
Matahari pagi, menerobos masuk lewat jendela kamar yang sedikit terbuka, cahaya nya mampu menyilaukan mata yang saat ini sedang terpejam.
Masih bergelung dengan selimut dan menikmati nyamannya tidur pagi, membuat ilham lupa dengan apa yang sudah ia lakukan tadi malam.
Ilham terbangun saat ia mendengar suara panci yang berjatuhan. Ilham mengerjapkan mata, memandang ke segala arah sebelum ia benar-benar membuka matanya. Ia terkejut mendapati dirinya polos tanpa busana dan sedang tertidur dikamar yang selalu dirindukannya.
Sekilas nampak ingatannya semalam, yang pulang dalam keadaan mabuk dan memaksa Hanum untuk melayaninya.
Ada air mata di wajah cantik istrinya itu, saat ia memaksakan diri untuk mencumbu sang istri.
Penyesalan kini jelas terlihat di benak Ilham, apakah sekarang dia menjadi seorang pemerkosa juga, walaupun yang ia paksa tak lain adalah istrinya sendiri.
Ilham berdiri dan langsung masuk kedalam kamar mandi, guna menyegarkan badan dan menghilangkan aroma alkohol yang masih tertinggal sedikit di badannya.
Ilham menyesal, alkohol memang harus di hindari bukan malah dicari saat pikirannya kalut dan kini akibat dari pengaruh alkohol itu, dirinya melakukan kesalahan untuk yang kesekian kalinya.
Ilham keluar dengan badan yang lebih segar dari yang sebelumnya, saat ia ingin mengambil baju yang masih ada di dalam lemari ia tertegun, saat melihat baju itu sudah rapi berada di atas tempat tidurnya.
Ilham terharu, bahkan setelah apa yang ia lakukan Hanum masih sangat perhatian dengan nya dengan tidak meninggalkan kewajibannya.
Ilham keluar dengan setelan baju kerja yang Hanum pilihkan, ia menatap Hanum sayang, saat mata mereka tak sengaja bertemu.
"Makan Mas?" tawar Hanum. Saat melihat Ilham keluar dari kamar mereka.
"Hm, terima kasih!" ucap ilham seraya mendudukan dirinya di kursi meja makan.
Ilham memandang Hanum yang masih sibuk melayani nya, Ilham merasa bahagia jika ini hanya mimpi ia berharap selamanya tak akan pernah terbangun, agar ia selamanya bisa menikmati perhatian dan kasih sayang istrinya itu.
Tapi saat ia mengingat permintaan amel, muncul kebimbangan dalam hatinya haruskah ia memilih sekarang, lalu pilihan apa yang akan dia pilih nantinya?
***
Amel mematut dirinya di depan cermin, memandang lama pada perut yang belum menampakkan bentuk itu.
"Akhirnya kita akan memiliki keluarga yang utuh ya sayang?" ucap Amel sembari mengelus perut ratanya.
"Mama berjanji, akan membuatmu hidup lebih layak dan lebih baik dari hidup Mama dulu, Mama akan menyingkirkan siapapun yang mencoba membuat hidup kita sengsara. Walau harus mengorbankan orang yang baik sekalipun." janji Amel dalam hati.
Amel mulai merencanakan apa yang akan ia lakukan seandainya ilham masih mengulur waktu untuk menikahinya secara sah baik agama maupun negara.
Hingga terlintas di dalam pikirannya untuk bertemu dengan sang ibu mertua. Yang selama ini belum pernah ia jumpai walaupun sekali dalam hidupnya.
__ADS_1
Amel bergegas merapikan diri untuk berkunjung kerumah ibu mertuanya dan berusaha mengambil simpati mereka.
***
Ilham menyelesaikan makannya dengan cepat dan bergegas untuk ke kantor, banyak pekerjaan yang menunggu dirinya akibat dari kelalaiannya waktu itu.
Tapi saat ia akan berangkat ia tak menemukan Hanum di dalam rumah, "Hanum kemana?" pikirnya.
Dan saat ilham berniat ingin mencari, ponsel di saku nya berdering.
Kring โฆ kring โฆ kring
Amel, nama itu terpampang di layar ponsel ilham, tak ingin berlama-lama ilham menjawab telpon nya.
"Hallo assalamu'alaikum!"
"Halo Mas kamu dimana?" tanya perempuan di seberang sana.
"Masih di rumah ini mau berangkat ke kantor! kenapa?"
"Hm, aku cuma mau bilang sama kamu kalau aku ingin pergi ke rumah mama, untuk memberitahukan kehamilanku!" ucap Amel.
"Mama!" ulang Ilham dengan alis yang saling bertaut.
Ilham yang mendengar ucapan Amel seketika panik luar biasa, bagaimana dia mau memberitahu orang tua nya! sedangkan Ilham sendiri belum menentukan keputusan apa yang akan ia buat.
"Kamu di mana sekarang?" tanya Ilham panik.
"Aku masih dirumah ini mau berangkat, Mas!"
"Tunggu disitu jangan kemana-mana oke, aku sebentar lagi sampai!" ucap Ilham sebelum mematikan sambungan telpon nya.
Ilham terburu-buru, niat hati ingin mengucapkan terima kasih kepada Hanum atas sikap baiknya, tapi terhalang gara-gara telpon yang membuatnya berpikir untuk lebih cepat meninggalkan rumah dan bertemu dengan istri keduanya.
Ilham tidak sempat berpamitan dengan Hanum, ia sangat terburu-buru bahkan ia melajukan kendaraan beroda empat itu dengan kecepatan di atas rata-rata.
Dan semua itu tak luput dari perhatian Hanum, yang diam-diam melihat semuanya dari jendela kamar yang semalam ia tempati.
Sesak tentu saja, tapi Hanum sudah bertekad untuk mengubur sisa cinta nya, walaupun sangat sulit ia lakukan.
Hanum kembali merapikan, baju dan perlengkapan lain yang belum sempat ia beres kan. Ia tidak ingin meninggalkan jejaknya sedikitpun di rumah ini. Rumah yang akan menjadi kenangan nya kelak.
__ADS_1
Ilham benar-benar melajukan kendaraannya dengan sangat cepat, yang ada di pikiran nya hanya satu jangan sampai Amel bertemu dengan kedua orang tuanya, sebelum ia menentukan keputusan nya untuk memilih siapa yang nanti akan ia tinggalkan.
Waktu setengah jam Ilham lalui hanya hanya dengan dua puluh menit dan saat ia sampai, Amel sudah menyambutnya di depan pintu rumah.
"Mas kesini mau sekalian jemput aku ya?" tanya Amel sumringah saat melihat Ilham berada di rumahnya.
"Hm, ada yang harus kita bicarakan!" ucap Ilham seraya menarik tangan Amel untuk mengikutinya masuk kedalam rumah.
"Mas, mau bicara apa penting banget kayaknya?"
"Duduklah!" titah Ilham.
Amel menurut dan duduk persis di samping Ilham.
"Aku minta kamu jangan dulu menemui mama!" ucap Ilham sambil menggenggam tangan Amel.
"Kenapa?" tanya Amel heran.
"Biar aku yang menjelaskan ke orang tuaku sebelum kamu datang menemuinya, nanti!"
"Iya Mas aku tau tapi kenapa, apa alasannya? kenapa kamu melarang aku untuk memberitahu kedua orang tuamu sekarang."
"Tolong beri aku waktu, hem! biarkan aku sendiri yang akan menjelaskan semua dan mengambil keputusan secepatnya, tolonglah!" ucap Ilham memohon.
Amel yang melihat wajah memelas Ilham, merasa tak tega dan akhirnya mengiyakan permintaannya. "Baiklah aku beri waktu sampai besok, Mas harus memberi keputusan sebelum aku sendiri yang akan mendatangi kedua orang tuamu dan meminta hak ku!"
Ilham mengangguk, "Hem, makasih sayang kamu mau memberi Mas waktu! Mas janji besok akan Mas kasih keputusannya?"
"Ya sudah, kita berangkat ke kantor bersama ya?" ajak Ilham.
"Iya, tapi sebentar aku ambil tas dulu!" ucap Amel seraya bangkit menuju kamar untuk mengambil tasnya.
Ilham menarik napas panjang, untuk saat ini ia selamat tapi bagaimana dengan esok hari, Ilham harus membicarakan masalah ini kepada Hanum terlebih dulu. Hanum harus tahu kalau Amel sudah mengandung anak nya, sebelum kedua orang tuanya tahu.
Amel keluar dari kamar dengan menenteng tas yang ia pakai untuk bekerja, "Ayo Mas?" ajak Amel memutus lamunan Ilham.
"Hm." jawab Ilham sembari bangkit dan berjalan keluar rumah bersama dengan Amel.
Banyak pikiran yang berkecamuk di benak Ilham, bagaimana caranya ia menjelaskan kepada Hanum tentang Amel, tapi kalau orang lain apalagi orang tuanya yang terlebih tau, Hanum akan lebih terluka nantinya. Ilham dilema apa yang harus ia lakukan?
***
__ADS_1
Maaf karena kemarin tidak sempat up karena waktu yang tidak cukup, tapi hari ini saya buat double up, semoga tidak kecewa ๐๐
Happy Reading.