
Siangnya Lamiah sudah pergi mencari tempat tinggal sederhana. Ia telah yakin untuk pergi dan memulai usaha barunya. Maka kini ia sudah berada di sebuah ruko berlokasi strategis masih di area kota Bogor. Membeli sebuah motor matic second untuk memudahkannya bergerak kesana sini. Sebab ia memang harus tetap hidup.
Lamiah akan membuka salon dan spa. Sesiang tadi ia susah menggunakan hampir seluruh tabungannya selama menjadi TKW untuk membeli semua peralatan usahanya tersebut.
Memang tidak bisa langsung buka. Sebab ia masih harus menyusun dan menata peraalatan itu, sama seperti hatinya yang perlu di tata ulang. Untuk mulai dari titik nol untuk di reset.
Sedangkan Irsam yang baru pulang bekerja tentu saja tidak menyadari ketiadaan Lamiah, sebab ia memang jarang terlihat di sekitar rumah, apa lagi saat Irsam memang bukan menjadi jatahnya.
Tetapi selesai makan malam, saat Irsam akan masuk ke ruang kerjanya. Onah menyempatkan diri untuk berbicara pada Irsam.
"Maaf tuan. Tadi sore mbak Lamiah pergi. Pamitnya ketempat keluarganya di Bandung. Katanya, dia ada meninggalkan surat untuk tuan dia lemari pakaian." Ujar Onah menginformasikan.
"Oh... begitu. Terima kasih Onah." Jawab Irsam yang tak jadi masuk ke ruang kerjanya, tetapi berbelok arah, ke kamar Lamiah.
Saat masuk kamar, Irsam langsung melihat ponsel Lamiah teronggok di atas meja riasnya. Irsam segera membuka lemari pakaian. Ada 3 amplop di sana. 2 tipis dan 1 tebal. Tebal sekali. Entah apa isinya.
Irsam pemilih amplop yang bertulis di tujukan untuknya.
^^^"Teruntuk suamiku Irsam Haedar.^^^
^^^Terima kasih untuk jiwa dan raga^^^
^^^yang sempat termiliki.^^^
^^^Terima kasih telah mengajari^^^
^^^arti cinta yang sesungguhnya.^^^
^^^Maaf belum bisa sempurna^^^
^^^menjadi istrimu.^^^
^^^Maaf, aku tak sanggup melanjutkan semua ini.^^^
^^^Maaf, aku memilih pergi dari kalian tapi tak sungguh benar^^^
^^^pergi dari cintamu."^^^
__ADS_1
^^^Dari istri keduamu^^^
^^^Yang pernah sangat bahagia^^^
^^^pernah merasa kau cintai.^^^
^^^'Lamiah Pradipta'^^^
Irsam terduduk di lantai di depan lemari pakaian itu. Kemudian membuka amplop kedua yang tebal yang juga bertulis untuknya.
"Ini uang yang sejak kita berhubungan jarak jauh pernah abang transfer untuk dede, saat memenangkan challange dari abang. Sungguh itu adalah masa termanis yang pernah kurasa. Bukan karena uang ini, tetapi sungguh, rasa cintaku tumbuh sejak saat itu. Sejak aku tak waras, seberani itu menunjukkan bagian-bagian tubuh tabuku untuk lelaki pertama yang sungguh menggetarkan hatiku.
Abang lelaki pertama melihatku se intim itu dan menyentuh semuanya. De Miah tak pernah menyesal menyerahkan semuanya pada abang.
Jika de Miah terlahir kembali, dede tetap hanya ingin berjodoh sama abang. Rasaku pada abang bertepuk sebelah tangan, bagaimanapun kehadiranku awalnya sangat di inginkan. Namun, dede tetap akan di nomor duakan.
Ini kartu belanjapun dede kembalikan. Maaf tak pernah punya waktu berkomunikasi. Kartu yang abang berikan saat kita berbulan madu sudah lama tidak dede pegang. Sebab, sejak bunda pulang ke Banten. Kartu yang ada dengan dede, sudah di tukar oleh mbak Lilis. Tolong kembalikan untuknya ya bang.
Sekali lagi, aku bahagia pernah menjadi istri abang. Cintaku padamu yang membuatku pergi, agar suamiku berbahagia dengan istrinya. Sayangi mereka sepenuh hati. Jangan cari dede, sebab jika ada kesempatan kita bertemu, aku tidak akan pernah mau berbagi dalam hal mencintaimu."
Irsam mengusap wajahnya gusar. Menyadari betapa bodohnya ia. Yang tidak mencurigai semua ini. Terlalu percaya dengan Lilis si istri pertama.
Irsam bahkan belum benar memberikan haknya sebagai istrinya itu. Lamiah tak pernah benar menjadi istri sesungguhnya. Ya... ampun bahkan semenderita itu pun, yang Irsam berikan, baginya itu adalah cinta terbaik yang pernah ia rasakan.
Irsam kembali ke ruang kerjanya. Baru terpikir untuk memerikasa CCTV selama ia tak ada dan apa saja yang bisa ia lihat di sana.
Benar saja, Lamiah tak pernah tampak keluar rumah sejengkalpun dari gerbang. Saat ia benar sedang bedrest. Kecuali kemarin. Dan semua kegiatan sebelum ia di currete pun terpampang nyata. Lamiah bahkan pernah basah kuyup pulang dan pergi. Bahkan dalam sehari bisa pergi berkali-kali.
Apakah itu yang membuatnya lelah sehingga mengalami keguguran.
Irsam mengambil ponsel dan menelpon Onah agar masuk ke ruang kerjanya.
"Iya tuan..." sapa Onah saat berada di ruang kerja itu.
"Apakah benar saat bu Lilis baru hamil, Lamiah yang sering pergi mencari kidamannya?"
"Iya tuan. Dan bu Lamiah selalu meminjam motor Onah. Sebab dia tidak bisa nyetir mobil, saat minta antar supir pun. Di larang oleh nyonyah tuan. Onah juga di larang nyah Lilis untuk membantu carikan. Katanya dede bayinya hanya mau yang di carikan oleh bu Lamiah." Jelas Onah panjang.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak bilang ke saya?"
"Tuan tidak pernah tanya."
"Apa kamu tau seberapa jauh ia mencari makanan itu?"
"Ya tau lah tuan. Kadang bisa sampai 3 jam pulang pergi, belum lagi kalau salah yang di dapat. Sudah pasti akan di ulang untuk mencarinya."
"Lalu saat setelah ia keguguran. Apa kamu pernah melihat Lamiah pergi berbelanja?"
"Belanja apa maksud tuan?"
"Ya seperti tas atau sepatu begitu?"
"Ah... bu Lamiah mana pernah pergi membeli barang-barang seperti itu tuan. Jika yang tuan tanya nyah Lilis. Tuan boleh periksa gudang belanja di lantai 3. Sudah semakin penuh. Hampir setiap hari nyah Lilis berbelanja dan menumpuk barangnya di sana tuan." Jelas Onah yang jampir membuat otak Irsam meledak.
"Iya... terima kasih informasimu Onah." Jawab Irsam yang kemudian memilih masuk ke kamar Lilis membawa sepucuk surat yang di peruntukkan untuknya.
"Sudah tidur?" tanya Irsam dengan suara datar. Tanpa memandang, apalagi memberi kecupan pada Likis yang sedang berselonjor di atas tempat tidur menggulir gawainya.
"Mana bisa tidur jika punggung ini belum di olea lotion sayang." ucap Lilis manja."
"Hah... Bahkan saat aku tak ada. Lamiah yang kau paksa melayanimu bak seorang ratu?" sarkas Irsam.
"Mas bicara apa?"
"Aku sudah tau semuanya. Bahkan dia keguguran pun karena ia terlalu cape melayani perintahmu. Hah... aku meyesal menuruti semua keinginanmu."
"Mas bicara apa sayang...?"
"Nih... baca!!! Aku sudah membaca yang bagian ku. Intinya... ia telah pergi dari rumah ini. KAMU PUAS...!!!" Hardik Irsam dengan suara tegas dan lantangnya. Sungguh emosinya tersulut setelah tau yang sesungguhnya terjadi dalan rumah tangganya.
"Kamu yang ingin aku menikah lagi, kamu yang memilih dengan siapa aku menikah. Kamu yang ingin menjadi malaikat penolong baginya, tapi apa yang sudah kamu lakukan. Kamu bahkan sudah berhasil mencabut nyawa calon buah hati kami."
"Kamu senang sekarang?? Lilis Listiana???
Bersambung....
__ADS_1