Luka Hati Istri Pertama

Luka Hati Istri Pertama
Ayah.


__ADS_3

Hari berlalu bulan berganti, Reyhan pun tumbuh semakin pintar. Di usianya yang baru menginjak bulan ke dua belas. Reyhan sudah mulai berlatih untuk jalan dan mulai bisa mengucapkan sepatah dua patah kata.


Begitu juga dengan Ilham, setelah obrolannya dengan Papa nya terakhir kali. Ilham mulai mendekati anak lelaki nya itu. Selain karena ingin lebih dekat dengan darah dagingnya sendiri.


Ilham juga diam-diam menaruh rasa cemburu, saat Ilham dengan tidak sengaja melihat Sakha yang begitu dekat dengan anak lelakinya itu. Bahkan Reyhan dengan posesif memeluk Sakha saat Ardi ingin mengambil alih dirinya. Agar Sakha bisa makan dengan tenang.


Reyhan lebih dekat dengan Sakha, karena lelaki itu yang selalu ada bersamanya disaat jam istirahat siang, ataupun disaat sore menyapa.


Pemandangan yang sempat membuatnya marah itu, sedikit membuatnya sadar jika dirinya ingin mendapat perlakuan yang sama dari anaknya.


Ilham mulai mendekati Reyhan, awal pendekatan mereka sangat susah. Ilham selalu mendapat penolakan dari anaknya sendiri, dikarenakan anaknya belum terbiasa dengannya dan belum terbiasa melihat wajahnya.


Tapi kegigihan Ilham yang terus berusaha, akhirnya mampu meluluhkan hati anak kecil itu. Dan kini baik dirinya maupun Sakha sama-sama berarti buat si kecil Reyhan.


Flashback.


Ilham mendapat pesan video dari ibu nya, di dalam video itu nampak anak kecil yang wajahnya hampir mirip dengannya, tengah mengucapkan kata papa. Kata yang baru pertama kali diucapkannya itu sukses membuat gemuruh di dalam hati Ilham.


Keesokan harinya, Ilham melajukan kendaraan roda empat nya ke arah rumah makan Hanum, disana Ilham melihat bagaimana putra nya tertawa dengan sangat kencang saat berada di dalam pangkuan Sakha. Ada rasa cemburu yang tiba-tiba hadir dan banyak pertanyaan yang juga hadir di dalam benaknya. Sejak kapan lelaki itu begitu dekat dengan anaknya?


Tawa yang terdengar di pagi hari itu, sedikit membuka mata Ilham dan itu juga yang membuatnya membulatkan tekad untuk kembali meraih kepercayaan Hanum juga cinta anaknya.


Ilham turun dari mobil dan masuk kedalam tempat Hanum. "Assalamu'alaikum?" ucap Ilham memberi salam.


"Waalaikumsalam!" jawab Hanum beranjak dari duduknya.


Hanum sedikit terkejut melihat kedatangan Ilham, pasalnya mantan suaminya itu jarang masuk, bahkan hampir tak pernah masuk jika lewat sekalipun. Tapi hari ini Ilham benar-benar berdiri di depannya dengan senyum yang masih sama.


"Mas, tumben datang ada perlu apa?"


"Eeh, aku tadi lewat sekalian mampir mau lihat Reyhan. Boleh kan Num?"


Hanum masih terdiam cukup lama, hingga suara kecil Reyhan yang berteriak memanggilnya, sedikit mengurai kecanggungan antara dirinya dan juga mantan suaminya.

__ADS_1


Reyhan datang di gendong Sakha yang juga terkejut melihat kehadiran Ilham yang tiba-tiba. "Ham, apa kabar? tegur Sakha ramah. Saat melihat ada kecanggungan antara Hanum dan Ilham.


"Aku baik, kamu sendiri?"


"Hm, aku juga baik. Han Rey nyariin kamu!" ucap Sakha mengalihkan pembicaraan karena suasana yang tiba-tiba menjadi canggung diantara ketiganya.


Hanum menerima Reyhan saat tangan mungil anak itu mulai menggapai dirinya. "Masuk Mas?" ajak Hanum.


Ilham pun mengikuti Hanum dan juga Sakha yang kembali ikut masuk kedalam. Suasana benar-benar canggung disaat ketiga nya duduk bersamaan dalam keheningan, tak ada satupun dari ketiganya yang memulai pembicaraan, lidah mereka seakan beku. Hingga suara dari Ardi yang tiba-tiba mengajak reyhan mandi sedikit mencairkan suasana.


"Mau minum apa Mas?"


"Apa aja Dek!"


Ilham kembali memanggil Hanum dengan sebutan yang dulu sering ia gunakan saat masih bersama dulu.


Hanum pun beranjak meninggalkan keduanya untuk membuat minuman. Kecanggungan kembali terjadi, hingga suara Sakha yang lebih dulu bertanya membuat suasana nampak kembali normal.


"Ngantor, hanya ijin masuk lebih siang. Kamu sendiri?" tanya Ilham balik.


"Oh, tadi mau ada meeting cuma karena diundur jadi aku mampir kesini dulu."


Suasana kembali hening saat obrolan keduanya hanya sebatas itu saja. Hingga kedatangan Hanum yang membawa minuman sedikit membuat keduanya bernapas lega.


"Ini Mas minumnya! Mas gak kerja tumben pagi-pagi sudah sampai sini?" tanya hanum mulai mencairkan suasana.


"Kerja, cuma ijin masuk agak siang. Pengen ketemu sama Reyhan."


Hanum ingin membuka mulutnya tapi dering suara ponsel dari saku Sakha, membuat hanum mengurungkan niatnya.


Sakha pamit untuk menjawab ponselnya, hingga kecanggungan itu kembali hadir diantara Hanum dan Ilham. "Reyhan sehatkan Dek?"


"Alhamdulillah Mas, Reyhan sehat dan semakin pintar saja."

__ADS_1


"Alhamdulillah kalau begitu, maaf ya kalau Mas baru datang kemari?"


"Iya Mas gapapa, Hanum tahu kalau Mas Ilham sibuk sekarang."


Ilham ingin kembali bertanya, tapi Sakha yang tiba-tiba masuk kedalam membuat Ilham mengurungkan niatnya.


"Han aku pamit dulu ya, nitip salam buat Ibu sama Reyhan."


"Lho kok buru-buru, ada apa Bang?" tanya Hanum sambil beranjak dari duduknya.


"Gak ada apa-apa, tadi doni telpon kalau meetingnya gak jadi di undur dan sekarang Abang harus kembali ke kantor dulu."


"Oh begitu, ya sudah hati-hati Bang?"


Sakha tersenyum dan berlalu. Bukan tanpa alasan Sakha pergi, Sakha hanya tak ingin terlibat obrolan antara keduanya. Sakha tahu Ilham datang karena punya maksud tertentu, semua itu tampak dari wajahnya yang terlihat ingin mengatakan sesuatu. Karena itu Sakha memilih untuk pergi agar tidak ada kecanggungan lagi diantara mereka.


Berbeda dengan apa yang dipikirkan Sakha, kini benak Ilham dipenuhi rasa cemburu yang luar biasa. Bukan cuma anaknya yang begitu dekat dengan Sakha, tapi perhatian yang Hanum berikan sedikit melukai perasaan Ilham.


Hanum kembali duduk setelah mengantar kepergian Sakha ke kantor nya. Kini keduanya duduk berhadapan dan saling diam satu sama lainnya.


"Dek?" panggil Ilham pelan. "Boleh gak kalau Mas sering-sering kesini untuk bertemu dengan Reyhan?"


Hanum menarik nafasnya panjang. "Mas ingin bertemu dengan Reyhan sebagai apa? Kalau kedatangan Mas Ilham untuk ketemu sama Reyhan sebagai seorang kenalan Hanum, atau orang yang sering datang untuk makan! Hanum akan memperkenalkan Mas hanya sebagai teman, jadi Mas bisa kapan pun datang dan pergi sesuka hati Mas. Tapi seandainya Mas datang sebagai Ayah untuk Reyhan, aku harap Mas jangan pernah mengecewakan Reyhan nantinya setelah kedekatan kalian. Karena aku tidak mau, nantinya Reyhan akan mengalami nasib yang sama denganku, ditinggalkan begitu saja." ucap Hanum lugas.


Ilham terdiam cukup lama, memikirkan dirinya akan hadir sebagai apa di hidup anaknya ini. Jika memang sebagai ayah, dirinya harus mampu membagi waktu tidak cuma raganya saja. Karena menjalin kedekatan antara dirinya dan Reyhan pasti tidak cukup sebentar dan pasti butuh waktu yang lama.


Melihat Ilham hanya berdiam diri, Hanum kembali berkata. "Mas pikirkan saja dulu, setelah Mas memastikan sebutan apa yang pantas untuk Reyhan, Mas bisa kembali ke sini tanpa takut aku akan menghalangi kalian bertemu ataupun menjalin hubungan antara ayah dan anak."


Flashback off.


Dan sekarang, Ilham bersama dengan Reyhan sebagai Ayah yang dikenalnya. Mereka tampak asyik bermain dan bercanda bersama. Keputusan Ilham untuk datang sebagai Ayah untuk Reyhan membuat Hanum senang, setidaknya anaknya tidak akan kekurangan kasih sayang seorang Ayah. Walaupun tanpa Ilham sekalipun Reyhan tak akan pernah kekurangan.


****

__ADS_1


__ADS_2