Luka Hati Istri Pertama

Luka Hati Istri Pertama
Sah Bercerai


__ADS_3

Hanum menunggu dengan gelisah, itu terbukti dari tangannya yang tidak berhenti meremas satu sama lain nya.


Hingga genggaman di tangannya, mengalihkan pikirannya untuk sejenak. Ardi menggenggam tangan Hanum erat, seolah-olah ia tengah menyalurkan kekuatan lewat genggaman itu, Hanum tersenyum dan mengangguk meyakinkan kalau semua akan baik-baik saja.


Hanum tiba di pengadilan agama lebih cepat dari jadwal yang ditentukan, bukan karena ia terburu-buru untuk bercerai. Hanya saja jarak rumah dan pengadilan nya cukup jauh kalau ditempuh dengan naik sepeda motor. Terlebih kalau jalanan nya macet, kemungkinan Hanum bisa terlambat untuk datang.


Jam menunjukan pukul sembilan lebih tiga puluh menit dan jadwal sidang perceraian nya di jam sepuluh pagi. Masih ada waktu untuk Hanum menenangkan diri sebelum duduk di kursi pesakitan untuk setiap pasangan yang memutuskan untuk berpisah.


Suara ketukan sepatu yang beradu dengan lantai, sejenak mengalihkan perhatian Hanum. Ia kenal dengan jelas langkah kaki siapa yang berjalan ke arahnya. Jantung Hanum berdetak lebih cepat saat melihat lelaki yang berdiri tidak jauh dari tempat nya duduk.


Sejenak mata mereka beradu pandang, menyampaikan kalau banyak rindu yang terpaksa tertahan karena keadaan yang tidak memungkinkan, untuk kembali bersama-sama berbagi perasaan.


Tatapan sendu itu, mewakili semua perasaan lelaki yang kini mulai mengambil duduk, di kursi depan wanitanya duduk.


"Apa kabarmu?" sapanya ramah.


"Alhamdulillah sehat Mas, kamu sendiri?" tanya Hanum balik.


Walaupun tanpa ditanya, Hanum jelas melihat bahwa lelaki yang sebentar lagi akan menjadi mantan suami itu, nampak tak terurus dengan wajah yang sedikit tirus. "Apa kamu gak bahagia Mas?" gumam Hanum dalam hati.


"Hm, aku baik-baik saja!" ucap Ilham, "Tapi tidak dengan hatiku setelah tanpamu!" lanjutnya dalam hati.


"Alhamdulillah kalau begitu Mas!"


Saat sedang bertanya kabar, muncul kedua orang tua Ilham dan juga istri sirinya yang tiba-tiba ikut bergabung dengan mereka.


"Hanum!" panggil Bu Suryo.


"Mama!"


Bu Suryo berjalan menghampiri dan memeluk Hanum erat, isakan lirih mulai terdengar di sela-sela pelukan. "Mama merindukanmu?" ucapnya lirih.


Hanum pun tak kuasa untuk tidak meneteskan air mata, "Hanum juga Ma, Mama sehatkan?" tanya Hanum sembari mengurai pelukannya.


"Mama sehat Num, kamu sendiri bagaimana kenapa tidak pernah menelpon Mama?"

__ADS_1


"Alhamdulillah Hanum juga sehat Ma, Hanum sekarang sudah ada kesibukan sendiri Ma jadi mulai jarang punya waktu!"


"Alhamdulillah setidaknya kamu tidak terus berlarut dalam kesedihan."


"Iya, Ma."


Tatapan Hanum pindah ke ayah mertuanya yang juga turut hadir di sidang perceraian nya. Dengan tersenyum Hanum juga menghampiri sang ayah mertua, tak lupa ia mencium takzim tangan orang yang pernah memberinya kasih sayang sama seperti anak kandungnya sendiri.


Pak Suryo mengangguk tanpa mengucapkan kata-kata, hanya usapan tangan yang sentiasa berada di kepala sang mantan menantu.


Ardi yang melihat pun ikut menghampiri dan mencium takzim tangan kedua mantan mertua kakak nya itu, sebagai bentuk sopan santunnya.


***


Keheningan tercipta untuk beberapa saat, sebelum panggilan masuk untuk Ilham dan Hanum terdengar.


Keduanya, diikuti dengan keluarga masing-masing masuk tak terkecuali dengan amel yang juga ikut masuk, menyaksikan proses perceraian sang suami dengan istri pertamanya.


Keduanya duduk di kursi pesakitan, saat hakim pengadilan membacakan surat gugatan yang di ajukan Ilham. Ada rasa berdesir saat Hanum mendengar apa yang di ucapkan oleh hakim. Tapi air mata itu tak kunjung turun, walaupun ingatan tentang kisah yang sudah berlalu kembali masuk dan menari di pikirannya.


Ilham berdiri saat hakim meminta nya untuk mengucapkan talak untuk Hanum. Dan dengan rasa berdebar tak karuan, Ilham mengucapkan kata yang tak ingin di ucapkan bahkan didengar siapapun yang sesungguhnya tak ingin mengakhiri pernikahannya.


Setelah mengucapkan kata talak Ilham kembali duduk, ia berusaha menghapus air mata yang ingin sekali keluar sekeras apapun ia coba untuk menahan.


Hanum tersenyum perih, pernikahan nya dengan sang suami kandas hari ini. Tapi takdir sudah bermain dan semoga ini bisa menjadi awal hidup yang baru untuk dirinya.


Hakim mengesahkan perceraian nya dan saat Ilham berdiri menghampiri Hanum untuk sekedar bersalaman, Hanum tidak menanggapi dan ia hanya menangkup kan kedua tangan nya di dada.


Ah Ilham lupa, sekarang dirinya bukan siapa-siapa di hidup wanita yang ada di depan nya ini. Ilham seakan lupa jerih payahnya dulu untuk mendapatkan seorang Hanum, gadis cantik dengan senyum yang manis tapi sulit untuk di dekati. Bahkan saat ini setelah kata talak itu terucap dari bibirnya, Hanum kembali menundukkan pandangannya, tanpa mau melihatnya.


Melihat tak ada reaksi dari hanum, Ilham menghampiri kedua orang tuanya. Ada gurat wajah sedih, saat Bu Suryo menatap wajah lesu Ilham. "Sabar, semoga ini cukup untuk memberimu pengalaman dalam menjalani rumah tangga." ucap Bu Suryo menguatkan.


***


Hanum terdiam cukup lama di kursinya, sakit kepala yang tiba-tiba menyerang, membuatnya tak mampu untuk membalas sapaan Ilham.

__ADS_1


Dan hal itu tak luput dari perhatian adiknya. Ardi bergegas menghampiri Hanum yang masih duduk di kursi pesakitannya.


"Mbak!" panggil Ardi seraya menyentuh bahunya.


Hanum menoleh dan tersenyum, seolah mengatakan kalau semua nya baik-baik saja.


"Ayo!" ajak Ardi.


Hanum berdiri saat rasa sakit di kepalanya sedikit berkurang, ia berjalan dengan Ardi yang setia menggenggam tangannya.


Hingga suara seseorang yang memanggilnya, menghentikan langkah kaki yang sedikit tertatih itu.


"Hanum โ€ฆ !"


Hanum berhenti dan menoleh, saat laki-laki yang baru saja sah menjadi mantan suami itu datang menghampirinya.


"Ada apa Mas?" tanya Hanum.


"Aku ingin bicara sebentar saja, bolehkah?" pintanya.


Ardi berdiri di depan Hanum, menghalangi Ilham yang ingin berbicara dengan sang kakak.


"Bicara sama aku aja Mas?" ucap Ardi.


"Tapi ini penting Ardi dan aku ingin berbicara empat mata sama kakakmu!"


"Kenapa Mas apa bedanya aku dengan kakakku? Mas lupa jika yang dulu menjadi wali nikah mbak hanum itu aku! jadi sebelum Mas bicara sama mbak hanum, Mas lebih dulu berbicara denganku."


Lidah Ilham kelu, bahkan anak yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas saja, lebih bijak daripada dirinya.


"Mas lupa janji yang Mas pernah ucapkan dulu, sebelum menikahi mbak hanum. Bahkan jauh sebelum dirimu menikahi kakakku, sudah ku katakan! jika memang sudah tidak ada cintamu untuk kakakku, kembalikan dia kepadaku tanpa harus menyakiti hati dan perasaannya! bahkan aku pun masih sanggup untuk membuatnya bahagia tanpa sedikitpun menyakitinya."


Air mata Hanum menetes mendengar ucapan adik semata wayang nya. Hanum tak pernah menyangka jika sang adik sudah tumbuh besar sampai ia sanggup untuk membuatnya tak bisa berkata-kata.


Ilham semakin terpaku mendengar ucapan adik iparnya ini, bahkan dirinya masih kalah dalam membuat Hanum bahagia. Dan hanya kesakitan yang selama ini Ilham torehkan di hati wanita yang pernah menjadi istrinya itu.

__ADS_1


***


Maaf ya kak, kalo untuk part ini ada yang tidak berkenan. Jujur saya butuh waktu yang lumayan banyak untuk membuat part ini, selain minim nya pengalaman saya juga tidak pandai membuat kalimat perceraian. Mohon di maklum dan happy reading ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2