahnya, setelah mengambil keputusan besar dalam rumah tangganya.


Tiga hari berlalu, orang tua Irsam memilih untuk kembali ke Turki dan lagi bersama Faizal. Mereka tidak ingin lebih jauh merusak mental cucu mereka yang tidak mengerti akan apa yang terjadi dalam rumah tangga orang tuanya.


Lilis selama ini hanya sebagai IRT tulen, yang kerjanya hanya melayani suami di ranjang dan di dapur. Ia tak pernah tau rasanya mencari uang, ia tak pernah merasa kekurangan setelah menikah dengan Irsam. Ia seolah lupa bahwa juga sekeras apa bekerja saat menjadi TKW.


"Abang... kenapa masih mempertahankan Miah?" tanya Lamiah suatu malam sebelum mereka tidur.


"Karena abang sudah sangat menumpuk dosa. Padamu, pada Lilis pada rumah tangga kita."


"Aku sudah siap memilih mundur bang."

__ADS_1


"Bagaimana abang bisa melepasmu begiti saja? Abang tidak hanya melukai hatimu, tapi juga merusak rahimmu. Dua kali Miah. Dua kali."


"Itulah kehendak Allah bang. Kita tak seharusnya terikat, dalam pernikahan ataupun buah hati."


"Sudahlah. Ini sudah jadi keputusan abang. Tetaplah jadi istri yang penyabar, bertahanlah sedikit lagi untuk rumah tangga kita. Percayalah ini hanya ujian, hubungan kita bahkan belum setahun. Ini yang di sebut dengan adaptasi. Awalnya kita memang salah, segera menikah untuk menghindari zinah. Sebab kesalaham kita saat berhubungan jarak jauh masa itu. Tapi ke sininya, abang lebih merasa nyaman dan tentram saat bersamamu." Ucapnya pelan sebab telah semakin mengantuk.


"Sudah lah bang. Tak perlu bicara lagi. Miah tak seharusnya senang mendengar hal itu, sebab kata-kata iyi juga pasti pernah abang ucapkan padanya."


"Apa kamu ingin bilang abang sedang merayumu di sini juga merayunya di sana?" tanya Irsam.


"Hanya abang yang tau. Bo dohnya aku mencintai abang. Sehingga memilih percaya dan lagi menerima keputusan abang untuk tidak melepas Miah. Bimbing Miah selayaknya istri yang patut di bimbing ya bang."


"Terima kasih menerima abang. Dan semoga Miah memaafkan abang yang tidak memperhatikan Miah selama berjuang di rumah sakit." Pinta Irsam.


"Sudahlah... yang penting jangan terulang. Kedepan, kita perbaikinya bang. Sholat pun Miah minta kita selalu berjamaah. Agar kita bisa saling selalu ingat jalan Allah." Pinta Lamiah serius.


"Masyaallah... itulah kesalahan kita kemarin de Miah. Terlalu mementingkan satu-satu. Padahal nyata kita bertiga sudah menjadi satu. Tapi kenyataannya... "


"Ah sudah lah... itu sudah berlalu." Jawab Lamiah benar menutup obrolan mereka.


Pagi menyapa... tatapan Lilis tajam bahkan hanya pada perawat yang mengurus Lamiah yang bekerja secara part time. Datang dari pagi untuk membantu memandikan Lamiah pulang, lalu datang kembali di sore hari untuk kembali membersihakan tubuh Lamiah jelang magrib.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2