
Seminggu setelah kedatangan Ilham dari luar negri, sekarang Ilham berada tepat di rumah makan Hanum. Tempat yang hampir setahun ini ia rindukan, tempat yang selalu ada di pikirannya. Karena disinilah buah hati yang selama ini ia rindukan berada.
Dengan langkah mantap Ilham masuk kedalam, suasana pagi yang hampir mendekati siang itu tak membuat banyak orang sadar akan keberadaannya. Hingga ucapan seseorang yang menanyakan mau pesan apa, membuatnya mengalihkan pandangan.
"Maaf Mas, mau pesan apa?"
Ilham menggeleng pelan, "Maaf Mbak, saya boleh ketemu sama Hanum?"
Sang pramusaji sedikit terheran, saat lelaki yang ada di depannya ini menanyakan anak dari pemilik usaha yang menjadi tempatnya mencari rezki.
"Maaf kalau boleh tahu Bapak siapa ya, nanti saya sampaikan?"
"Nama saya Ilham Mbak, tolong ya saya ada perlu?"
"Baik Pak, tunggu sebentar ya!"
Sambil berharap-harap cemas, Ilham berjalan mondar-mandir sambil menatap mainan yang ia bawa sebelumnya.
Tak lama menunggu, sosok yang ditunggu tak kunjung hadir. Malah saat ini yang datang dan menemuinya adalah mantan mertua nya.
Ilham berjalan mendekati sang mantan mertua dan berniat untuk menjabat tangan sebagai bentuk sopan santun. Tapi dengan dingin, sang mantan mertua hanya melihat, tanpa berniat untuk menyambut uluran tangan dari mantan menantunya itu.
"Untuk apa kamu datang kemari?" tanya Bu Surti tanpa basa-basi.
Ilham tertegun mendapat pertanyaan dari sang mantan mertua, yang terdengar sedikit ketus.
"Ilham ingin bertemu dengan Reyhan Bu, apa Reyhan nya ada?"
"Reyhan gak ada, dan Ibu harap kamu tidak pernah datang kemari lagi!"
__ADS_1
Ilham yang masih bingung hanya diam, sambil mencerna semua perkataan dari mantan mertuanya ini.
"Maksud Ibu apa? Kenapa saya dilarang kesini untuk bertemu dengan anak saya dan kemana Reyhan?" tanya Ilham dengan raut wajah yang sedikit kebingungan.
"Oh, kamu masih ingat kalau punya anak? Selama ini kamu kemana, pergi tanpa memberi kabar? Seolah-olah Reyhan itu tak pernah ada?"
"Saya …!"
Ilham belum sempat menjelaskan, tapi kata-kata yang keluar dari bibir Bu Surti sedikit memberinya tamparan.
"Kalau kamu kesini hanya untuk membuat Reyhan kembali sakit, mending kamu pergi jauh-jauh. Cukup sekali saja kamu membuat luka di hati anak kecil itu dan jangan kamu tambahi lagi. Karena kini baik Reyhan maupun Hanum, mereka sudah sangat bahagia dengan hidupnya sekarang tanpa ada kamu di dalamnya."
Ilham menggeleng tak percaya, "Apa maksud Ibu sebenarnya, Ilham sungguh tak mengerti Bu?"
"Pergilah dan jangan pernah datang lagi kesini. Karena kamu tidak dibutuhkan lagi." ucap Bu Surti sambil berlalu pergi.
Ilham berusaha mendekati Bu Surti dan masih mencoba untuk bertanya, "Bu tunggu sebentar, jelaskan dulu sama Ilham Bu. Ilham jauh-jauh kesini karena ingin memberikan mainan untuk Reyhan Bu dan Ilham juga merindukan Reyhan?"
Belum habis rasa terkejut dan rasa bingung yang hinggap di hatinya. Kini Ilham kembali dihadapkan dengan kenyataan baru, mengenai anak semata wayang nya.
"Papa?" monolog Ilham dalam hati. Apa yang Ilham lewatkan selama ini sampai-sampai dia tidak tahu maksud dari perkataan sang mantan mertua.
Ilham masih mencoba untuk masuk dan mencoba untuk bertanya kembali. Tapi penolakan yang jelas-jelas ditunjukkan oleh sang mantan mertua, membuatnya mengurungkan niat untuk kembali masuk kedalam.
Dengan langkah gontai, Ilham keluar dari dalam rumah yang di khususkan untuk tempat tinggal sang pemilik. Sesampainya di luar, Ilham menatap nanar mainan yang sengaja ia beli untuk sang anak.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang sudah aku lewatkan selama ini?" ucap Ilham dalam hati sambil terus menatap tempat tinggal Hanum.
Ilham menyugar rambutnya kebelakang, "Aku harus tanya sama mama, mungkin mama tahu apa yang aku tak tahu!" ucap Ilham sambil meraih kunci mobil yang ada di dalam saku celananya.
__ADS_1
Sesampainya di area parkir, Ilham tak sengaja bertemu dengan Ardi. Ini pertemuan pertamanya, setelah pergi hampir setahun lamanya.
Ilham melihat Ardi yang berjalan sambil menelpon. Sayup-sayup Ilham mendengar suara kecil Reyhan, yang tengah tertawa saat berbicara dengan Ardi.
Ilham dengan langkah cepat datang dan menghampiri Ardi, yang juga terkejut saat melihat Ilham berdiri didepannya.
"Apa itu Reyhan?" tanya Ilham pelan.
"Nanti kita sambung lagi ya sayang, om ketemu teman dulu oke?" ucap Ardi mengakhiri panggilannya.
"Ok, Om dadah!"
Klik.
Ardi memasukan ponselnya kedalam saku dan menatap Ilham heran. "Apa yang Mas lakuin disini?" tanya Ardi balik.
"Jawab dulu pertanyaan ku, apa itu Reyhan?"
Ardi masih bungkam, ia tak ingin menjawab pertanyaan Ilham. Hingga suara Ilham yang sedikit menyentak membuat Ardi menyunggingkan senyum sinis.
"Jawab Ar, itu Reyhan kan dimana dia sekarang?" cecar nya lagi.
"Iya, kalau itu Reyhan kenapa memangnya Mas?" tanya Ardi balik. "Kenapa baru sekarang kamu nanyain Reyhan, kemana aja kamu selama ini? Saat Reyhan butuh, kamu malah gak ada. Sekarang disaat Reyhan udah gak butuh kamu lagi, kenapa sekarang baru nanya?" ketus Ardi.
Ilham membisu, ingin rasanya menjawab semua pertanyaan Ardi. Tapi saat Ilham ingin mengatakan sesuatu, tenggorokanya seperti tercekat hingga susah untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Maaf!" lirih Ilham.
"Maaf mu bukan buatku Mas, karena aku gak butuh itu. Bahkan dari awal pun aku sudah jelas-jelas menolak saat dirimu mendekat lagi dengan alasan anak. Tapi syukurlah karena satu kesalahan mu itu, akhirnya kakak dan keponakanku bisa bahagia sekarang tanpa bayang-bayangmu lagi." ucap Ardi sambil berlalu meninggalkan banyak pertanyaan di pikiran Ilham.
__ADS_1
****