Luka Hati Istri Pertama

Luka Hati Istri Pertama
Berbohong


__ADS_3

Guyuran air hujan yang deras ditambah suara petir yang bersahutan, memecah keheningan seseorang yang sedang menantikan janji kepulangan. Temaram dan dingin nya suasana ruang tamu tak lantas membuat perempuan itu menutup mata, menahan kantuk itu yang dia lakukan sekarang. Saat jam dinding mulai menunjukan pukul dua belas malam, tapi yang ditunggu pun tak kunjung datang.


"Kamu dimana Mas?" gumam Hanum.


Disisi lain, dua orang yang sedang bergulat dengan dingin nya udara didalam kamar, berbagi peluh dan nikmat bersama, saling mendesah dan menyebut nama satu sama lainnya dan saat gelombang nikmat itu didapat hanya ada satu nama yang kembali digumamkan, "Aku mencintaimu, Hanum."


Ilham lemas terkulai dan langsung tertidur, saat aktivitas yang begitu menguras tenaga telah selesai ia lakukan. Bersamaan dengan itu ada air mata seseorang yang jatuh, saat ia menggumamkan satu nama dan itu bukan nama nya, hati nya sakit bahkan di saat percintaan pertamanya dengan sang suami tapi nama perempuan lain yang dia ingat.


Amel beranjak dari pembaringan dan masuk kedalam kamar mandi, ia menangis, "Kenapa Mas bahkan saat bahagia kita pun hanya mbak Hanum yang kamu ingat," isaknya lirih.


Amel tak ingin berlarut dalam tangisan malam ini, karena ia yakin setelah malam ini, kebahagiaan itu akan segera terwujud saat apa yang diinginkan suaminya hadir didalam rahimnya. Amel berjanji saat bahagia itu datang hanya dia yang akan menjadi satu-satunya untuk Ilham dan sedikit demi sedikit ia akan menyingkirkan Hanum dari hidup Ilham.


***


Di kamar lain, saat Hanum yakin suaminya tidak akan pulang ia memutuskan untuk masuk kedalam kamar, udara dingin di luar mulai menusuk kulit yang ada di balik baju gamisnya. "Kamu mulai ingkar Mas," ucap Hanum dalam hati.


Pagi hari nya saat Ilham membuka mata, ia terkejut karena bukan Hanum yang ada di samping nya melainkan Amel istri barunya, dengan terburu-buru ia memakai pakaian nya yang tercecer di lantai dan tanpa pamit ia pergi meninggalkan Amel di rumahnya.


Ilham menyesali semua nya ia begitu terhanyut oleh gairahnya sendiri, hingga melupakan janjinya untuk pulang walaupun terlambat.


"aaarrgh, kenapa malah jadi begini," kesal Ilham sambil memukul kemudi mobil. Jalanan yang sepi memudahkan Ilham untuk sampai di rumah, bersamaan dengan Hanum yang sedang merapikan tanaman di depan rumah nya.


Ilham keluar dari dalam mobil dengan keadaan yang kacau, rambut juga bajunya terlihat berantakan.


"Dek …, " belum sempat Ilham berucap Hanum lebih dulu menyela.


"Masuklah Mas, mandi dulu segarkan badanmu dulu, setelah itu sarapan, makanan nya sudah siap di meja makan." ucap Hanum tanpa sekalipun menoleh kearah Ilham.

__ADS_1


Ilham merasa terpukul untuk pertama kalinya selama lima tahun membina rumah tangga, kedatangan nya tak mendapatkan senyuman dan malah mendapati bidadari hatinya membeku. Sikap nya dingin, sedingin wajah yang ia tunjukan pagi ini, tanpa senyum tanpa takzim, Ilham tersenyum kecut menyadari perubahan istrinya.


"Baiklah aku masuk dan mandi dulu." ucap Ilham lemas.


Setelah Ilham masuk kedalam kamar mandi guna menyegarkan badan, Hanum diam-diam mengekor di belakangnya dan menyiapkan pakaian kerja untuk suami nya, mungkin orang akan berpikir kalau Hanum itu bodoh sudah di dua kan tapi masih memilih untuk bertahan, menyimpan semua luka itu sendirian.


Kalau boleh memilih Hanum juga tidak menginginkan ini semua, terus bertahan pada kapal yang nahkoda nya sendiri sudah hilang tujuan, mempertahankan mahligai yang sebentar lagi akan karam.


Hanum bertahan karena baktinya, karena sumpahnya, sebelum Ilham yang melepaskan dirinya, dia akan terus bertahan. Hanum tau saat seorang istri meminta cerai dari suami tanpa alasan yang syar'i, maka dia tak akan pernah mendapat ridho-Nya. Dan disini lah Hanum menunggu suaminya berlaku tak adil padanya hingga suaminya sendiri yang akan melepaskan dirinya.


***


Ilham keluar dari kamar mandi, menatap baju yang sudah disiapkan Hanum diatas tempat tidur mereka, hati Ilham seketika menghangat mengingat Hanum masih perhatian kepadanya. Selesai berpakaian Ilham keluar dan di saat yang bersamaan Hanum telah selesai menyiapkan sarapan pagi nya.


"Dek … ," panggil Ilham.


"Dek, Mas minta maaf."


"Maaf untuk apa Mas?" tanya Hanum.


"Maaf untuk tidak pulang semalam, maaf telah membuatmu menunggu," ucap Ilham.


"Sesuai apa yang Mas bilang kemarin untuk tidak menunggu, aku tidak menunggu Mas jadi aku tidak tau kalau urusan yang Mas bilang itu benar-benar tidak bisa membuatmu pulang."


Jawaban dingin Hanum membuat Ilham terkejut, tak pernah Ilham sangka kalau Hanum bisa berubah menjadi sedingin ini padanya.


"Apa urusan yang kemarin Mas bilang sudah selesai, bagaimana dengan pembagian harinya Mas?" tanya Hanum.

__ADS_1


"Uhuk … uhuk … uhuk," Ilham tersedak dengan makanan nya sendiri, Hanum dengan telaten memberikan gelas yang berisi air putih untuk Ilham minum.


"Hati hati Mas makan nya," ucap Hanum sambil mengusap punggung suaminya.


"Iya Dek maaf."


"Masalah itu Amel sudah setuju dek sehari Mas disini, sehari disana!" jawab Ilham gugup.


"Oh."


"Ya sudah Dek, Mas berangkat kerja dulu ya sudah siang nggak enak sama papa," ucap Ilham mengakhiri obrolan pagi ini, karena ia tahu semakin lama berdua dengan Hanum maka akan lebih banyak kebohongan yang akan Ilham katakan. Dan dia akan semakin merasa bersalah pada bidadarinya.


"Iya Mas, yuk Hanum antar sampai depan."


Ilham menurut, masih dengan perasaan yang bersalah pada Hanum karena telah berbohong padanya, padahal ia sama sekali tak ingat untuk membahas pembagian hari. Semalam ia terlalu lelah setelah pertempuran panas nya dengan Amel, sehingga pagi-pagi ia pulang dengan terburu-buru, bahkan tanpa berpamitan dengan Amel.


Seketika ia menepuk kepala nya, ia lupa meninggalkan Amel begitu saja tanpa memberi tahu, Ilham hanya bisa berdoa semoga istri kedua itu tak marah padanya.


Hanum yang memperhatikan tingkah suami nya, hanya bisa memegang dadanya, ada organ yang bernama hati yang mulai merasakan sakit saat suami yang kini bersamanya tapi pikiran nya memikirkan orang lain.


"Hati-hati di jalan ya Mas," ucap Hanum saat Ilham sudah masuk kedalam mobil.


"Eh," Ilham gelagapan saat tertangkap basah Hanum sedang melamun, "Iya … Sayang, Mas berangkat ya kamu hati-hati di rumah."


Mobil melaju meninggalkan garasi rumahnya, Hanum terus menatap sampai badan mobil itu hilang di tikungan jalan rumah nya.


Hhhh, Hanum menghembuskan nafas kasar, "Kamu mulai berbohong Mas, semoga kebohongan mu ini nanti yang akan melepaskan ku dari belenggu rumah tangga kita yang mulai tak sehat ini mas," ucap Hanum dalam hati.

__ADS_1


***


__ADS_2