
Bu Suryo kembali bersimpuh sambil memohon, "Tolong Bu, saya mohon? Ilham juga kritis dia hanya ingin mendengar suara Reyhan!" ucapnya sambil terisak.
"Maaf Bu, untuk kali ini saya tidak bisa dan saya cuma bisa berdoa semoga Ilham lekas sembuh!"
Pak Suryo sedikit geram melihat keteguhan hati mantan besannya itu, untuk tidak memberi tahu dimana Reyhan berada. "Kami sudah memohon dengan sangat kemurahan hati kalian! Setidaknya tolong, walaupun tidak bisa bertemu. Tapi saya berharap Ilham bisa mendengar suara anaknya!" seru Pak Suryo.
"Tapi saya tidak ingin mengulang kembali, kesalahan yang sama Pak!" jawab bu Surti tegas. "Tidak ingatkah kalian? Saat saya juga datang memohon untuk bisa menghubungi Ilham, karena Reyhan yang terus memanggil namanya bahkan saat tidurnya sekalipun. Apa yang waktu itu kalian katakan? Apa masih ingat, atau perlu saya ingatkan kembali? Bahwa kalian juga mengatakan hal yang sama, kalau kalian tidak tahu dimana Ilham berada!"
Bu Suryo menggeleng pelan, "Saya juga tidak tahu saat itu Ilham ada dimana Bu? Karena kami juga tidak berkirim kabar dengannya, setelah ia pamit untuk pergi keluar negri, sejak saat itu juga komunikasi kami terpisah!" ucap Bu Suryo dengan air mata yang terus mengalir.
"Maaf tapi saya tidak bisa membantu untuk kali ini!" ucap Bu Surti tegas.
"Tidak!" pekik bu Suryo, saat melihat bu Surti melangkah pergi meninggalkan dirinya dan sang suami. "Bu tolong jangan lakukan ini saya mohon, Ilham anakku sedang sekarat Bu, tolong?" jerit bu Suryo pilu.
"Sudah Ma, ayo bangun jangan lakukan ini lagi?" ucap Pak Suryo sambil membimbing istrinya untuk bangkit.
"T-tapi Ilham Pa, Ilham?" Tangis bu Suryo semakin pecah, saat mendapati kenyataan yang tidak sesuai dengan apa yang ia inginkan.
"Ayo kita pulang, Ma?"
Dengan langkah tertatih, bu Suryo beranjak dari duduknya. Nyeri kaki yang terasa menusuk saat dirinya mulai berdiri tak di hiraukannya. Masih dengan air mata yang berlinang, bu Suryo masuk ke dalam rengkuhan sang suami. "Ilham Pa, kita harus apa sekarang?" tanyanya dengan putus asa.
"Sabar Ma, besok Papa suruh si Adit untuk mencari tahu kemana Hanum pergi bersama dengan Reyhan!"
Bu Suryo mengangguk dalam dekapan sang suami. "Ayo sekarang kita pulang dulu, Mama istirahat dulu nanti kita pikirkan kedepannya lagi!"
Pak Suryo berjalan sambil merangkul pundak sang istri, untuk segera dibawa pulang kerumah. Hatinya sakit saat melihat sang istri yang begitu penuh semangat, sekarang tampak lemah tak berdaya seperti itu.
Saat sampai di depan mobilnya, pak Suryo bergegas masuk dan menyalakan mesin kendaraan beroda empat itu. Tapi belum sampai dirinya menginjak pedal gas, ponsel di saku nya berdering sangat kencang.
Dahinya mengernyit, saat mendapati rumah sakit tempat Ilham dirawat menelpon dirinya. "H-hall …!" Belum sempat pak Suryo mengucapkan sepatah kata, ponsel yang dipegangnya langsung lepas dari genggamannya.
__ADS_1
"Ada apa Pa?" tanya Bu Suryo yang kaget, melihat sang suami yang tiba-tiba mematung. Dan ponsel yang dipegangnya lepas dari genggaman tangannya.
Tanpa mengucap sepatah kata, pak Suryo bergegas melajukan kendaraan beroda empat nya itu, membelah jalanan yang mulai padat. "Pah …?" sapuan halus tangan bu Suryo, mengusap pundak tua sang suami.
"Ada apa, Pa?"
Lidah pak Suryo kelu, sekedar untuk menjawab pertanyaan dari sang istri. "Kita akan kerumah sakit, Ma!" jawabnya lirih.
"Kenapa tiba-tiba, ada apa Pa?"
"Nanti Papa jelaskan saat sudah sampai, karena Papa sendiri juga masih belum percaya! Dengan apa yang baru saja Papa dengar!"
"Dengar apa, Pa? Apa ini tentang Ilham, ada apa dengan Ilham Pa?" Bu Suryo yang sudah mulai tenang, kembali panik saat suaminya tak menjawab pertanyaan yang ia tanyakan.
Pak Suryo masih membisu, ingin sekali ia berkata tentang kabar yang baru saja ia terima, tapi rasa takut kalau sang istri akan terkejut, saat mendengar ucapannya. Pak Suryo memilih untuk bungkam.
***
"Nggak, Mas! Jangan tinggalin aku? Mas …!!!" Amel terbangun dengan nafas yang tak beraturan. Mimpi yang baru saja ia rasakan seperti nyata untuknya.
Bu Ratna tergopoh-gopoh menghampiri kamar, saat mendengar Amel berteriak sangat kencang tadi.
"Kamu kenapa Nak?" tanya bu Ratna pelan, saat melihat Amel yang tengah terdiam di atas tempat tidur.
"Aku mimpi buruk, Bu!" ucap Amel lirih.
"Mimpi apa?"
"Aku mimpi mas Ilham ninggalin aku, Bu!" jawab Amel disertai isakan lirih.
Tak tega melihat anaknya yang semakin terpuruk, bu Ratna mengambil keputusan untuk jujur mengenai keadaan Ilham yang sebenarnya.
__ADS_1
Sambil mengusap kepala Amel, bu Ratna berkata, "Ada yang ingin Ibu katakan sama kamu! Tapi kamu harus janji, setelah mendengar perkataan Ibu kamu akan tetap baik-baik saja?"
Amel menatap Ibunya bingung, "Apa yang ingin Ibu katakan?"
"Ibu tahu, dimana Ilham berada saat ini?" jawabnya sambil menarik nafas panjang.
Mata Amel membola, tak percaya kalau sang Ibu tahu dimana suaminya berada sekarang! "Ibu tahu dimana mas Ilham, tapi kenapa Ibu gak bilang sama Amel?"
"Ibu hanya memikirkan kesehatanmu, Nak! Ibu takut saat kamu tahu nanti, kamu akan terkejut dan akan mempengaruhi mentalmu kembali?"
Amel menggeleng tak percaya dan berusaha menyakinkan sang Ibu, kalau dirinya akan baik-baik saja. "Aku gapapa Bu, aku sudah sehat! Tolong kasih tahu dimana mas Ilham sekarang?" pintanya memelas.
Sambil menarik nafas panjang, bu Ratna berkata. "Suamimu ada dirumah sakit, seminggu yang lalu Ilham mengalami kecelakan dan saat ini Ilham sedang koma!"
Mendengar sang suami kecelakaan bahkan koma, Amel merasa seperti tersambar petir di siang hari. Air matanya luruh tanpa bisa dicegah, hatinya berdenyut sakit, bahkan disaat sakitnya saja ia tidak tahu. Amel merutuki kebodohannya, dengan terus menunggu tanpa mencari tahu keadaan sang suami.
Seketika Amel bangkit dari tempat tidur, dengan keadaan yang berantakan. Rambut yang sedikit acak-acakan ia bergegas keluar dari kamar.
"Mau kemana kamu, Mel?" tanya bu Ratna, yang melihat Amel sedikit tergesa-gesa dan tidak memperhatikan penampilannya.
"Amel mau ke rumah sakit, Bu! Mas Ilham butuh Amel sekarang?"
"Tunggu!" ucap Bu Ratna. "Apa kamu mau kerumah sakit dengan keadaan seperti ini, lihat dirimu Mel. Sebaiknya kamu mandi dan ganti bajumu dulu, Ibu yang akan mengantar kamu kerumah sakit nanti!"
Amel menatap sang Ibu dengan mata yang berkaca-kaca, "Tapi Amel ingin pergi sekarang, Bu?"
"Ibu tahu perasaanmu, tapi apa kata orang nanti saat melihat keadaanmu seperti ini, hem?"
Dengan sangat terpaksa, akhirnya Amel masuk kedalam kamarnya. Untuk sekedar membersihkan diri dan memantaskan penampilannya, Ibu nya benar apa jadinya saat orang-orang melihat dirinya yang tidak terurus datang ke rumah sakit? Yang ada, semua orang akan mencemooh nya dan mengatakan kalau dirinya sudah tidak waras.
****
__ADS_1