
Hari berganti hari, ketegangan antara Ilham dan Amel belum juga menemukan titik terang. Mau sekuat apapun amel merebut hati suaminya. Ilham seakan buta, ia sama sekali tak pernah memandang Amel yang seakan ada, hati dan pikiran nya selalu penuh dengan sang mantan istri dan anak yang sedang dikandungnya.
Suatu pagi, "Mas aku ingin bicara?"
Ilham hanya melenggang saat Amel berbicara padanya.
"Mas?" teriak Amel sembari mencekal pergelangan tangan Ilham.
"Apa maumu?" tanya Ilham dingin.
"Kita harus menyelesaikan semuanya Mas, kamu gak bisa bersikap begini sama aku?"
"Oh, sikap yang seperti apa?"
"Kamu berubah Mas, kamu sekarang menjadi orang yang sama sekali gak aku kenal?"
"Aku masih sama, ingat bukan aku yang memulai semua ini tapi kamu!!" tegas Ilham.
"Aku minta maaf!"
Ilham tersenyum merendahkan, "Maaf kamu bilang, semudah itu! setelah kamu menipuku gampang untuk mu meminta maaf?"
"Lalu aku harus apa Mas, aku tidak pernah menipumu. Anak ini benar anakmu Mas?"
"Buktikan kalau itu benar anakku!"
"Tunggu sampai dia lahir, aku pasti akan membuktikannya!" ucap Amel memelas, "Tapi sampai saat itu tiba, bisakah kita seperti dulu? aku merindukanmu Mas anak ini juga!" ucap Amel dengan berlinang air mata.
Ilham terenyuh untuk sesaat, wanita yang kini ada di depannya tampak sangat kacau dari yang terakhir ia lihat, badannya sedikit kurus tak terawat, apa benar dia juga mulai dzolim sama istrinya yang sekarang? tapi pikiran itu segera Ilham hilangkan, ego nya masih sangat besar bahkan untuk menghapus air mata istrinya ini pun sekarang ia enggan.
"Sampai saat itu tiba, lebih baik kita tetap seperti ini. Aku tak ingin kecewa untuk yang kedua kali seandainya anak itu benar bukan anakku!" ucap Ilham sembari melepas tangan Amel dan pergi meninggalkannya.
Amel kembali menangis, apa salahnya kenapa hidup nya jadi seperti ini. Apakah ini karmanya karena dulu pernah melukai hati kakak madunya? Amel merasa sangat menyesal dan saat ini ia berpikir untuk bertemu dengan mantan kakak madunya untuk sekedar meminta maaf.
"Iya aku harus meminta maaf sama Mbak Hanum, semoga dengan ini bisa mengurangi sedikit rasa bersalahku!" ucap Amel dalam hati.
Amel sudah menyerah, seandainya nanti Ilham akan pergi meninggalkannya! karena Amel tahu betul sifat Ilham yang tak mudah untuk dibujuk apalagi memaafkan kesalahan yang dia sendiri tak tau apa!"
****
Ilham kembali datang ketempat Hanum, setiap hari tanpa rasa bosan, walaupun Hanum jarang menemani nya untuk ngobrol dan berbincang ringan. Tapi hanya dengan menatapnya saja sudah membuat Ilham senang.
Saat sedang memperhatikan Hanum yang tengah melayani pembeli, Ardi datang dan duduk di depan Ilham. Kedatangan Ardi yang tiba-tiba membuat Ilham sedikit terkejut.
__ADS_1
"Sebenarnya apa mau Mas Ilham dengan selalu datang kemari?" tanya Ardi.
"Tidak ada, aku hanya ingin tahu kabar Hanum dan anak yang sekarang sedang dikandungnya!" jawab Ilham.
"Bukankah sudah jelas, kalau Mbak Hanum baik-baik saja dan sudah sangat bahagia sekarang! tapi kenapa Mas kembali datang, hanya untuk mengganggu Mbak Hanum."
"Mengganggu?" tanya Ilham.
"Ya, hanya dengan melihat Mas Ilham yang selalu muncul saja, itu sudah termasuk gangguan buat Mbak Hanum!" ucap Ardi tegas.
"Kamu …!" Ilham mengeratkan kedua tangannya, mencoba menahan amarahnya.
"Kalian sudah berpisah, lalu untuk apa lagi datang dengan alasan anak. Ingat Mas sampai kapanpun aku tak akan pernah mengijinkan Mbak Hanum untuk kembali padamu, apapun alasannya?" ucap Ardi tegas.
"Kakak ku mungkin naif, tapi aku tidak! jadi jangan mencoba untuk membodohi kakak ku lagi. Cukup sampai disini saja Mas, hentikan apapun yang kini sedang kau rencanakan, karena sampai kapan pun aku akan menentang itu!" ucap Ardi seraya meninggalkan Ilham dengan amarah yang menggebu.
Jam makan siang seperti biasa, rumah makan Hanum sangat ramai. Di antara para pelanggannya selalu tampak Doni dan Rani yang benar-benar setia karena selalu menyempatkan makan di tempat Hanum.
"Mbak?" tegur Doni saat melihat Hanum yang sudah mulai senggang.
"Iya Mas!" jawab Hanum.
"Bisa gak kita ngobrol bertiga, ada yang pengen saya katakan!"
Sesampainya di dalam, Hanum mempersilahkan Doni dan Rani untuk duduk. "Duduk Mas, ada apa ya?" tanya Hanum.
"Begini Mbak proposal yang kemarin saya janjikan, sudah di tanda tangani sama bos saya. Beliau setuju untuk bekerja sama dan kontrak yang diajukan perusahaan untuk catering itu selama tiga tahun Mbak!" ucap Doni menjelaskan.
"Alhamdulillah Mas, saya senang mendengarnya!" ucap Hanum bahagia.
"Hari ini sebenarnya bos ingin datang sendiri kesini, tapi berhubung anak perusahaan yang di luar kota ada masalah, jadi kesini nya di tunda dulu." ucap Doni memberitahu.
"Oh begitu, ya gapapa Mas kalau bos nya memang lagi sibuk!"
"Nanti kalau nggak Mbak Hanum datang ke kantor saja ya, untuk tanda tangan kontraknya?"
"InsyaAllah Mas akan saya usahakan, nanti Mas Doni tinggal kabari saya saja ya!"
"Baik Mbak, kalau begitu kami pamit dulu masih banyak pekerjaan yang belum selesai." pamit Doni.
"Iya Mas, Mbak terima kasih sebelumnya karena telah membantu saya!" ucap Hanum bersungguh-sungguh.
"Sama-sama Mbak."
__ADS_1
***
Berbekal alamat yang dulu ia punya, Amel pergi dari rumah tujuannya jelas, ia ingin meminta maaf sama mantan kakak madunya untuk mengurangi rasa bersalah di dalam dirinya.
Sesampainya di alamat yang dituju, Amel terkejut rumah yang dulu ditempati Hanum, nampak sepi bahkan seperti tak pernah di tinggali. Amel bolak-balik melihat nomor rumah tapi tidak ada yang berubah masih tetap sama.
Hingga suara teguran dari tetangga yang kebetulan lewat, membuatnya tersadar dari lamunan. "Mbak nyari siapa?"
"Eh, ini Bu!" ucap Amel sembari menyodorkan alamat yang ada di tangannya.
Si Ibu yang tidak diketahui namanya ini melihat alamat yang ditujukan Amel. "Iya benar, itu rumahnya!" tunjuk si Ibu.
"Tapi kok kelihatannya kosong ya Bu?" tanya Amel.
"Memang kosong neng, bu surti sudah pindah ketempat yang lebih besar, usahanya kan sekarang berkembang pesat." jawab si Ibu.
"Oh, begitu ya Bu. Kira-kira Ibu tahu nggak ya bu surti pindah kemana?"
"Saya gak tau neng, soalnya belum pernah ikut kesana. Tapi … !"
"Tapi apa Bu?" tanya Amel penasaran.
"Kemarin ada juga laki-laki yang nanyain bu surti pindah kemana, tepatnya bukan nanyain bu surti tapi anaknya yang bernama hanum."
Amel terkejut, "Laki-laki Bu, seperti apa orangnya? tanya Amel penasaran.
"Ganteng neng, orang nya tinggi juga putih."
Tangan Amel gemetar saat si Ibu menyebutkan ciri-ciri laki-laki itu dan tanpa sengaja Amel mengeluarkan ponsel dan menunjukan foto sang suami kepada si Ibu ini.
"Apa ini orangnya Bu?" tanya Amel.
"Nah iya, si ganteng ini yang nyariin anaknya bu surti."
Bagai disambar petir saat Amel mengetahui kenyataan ini, pantas suaminya berubah ternyata diam-diam dirinya masih berharap kepada sang mantan istri.
Amel meremas ponsel yang ada di tangannya, niat hati ingin datang meminta maaf tapi kenyataan yang didapatnya, lebih dari cukup untuk membuatnya merasakan kesal yang luar biasa.
"Ya sudah saya pamit ya Bu, terima kasih untuk infonya."
"Sama-sama neng!"
Amel pergi meninggalkan rumah Hanum, pikirannya kacau. Ternyata dirinya telah dibohongi oleh sang suami berbulan-bulan lamanya. Tanpa terasa Amel mengepalkan kedua tangannya. "Ini belum selesai Mas, kita lihat nanti aku atau mbak hanum yang nanti akan kamu pilih." monolog Amel.
__ADS_1
***