
Sepanjang hari, Ilham hanya melamun memikirkan masalah yang ia sendiri tak tahu bagaimana menyelesaikannya. Hingga membuat semua pekerjaannya berantakan.
Amel masuk kedalam ruangan Ilham, "Mas kamu gak makan siang?" tanya Amel.
"Hm, aku belum lapar kamu bisa makan duluan!" ucap Ilham tanpa menoleh sekalipun.
"Tapi bayinya mau makan sama ayahnya?" ucap Amel manja.
Ilham yang untuk pertama kali di panggil ayah, merasa bahagia dan mengiyakan keinginan Amel untuk makan bersama. Ilham terlalu lemah untuk panggilan itu, karena panggilan itu yang selama ini Ilham tunggu.
"Kamu mau makan apa?" tanya Ilham.
"Apa aja yang penting sama kamu!"
"Hem, ya sudah aku pesan dulu ya?"
Setelah makanan sampai mereka menikmatinya berdua, saling menyuapi satu dengan lainnya. Hingga ketukan pintu menghentikan aktivitas mereka. Ilham yang memang belum mengumumkan pernikahan siri mereka sedikit terkejut dan buru-buru membersihkan sisa makanan yang masih tersisa.
Amel pun demikian, ia dengan cekatan membantu Ilham yang nampak panik, karena takut ketahuan.
"Masuk!" ucap Ilham saat kantor nya sudah mulai rapi.
Rio masuk menampilkan senyum, "Hai! apa kabar?"
"Hai Rio, kabarku baik kamu sendiri?"
"Seperti yang kamu lihat!" ucap Rio sambil merentangkan tangan.
Ilham terkekeh, "Mari duduk!"
Rio menarik kursi yang ada di depan meja kerja Ilham, sebelum Rio benar-benar duduk. Ia sempat tersenyum ke arah Amel dan memberikan sapaan basa-basinya, "Hai nona!"
Amel setengah gugup saat menyadari tatapan Rio terhadapnya ada maksud lain. "Pak maaf saya undur diri dulu!" pamit nya
Rio tersenyum licik, tetapi ia berpura-pura seolah dirinya tak melakukan apa-apa.
"Hm, tapi sebelum keluar tolong buatkan minum ya untuk saya sama Rio." ucap Ilham memberi perintah.
"Baik Pak!" ucap Amel seraya meninggalkan ruangan di mana ada suami dan mantan kekasihnya itu berada.
"Apa yang membawamu kemari?" tanya Ilham langsung.
"Hei, kamu lupa tentang usaha yang ingin ku rintis bersamamu dulu?" seru Rio.
"Ah, yang kosmetik itu ya!" ucap Ilham sambil menganggukkan kepala saat ia ingat kerja sama nya dengan Rio.
"Yap, sebenarnya saat melihat mu semalam aku juga ingin membahasnya tapi melihat dirimu yang sedang tidak baik-baik saja. Aku jadi urung melakukannya." aku Rio.
__ADS_1
"Maaf udah buat dirimu gak nyaman tapi terima kasih, kalau bukan karena bantuanmu aku tak akan pulang dengan selamat."
"Hm, sama-sama kita kan teman wajib hukum nya saling membantu."
"Oke jadi apa, proposalnya sudah kamu siapkan?" tanya Ilham.
"Sudah kamu tinggal cek aja dan tanda tangan saat kamu rasa itu sudah sesuai."
"Oke, setelah ini akan ku pelajari dulu."
"Ya sudah aku pamit dulu?" ucap Rio.
"Kamu mau kemana, baru juga duduk?" tanya Ilham.
"Aku ini sudah bekerja, tentu banyak kerjaan yang menantiku nanti kamu tinggal kabari aku saja kalau kamu setuju, oke? ucap Rio sambil berlalu meninggalkan si empu ruangan yang menatapnya heran.
Saat Rio membuka pintu, ia tak sengaja berpapasan dengan Amel yang tengah membawa minuman.
"Kita harus bicara?" bisik Rio.
"Tak ada yang perlu kita bicarakan lagi!" jawab Amel ketus.
"Kamu yakin?"
"Hmm."
Amel gemetar bahkan nampan yang sedang ia pegang pun sedikit bergetar karena ucapan Rio yang sungguh blak-blakan.
"Aku tunggu di tempat biasa dulu, saat kita menghabiskan waktu berdua. Ingat kalau kamu sampai tidak datang! ucapkan selamat tinggal dengan kehidupanmu yang sekarang." ancam Rio.
Amel mengangguk patuh mendengar ancaman Rio, tapi di dalam hatinya ia mengumpat, "Sialan kenapa aku sampai lupa kemungkinan itu, tapi bagaimana Rio bisa tahu kalau aku hamil!" ucap Amel dalam hati.
"Ba โฆ baiklah kamu tentukan jam nya dan aku akan datang nanti."
"Bagus, nanti aku kasih kabar! jangan lupa makan yang banyak. Jangan biarkan anakku kelaparan." ucap Rio sambil berlalu meninggalkan Amel sendirian.
Amel berusaha bersikap biasa, walaupun debaran jantung nya berkata lain. Ia tetap masuk dan berpura-pura tidak melihat kepergian Rio dari ruangan Ilham.
"Lho tamu nya kemana Mas?"
"Sudah pulang, minuman nya kamu letakkan saja di meja dan kenapa kamu yang harus repot, kemana semua OB? kamu itu lagi hamil jangan terlalu banyak bekerja." ucap Ilham mewanti-wanti.
"Iya, tapi Mas aku boleh ijin pulang gak? aku merasa lelah sekarang."
"Hm, pulanglah pekerjaan bisa aku selesaikan sendiri. Istirahat yang cukup ya?"
"Hm aku pamit ya mas?" ucap Amel.
__ADS_1
Amel berlalu meninggalkan sang empu ruangan mengerjakan semua pekerjaan nya sendirian.
***
"Aku tunggu di cafe matahari jam empat belas tepat, aku harap kamu akan datang." bunyi pesan yang Rio kirimkan.
Amel menarik nafas lelah, mau tidak mau ia harus datang demi mengamankan dirinya dan juga anak yang ada di dalam kandungannya.
Hanya tiga puluh menit jarak yang Amel tempuh untuk sampai di tempat Rio. Saat sampai di tempat yang dituju, Rio melambaikan tangannya memberi tahu kalau dirinya sudah menunggu.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Amel langsung saat ia sampai di depan Rio.
"Duduklah dulu, apa kau tak merasa lelah setelah perjalanan yang cukup jauh! jangan lupa ada anak yang ada di kandunganmu."
Amel terpaksa mengikuti ucapan Rio, ia mendudukan dirinya di kursi yang menghadap ke arah taman bunga matahari. Pemandangan itu sedikit mengurangi rasa lelah yang Amel rasakan.
Hingga saat pelayan datang, membawakan minuman yang lebih dulu di pesan Rio. "Minumlah!" ucap Rio mengangsurkan minuman ke arah Amel.
Jus mangga masih menjadi kesukaan Amel, dari dulu hingga sekarang dan Rio tak melupakan itu sama sekali.
"Terima kasih!" ucap Amel sembari menerima gelas yang di sodorkan Rio. "Langsung saja apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Amel setelah ia meneguk jus di gelas, yang ada di tangannya.
"Anak siapa itu?" tanya Rio langsung.
"Anak ku dengan suamiku?"
"Jangan bohong Mel, itu pasti anakku?" kekeh Rio.
"Kenapa kamu bisa seyakin itu?"
"Aku yakin karena saat melakukan itu aku tidak memakai pengaman."
Amel meremas kedua tangan nya, "Jangan bermimpi, kalau anak ini adalah anakmu!" ucapnya ketus.
Rio terkekeh melihat wajah panik Amel, "Kenapa apa kamu takut?"
"Tidak, demi Tuhan Rio apa yang kamu inginkan dengan berbuat seperti ini padaku?"
"Bukankah dulu sudah ku katakan, kalau aku akan membuatmu merasakan apa yang dulu kurasakan, saat orang yang kamu cintai pergi meninggalkanmu."
Amel melemah mendengar ucapan Rio, rasa takut itu tiba-tiba menyusup di dalam hatinya. Kenapa laki-laki yang dulunya sangat baik sekarang menjadi seperti ini. Apa yang harus ia lakukan sekarang?
***
Tolong simpan sabar nya untuk esok ya kak, karena setelah ini akan lebih menarik untuk dibaca dan terima kasih untuk dukungannya ๐๐๐
Happy Reading.
__ADS_1