LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA

LILIS - LAMIAH NERAKA DUA CINTA
BAB 49 : HANYA LUKA BUKAN CINTA


__ADS_3

Kebersamaan yang mereka sebut berbulan madu itu berakhir sudah. Jika mama Irsam sempat meminta suatu petunjuk. Bahwa bila saat Irsam bersama Lilis, anaknya ada mencuri-curi dalam hal menghubungi Lamiah. Maka yakinlah rumah tangga itu sungguh tidak bisa di selamatkan lagi.


Tetapi, yang terjadi adalah jangankan untuk menghubungi Lamiah, di minta berceraipun Irsam bersedia. Hal tersebut sudah Lilis sampaikan pada mama mertuanya. Membuat mama Irsam merasa perlu berbicara empat mata pada putranya.


"Bagaimana rasanya setelah berbulan madu nak?"


"Mama... bulan madu. Tentu saja selalu semanis madu."


"Apa kau masih mencintai Lilis seperti pertama kali kau menginginkannya menjadi istrimu?"


"Tidak ma. Hatiku sudah terbagi oleh ketulusan Lamiah."


"Dari mana kau bisa menilai ketulusannya, jelas-jelas dia tega mengambil suami sahabatnya?"


"Mama ... dia tidak pernah memgambil apa lagi merebut. Dia di beri. Itu sangat berbeda mama."


"Walau di beri jika dia punya hati. Hal itu tidak akan pernah ia lakukan." Mama Irsam jelas sangat tidak suka pada Lamiah.


"Mama mau aku bagaimana?"


"Ceraikan dia. Lepaskan dari ikatan pernikahan kalian. Agar dia bisa mendapatkan cinta yang baru, yang tidak harus berbagi dengan siapapun. Dia layak bahagia."


"Aku tau... baik mama ataupun Lilis pasti akan memintaku menceraikannya. Sebab kalian adalah wanita yang sangat egois. Yang hanya memikirkan keinginan kalian sendiri. Mama hanya berada di posisi Lilis. Coba sebentar saja mama memposisikan diri jadi Lamiah. Dia yang hanya seorang anak yatim piatu menganggap sahabatnya adalah saudaranya. Yang percaya akan menawarkan surga jika menikah dengan suaminya. Menerima dengan penuh kebimbangan untuk menjadi istri kedua. Mama tidak tau, ia sampai pingsan di atas pusara kedua orang tuanya, karena sesungguhnya pun kecewa dengan jalan jodohnya yang hanya dapat suami orang. Mama tidak tau, bagaimana dia memposisikan dirinya bukan sebagai istri Irsam ma. Tapi budak naf suku juga pembantu Lilis. Itu salah kami mama. Lalu, kini setelah Lilis merasa cemas, dengan mudahnya ia minta ingin kembali memiliki aku sepenuhnya. Tolong fungsikan hati mama sebagai wanita, apa benar kita telah adil dengannya?"


"Mama mengerti di posisinya. Untuk itu berhenti menyakitinya. Dengan cara melepaskannya. Bukankah kamu telah memcintainya? Maka biarkan dia menemukan kebahagiaannya yang ternyata bukan pada kamu."


"Semudah itukah aku bisa melupakannya ma? Bahkan ia pernah kehilangan calon buah hati kami. Semudah itu mama, aku melepaskannya? tidakkah mama merasa aku adalah manusia paling be jad?"


"Tidak usah merasa be jad sekarang. Saat kamu tunduk pada istrimu untuk menikah lagi pun kamu sudah jadi manusia bang sat." Geram mama Irsam pada anaknya sendiri.


"Baiklah. Aku akan segera menceraikan Lamiah. Puas!!" Jelas sekali keputusan Irsam tersebut telah di penuhi emosi.

__ADS_1


"Kamu yakin menceraikannya tanpa syarat?" tanya mama pada Irsam.


"Tidak perlu syarat apapun. Aku sudah salah di mata kalian."


"Hatimu hanya di penuhi naf su dengannya bukan cinta nak."


"Ya apapum itu, semua benar kalian. Kalian yang paling tau bagaimana jeleknya hati Lamiah itu. Percuma juga aku bela. Yang salah tetap salah. Lamiah hanya boneka bukan manusia." Irsam meninggalkan mamanya yang masih termenung. Tiba-tiba bingung, apakah telah benar meminta anaknya bercerai.


"Mama kenapa terlihat sendu?" tanya Abizart pada istrinya.


"Mama baru saja meminta Irsam menceraikan Lamiah pa."


"Kenapa mama ikut campur dalam rumah tangga anak kita?"


"Dia sudah menyakitk hati Lilis pa, menantu kita."


"Jangan lupa. Lamiah juga sekarang menantu kita ma."


"Papa membela Lamiah?"


"Bagaimanapun rumah tangga Lilis harus di selamatkan pa."


"Lalu rumah tangga Lamiah harus di korbankan?"


"Ya... jika itu memang yang terbaik."


"Terbaik bagi siapa?"


"Bagi Lilis?


Bagi mama?

__ADS_1


Bagi Irsam?


Bagi Lamiah?" Papa Irsam memberondong pertanyaan pada istrinya.


"Sini ikuti papa." Abizar mengajak istrinya keruang kerja Irsam.


Di sana Abizard membuka dokumen rekaman CCTV sejak acara pernikahan anak mereka di rumah itu.


Tentu saja tidak ada rekayasa di sana. Di mana sangat terlihat bagaimana Lilis yang memang mendominasi Irsam. Bagaimana Lamiah memposisikam dirinya bukan sebagai istri, melainkan sebagai pembantu. Hati mama Irsam mencelos, membenarkan bahwa hanya luka yang Lamiah rasakan di rumah itu, bukan cinta.


"Para wanita selalu memgedepankan perasaan. Selalu merasa paling di sakiti, padahal tidak sadar sudah menyakiti. Apa papa salah mengartikan jika Lamiah justru adalah korban dalam rumah tangga mereka?"


"Karena itu... lebih baik sudahi saja penderitaannya."


"Saat mereka bercerai. Apa Lilis bahagia menjadi istri satu-satunya lagi? Apakah Irsam benar rela melepas wanita yang juga ingin ia bahagiakan itu? Apakah semudah itu Lamiah melepaskan Irsam?"


"Ya Allah... bahkan kertas yang sudah di remas pun tidak akan pernah kembali utuh walaupun tidak robek." ucap mama Irsam sendiri.


"Ya ... itu lah gambaran hati ketiganya. Tidak utuh, dan tidak akan pernah sama seperti sediakala. Walaupun kita paksa bercerai sekalipun. Perceraian hanya manambah panjang daftar dosa Irsam setelah tidak bisa adil pada rumah tangganya ma." Jelas Abizart pada istrinya.


"Bagaimana ini pa... mama sudah meminta Irsam menceraikannya. Dan Dia bersedia."


"Heemmm... menurut mama. Apa semudah itu Irsam menuruti kehendak mama?"


"Entahlah... tapi Lamiah pun tidak keberatan di cerai. Asalkan Lilis yang memintanya pergi."


"Yang perlu mama luruskan itu hati Lilis bukan hanya Lamiah. Mereka sebelumnya sahabat ma. Tapi Lilis yang sudah menganggap Lamiah itu musuhnya. Sedangkan Lamiah masih merasa jika Lilis itu sahabatnya."


"Mama harus bagaimana pa?"


"Berhenti mengurusi urusan yang bukan menjadi tanggung jawab kita ma. Toh, mereka memutuskan untuk berpoligami pun tidak meminta persetujuan kita. Bahkan Irsama menjalin hubungan nerpacaran 1,5 tahun secara jarak jauh. Itu bahkan lebih lama dari waktu mereka kini berumah tangga yang hanya baru 10 bulan. Lalu mengapa kita harus repot menanggung derita Lilis yang cemas akan kehilangan cinta suaminya? Waktu bahagia kemana saja? Tiba masa sedihnya kita di undang sedih bersama?" Kalimat yang di sampailan Abizart pun ada benarnya.

__ADS_1


Lilis sungguh dalam keadaan sadar saat meminta Lamiah menikahi suaminya. Juga dengan bangga berhasil menjadi makcomblang saat suaminya berhubungan jarak jauh dengan Lamiah. Tapi kenapa dia tampak seperti kebakaran jenggot saat Lamiah hadir dalam rumah tangganya. Padahal kesalahan Lamiah hanya pernah mencuri-curi waktu berhubungan intim dengan suaminya, karena memang tidak penah memiliki waktu yang adil bersama suaminya. Lamiah tidak menggerogoti harta suaminya, Lamiah tidak pernah meminta waktu banyak Irsam bersamanya. Lamiah telah benar memposisikan dirinya hanya menjadi yang kedua yang selalu di nomor duakan.


Bersambung...


__ADS_2