LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA

LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA
BAB 29 : IRSAM PERGI


__ADS_3

Irsam benar-benar mengabaikan semua panggilan dari Lilis. Merasa benar saat ia janji akan pulang dan menemani Lilis tidur, tapi ternyata memilih lelap di sisi Lamiah.


Akhirnya pada pukul 3 dini hari ia terbangun lalu beranjak pulang, memanfaatkan sisa waktu untuk kembali ke rumah. Dan mendapati Lilis yang tertidur di sofa. Rupanya dalam sepertiga malam ia habiskan untuk menunggui suaminya pulang.


Lilis merasa tubuhnya melayang di udara, sehingga mengerjabkan kedua matanya. Mendapati tubuhnya sudah dalam gendongan Irsam suaminya.


"Mas... kenapa baru pulang?"


"Maaf mas ketiduran di rumah sakit."


"Kenapa telpon dariku tak di terima?"


"Mas ketiduran."


"Apa Miah yang memutuskan panggilan dariku?"


"Tidak. Dia tak pernah menyentuh ponsel mas, sayang." Jawab Irsam meletakkan Lilis di tempat tidur mereka.


"Tadi aku menelpon bukan meminta mas pulang. Tapi, ingin menyampaikan papah mas sakit di Turkie. Mereka juga berkali-kali menghubungi mas. Tapi tak terhubung." Lilis menjelaskan.


"Hah... papah sakit." terkejut Irsam segera mengaktifkan ponselnya. Dan benar saja, saat ia mulai terlelap tadi bukan hanya Lilis yang menghubunginya, tetapi mamanya.


Irsam tak peduli dengan waktu. Ia segera menghubungi orangnya untuk menyiapkan keberangkatannya ke Turkie.


"Ratuku... aku harus pergi sekarang. Titip jaga anak kita ya sayang. Semoga papah segera sembuh sehingga mas bisa cepat pulang."


"Mas... aku ikut."


"Sayang... kamu hamil muda. Cukup Lamiah yang kehilangan calon bayinya. Tapi aku sungguh sangat menginginkan buah hati kita ini. Doakan mas hanya pergi sebentar."


"Tapi bagaimana nanti aku tidur mas?"


"Sayang... cukuplah mas menjadi suami yang tidak bisa adil. Janganlah juga kau antarkan mas menjadi anak yang tidak berbakti pada orang tua mas."


Lilis menangis dan berlari memeluk tubuh kekar suaminya itu.


"Maafkan aku rajaku." Jawabnya.

__ADS_1


Kemudian Lilis beringsut ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat untuk suaminya. Lalu menyiapkan apa saja keperluan yang di bawa oleh Irsam menuju Turkie.


Lilis benar bisa melakukan semua tugas normalnya seorang istri saat hanya mereka berdua saja di rumah.


"Sayang... tidak usah repot menyiapkan semuanya untukku. Sayang banyak istrirahat saja."


"Mas.... ini pekerjaan ringan. Kandunganku kuat, aku ingin melayanimu seperti biasanya."


"Baiklah... tapi nanti saat mas tidak ada. Tolong jaga diri mu dan anak kita ya sayang. Mas mencintaimu."


"Iya rajaku... akupun sangat menginginkan dia. Mas... boleh aku bertanya?"


"Tentang...?"


"Miah."


"Ada apa dengan dia?"


"Apakah mas telah mencintainya, seperti mas mencintaiku?"


"Bolehkah mas tidak menjawabnya?"


"Baiklah. Sepertinya mas sudah mencintainya. Namun kadarnya belum sebanyak mas mencintaimu."


"Jika aku meminta mas untuk menceraikannya. Apakah mas akan lakukan?"


"Ada apa denganmu? Apakah kamu sudah menyesal dengan permintaanmu sendiri?"


"Apa boleh aku menyesal mas?"


"Hah...! mas harap kamu tak lupa dengan syarat yang aku ajukan dulu. Saat mas benar-benar tak ingin hadirnya orang ketiga di rumah tangga kita. Maaf ratuku. Kita sudah tercebur, usia pernikahan bahkan baru 3 bulan. Sudahkah kau rasakan neraka yang kau buat sendiri?" Irsam beringsut mandi. Dan meninggalkan Lilis yang hanya mematung.


Mengartikan dan menyimpulkan sendiri bahwa suaminya telah tampak tak ingin berpisah dengan wanita kedua.


"Oh... rupanya mas Irsam benar telah mencintaimu Miah. Bagaimanapun, aku yang pertama. Aku yang membuatmu merasakan memiliki suami, kamu tidak boleh mendapatkan cintanya lebih dari yang aku rasakan. Tidak akan pernah." Bisiknya dalam hati.


Irsam berpamitan pada Lamiah hanya lewat sambungan telepon bahkan di hadapan Lilis, saat mereka menikmati sarapan pagi.

__ADS_1


"De Miah... maaf abang tak sempat menemuimu. Karena abang akan berangkat menjenguk papah yang sakit. Siang nanti kamu sudah bisa pulang kerumah. Tapi pasti memang masih harus bedrest."


"Iya... nanti de Miah konsultasi sendiri dengan dokter. Abang fokus kesehatan papah saja."


"Iya tentu saja. Abang pamit."


"Iya. Jaga diri bang. Hati-hati."


"Ya." Hanya kata itu yang sempat di ucapkan Irsam. Sebab, Lilis sudah dengan cueknya duduk di pangkuan Irsam menghadap tubuhnya dan menerkam bibir yang masih menga-nga saat bicara di telepon tadi.


Bahkan sambungan telepon tak benar berakhir, sehingga Lamiah dapat mendengar decakan-decakan luck nat yang lagi melukai hatinya. Jatuh lagi air matanya.


Irsam, telah lama menjaga Lilis yang hamil muda. Saat ia ingin meluapkan hasratnya pada Lamiah pun ternyata istri keduanya itu justru sedang keguguran. Tentu saja saat mendapat serangan dari Lilis, ia bagai menemukan oasis di padang tandus.


"Mas boleh lanjut ke sini ratuku?" tanya Irsam yang tiba-tiba ko nak. Saat meraba bagian inti tubuh Lilis.


"Lakukan pelan-pelan rajaku. Aku tau, kamu telah lama menahannya demi kami." Jawab Lilis dengan tegas. Membuat Irsam segera menggendong tubuh itu, bahkan tidak ke kamar mereka di lantai atas. Melainkan hanya di salah satu kamar tamu di lantai bawah. Sebab keinginannya telah membuncah serasa ingin pecah.


Lamiah hanya dapat menggigit bibirnya sendiri. Tau akan kemana selanjutnya adegan itu berakhir. Pilu.


Hal ini yang membuat Irsam selalu bertahan mencintai Lilis. Ia selalu pandai membaca situasi kebutuhan biologisnya. Pria mana yang tak luluh dengan hidangan yang satu itu. Dan nasib Irsam bahkan sempat pilu. Memiliki istri dua pun, masih tetap merasakan yang namanya berpuasa.


Lamiah sudah kembali kerumah, dengan kondisi yang sehat namun tidak pulih benar.


"Ibu... sebaiknya tetap jada diri layaknya setelah melahirkan. Keguguran sama halnya dengan pasca melahirkan, hanya ukuran dan usianya yang berbeda dengan bayi pada umumnya. Jadi, usahakan tidak bekerja berat di dalam dan luar runah. Semakin pintar ibu menjaga diri. Maka kemungkinan pulih ibu akan semakin besar. Usahakan dalam 40 hari kedepan, jangan melakukan aktivitas suami istri terlebih dahulu untuk menghindark kehamilan. Agar kondisi rahim ibu benar-benar siap menerima kehamilan berikutnya. Urusan memuaskan suami, saya yakin kita telah sama dewasa. Sehingga tak perlu saya jabarkan secara mendetail untuk hal tersebut. Saya kira ibu mengerti yang saya maksudkan." terang dokter kandungan itu panjang lebar pada Lamiah sebelum pulang.


"Ya dokter tak perlu jelaskan bagaimana cara memuaskan lebutuhan suamiku. Toh, dia punya istri selain aku." Batin Lamiah tersenyum kecut menanggapi ujaran dokter saat itu.


"Miah... bagaimana keadaanmu?" tanya Lilis saat Lamiah melangkah pelan memasuki rumah Irsam dan Lilis.


"Iya mbak sudah di ijinkan pulang. Tetapi masih harus istirahat. Juga di pesankan untuk tetap penjaga diri, juga tak berhubungan suami istri dulu hingga 2 bulan ke depan."


"Hmm... seperti melewati masa nifas saja. Bersabarlah Miah, toh saran itu juga demi kebaikanmu."


"Iya mbak."


"Miah... mas Irsam pergi. Dan mungkin agak lama. Kamu tau kehamilan ini membuatku tak suka tidur sendiri. Jadi, tolong selama mas Irsam tak ada. Temani aku tidur ya, di kamar kami." Pinta Lilis lembut memelas sambil mengusap perutnya sendiri.

__ADS_1


"Iya ... mbak baiklah." Lamiah tak pernah ingin membantah Lilis. Ia akan mulai dengan komitmennya sendiri. Akan berusaha mengalah pada Lilis, tetap dengan alasan yang sama. Karena ia telah mencintai suaminya.


Bersambung...


__ADS_2