
Amel masih menyeka wajah lelah Ilham, ingatan nya kembali pada pertemuan pertama hingga membuatnya jatuh cinta pada sosok laki-laki yang ada di depannya ini.
Flashback
Amel tinggal di sebuah apartemen, yang disewakan oleh kekasihnya yang kini tengah menuntut ilmu di negeri orang. Saat kuliahnya sudah memasuki tahap akhir, dia mulai masuk ke sebuah perusahaan untuk bekerja dengan status pegawai magang.
Lingkungan tempatnya bekerja lumayan bagus, karena ia langsung ditunjuk untuk menjadi sekretaris seorang direktur yang ada di kantornya. Pembawaannya yang riang mampu membuatnya mudah berbaur dengan pegawai lain, yang senior maupun yang junior.
Hingga ajakan untuk kumpul bersama untuk saling mengenal ia penuhi. Disitu tidak hanya pegawai tapi petinggi perusahaan pun ikut bergabung dan itulah yang menjadi awal mula perkenalannya dengan Ilham.
Ilham sosok lelaki yang ramah dan care, kepada setiap orang bahkan dengan bawahannya di kantor sekalipun. Pembawaannya yang bijak dan mengayomi, sedikit demi sedikit memikat seorang gadis yang hatinya mulai mekar.
Amel tahu dengan pasti bahwa atasannya itu sudah berkeluarga, Amel juga pernah bertemu sekali dengan istri bosnya itu, saat acara di kantornya dulu.
Tapi entah setan dari mana yang terus menerus menghasut pikirannya untuk mencoba mendekati sang bos. Apa karena ia pernah melihat, bagaimana sang bos memperlakukan sang istri dengan begitu sayangnya hingga muncul iri di dalam hatinya.
Kasih sayang untuk Amel itu hal yang tidak mungkin, mengingat ia lahir dan dibesarkan dari keluarga yang tidak utuh. Bahkan dirinya sendiri hampir menjadi korban pelecehan oleh ayah sambungnya.
Tapi saat melihat sosok ilham pintu hatinya terketuk, berbagai cara ia lakukan hanya untuk mendapatkan sedikit perhatiannya. Bahkan ia rela menemaninya lembur, demi untuk menunjukkan bagaimana perhatian dirinya.
Ibarat gayung bersambut dan usaha yang tak pernah mengkhianati hasil, sedikit demi sedikit ilham mulai tertarik dengan dirinya. Awal mula dari obrolan biasa, hingga curahan hatinya yang ingin segera mempunyai anak, setelah sang istri yang tak kunjung memberikannya anak.
Pendekatan yang terus-menerus dan kenyamanan yang Amel berikan, mampu membuat seorang ilham berpaling dari sang istri yang begitu setia.
Jauh di lubuk hati yang paling dalam, ada rasa tak tega saat ilham memintanya untuk menjadi istri kedua. Ada rasa bersalah di dalam hatinya untuk sang istri sah.
Walau bagaimanapun, menyakiti hati wanita lain tak pernah ada di dalam kamus hidupnya. Amel takut jika ia melakukan itu, dirinya tak akan jauh berbeda dengan perempuan yang membawa ayahnya pergi dari hidupnya dulu.
Tapi tuntutan hidup dan rasa cinta yang mulai bersemi, sedikit membutakan mata hatinya. Hingga pilihan menjadi kedua pun ia penuhi.
Tibalah hari yang ditunggu, ilham membuktikan ucapannya untuk menikah dengan dirinya, walau yang ilham berikan hanya pernikahan siri tapi untuk Amel itu sudah lebih dari cukup. Mungkin nanti sedikit demi sedikit ia akan mampu menjadi istri sah tanpa harus menggeser posisi sang istri pertama.
Tapi kenyataan tidak selalu sama seperti yang dibayangkan. Setelah acara pernikahan, ilham meninggalkan dirinya yang masih duduk di kursi pelaminan, hanya karena dirinya tak melihat sang istri pertama yang tiba-tiba menghilang dari pandangan.
__ADS_1
Rasa kecewa itu datang menghampiri, ini baru permulaan bagaimana nanti jika Amel benar hamil dan memberikan nya anak? mungkin dirinya yang akan dibuang dari hidup ilham, mengingat cintanya untuk istri pertamanya masih begitu besar.
Ketakutan itu sedikit demi sedikit membutakan mata hatinya, keinginannya untuk hidup rukun dengan sang kakak madu, ia kubur dalam-dalam dan diganti dengan ambisi untuk memiliki ilham seutuhnya untuk dirinya sendiri.
Hingga datanglah malam itu, malam yang menjadi saksi persatuannya dengan sang suami, malam yang akhirnya mampu merubah hidup nya hingga saat ini.
Niat hati yang hanya ingin menggoda, ternyata bersambut dengan hasrat sang suami yang juga ingin terpuaskan.
Hingga waktu yang seharusnya dibagi untuk sang kakak madu, semua di berikan untuknya. Lelaki mana yang akan tahan jika terus menerus digoda, apalagi hasrat yang tak terpuaskan dari istri pertama mampu ia berikan.
Kebahagiaan muncul seiring berjalannya waktu, bersamaan dengan tangis yang mulai dirasakan oleh kakak madunya. Ilham mulai memberikan banyak waktu untuk nya, berbeda dengan kakak madunya. Ada rasa tak tega tapi ambisinya lebih besar dari rasa simpatinya untuk sang kakak madu.
Tapi kebahagiaan itu tak berlangsung lama saat Rio kembali ke dalam hidupnya, Rio datang seperti ancaman untuk hidup yang sekarang Amel jalani.
Masa lalunya dengan Rio perlahan-lahan terbuka kembali sejak kedatangan nya. Entah disengaja atau tidak, Amel tak pernah bisa lepas dari jerat Rio yang semakin mengikat, terlebih saat Amel mendapati dirinya tidur bersama dengan Rio,tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya.
Sedih kecewa seandainya ilham tahu, apa yang akan dia lakukan. Hingga kabar kehamilannya yang membuat Amel bahagia juga menderita.
***
Hingga pertengkaran di rumah sang mertua! membuka jalan nya untuk menjadi istri satu-satunya.
Akhirnya Ilham resmi menceraikan istri pertamanya, bahagia? tentu saja, tapi saat melihat wajah pucat hanum hatinya sedikit terketuk. Ingin rasanya Amel meminta maaf tapi lagi-lagi ego nya lebih besar dari rasa simpatinya, hingga kata-kata kasar keluar dari mulutnya saat adik kandung hanum mengatakan kalau dirinya seperti pencuri.
Rasa marah tentu saja ada, Amel merasa kalau dirinya bukan pencuri. Dia hanya mencoba mempertahankan apa yang sudah menjadi miliknya, tapi kini yang ia perjuangkan sedang terbaring di depan matanya dengan masih mengenang masa lalunya.
Flashback off
Ilham terbangun dengan rasa sakit di kepalanya, memorinya kembali menari saat ia memutuskan untuk kembali minum minuman keras, di temani sang teman yang kebetulan juga ada di tempat yang sama.
Ilham menatap sekitar hingga suara pintu yang terbuka mengalihkan perhatiannya.
"Kamu sudah bangun Mas?"
__ADS_1
"Hm, sudah dan kepalaku sakit sekali!" keluh nya.
"Kamu minum berapa banyak dan sejak kapan kamu mulai minum minuman keras itu?" ucap Amel sembari memberikan minuman hangat kepada suaminya.
"Maaf."
"Kenapa?"
Ilham sedikit terbengong saat Amel bertanya kenapa?
"Maksudku kenapa Mas minta maaf?" ucap Amel yang melihat Ilham sedikit kebingungan.
"Oh, maaf telah pulang terlambat dan juga dalam keadaan tidak baik-baik saja. Jujur aku butuh waktu untuk semua ini, kamu mau kan menemaniku melewati semua ini?" tanya nya lirih.
"Aku akan memberikan seluruh waktu yang Mas butuhkan sebanyak apapun itu! tapi aku mohon sekali saja pikirkan lah anak ini juga, kalau dirimu terus-terusan terjebak dengan masa lalu."
Ilham mendongak, mendengar ucapan Amel dan seketika ia langsung teringat dengan anak yang juga dikandung oleh mantan istrinya.
"Hm, maaf ini tak akan terulang lagi, hem!"
"Baiklah Mas mau ke kantor apa dirumah saja, hari ini jadwal ku untuk periksa kedokter?"
"Aku ijin lagi aja, nanti aku temani ke dokter ya?"
Amel mengembangkan senyum nya dan mengangguk, mengiyakan permintaan Ilham.
"Ya sudah aku siapkan sarapan dulu ya, Mas mandi dulu saja nanti kalau sudah selesai aku panggil untuk makan?" ucap Amel seraya berdiri meninggalkan Ilham yang masih duduk di atas tempat tidur.
Ilham menyugar rambutnya kasar, "Bodoh!" umpat nya, saat deyutan di kepalanya kembali menyerang.
Ilham bergegas masuk kedalam kamar mandi, guyuran air yang mengenai kepalanya sedikit menghilangkan rasa sakit yang masih terasa. Pikirannya kembali menerawang, mengingat kabar terakhir yang diterima, kalau mantan istrinya tengah mengandung anaknya juga. Dan kini Ilham kembali berpikir! bagaimana caranya untuk kembali bersama dengan sang mantan istri.
***
__ADS_1