Luka Hati Istri Pertama

Luka Hati Istri Pertama
Bahagia itu kamu.


__ADS_3

Waktu berlalu dengan begitu cepat, kebersamaan yang terjalin antara Hanum dan Sakha semakin menunjukan kemajuan. Sudah tiga bulan tepatnya setelah ijab sah itu dilaksanakan. Kini keduanya duduk berdua, melihat hiruk pikuk nya pemandangan Kota Jakarta dari lantai atas kantornya.


Tangan Sakha menggenggam lembut tangan Hanum, sambil tersenyum manis dia berkata. "Terima kasih sudah datang, padahal kamu sedang repot-repotnya kan?"


Hanum menyambut tangan Sakha. "Aku kesini kan memang sengaja Bang, aku tahu kamu akhir-akhir ini selalu sibuk bahkan makan pun kamu mulai jarangkan?" tebak Hanum.


Sakha menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, "Maaf, bukannya jarang hanya kadang lupa kalau sudah duduk di situ!" tunjuk Sakha dengan dagunya.


Hanum mengikuti arah yang ditunjuk Sakha, "Alasan kamu aja Bang, ingat kamu sudah punya anak sama istri. Tolong jangan sampai sakit, hem?" Hanum mengusap lembut tangan Sakha yang kini di genggamnya.


Sakha yang kembali diingatkan kalau sudah memiliki anak dan istri merasa sangat bahagia. "Maafkan suamimu ini ya istriku?" Goda Sakha pelan.


Hanum pun tersipu malu, saat Sakha dengan jelas memanggilnya dengan sebutan istriku. Dan tanpa disadari Hanum, kini Sakha telah berdiri di belakang tubuhnya dan memeluknya dari belakang. "Terima kasih sudah mau menjadi istri dari lelaki yang gila kerja ini ya? Aku harap kamu tak akan pernah bosan denganku dan dengan segala kesibukanku?" ucap Sakha sambil menyandarkan dagunya di bahu Hanum.


Lagi-lagi Hanum berdebar mendapat perlakuan manis dari Sakha. "Iya Bang, aku mengerti!" Dan disaat yang bersamaan mata mereka bertemu saat Hanum menatap wajah Sakha. Entah siapa yang memulai lebih dulu, tapi kini keduanya berpagut mesra menyalurkan rasa yang membuncah di dalam hati masing-masing.


Sakha menyudahi ciumannya dan menempelkan dahinya, saat menyadari Hanum hampir kehabisan nafas saat berciuman dengannya. "Maaf?" kekeh Sakha sambil mengusap bibir yang tiga bulan ini menjadi candu nya.


Hanum mengangguk pelan, malu itu yang selalu dirasakannya saat keintiman antara dirinya dan Sakha mulai terjalin. "Maaf ya Bang, baru sebatas ini?" ucap Hanum sedikit menyesal.


Sakha mengusap kepala Hanum, "Segini juga sudah cukup, bisa duduk berdua sama kamu dan saling menggenggam aja udah buat aku bahagia. Jadi jangan berpikir yang aneh-aneh ya? Aku tahu kalau sudah saat nya kamu siap, kamu akan datang sendiri padaku?"


"Terima kasih Bang?" ucap Hanum sembari memeluk Sakha.


"Kenyamananmu itu yang penting buatku, jadi aku mohon jangan terlalu terbebani dengan kewajiban yang belum bisa kamu lakukan, oke?"


Hanum mengangguk haru, baru kali ini dia menemukan lelaki yang tidak memaksakan kehendaknya. Selama menikah dengan Sakha, Hanum memang belum melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri di atas tempat tidur. Bukannya tidak ingin, bayang-bayang masa lalu dan menyesuaikan keadaan dirinya yang baru, membutuhkan banyak persiapan tak hanya raga tapi juga mentalnya.


Hanum mengurai pelukannya, "Abang makan dulu ya, sebelum lanjut kerja lagi!" tawar Hanum sembari menyiapkan semua makanan yang dibawanya dari rumah.


Sakha beranjak dan duduk disamping Hanum, sambil menikmati makanan yang sudah dibawakan istri tercintanya itu.


"Kamu pulang bareng sama Abang ya, Han?" tanya Sakha disela aktivitas makannya.

__ADS_1


"Hanum pulang sendiri Bang, nanti mau mampir ke panti asuhan sebentar untuk memberikan perlengkapan anak-anak panti!"


Sakha mengangguk, "Ya sudah tapi hati-hati ya? Jangan lupa kasih kabar kalau sudah sampai rumah. Hari ini Abang gak lembur jadi bisa pulang lebih cepat?"


"Iya, nanti mau dimasakin apa untuk makan malamnya Bang?"


"Apa aja yang kamu masak Abang pasti makan!" jawab Sakha disertai kerlingan matanya.


Hanum tersipu malu, mendapati sikap Sakha yang jauh dari kata dingin yang selama ini disandang nya. Sakha yang sekarang adalah Sakha yang hangat, romantis dan sedikit genit. Saat berdua bersama dengan Hanum, Sakha tak hanya pandai menggoda tapi juga sangat pandai merayu, hingga kini Hanum sedikit demi sedikit mulai bisa membuka hatinya untuk Sakha.


Hanya sedikit menunggu waktu yang pas, hingga dua hati menyatu. Dan menjadi sejarah baru dalam hidup pasangan suami istri itu.


Sakha menyudahi acara makan siang nya dan membantu Hanum membereskan sisanya. Setelah semuanya selesai Sakha berniat mengantar Hanum keluar dari kantornya. "Abang mau kemana?" Hanum bertanya saat melihat Sakha mengikuti dirinya dari belakang.


"Aku ingin mengantar kamu sampai lobi kantor sayang?"


Hanum berhenti sejenak dan menatap Sakha dalam. "Abang gak perlu mengantar Hanum, pekerjaan Abang banyak lebih baik selesaikan itu saja dan cepat pulang, hem?" bujuk Hanum.


Hanum menggelengkan kepalanya melihat sikap Sakha yang seperti ini. Mungkin ini yang dibilang orang-orang, saat kamu benar-benar mencintai seseorang dengan sangat dalam, bahkan melihatnya pulang saja hatimu akan merasa kosong. Begitu juga yang saat ini dirasakan Sakha. Melihat Hanum yang akan pulang saja hatinya merasa tak rela.


Hanum terkekeh pelan. "Aku hanya pulang kerumah Abang, bukan pergi berperang jadi Abang gak perlu mengantar Hanum sampai pintu depan. Cukup sampai disini saja ya?" bujuknya pelan.


Bukannya Hanum tak ingin di antar Sakha, tapi kejadian beberapa hari yang lalu yang membuat Hanum sering menundukan wajah saat bertemu dengan bawahan Sakha di bawah. Malu itu yang Hanum rasakan saat Sakha tiba-tiba menciumnya di depan umum dan berkata "Hati-hati sayang." dengan suara yang begitu lantang. Membuat semua orang menoleh tak percaya melihat Sakha yang begitu memujanya.


"Ya sudah kalau kamu mau nya begitu, tapi boleh gak Abang minta sesuatu sebelum kamu pulang?"


Kedua alis Hanum bertaut, mendengar permintaan Sakha. "Abang minta apa?" tanya Hanum dengan heran.


"Boleh cium Abang sebelum kamu pulang? Biar Abang tambah semangat kerjanya!" Lirih Sakha.


Hanum terkejut dan tanpa menjawab, Hanum mendaratkan kecupan di pipi Sakha. "A-aku pulang Bang, Assalamu'alaikum!" Hanum berlari kecil menjauh dari Sakha. Hanum merona malu, walaupun yang ia cium suaminya sendiri, tapi sebelumnya Hanum belum pernah melakukan itu.


Sakha memegang pipi kanan nya yang di cium Hanum, rasa bahagia itu membuncah di hatinya. "Sedikit lagi, aku pasti bisa membuat hatimu seutuhnya untukku?" ucap Sakha dengan senyum yang terus tersemat di bibirnya.

__ADS_1


Sesampainya di dalam mobil, Hanum memegang dadanya yang berdetak lebih kencang dari yang sebelumnya. Untuk pertama kalinya Hanum merasakan debaran itu lagi, debaran yang telah lama hilang dari hati dan juga pikirannya. "Apa aku mulai mencintainya?" ucap Hanum dalam hati.


****


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Ilham saat melihat Amel duduk termenung sambil menatap jendela kamarnya.


Amel mendongak, "Aku baik tapi kelihatannya susah sembuh ya Mas?" Pertanyaan Amel sedikit menohok perasaan Ilham.


"Kenapa kamu bicara seperti itu?"


"Aku hanya merasa seperti itu Mas, saat aku bisa melupakan semuanya. Kenangan itu kembali hadir dan membuatku kehilangan diriku sendiri, rasa marah dan kecewa itu terus hadir disini?" tunjuk Amel tepat di dadanya.


"Karena itu aku mohon lupakan semuanya, agar kamu tetap baik-baik saja?"


"Apa aku bisa Mas?" tanya Amel balik sambil menatap Ilham.


"Kita akan memulai lagi hidup baru, setelah kamu sembuh. Bukankah itu yang selalu kamu inginkan?" tanya Ilham sambil membelai rambut Amel pelan.


Bukan nya menjawab Amel kembali melempar pertanyaan. "Seandainya aku tak bisa sembuh, apa kamu akan meninggalkan ku?"


"Aku tak akan pernah meninggalkanmu sendirian itu janjiku. Jadi aku harap kamu bisa cepat sembuh, oke?"


Amel tersenyum mendengar janji lelaki yang begitu dicintainya itu. "Tapi Mas, kalau seandainya memang aku gak bisa sembuh sepenuhnya, kita pulang saja ya? Aku mulai jenuh disini dan mulai tak nyaman. Kita jalani hari-hari kita dirumah saja. Seperti dulu?"


Ilham memeluk Amel erat, "Aku yakin kamu pasti bisa sembuh sepenuhnya, kita akan mencoba bersama-sama. Tapi kalau seandainya tak bisa pun kita akan tetap bersama-sama!"


Amel semakin erat memeluk Ilham, seandainya waktu bisa berhenti saat ini, cukup hanya dirinya dan Ilham saja. Biarlah luka dan masa lalu itu tertutup dengan sendirinya, jika dengan pengobatannya bisa membuatnya tetap disisi Ilham dia akan melakukan itu semua. Tak peduli jika suatu hari nanti dirinya akan kehilangan jati dirinya, seandainya kesembuhan itu sangat jauh untuk diraihnya.


****


Note: Depresi masih bisa diobati selagi pemicu nya tidak ada ya ka. Orang yang depresi itu tak serta merta seperti orang gila yang benar-benar kehilangan kewarasan. Pemicu depresi sangat banyak dan bisa berangsur sembuh selama didampingi oleh orang-orang yang peduli dengan si penderita, jadi sampai disini semoga tidak ada pertanyaan kenapa Amel kadang seperti orang waras, kadang juga seperti orang yang kehilangan akal. Selama pemicu nya tidak ada, Amel akan baik-baik saja begitu juga sebaliknya. ๐Ÿ™๐Ÿ™


Happy Reading kak ๐Ÿ˜Š๐Ÿ™๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2