
Pagi telah menerpa, sinar mentari menyusup di cela-cela tirai jendela rumah sakit. Menyapa hangat terkesan garang sebab jarum jam mengarah pada pukul 9 pagi.
Lamiah baru dapat terlelap setelah kumandang adzan subuh berkumandang. Setelah merafalkan doa dalam hati, melepas gundah resah tumpah, belajar menerima kenyataan.
Ia pernah menjadi wanita sempurna yang rahimnya pernah di titipi janin namun ruh nya tak bertahan lama. Lamiah hanya tertunda menjadi seorang ibu, itu yang ia percayai.
Lamiah telah berdamai dengan hatinya, lari dari kenyataan manapun. Ia tetaplah istri kedua, ingin mundur lewat jalan manapun, yang ia temui hanya jalan buntu. Namun, untuk pergi pun. Hatinya telah tertaut.
Cinta sebenarnya tak harus memiliki. Tapi tidak dengan Lamiah. Ia memiliki, hanya miliknya tidak luas. Ia hanya boleh leluasa mencinta di atas petakan kecil dalam hati suaminya.
Bolehkah ia iri?
Bolehkah ia cemburu?
Hal itu sah saja, toh ia manusia.
Tapi beda kasus untuk Lamiah.
Sejak awal, ia harus terima. Ia adalah yang kedua. Menerima takdir menjadi selir, anggap saja ia buta saat melihat kemesaraan suaminya dan Lilis. Minta di tulikan saja pendengarannya saat pasangan itu terdengar beradu dialog mesra. Memohon kuat saja pada sang pencipta. Karena kebo dohannya, telah sungguh mencintai suaminya.
Walau menjadi madu, ia tetap ingin menjadi seorang ibu. Maka, kini ia hanya ingin fokus sembuh. Agar segera menata hidupnya kembali. Walau mungkin bukan surga lagi yang ia nikmati, namun perihnya neraka nestapa yang akan ia hadapi.
"Aku telah mencintai bang Irsam. Jika mengalah pada mbak Lilis adalah yang ia minta, jika meninta untuk mengerti yang bang Irsam inginkan. Akan aku lakukan." Janji Lamiah dalam hati.
Sebenarnya kandungan Lilis tidak bermasalah, ia bahkan bisa beraktivitas normal. Lilis hanya ingin di manja, semakin jelas ia yang tak ingin berbagi di sini, padahal saat di awal iklannya mengalahkan kualitas kecap no 1 di Indonesia.
Irsam sudah berhasil merayunya untuk pulang. Namun, ia tetap meminta ijin untuk di perbolehkan untuk mampir di mall. Irsam mana pernah melarangnya. Hanya tak bisa menemani, sebab ia ada rapat penting perihal pekerjaannya.
__ADS_1
"Mas hanya mengantar ya sayang. Nanti pulangnya di jemput supir. Kamu hati-hati. Jangan sampai cape, ingat ada anak kita di dalam perutmu ratuku."
"Siap baginda rajaku." Lilis pun dengan riang turun berbelanja. Juga sempat menghubungi teman-teman sosialitanya, agar mereka saling berjumpa di mall tersebut.
Selesai rapat, matahari sudah terbenam. Irsam sudah memastikan posisi Lilis yang berada di rumah. Maka Irsam pun melajukan mobilnya ke rumah sakit. Namun tidak menemui Lamiah.
"Suster... apakah istri saya tadi ada keluar kamar, jalan-jalan begitu?" tanya Irsam pada perawat yang di bayarnya lebih untuk memantau keadaan Lamiah dengan intens.
"Bapak bercanda. Bahkan ke Toilet saja ibu masih harus saya bantu." Jawab perawat itu dengan wajah serius.
"Oh... iya." Jawab Irsam yang sebenarnya bingung. Saat melihat notifikasi pengeluaran yang sangat jelas itu dari kartu tagihan yang di pegang oleh Lamiah.
Namum, Irsam memilih menyimpannya sendiri. Sengaja melihat sampai sejauh mana istri keduanya tak ingin jujur padanya, tanpa di minta untuk mengakuinya.
"Sore de Miah. Apa kabarmu sekarang?" sapa Irsam yang setelah makan sendiri di luar memilih akan menengok Lamiah sebentar sebelum pulang untuk menemani Lilis di rumah.
"Nanti abang tanya dokter ya sayang."
"Iya... terima kasih bang." Jawab Lamiah lembut.
"Tapi... abang boleh tidur di rumah ga malam ini?" tanya Irsam.
"Silahkan bang. De Miah hanya menjalani pemulihan, calon anak kita pun telah tiada. Abang harus bantu mbak Lilis jaga calon adik Faizal bang. Cukul de Miah yang gagal. Mbak Lis harus sukses menjaganya. Milik kalian." Lirih Lamiah membuat hati Irsam terasa luruh mendengarkannya.
"Mengapa abang perih mendengar perkataanmu de?" tanya Irsam. Yang bahkan Lamiah pun tak tau jawabannya.
"Maaf jika menyakiti abang dengan kata tadi. Miah cuma tak ingin kalian gagal sepertiku." Ucapnya tertunduk.
__ADS_1
Cup
Irsam mengecup kening Lamiah dengan penuh rasa bersalah.
"Katakan apa yang harus abang lalukan untukmu, agar kamu bisa merasa bahagia. Selain melepaskanmu?"
"De Miah tidak akan meminta perpisahan. Hanya nanti saat dede benar telah sembuh. Ijinkan dede bekerja di luar rumah. Dede telah mencintai abang. Rasa ingin memiliki abang sepernuhnya itu sangat nyata. De Miah cemburu pada kalian, dan itu tidak boleh. Itu tidak pantas ku lakukan pada kalian. Aku tak pantas memiliki rasa itu, sebab aku hanya orang ketiga dalam rumah tangga kalian. Jadi, mungkin jika de Miah punya kegiatan lain di luar rumah, dede bisa mengalihkan rasa cemburu itu bang. Bahkan, jika memang takdir berpihak untuk menyudahi cinta segitiga ini. De Miah tetap bisa hidup mandiri."
Irsam tertohok mendengarnya. Seolah tertampar, betapa ia adalah pria lemah yang tak bisa adil namun juga tak dapat pergi. Sungguh, semakin hari ia makin jatuh cinta pada pemikiran sang istri kedua yang cendrung memilih mengalah dan terlihat ikhlas. Jauh berbeda dengan Lilis yang tak bertanggung jawab dengan keputusannya sendiri. Ini bukan tentang cinta Irsam yang meluntur dan Lamiah orang baru. Tetapi semesta pun nyata, menunjukkan padanya bahwa sungguh Lilis yang telah berubah. Cinta mana yang harus ia pertahankan?
Mendadak hatinya berang sendiri. Sungguh rumah tangga ini telah terjelma menjadi rumah duka. Pelan-pelan semua akan kandas, tak bersisa. Tak ada lagi damai, selama egois merajai hatinya dan istri pertama. Sungguh mereka hanya mengundang nestapa di hati Lamiah.
Irsam merapikan saluran infus Lamiah. Lalu pelan-pelan memindahkannya. Membantu Lamiah berdiri, menggiringnya menuju kasur penunggu pasien di ruang rawat VVIP tersebut.
Merebahkan Lamiah pada kasur itu, masih dengan tangan kiri yang tertancap jarum infus.
Kemudian mengambil tempat di sisi kanan Lamiah, tanpa melepas pakaian kerjanya, dan tanpa mandi juga. Lalu membaringkan dirinya.
Irsam memilih terlelap di sisi Lamiah, memeluknya dengan posesif. Tanpa kata, tanpa rayu juga tanpa peduli dengan deringan ponselnya yang sedari tadi minta di sentuh.
Berkali-kali Lamiah menepuk Irsam agar bangun untuk menerima panggilan tersebut. Namun Irsam justru memantikan ponselnya. Lalu memilih untuk kembali tidur di sisi Lamiah.
Irsam sungguh merasakan kepedihan yang ternganga dalam hati istri keduanya. Dan memberanikan diri untuk lagi membela istri keduanya yang juga membutuhkannya.
Jiwa dan raganya sungguh lelah, namun belum berani memutuskan apakah benar akan melepaskan salah satu, atau tabah saja menjalankan keduanya sambil terus belajar menjadi suami yang bijaksana.
Bersambung...
__ADS_1