Luka Hati Istri Pertama

Luka Hati Istri Pertama
Curiga


__ADS_3

Tok … tok … tok


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, masuk Ar kamu dari mana aja tadi bilang sudah di jalan kok sekarang baru sampai rumah mbak?" tanya Hanum.


"Sebenarnya Ardi udah berangkat dari tadi Mbak, tapi si tio ngajakin ke Mall dulu beli bahan untuk tugas besok."


"Oh, kirain kamu gak jadi kesini jemput Mbak."


"Jadi dong, nanti kalo bukan aku yang jemput, Mbak Hanum bisa di godain laki-laki yang terpesona dengan kecantikan bidadari surga yang turun dari kayangan." goda Ardi.


"Ih, kamu apa-apa sih! aku ini Mbakmu lho bukan gadis single di luar sana," ucap Hanum sambil tergelak karena gombalan adik nya.


"Dibilang gak percaya Mbak nih."


"Iya … iya, Mbak percaya kalo kakak nya gak secantik ini mana mungkin adek nya bisa ganteng begitu," balas Hanum menggoda.


Dan akhirnya kedua kakak beradik itu tertawa bersama dengan candaan yang sangat absurd.


"Ehem," deham Ardi menyudahi candaan bersama kakak nya.


"Mbak, mas ilham kemana?"


"Lho, ini kan hari kerja pastinya mas mu itu ke kantor, ada apa Ar?" tanya Hanum balik.


"Gak aja, Mbak mau kerumah ibu udah ijin sama mas ilham belum mbk? tanya Ardi lagi.


"Sudah, Mbak sudah ijin sama mas ilham cuma masmu gak bisa nganterin karena banyak pekerjaan katanya."


"Oh," jawab Ardi sambil menganggukan kepala.


"Mb … mb ...Mbak."


"Kamu kenapa Ardi, mbak mbak tapi gak bilang apa-apa, kamu mau bicara apa? tanya Hanum yang gemas dengan tingkah adik semata wayang nya itu.


"Hmm, gak jadi deh Mbak nanti saja kalo Ardi ingat, sekarang Ardi lupa." jawab Ardi sambil memperlihatkan cengiran khasnya.


"Ya sudah kalau gitu Mbak bersiap dulu ya, kamu tunggu disini." ucap Hanum sambil berlalu pergi meninggalkan Ardi sendirian di ruang tamu.


"Hm."


Hanum berlalu dan masuk kedalam kamar menyiapkan kembali apa yang harus dibawa saat akan pergi kerumah ibunya.

__ADS_1


Sedangkan Ardi yang berada di ruang tamu, sedikit tertegun memikirkan yang tadi sempat ia lihat saat berada di mall. "Kalau kata Mbak Hanum mas ilham ke kantor, trus tadi yang ku lihat di mall siapa kenapa wajah dan postur tubuh nya mirip banget sama mas ilham?" tanya Ardi dalam hati.


Hanum yang sudah selesai berkemas bingung melihat Ardi yang terlihat tengah asik memikirkan sesuatu, sampai-sampai alisnya bertaut jadi satu.


"Kamu lagi mikirin apa Ar, kok sampai serius begitu?" tanya Hanum penasaran.


"Eh ng … nggak Mbak," jawab Ardi gelagapan karena tertangkap basah tengah melamun.


"Cie mikirin pacar ya, memangnya ada yang mau sama kamu?" ejek Hanum.


"Ih Mbak, jelas banyak lah yang suka sama Ardi, secara Ardi kan mirip orang Taiwan, siapa itu yang ikut jadi anggota boyband di Korea yang kemarin ikut iklan kopi di Indonesia?" tanya Ardi menggebu-gebu.


"Siapa? Mbak gak tau ya Ardi, Mbak kan gak pernah nonton," ucap Hanum meledek adik nya.


"Ish, Mbak mah gitu! itu lho Mbak yang fansnya banyak." ucap


Ardi sambil berpikir keras.


Hanum yang melihat tingkah adik nya hanya tergelak, "Ya udah mikir nya, jangan sambil mondar-mandir begitu, yang ada kamu gak ingat-ingat malah lelah karena bolak-balik kaya setrikaan." ucap Hanum sambil tertawa.


Setelah sekian lama berpikir akhirnya Ardi ingat juga nama si artis ini. "Ah, iya aku ingat Mbak nama nya tuh Lukas Wayv." ucap Ardi berbinar karena sudah berhasil mengingat nama artis yang wajah nya sebelas duabelas mirip dengan nya itu.


Dan Hanum hanya tergelak melihat tingkah adik nya yang semakin absurd, "Ya sudah kalo udah ingat dan jadi gak kita ke rumah ibu, hari semakin siang lho Ar?"


Ardi yang merasa bahagia karena baru saja mengingat artis favorit nya, terpaksa harus menepuk jidatnya sendiri. "Ah iya, ayo Mbak kita berangkat nanti ibu marah lagi karena Ardi kelamaan jemputnya." Tapi saat akan melangkah keluar dari pintu, sepintas Ardi menatap kakak nya dengan pandangan heran. "Mbak, mau menginap?"


"Itu lho Mbak," tunjuk Ardi dengan dagu nya.


Terlihat sebuah tas lumayan besar yang sudah tergeletak di depan rumah.


"Oh, itu baju-baju Mbak yang sudah lama tak terpakai, tapi masih bagus dan rencananya mau Mbak sumbangkan sama orang yang lebih membutuhkan." ucap Hanum.


"Oh, ya sudah sini Mbak Ardi saja yang bawa, sekalian nanti pilihin baju-baju Ardi juga ya? biar sekalian kalo mau di sumbangkan."


"Iya, ya sudah ayo kita berangkat sebelum hari semakin panas," ajak Hanum.


Perjalanan dari rumah sampai ke tempat orang tua Hanum sebenarnya tak begitu jauh, hanya memakan waktu satu jam, bahkan sendiri pun Hanum bisa, hanya saja sang adik dan suami tak pernah memberikan ijin Hanum untuk pergi kemana pun sendirian, mereka terlalu takut jika terjadi sesuatu dengannya.


Dulu pernah terjadi sekali, karena berniat ingin menolong orang di jalan, Hanum hampir saja tertabrak pengendara motor yang ugal-ugalan tapi saat itu untung ada seorang laki-laki yang menolong nya! sehingga Hanum hanya mengalami luka kecil dan tak sampai membahayakan dirinya.


Dan mulai saat itu mau sesibuk apapun Ilham, dia selalu menyempatkan diri mengantar Hanum bepergian tapi, semenjak pernikahan keduanya Ilham hanya punya waktu yang terbatas untuk Hanum, bahkan semenjak pembagian hari waktu itu Ilham mulai jarang punya waktu untuk Hanum.


Ardi menghentikan laju sepeda motornya, saat kendaraan beroda dua itu sampai di pekarangan rumah ibu nya.

__ADS_1


"Mbak ayo turun." ucap Ardi. Tapi yang di bonceng masih asik melamun walaupun suara kendaraan nya sudah lama mati.


"Mbak … mbak … mbak."


"Eh," Hanum tersentak mendengar panggilan Ardi.


"Mbak mau terus nangkring sambil melamun atau mau masuk kerumah ketemu ibu, kaki Ardi sudah mulai pegal nih Mbak," ejek Ardi.


"Iya … iya bawel banget sih," cebik Hanum.


Dan Ardi hanya tergelak melihat kakaknya mencebik sambil melangkah masuk kedalam rumah. "Jangan ngambek Mbak nanti cantiknya luntur lho? hahahaha." kelakar Ardi.


Hanum tak menggubris candaan adiknya dan ia berjalan masuk kedalam rumahnya. "Assalamualaikum, bu."


"Waalaikumsalam, akhirnya kamu sampai juga kenapa lama Nak?" tanya Bu Surti.


"Ardi Buk yang tadi telat jemput Mbak, karena Tio ngajakin nyari bahan tugas buat sekolah besok," ucap Ardi menjelaskan.


"Oh Ibu kira terjadi sesuatu di jalan, ibu sedikit khawatir! akhir-akhir ini perasaan ibu selalu tak enak."


"Ibu kenapa, Ibu sakit?" tanya Hanum mendekati Ibunya.


"Tidak Nak, hanya sedikit perasaan sedih saja tapi ibu gak tau kenapa?"


"Istighfar bu, itu hanya perasaan semoga tak akan terjadi apa-apa." ucap Hanum menenangkan.


"Kamu hari ini menginap Num?"


"Tidak bu, nanti mas ilham nyariin Hanum, tadi Hanum hanya pamit kesini sebentar saja."


"Ya sudah tapi lain kali menginap ya, ajak ilham sekalian ibu sudah lama tak bertemu dengannya?"


"InsyaAllah, Bu."


"Ya sudah kamu istirahat dulu, nanti sore kita berangkat ke Panti Asuhan untuk memberikan baju-baju ini sekalian rejeki lebih yang kita punya."


"Iya bu, ya sudah Hanum masuk kedalam kamar dulu ya bu," pamit Hanum.


"Ya sudah sana, kamu sudah makan belum kalau belum makan dulu Num?" ucap Bu Surti.


"Sudah Bu, Hanum langsung istirahat saja ya."


"Hmm, ya sudah sana!"

__ADS_1


Hanum berjalan ke arah kamarnya yang dulu, kamar yang penuh kenangan sebelum pernikahan nya dengan ilham. Kamar yang menjadi tempat ternyaman dalam hidupnya. Hanum merebahkan diri di ranjang kesukaan nya memandang langit-langit kamar, memikirkan semua kisah hidupnya bersama keluarga dan suaminya, Hanum berharap kalau semua akan terus baik-baik saja.


***


__ADS_2